Unlogic Theatre Hadirkan Diskursus Seksualitas Melalui “Mesin Hamlet”

Portal Teater – Gayatri Spivak (dalam Nelson dan Grossberg, 1988) menemukan realitas semu ketika pihak yang termarginalkan, misalnya perempuan, budak, kaum periferi, orang miskin dan kaum marginal lainnya tidak pernah bisa bersuara.

Ia bertanya dalam satu kalimat fundamental: “Can the subaltern speak?”

Perempuan, sebagai representasi kaum marginal dalam konstruksi sosial, politik dan budaya, posisinya senantiasa dipandang rendah, diobyekkan, dan dikonstruksikan oleh sebuah rezim kepentingan yang merupakan produsen dan pendukung narasi-narasi dominan.

Proses ini terus berlangsung dan membentuk pengetahuan dan kesadaran palsu, akan tetapi perempuan cenderung tidak merasa dan bahkan merasa nyaman dalam situasi ketertindasan.

Dalam term cultural studies, apa yang disebut “ibu mandiri” menjadi sebentuk fantasi perempuan yang merasa senang jika memiliki akses ke ranah sosial politik, misalnya berkarya (karir), serentak mampu mengurusi rumah tangganya secara baik. Inilah yang disebut sebagai hegemonisasi.

Spivak akhirnya menyodorkan konsep counter-knowledge dan counter-hegemony melalui proses pendidikan politik pencerahan untuk melawan ketidaksetaraan relasi kekuasaan antara kedua subjek manusia tersebut.

Hamlet (diperankan Renny Handayani). -Dok. Tewel Seketi.
Hamlet (diperankan Renny Handayani). -Dok. Tewel Seketi.

Diskursus Seksualitas dalam Tubuh Organik

Unlogic Theatre, pada malam pementasan “Mesin Hamlet”, Senin (23/9), mencoba meraba-raba dan meletakkan relasi kekuasaan itu ke tubuh-tubuh organik dalam panggung pertunjukannya melalui diskursus seksualitas.

Seperti cetusan penulisnya, Heiner Muller, yang ingin menjadikan Hamlet sebagai mesin yang mampu berbicara kepada dunia bebas, ketika ia mengatakan, “…aku ingin jadi mesin, tangan untuk meraih, kaki untuk berjalan, tanpa nyeri dan tanpa pikiran”.

Sutradara Unlogic Theatre Dina CF pun ingin menyingkap matarantai struktur ketimpangan kekuasaan dan objektivasi perempuan di segala ranah kehidupan itu dengan menempatkan diskursus seksualitas sebagai problem struktural.

Hal itu tidak untuk mengkritisi struktur dominan atau menggurui interpretatif penonton, tapi sekedar menghadirkan tubuh-tubuh organik seksualitas di atas panggung untuk dibaca secara baru dan kompleks oleh publik.

“Karena ketika laki-laki melihat perempuan, mereka selalu berpikir tentang seks. Apalagi dengan hadirnya teknologi dan media sosial,” ungkapnya seusai pentas di Gedung Miss Tjitjih Jakarta.

Kita tahu, motivasi Muller menulis ulang karya William Shakespeare (tebalnya 200 halaman) hanya ke dalam 8 halaman, adalah untuk memberi ruang yang inklusif bagi penyutradraan. Ia tidak ingin sutradara hanya menjadi properti dari penulis naskah. Siapapun setelahnya mesti mengejar kekayaan gagasan yang disediakannya melalui karya ini.

Ophelia berbicara relasi seksual yang timpang antara laki-laki dan perempuan.-Dok. Tewel Seketi.
Ophelia berbicara relasi seksual yang timpang antara laki-laki dan perempuan.-Dok. Tewel Seketi.

Reposisi Subjek

Demikian halnya, berbeda dari pentas-pentas Mesin Hamlet lainnya, Dina CF, seperti juga nama grup teaternya, melalui karya ini berupaya mereposisi subjek Hamlet (diperankan Renny Handayani), tidak sebagai pangeran gagah Denmark yang ingin balas dendam karena kematian misterius ayahnya.

Tapi ia mencoba menariknya ke dalam sistem yang lebih kecil, tidak seperti naskah Hamlet Shakespeare yang penuh intrik Marxisme, dengan menghadirkan sosok perempuan (barangkali dalam konteks perempuan Indonesia) yang ingin mencari kebenaran pada modus-modus ketidakadilan oleh laki-laki.

Untuk memperkuat interpretasi itu, Dina CF menempatkan sosok Ophelia (diperankan Dina Amalina) pada satu adegan khusus. Ia ( berpakaian putih) duduk di kursi, ditemani lima perempuan lainnya yang juga berpakaian putih.

Di tengah-tengah kegelisahan dan kekecewaannya terhadap perlakuan ketidakadilan perempuan, ia terus meracau dan menyumpahi keserakahan kaum Adam dengan suara bergetar, “Di sini Elektra bicara. Di dalam jantung kegelapan… Atas nama para korban aku mengeluarkan seluruh sperma yang telah aku terima. Aku mengubah susu di dadaku menjadi racun yang mematikan…”

Seperti pilihan Muller yang hanya membutuhkan tiga tokoh untuk memindahkan gagasannya ke dalam naskah (Hamlet, Horatio, dan Ophelia) sebagai pembawa simbol negaranya, Dina CF pun memecah babakan pertunjukannya untuk menghadirkan emosi-emosi Hamlet ke dalam tubuh enam aktor-perempuannya.

Selain Hamlet dan Ophelia, Dina mengubah hampir seluruh isi dan tokoh utama dalam naskah ini. Ada Karyawan (diperankan Yuliana Trisandya), Pelatih Billiard (diperankan Elvina Ningsih), Mahasiswi (diperankan Monica Sari) dan Ibu Rumah Tangga (diperankan Rita Afrianti).

Secara cerdas Dina CF memasukkan unsur-unsur kebaruan yang sama sekali jauh dari gagasan Muller, meski tetap pada garis transliterasi yang dibuat oleh Dewi Noviani.

Jika dalam Hamlet, Shakespeare menempatkan Hamlet sebagai tokoh utama dengan tujuh sosok tiruan emosinya, dan Muller memampatkannya menjadi tiga, Dina CF justru keluar dari pakem gagasan itu. Ia tidak lagi berbicara tentang cinta, pengkhiantan, balas dendam, trauma, melainkan ingin menghadirkan problem kekerasan rumah tangga, atau pelecehan seksual.

Lewat karyanya, Dina CF juga menyodorkan pertanyaan-pertanyaan esensial, “mengapa perempuan sebagai objek seksual; mengapa perempuan selalu terlihat menarik sekaligus lemah untuk memberontak, melawan, kemudian tersubordinasi”.

“Saya tidak tahu kenapa perempuan selalu dijadikan objek. Apakah karena perempuan dianggap kaum yang lemah. Kalau saya bacanya di naskah yang asli itu tentang kapitalisme, tapi saya mau ambil sistem yang kecil di rumah tangga, misalnya,” ujar Dina CF.

Tidak Bersifat Ideologis

Dina CF mengkaui, garapan interpretatifnya ini tidak bermaksud untuk menyuarakan kepentingan-kepentingan perempuan. Dalam hal ini, pentas ini tidak serta merta mesti terlihat ideologis untuk memperjuangan nasib perempuan.

Namun, dengan menghadirkan wacana seksualitas ke atas panggung melalui tubuh organik para aktornya, ia ingin agar penonton mengenal dan memahami bahwa problem yang kita hadapi saat ini adalah masalah tersebut.

Melalui “Mesin Hamlet”-nya, ia berupaya mengeluarkan perempuan daru kungkungan ketidakbebasan dan memperlihatkan bahwa “perempuan memiliki ranah kebebasannya sendiri”.

“Kebetulan semua pemain kita perempuan. Bukannya untuk mengkritisi, atau mengajari,” katanya.

Ia sadar, problem historikal ini tidak pernah segera berakhir. Struktur sosial dan budaya telah lebih kuat merancang bangunan pembangian kelas sosialnya, misalnya.

Tapi, kepada para penonton, ia berharap tetap kuat menghadapi aneka persoalan struktural dan ketimpangan seksual yang terus melanda kebudayaan kita. Karena baginya, mengikuti gagasan Muller, ini menjadi “moment ketika seni dan pemberontak bersatu”.

“Saya mau perempuan-perempuan sekarang itu harus kuat,” ujarnya.

Namun demikian, pertanyaan kita, sejauh kekuatan mana wacana seksualitas dihadirkan melalui tubuh organik di atas panggung. Masih relevankah kita bicara secara telanjang apa yang menjadi “hak milik” biologis kita itu.

Ketika menonton malam itu, saya sendiri terenyuh ketika melihat dua anak muda di samping saya (laki-laki), barangkali kita kategorikan sebagai representasi generasi masakini, menertawakan beberapa detail adegan pertunjukan yang berbicara tentang seksualitas.

Apakah seksualitas bagi mereka sudah menjadi hal yang lumrah, misalnya, yang layak dikonsumsi secara massal, dan tidak mesti bersandar pada patron etik atau moral universal atau malah bersifat banal.

Pemain, sutradara dan kru Unlogic Theatre. -Dok. Tewel Seketi.
Pemain, sutradara dan kru Unlogic Theatre. -Dok. Tewel Seketi.

Tentang Unlogic Theatre

Kelompok ini berdiri pada tahun 2014. Memiliki visi dan misi untuk belajar dan mencipta karya yang berkualitas.

Pada tahun 2015, untuk pertama kalinya Unlogic Theatre mementaskan pertunjukan berjudul “Spirit of Tjitjih” dalam keikutsertannya pada Festival Teater Jakarta Pusat.

Kali ini, Unlogic Theatre tampil kedua kalinya melalui lakon “Mesin Hamlet” (Die Hamletmaschine) karya Heiner Muller (1929-1995) terjemahan Dewi Noviani, di bawah sutradara Dina CF.

Lahir tahun 1980, Dina CF adalah salah satu pemain di Kelompok Sandiwara Sunda Miss Tjitjih sejak 2013.

*Daniel Deha

Baca Juga

Nantikan Pameran Ekskursi Arsitektur UI “Orang Laut” di Museum Nasional

Portal Teater - Pada periode Juni-Juli 2019 Tim Ekskursi Arsitektur Universitas Indonesia telah melakukan pendokumentasian arsitektur vernakular suku asli di Lingga, Kepulauan Riau, dan...

Memaknai Medium dalam Konteks Praktik Seni Kontemporer Lintas/Nir-Medium

Portal Teater - Seni kontemporer hari-hari ini acap kali bergerak sedemikian bebas dari satu bentuk ke bentuk lain, dari satu praktik ke praktik lain, dari...

“Senjakala” Kritik Seni di Era Digital

Portal Teater - Komite Seni Rupa Dewan Kesenian (DKJ) telah sukses menggelar pameran "Mengingat-ingat Sanento Yuliman (1941-1992)" di Galeri Cipta II, Taman Ismail Marzuki,...

Terkini

TEKO UI akan Pentas Teater Musikal Skala Besar di GKJ

Portal Teater - Teater Psikologi Universitas Indonesia (TEKO UI) akan mempersembahkan pentas teater musikal dengan skala besar selama dua hari, pada 13-14 Februari 2020...

“Anak Garuda”, Sebuah Inspirasi Merawat Mimpi

Portal Teater - "Anak Garuda", sebuh film yang diproduksi Butterfly Pictures telah resmi tayang perdana di seluruh bioskop di tanah air pada Kamis (16/1)...

Pematung Dolorosa Sinaga Jadi Direktur Artistik Jakarta Biennale 2020

Portal Teater - Pameran seni kontemporer Jakarta Biennale kembali menyapa warga kota Jakarta tahun ini. Diadakan tiap dua tahun sekali untuk "membaca" identitas kota...

“Senjakala” Kritik Seni di Era Digital

Portal Teater - Komite Seni Rupa Dewan Kesenian (DKJ) telah sukses menggelar pameran "Mengingat-ingat Sanento Yuliman (1941-1992)" di Galeri Cipta II, Taman Ismail Marzuki,...

Mengomentari Sanento Yuliman Hari Ini

Portal Teater - Saya bukan seorang seniman, tetapi sangat menikmati tulisan-tulisan Sanento Yuliman. Dia menulis untuk dipahami orang seperti sebuah tanggung jawab. Dia tidak...