Vakum Selama 6 Tahun, Pasar Seni ITB Kembali Digelar September 2020

Portal TeaterPasar Seni Institut Teknologi Bandung (ITB) kembali digelar pada September tahun ini setelah vakum enam tahun. Terakhir, salah satu program Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB ini diadakan pada 2014.

Manajer Program Residensi Pasar Seni ITB 2020 Haiza Putti Chaerunniza mengatakan,  sejak tahun 2016 program ini mulai dijalankan tiap empat tahun. Sebelumnya, program ini diselenggarakan ketika ada momentum atau ketersediaan sumber daya di internal FSRD ITB.

Ketersediaan sumber daya yang dimaksudkan, kata Runni, begitu sapaannya, tidak hanya terkait dengan sumber daya ekonomi atau biaya, tapi terlebih berkaitan dengan kesiapan dan kematangan gagasan dan konsep-konsep untuk mengelola program ini.

“SDM bukan dalam arti tidak mampu, tapi apakah SDM ini sudah dianggap mampu untuk mengolah sebuah gagasan,” katanya di Galerikertas Studiohanafi Depok, Minggu (2/2/).

Haiza Putti Chaerunniza membeberkan program residensi Pasar Seni ITB 2020 kepada peserta di Studiohanafi Depok, Minggu (2/2). -Dok. portalteater.com
Haiza Putti Chaerunniza membeberkan program residensi Pasar Seni ITB 2020 kepada peserta di Studiohanafi Depok, Minggu (2/2). -Dok. portalteater.com

Diketahui, Pasar Seni ITB pertama kali digagas pada 1972 oleh perupa Prof. AD Pirous. Acara ini diselenggarakan cukup rutin oleh FSRD ITB, tapi tidak diselenggarakan secara berkala.

Meski begitu, ajang ini menjadi festival terbesar di Indonesia. Bahkan, menjadi festival seni rupa terbesar Asia Tenggara pada tahun 2014.

Mahasiswa Jurusan Studio Lukis FSRD ITB itu menjelaskan, karena tidak dijalankan secara periodik, maka ada keterputusan dan lompatan gagasan antara satu generasi ke generasi berikutnya.

Apalagi panitia penyelenggara atau programer umumnya dijalankan oleh mahasiswa tingkat akhir, sehingga ketika tamat, panitia pada event berikutnya dipegang oleh mahasiswa yang tidak memiliki pengalaman sebagai penyelenggara event sebelumnya.

Meski demikian, lanjut Runni, Pasar Seni ITB masih sangat penting dan strategis bagi perkembangan seni rupa di ITB dan Indonesia.

Sejak 2018, gagasan untuk kembali menggelar event akbar ini mulai digerakkan. Setelah merapatkan gagasan, panitia yang merupakan mahasiswa angkatan 2015-2018, menjadwalkan pelaksanaan Pasar Seni ITB.

Hendak diadakan pada akhir 2019, namun karena masih berhalangan, program ini tertunda dan baru bisa dijalankan tahun ini.

“Akhirnya, FSRD menyetujui tanggal dilakukan pada 20 September 2020,” terangnya.

Venue Pasar Seni ITB 2020 pun akan didesain dengan sangat megah dan meriah. Karena itu publik dapat menikmati karya terbaik anak bangsa ini secara terbuka di Kampus ITB dan sekitar 10 tempat terdekat yang dijadikan venue pameran.

Runni menguraikan, ada beberapa rancangan venue Pasar Seni ITB 2020. Di mana akan ada dua stage, dua gate, public and community spot, 9 wahana, 14 performance, 30 komunitas dan delegasi, dan 328 tenant.

Di dalam spot atau booth yang disediakan akan ada ‘pasar karya’, tempat di mana para seniman ataupun partisipan residensi Pasar Seni ITB menjual karya-karya terbaik mereka kepada publik/pengunjung.

Tahun ini, panitia penyelenggara menggelar roadshow di tujuh kota di Indonesia, antara lain untuk memperluas segmentasi atau cakupan pengunjung pada Pasar Seni ITB 2020, dari sebelumnya hanya didatangi pengunjung dari kota-kota terdekat.

Para pembicara dari panitia penyelenggara residensi Pasar Seni ITB 2020 di Studiohanafi Depok, Minggu (2/2). -Dok. portalteater.com
Para pembicara dari panitia penyelenggara residensi Pasar Seni ITB 2020 di Studiohanafi Depok, Minggu (2/2). -Dok. portalteater.com

Residensi di Tiga Tempat

Dalam roadshow di Studiohanafi Depok, Minggu (2/2) sore, anggota panitia Residensi Pasar Seni ITB 2020 Delpi Suhariyanto menerangkan, salah satu program utama menyongsong helatan Pasar Seni ITB 2020 adalah residensi seniman.

Program ini dijalankan di tiga tempat, yaitu di Kampung Adat Cirendeu, Jawa Barat, sebagai progam residensi rural, dan di lima rang informasi Kota Bandung, sebagai program residensi urban, serta residensi intrakampus.

Residensi berupaya mengajak partisipan untuk mendobrak praktik berkarya yang biasa dilakukan di kelompok masyarakat ada di sekitar Kota Bandung.

Residensi ini juga berikhtiar menghadirkan sudut pandang lain dari masyarakat adat terkait pola hidup bermasyarakat dalam merespon hadirnya teknologi dalam kehidupan.

Teknologi dalam konteks ini, kata Delpi, tidak melulu menyangkut teknologi mutakhir, tapi juga dapat berupa teknologi manual dan sederhana untuk bercocok tanam.

Lewat program residensi rural, partisipan akan mengenal identitas kampung adat Cirendeu yang diolah untuk merespon ruang, mengumpulkan cerita, dan menggunakan metode, bahan, dan peralatan lokal dan alam sekitar untuk berkarya.

Sementara dalam program residensi urban, partisipan dijakan untuk mencoba membingkai paradigma-paradigma urban mengenai informalitas wilayah Bandung sebagai bentuk adaptasi warga terhadap kekangan formalitas kota.

Mahasiswa Jurusan Studio Intermedia FSRD ITB itu mengatakan, isu utama yang akan digali dalam program ini adalah isu informalitas kota yang terinspirasi dari esai Ananya Roy, “Urban Informality: Toward Epistemology of Planning”.

Peserta dalam roadhow Residensi Pasar Seni ITB 2020 di Studiohanafi Depok, Minggu (2/2). -Dok. portalteater.com
Peserta dalam roadshow Residensi Pasar Seni ITB 2020 di Studiohanafi Depok, Minggu (2/2). -Dok. portalteater.com

Dalam dua program residensi ini, para partisipan tidak berjalan sendiri, tapi ditemani oleh Komite dari FSRD ITB, pemateri, fasilitator dan para mentor berpengalaman.

Ada dua mentor yang dipilih dalam program ini, yakni Aliansyah Caniago dan Fajar Abadi. Sementara fasilitator akan digawangi oleh Lokali, Kolektif Agora dan komunitas Aleut.

Program ini dijalankan sepanjang 21 Juni-31 Agutus 2020. Partisipan akan mendapatkan rumah residensi, tempat produksi karya, biaya berkarya dan sertifikat.

Runni menambahkan, karya-karya yang dihasilkan dari program residensi ini akan dipamerkan pada booth ‘pasar karya’ di Pasar Seni ITB 2020. Di mana akan ada 10 tempat yang dipakai untuk karya residensi.

Batasan usia seniman untuk program residensi adalah 30 tahun dengan perhitungan maksimal lima tahun telah berkarya dalam kesenian.

Pertimbangan usia menjadi satu hal yang diperhatikan programer karena event ini berikhtiar untuk memberikan ‘lapangan’ yang lebih luas bagi seniman muda untuk menghasilkan karya dan gagasan eksperimental yang segar.

“Kita mencari kemungkinan-kemungkinan baru dalam program residensi ini. Maka ada pertimbangan umur,” kata Runni.

Program ini dalam event-event sebelumnya belum menjadi program utama. Namun pola-pola pembuatan karya sudah serupa residensi. Tahun ini, barulah diadakan sebagai satu bentuk program.

Lebih lanjut, Runni menjelaskan, panitia menyasar sekitar 10 partisipan untuk masing-masing program residensi (rural dan urban) untuk menghasilkan masing-masing lima karya. Partisipan dapat berupa perorangan maupun komunitas/kelompok.

Akhirnya, mahasiswa Semester VIII itu berharap, program ini membuka pandangan masyarakat untuk menghargai kekayaan dan perbedaan dalam masyarakat.

“Dengan gagasan ‘paralaks’ kami harap justru nilai inklusivitas dalam pasar seni itu semakin tinggi, jadi kita akan menerima perbedaan pendapat dalam masyarakat,” ungkapnya.

Hanafi Muhammad memberikan catatan kritis mengenai program Residensi Pasar Seni ITB 2020 di Studiohanafi Depok, Minggu (2/2/). -Dok. Studiohanafi.
Hanafi Muhammad memberikan catatan kritis mengenai program Residensi Pasar Seni ITB 2020 di Studiohanafi Depok, Minggu (2/2/). -Dok. Studiohanafi.

Butuh Kematangan Gagasan

Hanafi Muhammad hadir sebagai penanggap dalam program roadshow yang bertujuan untuk melakukan sosialisasi program Residensi Pasar Seni ITB 2020 kepada medan sosial seni di masing-masing kota ini.

Menurutnya, gagasan residensi seniman perlu dimatangkan lagi sebelum benar-benar dijalankan pada pertengahan tahun ini. Termasuk misalnya soal pemilihan tempat di Kampung Adat Cirendeu.

Pemilik Studiohanafi itu memandang, Kampung Adat Cirendeu tidak cukup representatif sebagai tempat berkarya para seniman residensi. Karena itu, panitia perlu memikirkan pula tempat lain, atau ihwal dasar residensi di tempat itu perlu dirembuk lagi.

“Saya melihat Cirendeu itu sebuah karya yang tidak ada masalah sama sekali. Kalau kita teruskan, maka kita berkarya di atas karya orang lain. Ada tempat yang lebih buruk, kenapa tidak berminat,” katanya.

Hanafi beberapa kali mengikuti program ini, bukan sebagai peserta tapi berada di bagian manajemen produksi bersama beberapa kerabat.

Sebagai salah satu seniman senior, ia belum begitu mengenal dengan baik gagasan program Pasar Seni ITB; apakah program ini hanya diikuti oleh seniman lulusan ITB atau juga oleh non-ITB.

Namun ia berharap agar program ini ke depannya makin terbuka untuk menerima keberagaman perspektif karya para seniman, termasuk seniman non-ITB.

Tahun ini, programer Pasar Seni ITB sendiri telah memulainya dengan membuka program residensi, dan seperti yang dikatakan Runni, seniman yang terlibat dalam Pasar Seni pada September mendatang akan lebih variatif dan terbuka.

Selain Hanafi, untuk memperkuat gagasan Pasar Seni ITB, Heru Joni Putra pun mempertanyakan keterhubungan tema ‘Paralaks’ dengan program residensi, khususnya program residensi rural dan urban.

Dari sekian banyak masalah, ia meminta agar programer fokus pada isu utama untuk menemukan satu pokok yang mau diangkat dalam residensi tersebut.

Heru Joni Putra menjadi moderator roadshow Residensi Pasar Seni ITB 2020 di Studiohanafi Depok, Minggu (2/2). -Dok. Studiohanafi
Heru Joni Putra menjadi moderator roadshow Residensi Pasar Seni ITB 2020 di Studiohanafi Depok, Minggu (2/2). -Dok. Studiohanafi

Hanif Fauzi, pembicara lain dalam diskusi itu, kemudian menjelaskan, tema ini diangkat untuk membedah masalah yang muncul dari kualitas informasi yang didapat.

Dalam kasus pemilihan Cirendeu sebagai tempat residensi rural, memang pada dasarnya masyarakat Cirendeu sudah mampu menyelesaikan masalah mereka sendiri. Dengan itu, partisipan tidak perlu menyelesaikan problem mereka.

Namun, program ini sebenarnya lebih berikhtiar untuk membaca identitas masyarakat Cirendeu secara baru; mempelajari cara-cara mereka bertahan hidup dan menyelesaikan masalah pokok dalam hidup mereka.

Apalagi kampung Cirendeu belakangan digadang-gadang sebagai salah satu desa berbasis ketahanan pangan karena keberhasilan mereka menyelesaikan problem pangan sejak zaman kolonial.

“Pasar Seni melihat fenomena itu dan ingin berpartisipasi dalam upaya membangun desa pariwisata yang sudah mereka rencanakan sejak awal. Dan gagasan untuk mencintai identitas mereka sendiri, itulah yang kita bangun,” kata mahasiswa Jurusan Desain Produk FSRD ITB itu.

Hadir sebagai pembicara dalam roadshow ini, selain Delpi Suhariynato, Hanif Fauzi, dan Runni, ada Arya Rachmat dan Fauzur Rahman. Semuanya dari FSRD ITB.

Diskusi dipandu oleh Heru Joni Putra, belangsung pada pukul 16.30-17.30 WIB.*

Baca Juga

“the last Ideal Paradise”, Site-Specific Claudia Bosse untuk Indonesia

Portal Teater - Koreografer terkemuka Claudia Bosse berkolaborasi dengan seniman dari Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Denpasar, dan Lampung akan menghadirkan karya site-specific mengenai terorisme, teritori,...

Mohammad Sunjaya: Bersetia Jadi Aktor hingga Akhir Hayat

Portal Teater - Aktor kawakan Mohammad Sunjaya, akrab disapa Yoyon, meninggal dalam usia 82 tahun di kediamannya di Kota Bandung, Jawa Barat, Kamis (13/2). Salah...

Taman Ismail Marzuki Baru dan Ekosistem Kesenian Jakarta

Portal Teater - Pembangunan Taman Ismail Marzuki (TIM) Baru memasuki tahap pembongkaran fisik bangunan di kawasan TIM Jakarta. Karena komunikasi publik dari pihak Pemerintah Provinsi...

Terkini

Suara Penyintas Kekerasan Seksual dari “Belakang Panggung”

Portal Teater - Lentera Sintas Indonesia dan Institut Français d'Indonésie (IFI) Jakarta akan mempersembahkan teater musikal "Belakang Panggung" untuk menyuarakan kesunyian yang terkubur dari...

Taman Ismail Marzuki Baru dan Ekosistem Kesenian Jakarta

Portal Teater - Pembangunan Taman Ismail Marzuki (TIM) Baru memasuki tahap pembongkaran fisik bangunan di kawasan TIM Jakarta. Karena komunikasi publik dari pihak Pemerintah Provinsi...

Perjalanan Spiritual Radhar Panca Dahana dalam “LaluKau”

Portal Teater - Sastrawan dan budayawan Radhar Panca Dahana (RPD) akhirnya kembali ke panggung teater setelah lama tak sua karena didera kondisi kesehatan yang...

Perkuat Ekosistem Seni Kota Makassar, Kala Teater Gelar Aneka Program

Portal Teater - Sejak terbentuk pada Februari 2006, Kala Teater cukup dikenal sebagai salah satu grup teater yang memiliki sistem manajemen yang solid. Dengan sekitar...

“the last Ideal Paradise”, Site-Specific Claudia Bosse untuk Indonesia

Portal Teater - Koreografer terkemuka Claudia Bosse berkolaborasi dengan seniman dari Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Denpasar, dan Lampung akan menghadirkan karya site-specific mengenai terorisme, teritori,...