Virus Corona dan Problem Kultural

Portal Teater – Virus corona (Covid-19) yang kini melanda dunia, bagi Yuval Noah Harari, salah satu filsuf masakini, merupakan krisis global. Mungkin krisis terbesar dalam generasi kita saat ini.

Pada Rabu (1/4), Worldometers melaporkan bahwa jumlah terkonfirmasi positif Corona mencapai 861.261 kasus, dengan 42.387 kematian dan 178.668 dinyatakan sembuh.

Kesembuhan para pasien positif Corona bukan karena sudah ditemukannya vaksin atau anti-virus. Namun lebih karena sistem imun masing-masing pasien.

Di Italia virus ini menyerang mayoritas kelompok usia lanjut (lebih dari 80 tahun), sementara di Korea Selatan, Corona menyerang mayoritas anak-anak muda.

Dua perbedaan demografi ini turut andil dalam menggambarkan jumlah kasus di kedua negara; Italia lebih menderita daripada Korea Selatan. Premis ini berlaku juga di negara-negara lain dengan jumlah pasien usia lanjut banyak.

Tidak hanya di Italia, laporan media lokal Indonesia menyebutkan, mayoritas pasien yang meninggal sudah berusia lanjut, berkisar di atas 50 tahun. Otoritas pemerintah belum mengeluarkan data pasien sampai saat ini.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memprediksi, angka kematian global dari semua negara terpapar Corona, seandainya negara-negara membuka data secara transparan, dapat mencapai 1 persen dari total penduduk dunia.

Memang virus Corona memilik daya yang lebih kecil dibandingkan virus-virus lain seperti SARS, MERS atau Ebola. Namun, virus ini lebih mematikan karena sulit terdeteksi. Seseorang yang kelihatan sangat sehat bahkan dapat terpapar virus ini.

Tiap pemimpin negara mengeluarkan keputusan untuk masyarakat dan pemerintah dalam beberapa waktu ke depan yang barangkali akan membentuk wajah dunia untuk tahun-tahun mendatang di semua lini kehidupan.

Harari menilai, virus ini tidak hanya membentuk sistem perawatan kesehatan dunia tapi juga ekonomi, politik, dan budaya kita. Di mana kita harus bertindak cepat dan tegas; memperhitungkan konsekuensi jangka panjang dari tiap tindakan kita.

Banyak pakar telah meramalkan bahwa akan terjadi resesi ekonomi, karena virus ini menyerang persis di jantung sistem pertahanan negara-negara. Lembaga Keuangan Internasional (IMF) memprediksi pertumbuhan ekonomi dunia negatif.

Pemimpin AS Donald Trump telah menyetujui alokasi dana untuk penanganan Corona, di mana AS kini menjadi episentrum global baru setelah China dan Italia. Sementara Bank Sentral AS, Federal Reserve, telah menyediakan dua pinjaman darurat untuk menjaga kredit mengalir ke ekonomi AS di tengah pandemi global.

Bantuan ini pernah diberikan The Fed ketika AS mengalami krisis ekonomi terbesar pada tahun 2008 lalu. Sementara alokasi dana dari pemerintahan Trump juga diprediksi melampaui anggaran untuk pemulihan ekonomi pasca 2008.

Pemerintah Indonesia pun telah mengalokasikan pembiayaan dan penambahan APBN 2020 sebesar Rp405,1 triliun untuk penanganan Corona. Angka yang fantastik untuk sebuah penanggulangan bencana nasional. Ini tidak pernah terjadi sebelumnya.

Angka ini hampir setara dengan alokasi dana untuk pembangunan ibukota baru di Pulau Kalimantan yang ditaksir lebih dari Rp500 triliun.

Setelah kasus ini menguap, tidak ada pemimpin manapun yang berpangku tangan seperti sebuah klub sepakbola merayakan kemenangan. Langkah-langkah pemulihan ekonomi akan segera dilakukan, dengan pelbagai upaya, bahkan mengutang.

Seluruhnya diperkirakan ribuan triliun menguap dari negara-negara untuk menangani wabah ini. IMF mengatakan, salah satu cara untuk menjaga agar ekonomi tetap positif adalah dengan melakukan perlawanan.

Namun sayangnya, sistem perawatan dan ketersediaan alat kesehatan di masing-masing negara berbeda, yang memungkinkan negara-negara harus mengimpor. Hal ini tidak jarang menguntungkan para pemain besar global.

China hari-hari ini aktif menggalang bantuan kepada negara-negara terpapar Corona, termasuk musuh dagangnya, Amerika Serikat, setelah grafik terkonfirmasi Corona di negara itu menunjukkan perlambatan.

Berupaya melepaskan diri dari semua pergumulan ini, seolah dunia tanpa ventilasi yang menjebak penduduk bumi mengisolasi di kamar pengap, baiklah kita mencoba mengurai dampak virus Corona ini terhadap kebudayaan kita.

Karena Corona, para penumpang KRL duduk saling berjauhan untuk menjaga jarak fisik. -Dok. kaldera.id
Karena Corona, para penumpang KRL duduk saling berjauhan untuk menjaga jarak fisik. -Dok. kaldera.id

Problem Kultural

Daripada membahas dampak virus Corona terhadap kehidupan ekonomi, bisnis atau politik, saya lebih tertarik membincangkan pandemi ini dari dimensi kultural.

WHO sejak pertama kali virus ini mengemuka di China dan menyebar ke beberapa negara, meminta masyarakat untuk melakukan social distancing, istilah yang kemudian direvisinya menjadi physical distancing pekan lalu karena menimbulkan multitafsir.

Kebijakan ini dituruti negara-negara dunia. Menghindari keramaian dan kerumunan massa, atau beraktivitas tanpa melibatkan banyak orang menjadi tajuk utama semua pemimpin negara untuk ‘menertibkan’ warganya.

Beberapa negara, misalnya menerapkan kebijakan lockdown (karantina wilayah), istilah yang juga diproduksi WHO, agar menekan laju transmisi Corona.

Indonesia tidak menetapkan lockdown melainkan dengan mengambil jalan lain: Pembatasan Sosial Skala Besar dan karantina kesehatan.

Namun jauh-jauh sebelumnya, pemerintah telah menghimbau agar sekolah dan kampus diliburkan, menyusul kantor pemerintah dan perusahaan serta lembaga swasta. Semua ditertibkan untuk menghindari kontak fisik satu dengan lainnya.

Dengan meminta semua warga masuk ke dalam rumah, kegiatan-kegiatan sosial hampir tidak lagi dilakukan, selain dengan memanfaatkan media daring dan internet untuk tetap menjalin relasi sosial dengan teman, sahabat atau keluarga.

Kegiatan sosial di luar rumah, yang sejak masa revolusi industri telah tergenderkan, di mana kegiatan sosial itu cenderung diasosiasikan dengan pekerjaan laki-laki untuk menunjukkan dunia maskulinitas, kini semua masyarakat dunia telah masuk ke dalam rumah, ruang domestik, yang sejak masa itu menjadi milik perempuan.

Seolah kedua wilayah sosial, atau lebih tepatnya kedua perbedaan gender ini telah dileburkan karena Corona. Baik laki-laki maupun perempuan, semuanya terkurung di dalam rumah. Dari rumah mereka bersama-sama, mungkin setelah Corona mereda, menatap sebuah dunia baru yang tak lagi tergenderkan, barangkali.

Namun bagi masyarakat perkotaan, atau yang disebut dengan masyarakat urban, yang sejak masa revolusi industri paling terpapar teknologi dan informasi, “kembali ke rumah” merupakan sebuah problem kultural. Mengapa? Ini menjadi intisari tulisan ini.

Efek virus Corona, mal dan pusat-pusat perbelanjaan sepi. -Dok. detik.com
Efek virus Corona, mal dan pusat-pusat perbelanjaan sepi. -Dok. detik.com

Budaya Urban

Ketika modernisme bergulir, terutama ketika kehidupan perkotaan dicirikan sebagai kehidupan yang berbeda dengan masyarakat tradisional, banyak penduduk dunia telah menciptakan suatu dunia yang sama sekali baru.

Dunia tersebut berwatak gemerlap, industrialisasi, mobilitas, sosialita dan konsumsi gaya hidup yang berlebihan. Dunia ini hanya dimiliki sebagian kecil penduduk bumi, terutama mereka yang hidup di perkotaan. Di Indonesia, data BPS menyebutkan lebih dari 60 persen penduduk tinggal di pedesaan. Sisanya tinggal di perkotaan.

Kehidupan masyarakat perkotaan ini kemudian membentuk satu ciri budaya urban. Dikatakan sebagai kebudayaan karena terlihat dari perbedaan cara berpikir, cara merasa, dan cara bertindak manusia di tengah konstelasi kehidupan kota modern.

Masyarakat urban umumnya dicirikan dengan ritme kehidupan yang tinggi, tuntutan kehidupan yang ketat dan menghabiskan nyaris seluruh waktunya di luar rumah. Ikatan sosial pun hampir dipastikan merenggang, sehingga muncullah bibit individualisme.

Yang paling banter dari ciri kehidupan masyarakat urban adalah pola konsumsi menurut logika berpikir materialistis yang meyakini bahwa kepemilikan terhadap suatu benda merupakan hal yang mutlak. Karena itu, kehidupan ini bergaya kapitalisme.

Fenomena urbanisasi sebetulnya muncul pertama kali pada awal abad ke-19 sebagai konsekuensi lanjutan dari fenomena industrialisasi yang melanda Eropa. Urbanisasi di telah menjadikan Eropa lebih baik secara ekonomi dan finansial.

Dalam penelitiannya tentang kota di Abad Pertengahan Eropa, Henri Pirenne melalui tulisannya Kota Abad Pertengahan (1925) berpendapat bahwa dua karakteristik yang mendasar bagi budaya perkotaan: borjuis atau kelas menengah yang bergantung pada perdagangan, kekayaan dan otonomi politik dari penguasa feodal non-urban.

Pada tahun 1940-an, Robert Redfield dalam artikelnya “The Folk Society” menganggap urban sebagai yang selalu impersonal, heterogen, sekuler, dan tidak teratur.

Dalam model folk-urban, Redfield membandingkan gambar kehidupan kota ini dengan gambar komunitas rakyat, yang dikarakteristikkan sebagai kecil, sakral, sangat personalistis, dan homogen.

Redfield berasumsi bahwa ketika individu berpindah dari komunitas rakyat ke kota atau ketika seluruh masyarakat bergerak menuju budaya yang lebih urban, akan ada gangguan dalam tradisi budaya.

Di mana individu dan masyarakat yang mengalami urbanisasi akan menderita disorganisasi budaya dan akan memiliki insiden patologi sosial yang lebih tinggi seperti perceraian, alkoholisme, kejahatan, dan kesepian.

Barulah pada 1970-an, David Harvey (1973), Manuel Castells (1977), dan para cendekiawan lain yang dipengaruhi oleh Marxisme membuat perubahan besar dalam konsepsi peran budaya urban.

Mereka menganggap kota sebagai terminal untuk peran budaya yang berasal dari budaya yang lebih luas atau bahkan sistem dunia.

Harvey, misalnya, menghubungkan perubahan besar dalam kehidupan urban Amerika dengan budaya urban kapitalisme maju. Baginya, pertumbuhan pinggiran kota berkembang dari promosi pola konsumsi baru oleh kapitalisme.

Castells di sisi lain melihat kota sebagai arena konflik sosial yang akhirnya berasal dari perpecahan kelas dalam masyarakat kapitalis.

Erich Fromm sebelumnya pernah mengatakan bahwa salah satu problem akut manusia modern adalah keterasingan atau alienasi. Di mana nalar modernisme menjadikan manusia terasing dari dunianya bahkan dirinya sendiri.

Dalam perspektif psikoanalisis Freud, keterasingan merupakan manifestasi dari ketertundukan manusia pada hasrat dan mengabaikan super ego. Pemujaan berlebih pada hasrat menjadikan manusia dan masyarakat rentan sakit secara psikologis.

Efek virus Corona keluara-keluarga urban kembali ke rumah dan merasakan suasana rumah secara baru. -Dok. Thrive Global
Efek virus Corona keluara-keluarga urban kembali ke rumah dan merasakan suasana rumah secara baru. -Dok. Thrive Global

“Pulang Ke Rumah”

Problem keterasingan inilah yang menjadi kegelisahan selama masa pandemi ini. Tidak mudah bagi individu dan masyarakat yang terbiasa bekerja atau tinggal di luar ‘rumah’, sebuah ciri masyarakat urban, untuk mengakrabi rumah atau meja keluarga.

Selama ini mereka terlampaui jauh dari rumah. Lebih memilih makan di restoran, atau tidur di apartemen. Mereka juga terbiasa untuk melakukan perjalanan internasional atau berwisata ke tempat-tempat terindah di dunia. Karena mereka punya uang.

Namun ketika Corona merebak, mereka harus “pulang ke rumah” pribadi. Sebuah cita rasa yang sungguh berbeda yang secara perlahan coba mereka urai di sana.

Untuk menghilangkan rasa bosan atau sepi, mereka mandi di kolam renang pribadi atau melakukan kegiatan pribadi lain yang diyakini dapat mengusir perasaan itu.

Sementara untuk masuk ke dapur keluarga, setelah sekian tahun ditinggalkan karena sering makan di warung atau restoran, ada sebuah konstraksi psikologis terjadi di sana.

Peralatan dapur dapat dikatakan sudah kusam. Untuk mengurangi beban pembantu, mereka berusaha memasak sendiri untuk dihidangkan kepada suami dan anak-anak di meja makan keluarga yang sudah lama pula ditinggalkan.

Butuh waktu bagi seorang individu atau masyarakat untuk mengakrabi watak kehidupan yang sudah lama asing dari kehidupan mereka. Hal ini kontras dengan watak kehidupan masyarakat rural, meski mungkin terpaksa harus merantau ke kota.

Modernisme yang kemudian melahirkan konsumerisme telah melemparkan sekelompok masyarakat dari tradisi makan di meja keluarga ke meja restoran dengan makanan siap saji. Ini menjadi problem kultural ketika wabah Corona menerpa dunia dan memanggil pulang mereka untuk mengakrabi meja keluarga.

Dan persis, mayoritas penduduk terkonfirmasi virus Corona saat ini merupakan kelompok masyarakat kelas menengah, atau orang-orang kaya, untuk meminjam istilah Pirenne.

Kita tidak dapat mengklaim bahwa virus ini hanya menyerang orang kaya atau kelompok masyarakat kelas menengah, namun laporan resmi telah membuktikannya.

Dengan ledakan bencana ini, maka kelompok sosial masyarakat inilah yang paling terdampak. Mulai dari aktivitas produksi, distribusi dan konsumsi.

Corona seolah memutus matarantai kekayaan, perdagangan dan bisnis mereka. Mereka harus “stay at home” dan ini menjadi kebijakan yang begitu menggelisahkan. Banyak keuntungan yang seharusnya dicapai namun tinggal landas.

Beberapa waktu lalu, Juru Bicara Pemerintah untuk Covid-19 Achmad Yurianto menuduh bahwa orang miskin telah menularkan virus Corona kepada orang-orang kaya di Indonesia. Sebuah pernyataan diskriminatif yang kemudian dikecam netizen.

Secara kontras, diktum yang digunakan Yurianto memperlihatkan bahwa pada kenyataannya kelompok kelas menengah-lah yang paling terdampak.

Namun mempersalahkan orang miskin, atau sengaja membuat stratifikasi sosial dalam kasus ini, akan sangat tidak manusiawi.

Orang miskin adalah kelompok yang juga paling rentan terdampak kehilangan suplai bahan makanan pokok dan pekerjaan, sehingga mesti ditopang oleh pemerintah.

Sementara orang kaya bukannya kehilangan pendapatan, tapi secara kalkulasi ekonomi, mereka tidak memiliki pemasukan, alih-alih ketika Corona mereda, aktivitas produksi dan distribusi akan kembali berjalan normal.

Jadi, mereka tidak pernah dirugikan. Hanya bahwa ada kehilangan pendapatan karena sewaktu-waktu dan menjadi tidak produktif. Ada kasus di luar negeri di mana banyak perusahaan mem-PHK-kan karyawannya. Justru itulah yang dipikirkan pemerintah saat ini ketika tidak memberlakukan lockdown.

Sebagai kesimpulan, yang paling merasa “bermasalah” dengan pandemi global ini adalah kelompok kelas menengah. Selain harus menyesuaikan diri dan mengakrabi kembali rumah, kebijakan untuk karantina atau isolasi diri bukanlah logika masyarakat urban.

Tajuk “WorkFromHome” dan “DiRumahAja” adalah dua hal yang bertentangan. Satunya, “DiRumahAja”, menunjukkan logika masyarakat rural, sementara WFH merupakan logika masyarakat urban yang tak mau kehilangan pekerjaan di tengah krisis.*

Baca Juga

Imajinasi dan Kontradiksi Pembukaan Mall

Portal Teater - Pemerintah akan menerapkan "new normal" mulai 1 Juni mendatang. Penerapan protokol kesehatan ini merupakan pilihan kebijakan di antara pilihan lainnya untuk...

Teater Karantina #5: Postingan Masadepan Seperti Biasa

Portal Teater - Di halaman monitor, kita hanya bisa melihat fitur-fitur pada laman "anchor.fm", ketika kita mulai menikmati sebuah proyek dokumenter audio: merekam hari-hari...

Update Corona 28 Mei: 6.240 Sembuh, 1.496 Meninggal, Total 24.538 Positif

Portal Teater - Kasus baru pada hari ini bertambah tipis menjadi 687 kasus, naik satu angka dari sebelumnya 686 kasus. Terkonfirmasinya 687 kasus baru ini...

Terkini

Silang-Sengkarut “New Normal”

Portal Teater - Sejak beberapa waktu lalu, Presiden Joko Widodo telah mendengungkan wacana pemberlakukan "new normal", atau yang menurut ahli Bahasa Indonesia sebut sebagai...

“Dini Ditu” Teater Kalangan: Menjahit Publik di Ruang Digital

Portal Teater - Kehadiran pandemi virus corona barangkali tak pernah dipikirkan atau diramalkan, meski ada teori konspirasi yang menyeruak belakangan bahwa Bill Gates telah...

Teater di Ruang Digital

Portal Teater - Bencana bukan alam sedang menghinggapi sebagian besar negara di dunia dan Indonesia termasuk kebagian. Wabah yang disebut Covid-19 sedang bergentayangan dan belum...

Rencana Reaktivasi Pembelajaran Ditolak

Portal Teater - Dunia pendidikan menjadi salah sektor yang ikut terpukul oleh pandemi virus corona. Di Indonesia, seluruh kegiatan pembelajaran dihentikan dan dilakukan secara...

Update Corona 29 Mei: Kasus Baru Turun Tipis, Total 25.216 Positif

Portal Teater - Kasus baru virus corona turun tipis pada Jumat (29/5) sebanyak 678 kasus dari sebelumnya 687 kasus. Dengan demikian, menurut juru bicara Achmad...