Wacana Keadilan dan Politik Ruang dalam “J.J Sampah-Sampah Kota” Teater Koma

Portal Teater – Masih adakah orang seperti Jian di dunia ini kini? Mungkinkah seorang yang hidup jujur dan baik pantas menerima hukuman yang tidak setara dengan perbuatannya?

Atau haruskah ia bersikap permisif terhadap apa yang tidak pernah dilakukannya? Lalu, memilih bunuh diri? Di mana letak keadilan?

Barangkali itulah deretan pertanyaan esensial yang patut dilontarkan ketika menonton pentas “J.J Sampah-Sampah Kota” oleh Teater Koma, Jumat (8/11), pukul 19.30 WIB pekan lalu.

Pentas ini masih akan berlangsung hingga 17 November 2019 di Gedung Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, dan didukung penuh oleh Djarum Foundation.

Jian (diperankan Zulfi Ramdoni), seorang kuli pengangkut sampah yang digaji harian. Ia hidup di kolong jembatan bersama istrinya Juhro (diperankan Tuti Hartati), yang tengah hamil tua.

Meski hidup serba susah, Jian tetap bekerja dengan jujur dan tabah melayani keluhan dan permintaan sang istri, Juhro. Nama “J.J” dalam judul karya ini merujuk pada nama kedua pasang suami-istri ini, Jian-Juhro.

Nama kedua tokoh suami-istri ini menginspirasi Nano Riantiarno menulis naskah ini dan mementaskannya pertama kali tahun 1979. Dan kini karya ini digarap anaknya, Rangga Riantiarno sebagai sutradara.

Juhro sendiri pada umur tiga belas tahun sudah harus bekerja di pabrik teh, kemudian dipecat, dan kemudian menjajakkan tubuhnya dengan menjadi pelacur.

Ia sempat putus asa dan berniat bunuh diri, namun ditolong Jian. Mereka kemudian memutuskan hidup bersama di kolong jembatan.

Di sana mereka tidak sendirian. Setidaknya tujuh keluarga pemulung lain, yang mengadu nasib dengan mengais sampah-sampah di pinggiran kali, jembatan, dan tempat pembuangan sampah lainnya.

Jinten (diperankan Hapsari Andira) adalah sosok unik yang turut mewarnai kehidupan kolong jembatan. Kelereng atau gundu menjadi sahabat, sekaligus sumber kebahagiaannya.

Jinten tak pernah mengganggu atau mengusik siapa pun. Ia hanya punya cara sendiri untuk bersenang-senang di tengah beratnya beban yang terus mengusik pikirannya. Ia hidup di sekitar rel kereta api, dan berteman baik dengan Tarba.

Di masa-masa akhir kehamilannya, Juhro meminta agar Jian membelikannya celana dalam yang bagus seperti yang pernah ditawarkan oleh kedua sahabatnya yang adalah pelacur di sebuah tempat lokalisasi.

Jian berjanji memenuhi permintaan itu karena selama masa kehamilan Juhro, ia menyisipkan sebagian rezekinya untuk menabung. Dari perkiraannya, uang tabungan itu bisa untuk membeli permintaan Juhro dan keperluan lain pasca-kelahiran.

Betapa paniknya Jian ketika diketahui satu-satunya tabungannya dicuri maling, yang adalah rekannya sendiri, Tarba (diperankan Bayu Dharmawan Saleh).

Tidak ada yang bisa dilakukannya lagi selain menangisi nasibnya. Jian tersedu-sedan meratapi kemungkinan istrinya tidak bisa dirawat dengan baik pasca kelahiran, terutama untuk menebus biaya persalinan.

Kehilangan tabungannya itu persis terjadi setelah Jian juga menemukan setumpuk uang dalam sebuah tas di dekat kolong jembatan, yang ternyata merupakan muslihat para mandornya untuk menguji ketahanan kejujurannya.

Atas pertimbangan nurani yang suci lagi murni, Jian bertekad mengembalikan tas itu kepada pemiliknya sesuai alamat yang tertera di tas. Meski ia tahu istrinya akan melahirkan dan membutuhkan uang.

Dengan perangai yang polos, jujur dan lugu, Jian melepaskan semua iming-iming “kaya mendadak” seperti yang diinginkan banyak orang, meski dengan meraup keuntungan dari apa yang bukan menjadi keringatnya.

Namun, niatnya itu kemudian diuji oleh Tarba, yang menginginkan agar uang temuan itu dibagi dengan porsi yang sama. Perkelahian terjadi antara kedua sahabat karib itu.

Namun, kejujuran selalu menang atas keserakahan. Jian berhasil melewati ujian sahabatnya dan mengembalikan tas beserta setumpuk uang itu kepada mandornya melalui “meja” sekretaris.

Sayangnya, bahasa kejujuran Jian diplintir oleh sekretaris mandor. Dengan cerdik penuh muslihat, ia memperdayai Jian di hadapan Mandor Nomor Satu. Katanya, Jian hanya mengembalikan tas, tapi uang diambil menjadi miliknya.

Di sini tidak hanya terjadi distorsi bahasa, tapi juga distorsi ruang, di mana “ruang” menjadi medan atau celah yang dapat dimanfaatkan orang untuk korup.

Atas tuduhan mengambil uang, Jian akhirnya ditahan lalu dihukum. Dan bagi para mandor, tindakan mengembalikan tas dan uang merupakan bentuk pemberontakan Jian terhadap mereka.

Penahanan dan hukuman Jian dilawan oleh para kuli angkut sampah. Mereka berkumpul dan menggugat para mandor yang dianggap sok berkuasa dan tidak punya nurani.

Bordes (diperankan Ade Firman Hakim), sang pembangkit kemarahan, boleh dikatakan Sengkuni masa kini, menjadi pemimpin para kuli itu. Mereka terus berteriak-teriak, menuntuk agar keadilan harus ditegakkan.

Bagi mereka, Jian adalah orang jujur dan patut dicurigai dakwaan yang dikenakan kepada sahabat sesama kuli mereka itu. Dengan kekuatan dan jiwa muda, Bordes menghasut para kuli untuk berdemonstrasi.

Tarba juga ikut dalam aksi tersebut, teriak-teriak seperti orang kesurupan. Akibatnya, ia dipukuli petugas dan diancam akan dijebloskan ke penjara.

Dalam aksinya, mereka menggambar wajah Jian dalam sebuah poster dan diarak sepanjang aksi demo. Jika sebelumnya, aksi mereka selalu dipukul mundur, maka kasus Jian menjadi loncatan kekuatan untuk mendesak para mandor menegakkan keadilan.

Juhro, istri Jian, di tengah kondisi keluarga serba susah, dengan anak yang baru dilahirkan, memutuskan untuk mengadu dan menuntut agar kasus Jian segera disidangkan di pengadilan.

Para mandor tidak hanya mengiyakan, melainkan menantang Juhro: apakah ia berani membayar biaya persidangan yang ditaksir mencapai ratusan juta (“nolnya banyak”, kata seorang mandor).

Demi kasih dan cintanya, Juhro pun menyetujui tantangan itu. Salah satu cara untuk mengumpulkan uang sebanyak itu adalah dengan “kembali” ke profesi awalnya sebagai pelacur.

Juhro melepaskan anaknya dan menjajakkan dirinya kepada laki-laki hidung belang. Tidak hanya di rumah pelacuran, tapi juga “rumahnya” sendiri dijadikan tempat pelacuran.

Setelah merasa cukup membiayai persidangan Jian, Juhro menghadap sekretaris mandor seraya menyerahkan “uang haram” yang dikumpulkannya. Lagi-lagi, sekretaris yang cerdik itu menahan informasi itu sehingga persidangan Jian tidak pernah dilakukan.

Jian kemudian dihadapkan pada dua pilihan: dihukum dengan dibunuh atau bunuh diri. Sebilah pisau telah diserahkan seorang mandor kepadanya. Keputusan kini berada di tangannya. Seperti orang yang terlahir bukan berwatak pemberontak, Jian akhirnya menghabiskan masa hukumannya dengan “bunuh diri”.

Tindakan bunuh diri Jian, bukanlah wujud dari tekanan psikologis, depresi atau kehilangan kontak sosial dengan orang-orang sekitarnya.

Aksi bunuh dirinya adalah simbol pengorbanan seorang anak manusia bagi tegaknya keadilan. Agar dunia sadar dan tahu, bahwa kesahihan kebenaran selalu berasal dari wacana pertumpahan darah.

Namun, sebagai negara demokrai hukum, dengan asumsi di hadapan hukum semua setara, adilkah perlakuan yang dilakukan para mandor terhadap Jian? Di mana nurani mereka?

Juhro yang kehilangan bayinya karena diculik para mandor pun tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Namun sahabat-sahabatnya, meski sama-sama hidup di kolong jembatan, menghiburnya. Kemurnian hati mereka melampaui kondisi kemiskinan yang dihadapi.

Wacana “Sampah-Sampah Kota”

Judul pentas ini: “J.J Sampah-Sampah Kota” setidaknya melahirkan beberapa alternatif pemikiran untuk mendefinisikan: siapa yang menjadi “sampah-sampah kota”?

Dari penamaan, secara gamblang kita mengetahui, yang menjadi “sampah-sampah kota” adalah Jian dan Juhro. Hal ini juga persis seperti inspirasi yang digali sang penulis naskah.

Seperti juga halnya dalam percakapan antara Juhro dan Jian pada suatu waktu di teras gubuk kolot mereka. Menyadari kondisi kemiskinan mereka, Juhro berujar:

“Kita ini umpama sampah, ngambang dibawa arus kali. Di mana pun tersangkut, di situ kita istirahat.”

Karena hidup dengan mengais sampah-sampah, maka Jian, Juhro, termasuk juga para kuli lainnya masuk ke dalam kategori “sampah-sampah kota”.

Lantas, siapa yang memberikan definisi tersebut. Apakah penguasa atau negara, kaum kapitalis, masyarakat, atau benar-benar diri mereka sendiri.

Wacana tentang nominalisasi “sampah-sampah kota” sejatinya mesti dilacak dalam konteks pertarungan ideologi, antara negara, kapitalis-borjuis dengan proletar.

Para mandor dalam konteks ini merupakan simbol kaum borjuis-kapitalis yang mencengkram kebebasan dan naluri pemberontakan kaum proletar. Segala instrumen dipakai, termasuk dengan menggandeng negara. Apalagi di tengah arus globalisasi, negara kian dirongrong oleh kapitalisme.

Mandor Kepala, yang dihadirkan melalui tayangan video, atau semacam teleconference, yang dengannya menjadi tubuh pertunjukan itu sendiri, adalah sosok kapitalis yang secara dominan mendefinisikan siapa itu “sampah-sampah kota”.

Baginya, Jian, Juhro dan teman-temannya adalah “sampah” yang harus diperdayai, digenggam dan dikuasai ruang-ruang kehidupan mereka. Sebab mereka tidak memiliki tempat yang layak di masyarakat. Mereka pantas disingkirkan.

Ini sejalan dengan konsep Marx yang melihat kota sebagai tanda kemajuan dan lompatan besar produktivitas yang ditimbulkan oleh kapitalisme. Karenanya kota juga sebagai tempat bagi kemiskinan, keseragaman dan kekejian.

Demikian halnya dengan Harvey (1973, 1985) dan Castells (1977, 1983) yang melihat geografi kota bukan akibat dari kekuatan alamiah, melainkan kekuatan kapitalisme dalam menciptakan pasar dan mengendalikan tenaga kerja dan tujuannya untuk perluasan kapitalisme industri.

Menurut Harvey, negara telah memainkan peran dominan dalam reproduksi kapitalisme dan pembentukan lingkungan perkotaan. Kota dikatakan sebagai tempat perjuangan kelas yang ditimbulkan oleh kapitalisme dan ditandai oleh perseteruan ruang dan distribusi sumber daya.

Ini menyebabkan adanya pembedaan antara “ruang depan” dan “ruang belakang” untuk mengilustrasikan divergensi dalam aktivitas sosial-spasial, seperti asumsi Goffman (Barker, 2009).

“Ruang depan” dipandang sebagai ruang orang terhormat, sedangkan “ruang belakang” adalah tempat hidup kaum marginal, miskin, kaum terbuang dan terbungkam, atau dalam definisi ini sebagai “sampah-sampah kota”.

Di Jakarta, dan beberapa kota lainnya, negara (dalam hal ini pemerintah) telah menyediakan hunian yang cukup layak kepada kaum marginal kota, misalnya dengan pembangunan Rumah Susun oleh pemerintah.

Namun, kerap terjadi relokasi itu dilakukan dengan paksaan karena belum ada kesamaan kepentingan antara kedua entitas kekuasaan tersebut. Negara dalam tataran ini masih ditunggangi kepentingan kapitalis untuk merebut ruang seluas mungkin demi pengembangan industri dan bisnis.

Dua disparitas ini akan terus bertarung untuk menunjukkan signifikansi, dominasi dan legitimasinya dalam politik ruang (kota): siapa yang memiliki hak dominan atas (ruang) kota.

*Daniel Deha

Baca Juga

Rudolf Puspa: Menggelorakan Berkesenian

Portal Teater - Saya masih ingat ketika pada tahun 2016 Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy menyerukan kepada penyelenggara pendidikan untuk menggelorakan aktivitas kesenian. Saya...

Terkini

Rudolf Puspa: Menggelorakan Berkesenian

Portal Teater - Saya masih ingat ketika pada tahun 2016 Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy menyerukan kepada penyelenggara pendidikan untuk menggelorakan aktivitas kesenian. Saya...

Para Penyair Robot, Ekosistem Penulis dan Tak Ada Apa-apa

Portal Teater - Sebuah unggahan Instagram milik akun @balingehits memunculkan performance berbeda tentang pisang, bapak dan ibu. Kata ditempatkan di atas bidang IG putih...

Galerikertas Kembali Buka Ruang Pameran untuk Publik

Portal Teater - Setelah beberapa bulan ditutup karena situasi pandemi, awal Juli ini Galerikertas akhirnya kembali dibuka untuk publik. Pembukaan kembali galeri berbasis Depok, Jawa...

Rontoknya Kekerasan karena Cinta

Portal Teater - Apakakah kekerasan akan luluh lantak dengan indahnya alis mata, binar indah bola mata dan lentik bulu mata. Atau malah makin ganas? Dalang (sutradara)...

Teater Broadway Tutup hingga Awal 2021

Portal Teater - Teater Broadway telah mengumumkan secara resmi bahwa akan tetap menutup teaternya sepanjang sisa tahun ini hingga awal tahun 2021 mendatang. Meski demikian, pembukaan...