William Shakespeare, Renaisans dan Masakini

Portal Teater – Sadar atau tidak, hampir semua kerja kesenian mengadopsi naskah-naskah William Shakespeare (1564-1616). Bahkan, bukan hanya mengadopsi, tetapi praktik-praktik kesenian masakini, baik seni teater, tari, puisi atau soneta, drama, novel, sinetron dan film, menghidupi model dan modus penciptaan yang selalu merujuk pada karya-karya Shakespeare. Golongan ini kemudian lazim disebut Shakespearean.

Hal ini dikatakan dua pembicara yang terkenal akrab dengan karya-karya Shakespeare: Dr. Paul Smith, Direktur British Council Indonesia, dan Ari Jogaiswara Purwawidjana, pengajar pada Universitas Padjajaran Bandung, pada kuliah (lecture) bertemakan “William Shakespeare, Renaisans dan Masakini”, Jumat (12/7).

Kuliah ini sendiri merupakan salah satu rangkaian acara pada pagelaran Djakarta Teater Platform (DTP) yang diselenggarakan pada 8-20 Juli 2019 di Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki Jakarta.

Kuliah ini dibuat dengan tujuan untuk membaca kembali bagaimana melihat karya-karya Shakespeare di tengah tumbuhnya sebuah generasi baru sebagai warga internet (netizen); sebuah era yang juga sedang berubah dari Gutenberg printing sebagai pengada baru ke era pengada digital.

Sejak di bangku kuliah, Smith telah menekuni dan menggumuli naskah-naskah Shakespeare. Bagi Smith, Shakespeare adalah segala-segalanya. Hampir tidak dapat membayangkan dunia tanpa penulis naskah drama terkenal itu. Bahkan, Shakespeare telah mengubah DNA setiap kebudayaan manusia di manapun.

Lebih dari itu, Shakespeare telah mengubah identitas pribadi manusia, terutama seniman. Separuh anak sekolah di dunia pun sedang mempelajari drama Shakespeare, kecuali Korea Utara.

Sebagaimana dalam uraiannya yang diterbitkan tahun 2016 mengenang 400 tahun kematian Shakespeare, Smtih bahkan sulit membayangkan sejauh mana kematangan budaya Barat, bahkan dunia, jika Hamlet, karya monumental Shakespeare yang terstruktur dan mendalam tidak pernah hadir dan ada.

Di Amerika Serikat, menurut penuturan Smith, rakyatnya begitu antusias dan mencintai pembelajaran tentang Shakespeare. Orang-orang Amerika mendirikan sebuah gedung Perpustakaan Folger Shakespeare, untuk merayakan Shakespeare.

Smtih mengatakan, bagi Shakespeare, teater adalah sebuah pertunjukan yang paling tinggi dari semua jenis praktik kesenian; teater sebagai pertunjukan pertama. Apa yang membuat teater lebih bernilai adalah karena di dalam medan teater, Shakespeare menekankan pentingnya dialog dan kepercayaan pada aliran naskah.

Shakespeare tidak menyukai kata-kata mewah, yang merujuk kepada bahasa kaum bangsawan, tetapi senantiasa menggunakan kata-kata sederhana. Meski kemudian Shakespeare diundang oleh kerajaan untuk dipentaskan di istana kerajaan.

Shakespeare, selain terkenal sebagai penulis naskah, tetapi juga adalah seorang aktor. Dalam pementasan-pementasaannya, kata Smith, Shakespeare selalu mementingkan aksi dan reaksi kedua pemain di atas panggung. Dan ia tidak suka pada dialog berbentuk pidato.

Hal yang sama diungkapkan Ari Yoga. Baginya, Shakespeare senantiasa hadir dan ditemukan dalam kebudayaan kontemporer kita di sini. Namun, yang justru lebih banyak hadir dan ditemukan adalah Shakespearean.

Shakespeare hidup sebagai penulis, pemain peran, sutradara, dan pengusaha, dan, ketika wafat, karyanya mengubahnya menjadi yang disebut Foucault sebagai “la fonction-auteur,” semacam sosok hantu yang senantiasa hadir dengan penuh kewenangan ketika kita membaca teks.

Dan, Shakespeare dan yang Shakespearean ini tidak jarang berseberangan pendirian. Mungkin kontradiksi itulah yang menyebabkan tak henti-hentinya karya-karya seni kini dihasilkan dengan merujuk ke Shakespeare, baik secara sadar maupun tidak.

Lebih lanjut Ari Yoga menandaskan, mengapa naskah-naskah Shakespeare dengan masif mempengaruhi kultur dan identitas kemanusiaan global adalah karena ekspansi kalangan mapan Inggris ke seluruh dunia yang dimulai pada masa-masa Shakespeare hidup dan setelahnya.

Kehadiran perusahaan-perusahaan besar Inggris (East India Company, Virginia Company, Hudson Bay Company) ke negara-negara jajahan, yang hampir terjadi di semua benua, menajdi kekuatan imperial dan kolonial yang memaksa daerah-daerah yang dieksploitasinya masuk ke dalam modernitas yang sedang dikembangkannya.

Dalam konteks Indonesia, kehadiran Inggris pada sekitar abad ke-17, yang kemudian bersaing dengan Belanda (VOC), turut membentuk identitas kebudayaan Inggris di tanah air kita.

Struktur puitik Shakespeare hadir pada beberapa sajak Sapardi Djoko Damono: “Hujan di Bulan Juni,” yang dilihat sebagai salah satu sajak terpopuler dalam kesusastraan Indonesia. Sajak ini banyak digunakan sebagai bahan musikalisasi puisi.

Namun, dalam khazanah kesustraan Indonesia, masifnya pengetahuan dan pengenalan karya Shakespeare dimotori oleh W.S. Rendra yang berhasil menerjemahkan dua karya Shakespeare: Hamlet dan Macbeth. Tetapi Ari Yoga mengatakan, Rendra cenderung meninggalkan karakter Shakespeare, karena lebih menonjolkan dialog yang khas pidato.

Menurut Ari Yoga, memang tidak sedikit pementasan teater di Indonesia secara ekplisit menghadirkan diri sebagai pementasan karya Shakespeare atau sadurannnya, termasuk yang dilakukan Bengkel Teater dan Studi Teater Bandung.

Namun, Shakespeare juga hadir dan mengendap dalam konvensi bangun teater secara umum. Teater komedi ala Srimulat, misalnya, mengoperasikan peranti salah-paham dan salah-identifikasi, sebagaimana yang lazim (kalau bukan, selalu) dijalankan dalam komedi Shakespeare.

Shakespeare dan Renaisans

Shakespeare lahir persis ketika peradaban dunia sedang memasuki periode yang disebut Renaisans. Ia meningkatkan popularitas sastra, drama dan drama. Ia juga menemukan (dengan sukses) berbagai kata dan frasa baru (beberapa masih digunakan sampai sekarang).

Ia menulis cukup banyak tentang peran wanita yang hidup di zaman Renaisans selama akhir 1500-an dan awal hingga pertengahan 1600-an di Inggris, yang tidak seperti biasanya bagi seorang lelaki saat itu.

Misalnya, dalam naskahnya tentang Katharina sebagai karakter yang hampir bersimpati dalam The Taming of the Shrew , terutama setelah suaminya, Petruchio, menganiaya dan menertawakannya agar tunduk.

Demikian halnya, Juliet yang juga memberontak terhadap cita-cita keluarganya. Dalam pernikahannya dengan Romeo, Juliet membuang semua yang bisa diberikan oleh keluarganya untuk cinta.

Inilah kontribusi Shakespeare terhadap gerakan Renaisans pada masa itu. Renaisans sendiri berarti “kelahiran kembali” dari kata bahas Prancis: ‘renaissance’. Kata ini pertama kali diperkenalkan oleh sejarawan Prancis Jules Michelet (1855) dalam salah satu karya ilmiahnya yang berjudul “Historie de France” (Kenzou, 2017).

Renaisans ini sangat berkaitan dengan pergerakan kebudayaan yang mempengaruhi kehidupan para intelektual di Eropa, terutama setelah periode Abad Pertengahan, atau sekitar abad ke-14 M.

Pada era Renaisans, para kaum terdidik Eropa mulai berani mengeluarkan gagasan-gagasan yang berbeda dengan gereja. Periode ini menjadi penentu bagi peradaban Eropa yang modern, yang pada umumnya menggunakan metode humanis serta penemuan unsur realisme dan emosi dalam melakukan pengembangan seni.

Gerakan ini ingin mengembalikan kejayaan Romawi dan Yunani yang buram oleh dominasi gereja. Para kaum Renaisans percaya bahwa kebudayaan Yunani dan Romawi dapat memberikan keteraturan bagi kehidupan manusia melalui pola pikir yang bercorak humanisme melalui berbagai karya seni, seperti lukisan, sastra, dan patung.

Beberapa tokoh yang membangkitkan peradaban modern di Eropa, salah satunya adalah penemuan mesin cetak oleh Johann Gutenberg (1452), yang kemudian mengubah sejarah Eropa dan dunia. Dengan ini, pendidikan berkembang dan terjadi diversifikasi pandangan terhadap agama. Di sisi lain, kekuasaan raja tidak lagi mutlak karena dianggap datang dari Tuhan (teokrasi). Dunia benar-benar berubah.

William Shakespeare tumbuh dalam perubahan zaman seperti ini, di mana orang datang ke gedung teater untuk mendengar kisah, karakter, konflik, drama maupun tragedi dengan jumlah penonton sama seperti sepak bola di masa kini.

Kontribusi Shakespeare pun dapat ditemukan dalam beberapa karyanya, seperti Macbeth, yang sangat menghibur dan juga moralistis, yaitu dengan melawan keserakahan dan keinginan kekuasaan.

Dari beberapa puisi naratif, 154 soneta dan 38 drama ditulisnya, Shakespeare dimakamkan hanya dengan empat garis tetrameter jogtrot yang muncul di atas batu nisannya sebagai warisan peringatan abadi.

Paul Smith

Smith telah bekerja selama 36 tahun bersama British Council dan telah berkeliling ke 12 negara di lima benua. Terakhir ia menjadi Direktur British Council di Indonesia sejak Juli 2016.

Smith dilahirkan pada tahun 1956, dan dididik di King Edward’s School Birmingham dan Queens ‘College Cambridge. Dari tahun 1978 hingga 1980, ia mengajar di Sastra Inggris di St Stephen’s College, Universitas Delhi, dan kemudian melanjutkan studi doktoralnya di Sastra Renaissance di Universitas Cambridge yang juga bekerja sebagai pengawas akademik untuk siswa-siswa terhormat Cambridge BA.

Karier Smith di British Council dirintis sejak tahun 1983. Dia pernah mengabdi di Nigeria, Myanmar, Cili, Banglades, dan Jerman. Smith juga adalah mantan Direktur British Council di Selandia Baru dan India. Pada 2005-2010, Smith menjabat Direktur British Council Mesir dan Afganistan (2010-2012).

Sebelum ke Indonesia, Smith ditugasi sebagai Direktur British Council di AS sejak tahun 2012. Di Inggris ia telah memegang jabatan Wakil Direktur Drama dan Tari (1987-1989) dan Direktur Seni (1999-2000).

Smith menyebutkan dirinya merasa terhormat untuk mempererat kerja sama antara Inggris dan Indonesia dalam berbagai bidang. Dia mengapresiasi karakter penduduk Indonesia yang dikenalnya ramah. Smith dikenal sebagai sosok yang menggemari kajian sejarah, hubungan kebudayaan internasional dan seni, khususnya teater.

Ari J. Adipurwawidjana

Ari J. Adipurwawidjana atau dikenal sebagai Ari Yoga, mengkaji dan mengajar teori kritik, drama, dan kesusastraan, terutama yang berbahasa Inggris, di Universitas Padjadjaran dan sempat pula mengajar penulisan akademik, kesusastraan Inggris dan Amerika sebagai adjunct instructor University of Louisiana at Lafayette.

Ari Yoga memiliki minat dan kepentingan akademik yang besar terhadap dampak ekonomi global dan perkembangan teknologi tekstual pada kehidupan dalam kerangka wacana poskolonial dan materialisme kultural, yang mencakup isu-isu kelas, gender dan seksualitas, serta ras dan etnisitas.

Sebelum tahun 2014, keterlibatannya dalam dunia teater bersifat tangensial dan sporadis, tetapi dalam menjalankan kajian poskolonial dan materialis kultural terhadap teks, ia merasakan urgensi untuk menjadikan teater sebagai wahana alternatif melakukan eksplorasi terhadap isu-isu yang relevan, termasuk signifikansi Shakespeare dalam wawasan estetis di Indonesia.

*Daniel Deha

Berikut kami lampirkan video selama diskusi:

Baca Juga

Industri Musik AS Ambruk Karena Corona

Portal Teater - Virus Corona (Covid-19) telah menyebar di 203 negara di dunia dengan terkonfirmasi positif 859.965 kasus, 42.344 meninggal dan 178.364 sembuh. Amerika Serikat...

Kemendikbud Fasilitasi Pertunjukan dan Kelas Seni Daring

Portal Teater - Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan telah menggagas penyajian aneka pertunjukan dan kelas seni dengan memanfaatkan media daring atau online. Hal itu bertujuan...

Kasus Corona Masih Fluktuatif, Ratusan Bioskop di China Kembali Ditutup

Portal Teater - Menyusul kembali meningginya penemuan pasien terkonfirmasi virus Corona akhir pekan lalu, otoritas China meminta pelaku industri bioskop untuk menutup kembali lebih...

Terkini

Shahid Nadeem: Teater sebagai Kuil

Portal Teater - Dramawan terkemuka Pakistan Shahid Nadeem dalam pidatonya pada World Theater Day 2020 (27 Maret) mengatakan bahwa penciptaan teater masa kini harus...

Jelajahi Pameran dan Koleksi Seni Museum MACAN Lewat Tur Digital

Portal Teater - Museum Modern and Contemporary Art in Nusantara (MACAN) Jakarta membuka program tur digital untuk mengajak publik menjelajahi pameran dan koleksi seni...

Satu Juta Penduduk Dunia Terinfeksi Virus Corona

Portal Teater - Virus Corona (Covid-19) telah memukul dunia di mana lebih dari satu juta penduduk terinfeksi patogen ini. Data ini menjadi tonggak pencapaian...

Intelijen AS Sebut China Sembunyikan Data Covid-19

Portal Teater - Intelijen Amerika Serikat dalam sebuah laporan rahasia mengatakan bahwa pemerintah China telah menyembunyikan data penyebaran virus Corona di negara itu, terutama...

Seni (Harus) Tetap Hidup Melawan Pandemi

Portal Teater - Beberapa bulan terakhir adalah masa berat bagi seluruh umat manusia, termasuk para seniman dan pekerja seni. Virus Corona (Covid-19) telah menewaskan...