Bentara Budaya Gelar “Blues on Stage” dan Diskusi Film di Solo

Portal Teater – Mulai hari ini pencinta musik dan film wilayah kota Solo dan sekitarnya akan terhibur oleh suguhan beberapa acara yang diselenggarakan oleh Bentara Budaya di Balai Soedjatmoko Solo.

Dibuka dengan konser musik jazz bertajuk “Juli Blues Berbunyi” malam nanti, esoknya, publik akan disuguhkan acara pemutaran film dan diskusi bertemakan “Lagi-Lagi Bicara Perempuan”.

Pada malam konser musik jazz ini akan hadir para musisi jazz beken kota Solo seperti Moodspace, Solo Blues Rock,Warisan Jazz, dan WB Jamz, yang berlangsung di Balai Soedjatmoko, pukul 19.30 WIB.

Dalam tradisi kesenian, musik blues dipandang sebagai akar dari perkembangan musik Jazz, Rock, Pop hingga masuk ke dalam dunia industri musik populer. Seperti pada awalnya muncul dilagu lagu Benyamin, Koes Plus, hingga kemudian diera 1990-an ada Slank, dan sekarang banyak bermunculan musisi-musisi blues seperti Gugun Blues Shelter, Rama Satria, Ginda Bestari, dll.

Dalam konser kali ini, lagu lagu Indonesia dimunculkan selain untuk menambah jiwa “ke-Indonesiaan” juga merangsang kreativitas musisi. Pada akhirnya, konser ini akan meramu lagu lagu Indonesia menjadi sebuah “sajian” baru rasa ‘blues’.

Menurut sejarah, istilah blues resmi dipakai baru pada tahun 1910. Blues adalah sebuah aliran musikvokal dan instrumental yang berasal dari Amerika Serikat (AS). Nama blues lahir dari istilah blue yang dikonotasikan dengan perasaan frustatif dan melankolis.

Di Indonesia sendiri musik Blues tidak asing lagi karena banyak sekali musisi-musisi yang menjadikan blues sebagai aliran dalam bermusiknya. Blues sendiri pernah booming pada masanya.

“Lagi-Lagi Bicara Perempuan”

Sementara itu, tema perempuan kembali mendapat tempat khusus dalam perbincangan hari Jumat (26/7) melalui acara Sorot Kelir Bentara Putar Film & Diskusi bertemakan “Lagi-Lagi Bicara Perempuan” di tempat yang sama. Kegiatan ini menghadirkan dua pembicara, yakni Ririn Setyowati dan Thea Arnaiz Le, yang akan dipandu oleh moderator Rizka Nur Laily Muallifa.

SRirin Setyowati dan Thea Arnaiz Le adalah dua pencerita muda yang akan berbagi cerita mengenai pengalaman menonton dua film garapan Adi Marsono: Sunday Story (2017) dan Semalam Anak Kita Pulang (2015). Keduanya memiliki kisah menarik bertaut dengan kedua film tersebut.

Adi Marsono, melalui film Sunday Story mengajak kita menyaksikan bagaimana perempuan-ibu rumah tangga melakukan tugas-tugas domestik sehari-hari. Pekerjaan yang repetitif dan tak kenal tanggal merah itu rupanya bisa membuat perempuan-ibu rumah tangga lupa bahwa hari Minggu itu ada.

Sementara dalam Semalam Anak Kita Pulang, kita juga bisa membaca narasi soal perempuan-ibu rumah tangga yang menjadi linglung akibat rindu yang keterlaluan pada anaknya yang merantau ke kota dan tak kunjung pulang.

Barangkali publik sudah bosan atau malahan muak dengan tema soal “perempuan” karena tema ini kerap diasosiasikan dengan sebutan “feminisme”; sebutan yang di masa lalu pernah ngeri dan jauh karena keterbatasan informasi yang muncul ke hadapan publik.

Di Indonesia, titik balik feminisme lekat dengan pengetahuan kita akan sosok Raden Ajeng Kartini. Bersama segenap sikap, tingkat laku, dan tulisan-tulisannya yang pada masa itu terbaca penuh perlawanan, Kartini menjadi ikon pahlawan perempuan bagi perempuan-perempuan Indonesia yang tidak lekang oleh zaman.

Sebelum lupa akan sejarah, ada juga Cut Nyak Dien, Dewi Sartika, dan banyak lagi perempuan yang “melawan“ praktik ketidakadilan dan penyimpangan dengan beragam cara.

Bagi kita saat ini, perempuan keren adalah perempuan yang berkarya atau bekerja pada institusi-institusi ternama atau berprestasi pada bidang-bidang tertentu. Pendeknya, perempuan keren adalah perempuan yang bukan bekerja di rumah sebagai ibu rumah tangga.

Namun, melalui film ini, Adi Marsono, yang nanti akan dikisahkan oleh dua pembicara, mengajak kita untuk merenungkan kebermaknaan akan eksistensi keperempuanan, baik dalam tananan sosial, gender, pendidikan, pengetahuan, dan lainnya.

*Daniel Deha

Baca Juga

Taman Ismail Marzuki Baru dan Ekosistem Kesenian Jakarta

Portal Teater - Pembangunan Taman Ismail Marzuki (TIM) Baru memasuki tahap pembongkaran fisik bangunan di kawasan TIM Jakarta. Karena komunikasi publik dari pihak Pemerintah Provinsi...

HUT Ke-46 Teater Keliling: Bermula di TIM Jakarta

Portal Teater - Empat puluh enam tahun lalu, di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta. Pada sebuah rumah yang merupakan perumahan penjaga Kebun Binatang Raden...

Suara Penyintas Kekerasan Seksual dari “Belakang Panggung”

Portal Teater - Lentera Sintas Indonesia dan Institut Français d'Indonésie (IFI) Jakarta akan mempersembahkan teater musikal "Belakang Panggung" untuk menyuarakan kesunyian yang terkubur dari...

Terkini

Suara Penyintas Kekerasan Seksual dari “Belakang Panggung”

Portal Teater - Lentera Sintas Indonesia dan Institut Français d'Indonésie (IFI) Jakarta akan mempersembahkan teater musikal "Belakang Panggung" untuk menyuarakan kesunyian yang terkubur dari...

Taman Ismail Marzuki Baru dan Ekosistem Kesenian Jakarta

Portal Teater - Pembangunan Taman Ismail Marzuki (TIM) Baru memasuki tahap pembongkaran fisik bangunan di kawasan TIM Jakarta. Karena komunikasi publik dari pihak Pemerintah Provinsi...

Perjalanan Spiritual Radhar Panca Dahana dalam “LaluKau”

Portal Teater - Sastrawan dan budayawan Radhar Panca Dahana (RPD) akhirnya kembali ke panggung teater setelah lama tak sua karena didera kondisi kesehatan yang...

Perkuat Ekosistem Seni Kota Makassar, Kala Teater Gelar Aneka Program

Portal Teater - Sejak terbentuk pada Februari 2006, Kala Teater cukup dikenal sebagai salah satu grup teater yang memiliki sistem manajemen yang solid. Dengan sekitar...

“the last Ideal Paradise”, Site-Specific Claudia Bosse untuk Indonesia

Portal Teater - Koreografer terkemuka Claudia Bosse berkolaborasi dengan seniman dari Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Denpasar, dan Lampung akan menghadirkan karya site-specific mengenai terorisme, teritori,...