“Dhestri Dhiri Dhuk”, Dari Persoalan Ekonomi Hingga Komoditas Hasrat

Portal Teater – Teater Kembali Satu, atau yang terkenal dengan sebutan Teater K_1, akan mempersembahkan lakon terbaru mereka “Dhesti Dhiri Dhuk” karya Mameth Z. Tegong di Gedung Kesenian Jakarta, Pasar Baru, Jakarta Pusat, Rabu (4/9), pukul 20.00 WIB.

Lakon ini sebelumnya pernah dipentaskan kelompok regenerasi Teater K_1  (RE-GEN) dengan judul yang sama di Auditorium Gelanggang Remaja Jakarta Barat, bertepatan dengan HUT komunitas seni teater tersebut, 1 Maret 2019.

Disutradarai Mameth, lakon ingin menyodorkan kisah pergulatan ekonomi sebuah keluarga yang terlilit utang. Sebagaimana utang itu sendiri telah menjadi bagian dari gaya hidup, banyak orang merasa nyaman dengan utang yang melilit hidup mereka.

Bahkan, masih banyak orang yang hidup dengan kekuatan utang, meski mereka sendiri tidak tahu di mana ujung yang akan menjerat kehidupan mereka sendiri.

Seperti pepatah yang selalu dipegang orang kebanyakan, yang memandang utang itu baik untuk perluasan usaha, bisnis, dan model produksi barang-barang. Tanpa utang, aktivitas produksi mandek, karena semua orang harus memulainya dari nol.

Utang, dalam tataran ini mengalami pergeseran makna, dari sesuatu yang konotatif, menjadi sesuatu yang wajar, layak dan bahkan menjadi komoditas.

Persis, hal itu terjadi pada kehidupan keluarga itu. Utang justru menjadi komoditas yang membangkitkan hasrat dan godaan besar untuk menelikung kesabaran. Hingga akhirnya, sang suami tidak percaya bahwa utangnya telah ditebus karenanya.

Dalam pentas ini, Teater K_1 akan menampilkan aktor-aktor terbaiknya, antara lain: Adi Irawan (Hafazka), Dina (Mareta), Kurtmen (Bapak), Dani Husein (Calone), Nurul Paramita (Elena), Nakka Rosandi (Kartoleo), Sobari Buitenzorg (Obong), Buyud Suyudi (Plecit) dan Lita (Tintring).

Kisah Hafazka dan Mareta

Dalam lakon ini, Teater K_1 yang berbasis di Jakarta Barat, mengangkat kisah pergumulan dan pemaknaan utang dari sebuah keluarga, dengan Hafazka sebagai suami yang bekerja sebagai pelukis, dan Mareta, seorang ibu rumah tangga yang bekerja keras memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Kedua pasangan suami-istri ini terperangkap dalam situasi rumit karena utang pada rentenir. Meski sudah mengikrarkan pernikahan, keduanya masih tinggal serumah dengan orangtua Hafazka.

Pada prinsipnya, Hafazka tidak menginginkan istrinya terus bekerja dengan alasan bahwa ayaknya mulai sakit-sakitan.

Akan tetapi, Mareta memilih tetap bekerja untuk menutupi kebutuhan harian mereka, sebab ia tahu, suaminya sebagai pelukis tidak memiliki penghasilan yang pasti tiap bulannya.

Lantas, terjadi keributan karena pendirian masing-masing. Keluarga mereka mulai tidak akur.

Suatu waktu, Hafazka kedatangan tamu, yang merupakan teman dekatnya yang berprofesi sebagai calo lukisan. Ia mendapat angin segar karena Calone membawa koleganya itu untuk melihat-lihat hasil karyanya. Kolega Calone pun berminat membeli lukisan Hafazka.

Dalam hati, Hafazka diam-diam merasa senang dan tenang karena dengan itu, ia dapat melunasi utangnya pada rentenir yang bernama Tintring dan Plecit.

Sekonyong-konyong, kedua rentenir mendatangi rumahnya, dan mengatakan bahwa utang mereka telah dilunasi oleh seseorang. Hafazka kaget. Ia tidak dapat menerima kenyataan itu.

Siapakah “seseorang” itu? Pertanyaan ini yang kiranya menggelantung di langit-langit kesadaran publik.

Hasrat Yang Menggoda

Sutradara Mameth dalam catatan kesutradaraan menulis, misteri personal kita dalam masyarakat berterus terang dan transparan. Di mana segala sesuatu telah menjadi tidak benar-benar rahasia, di saat semua kebutuhan-kebutuhan duniawi memanjakan dan menggoda hasratnya.

Siklus godaan tidak dapat dihentikan, karena seseorang dapat menggoda dalam rangka menggoda orang lain. Ini adalah kekuatan daya tarik dan distraksi nilai yang mempunyai kejutan, penyerapan dan pesona.

Inilah kekuatan hasrat yang menyebabkan pingsannya kesadaran dan kesabaran.

Dengan lakon ini, personal mempunyai eksistensi diri dengan cara mereka sendiri pada semua interpretasi. Personal selalu akan bertemu dengan problematika yang berkaitan dengan realitanya,

Dalam tataran ini, ia sebagai wujud sebuah pengalaman fisik, sosial, politik, dan ekonomi di mana aksi terjadi, psikologis dasar-dasar dari karakter, ekspresi dari berbagai permainan keprihatinan.

Tentang Teater K_1

Teater K_1 didirikan pada 1 Maret 2008, oleh Mameth T. Zegong dan beberapa temannya. Kelompok teater ini berbasis di daerah Grogol, Jakarta Barat.

Sejak pendiriannya, Teater K_1 melakukan berbagai pertunjukan teater dalam karya-karya dengan ide kreatif yang tanpa sekat dengan gaya maupun penamaan istilah dalam berkarya.

Kelompok ini terus berupaya menggali pencapaian nilai dan estetika seni pertunjukan khususnya teater dengan pendekatan artistik kekinian.

Selama pembentukannya, Teater K_1 telah mementaskan lebih dari 20 lakon yang naskahnya dibuat oleh anggota, sutradara, maupun karya yang sudah ada (naskah terjemahan dan Indonesia ).

Beberapa lakon bisa disebutkan, antara lain: “Belum Tengah Malam” karya Syaiful Affair, “Nyonya – Nyonya” karya Wisran Hadi, “Puisi Yang Terabaikan” karya Sobari MP, “Kisah Cinta Dan Lain-lain” karya Arifin C Noer, “Cebitakru” karya Mamet Z Tgong, dan “Rumah Yang Dikuburkan” karya Sam Shepard terjemahan Akhudiat.

Terakhir, Teater K_1 mementaskan karya “Dhesti Dhiri Dhuk” karya Mameth Z. Tegong di Gedung Kesenian Jakarta, Rabu (4/9). Lakon yang sama akan dipentaskan di Anjung Seni Idrus Titin, Pekan Baru, Riau, 11-12 Oktober 2019.

*Daniel Deha

Baca Juga

Stimulus Fiskal untuk Resiliensi Industri Seni

Portal Teater - Sebelumnya kami menurunkan tulisan mengenai industri seni Indonesia yang begitu menderita di tengah wabah global virus Corona (Covid-19). Pendasarannya, sampai saat ini...

Linimasa Kasus Corona Indonesia Selama Maret 2020

Portal Teater - Sebulan penuh Indonesia telah bergumul dengan ancaman virus Corona (Covid-19). Sejak pertama teridentifikasi melalui dua pasien Corona di Depok, Jawa Barat,...

Virus Corona dan Problem Kultural

Portal Teater - Virus corona (Covid-19) yang kini melanda dunia, bagi Yuval Noah Harari, salah satu filsuf masakini, merupakan krisis global. Mungkin krisis terbesar...

Terkini

Data dan Dana Untuk Pekerja Seni Terdampak Corona

Portal Teater - Pemerintah Indonesia membuka jalur pendataan bagi pekerja seni yang secara ekonomi terdampak virus Corona. Pendataan telah dibuka sejak akhir pekan lalu,...

Mendata Pelaku Industri Kreatif Terdampak Corona di Ibukota

Portal Teater - Virus Corona (Covid-19) telah memukul semua lini kehidupan manusia saat ini. Wabah global ini tidak hanya menghantam sektor ekonomi, politik, atau...

Mendata Pekerja Seni Terdampak Corona

Portal Teater - Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Dinas Kebudayaan membuka pendataan bagi pekerja dan pelaku seni di ibukota yang terdampak secara ekonomi akibat...

Teater Karantina #1: Wabah Athena, Galen dan Oedipus Kode

Portal Teater - Lukisan Michiel Sweerts, "Wabah di Kota Tua" (Plague in an Ancient City) banyak dikutip dan dipercayai mengambarkan wabah besar yang pernah...

Shahid Nadeem: Teater sebagai Kuil

Portal Teater - Dramawan terkemuka Pakistan Shahid Nadeem dalam pidatonya pada World Theater Day 2020 (27 Maret) mengatakan bahwa penciptaan teater masa kini harus...