Dosen IKJ Gelar Pameran Bertajuk “Art Within and Beyond Bureaucracy”

Portal Teater – Para Dosen Pengajar Fakultas Seni Rupa (FSR) Institut Kesenian Jakarta (IKJ) mengadakan pameran kolektif bertemakan “Art Within and Beyond Bureaucracy” pada 22-28 Juni 2019 di Galeri Cipta II dan III Taman Ismail Marzuki Jakarta.

Pameran ini diikuti oleh 49 seniman pengajar IKJ dari berbagai latar jurusan seni rupa: Seni murni, Kriya, Desain Mode, Desain Interior dan Desain Komunikasi Visual.

Dari keterangan tertulis yang diterima Portal Teater pada Kamis (27/6), dikatakan, pameran kolektif dosen FSR IKJ ini merupakan perhelatan rutin komunitas pengajar Seni Rupa IKJ.

Untuk pemilihan judul dan bingkai pengantar publik untuk pameran kali ini dirangkai oleh Cecil Mariani, salah satu staff pengajar Jurusan Desain Fakultas Seni Rupa IKJ.

Dengan mengangkat tajuk pameran “Art Within and Beyond Bureaucracy, para seniman pengajar FSR IKJ ingin “menjelajah karya di dalam dan di luar birokrasi” dan menjangkarkan bingkai pengantar untuk konteks berkarya dan kerja-kerja sebagai pengajar seni.

Lebih dari itu, pameran ini mencoba memapar langgam sekaligus memproblematisasi karya-karya yang hadir antara subyek guru/dosen/seniman pengajar Seni Rupa IKJ dengan sensibilitas khasnya. Seniman yang berkarya di antara tugas mengajar dan berpenghidupan, antara interaksi mereka terhadap kota, juga interaksi dengan generasi seni baru.

Gagasan-gagasan yang lahir dalam keterhubungan respon dorongan berkarya pribadi dengan sensibilitas sosial inilah yang kemudian memberikan edukasi kerja seni sekaligus pertanggungjawaban sosial terhadap masyarakat.

Dalam paparan pengantar pameran, para dosen seniman mengungkapkan, seniman yang mengajar, guru seni maupun dosen seni IKJ memiliki kondisi dan langgam yang khas dalam proses pemikiran dan berkarya. Langgam ini hadir dari sosialitas almamater para pengajar, peran kerja antara mengajar dan berkarya.

Selain itu, langgam itu juga hadir dari praktek yang bersinggungan di ruang ambang antara pengetahuan estetik yang menubuh, serta dari sensibilitas tanggung jawab terhadap pendidikan dan produksi pengetahuan masyarakat.

“Dosen atau pengajar secara langsung maupun tidak, berinteraksi pula dengan pasar industri, dan sistem-sistem formal institusi. Birokrasi; termasuk aturan, administrasi, prosedur, pelaporan, sistem akreditasi, kurikulum, skkni, borang dst. Sesuatu yang khas untuk pengajar seni rupa di IKJ sekaligus secara umum dihadapi pengajar seni di seluruh Indonesia,” kata mereka melalui pernyataan tertulis.

Sementara itu, para seniman juga menggarisbawahi, birokrasi (baca: sistem permainan, aturan, pengelolaan) tidak ubahnya permainan, seperti game populer di gawai, karena ia memiliki komponen prasyarat konsensus nilai dalam mengorganisir gerak.

Birokrasi di institusi pendidikan, kata mereka, merupakan suatu rancangan (bisa juga dianggap sebagai karya) dalam menata kendali dan ukuran. Rancangan gerak bersama guru, dosen, seniman yang mendidik dalam kaitannya dengan institusi lain; masyarakat dan negara.

“Hal yang kemudian bisa kita bincangkan lewat pameran ini bersama-sama dengan publik, media, pelaku seni, mahasiswa dan masyarakat adalah bagaimana seniman yang mengajar berkreativitas memproduksi karya
dalam kontradiksi-kontradiksi sistem institusi yang kita anggap relatif non-kreatif,” ungkap mereka.

Dengan itu, melalui pameran ini, para dosen yang telah melahirkan ribuan seniman nasional itu mengagregasikan antara kepentingan berkarya dan memilih tema-tema di antara tugas mengajar, berkarya sambil mengajar, atau bagaimana membincangkan seniman dan kepengajaran dan langgam komunitas sosial dan urban seputarnya sebagai karya yang programatik.

“Tentu juga secara bersamaan menyoal masa depan sekolah dan praktek pengajar seni rupa dan peran Institut Kesenian Jakarta,” kata mereka.

*Daniel Deha

Baca Juga

Komit Bangun Kebudayaan, Bupati Tubaba Gelar “Megalithic Millennium Art”

Portal Teater - Pembangunan kesenian dan kebudayaan di Provinsi Lampung belakangan ini terus bertumbuh. Aktivisme itu tidak hanya digiatkan oleh seniman dan komunitas/sanggar seni,...

Merayakan Suara Melanesia yang Langka Lewat “Planet-Sebuah Lament”

Portal Teater - Pementasan kontemporer berbaju tradisi, "Planet-Sebuah Lament", karya Garin Nugroho selama dua hari pada akhir pekan lalu, Jumat-Sabtu (17-18 Januari), berhasil menghibur...

Tolak Komersialisasi TIM, Para Seniman Gelar Diskusi “Genosida Kebudayaan”

Portal Teater - Menolak komersialisasi Taman Ismail Marzuki Jakarta, sejumlah seniman yang tergabung dalam Forum Seniman Peduli TIM menggelar diskusi publik di Pusat Dokumentasi...

Terkini

Buka Lembaran 2020, Kineforum DKJ Putar Lima Film Keluarga

Portal Teater - Kineforum, salah satu sayap program Komite Film Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) membuka lembaran tahun ini dengan mempersembahkan "FAMILIAL", sebuah program untuk...

ORArT ORET Semarang Gandeng SCMC Gelar Konser Edisi Ke-2 “Barokan Maneh”

Portal Teater - Komunitas ORArT ORET Semarang kembali menjalin kerjasama dengan  Semarang Classical Music Community (SCMC), menggelar konser musik klasik pada Jumat (24/1) di...

Tolak Komersialisasi TIM, Para Seniman Gelar Diskusi “Genosida Kebudayaan”

Portal Teater - Menolak komersialisasi Taman Ismail Marzuki Jakarta, sejumlah seniman yang tergabung dalam Forum Seniman Peduli TIM menggelar diskusi publik di Pusat Dokumentasi...

Pemerintah Alokasikan Rp1 Triliun Dana Perwalian Kebudayaan 2020

Portal Teater - Pemerintah mengalokasikan Dana Perwalian Kebudayaan bagi pegiat seni budaya dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2020 sebesar Rp1 triliun. Alokasi...

Tur Keliling ASEAN, Kreuser/Cailleau Singgah di Jakarta dan Surakarta

Portal Teater - Selama bulan Januari dan Februari 2020, komponis Jerman Timo Kreuser dan pembuat film Prancis Guillaume Cailleau melakukan tur keliling Asia Tenggara...