Goethe Institute Adakan Festival Film Ilmiah untuk Literasi Sains Generasi Muda

Portal Teater – Goethe Institute kembali menggelar festival film ilmiah (Science Film Festival (SFF) tahun ke-10 bertajuk “Humboldt and the Web of Life”. Ajang ini telah berkembang pesat sejak edisi pertamanya di tahun 2005, dan menjadi acara terbesar di dunia.

Direktur Goethe Institute Regional Asia Tenggara, Australia, dan Selandia Baru Stefan Dreyer mengatakan, SFF merupakan kegiatan rutin yang dilakukan guna mempromosikan literasi sains kepada kaum muda melalui cara yang menyenangkan.

Festival ini tidak sekadar ajang untuk nonton bersama karya film tentang sains dari berbagai negara, tetapi diadakan pula kegiatan eksperimental sesuai dengan film yang ditampilkan.

“Festival ini formatnya tidak satu arah hanya dengan menonton saja. Ada eksperimen yang melibatkan penonton juga. Jadi akan lebih menyenangkan, khususnya bagi anak sekolah yang menjadi target utama dari kegiatan ini,” katanya di Jakarta, melansir bisnis.com.

Alam sebagai Jaring Kehidupan

Dreyer menjelaskan, Alexander von Humboldt merupakan tokoh multitalenta Jerman yang menggunakan konsep ilmiah alam sebagai jaring kehidupan yang saling terkait.

Menurutnya, sudut pandang tersebut sangat relevan dengan kondisi yang ada saat ini, sehingga diperlukan kesadaran lebih dari masyarakat untuk menjadikan lingkungan yang lebih baik dan berkelanjutan.

“Festival ini memang baru tahap awal dan kecil untuk memberikan dampak terhadap lingkungan, tetapi kami yakin ini menjadi modal penting untuk menenamkan pemahaman sains kepada generasi muda,” ujarnya, melansir bisnis.com.

Tapi, apa hubungan Humboldt, yang lahir 250 tahun lalu (1769-1859), dengan perubahan iklim global dan keberlanjutan saat ini?

Mengutip pernyataan dalam laman Goethe Institute, Humboldt merevolusi konsepsi alam dengan secara ilmiah mendekatinya sebagai jaring hidup yang saling berhubungan dan menginspirasi banyak ilmuwan, pencinta lingkungan, penulis dan seniman.

Pada peringatan 250 tahun kelahiran Humboldt ini, kita membutuhkan perspektif global yang lebih hari ini daripada sebelumnya, yakni penghargaan bahwa semua hal terhubung dan kerusakan yang disebabkan di satu tempat, selalu memiliki implikasi di tempat lain dan untuk keseluruhan.

Ide-ide ini dapat membantu merangsang pemikiran alternatif seluruh sistem dan pencarian upaya yang meremajakan dunia alamiah.

Humboldt sendiri memiliki rasa hormat terhadap alam, dengan segala keajaiban yang terkandung di dalamnya, tetapi juga sebagai sistem di mana kita sendiri merupakan bagian yang tak terpisahkan.

Dia menolak untuk terikat pada satu disiplin dan bersikeras bahwa semua dan segala sesuatu terkait: manusia, pembukaan lahan, tanaman, lautan, keanekaragaman hayati, perubahan atmosfer, suhu, dan sebagainya.

Karena itu, ketika alam dipersepsikan sebagai web, sebagaimana tema SFF 2019, kerentanannya juga menjadi jelas. Semuanya tergantung bersama. Jika satu utas ditarik, seluruh permadani mungkin terurai.

SFF 2019 bertujuan untuk mengilustrasikan relevansi pendekatan kompleks ini pada abad ke-21, khususnya bagi siswa dan kaum muda, dan meningkatkan kesadaran akan masalah lingkungan, perubahan iklim, dan keberlanjutannya.

Diikuti 20 Negara

Tahun ini, SFF diikuti 20 negara di Asia Tenggara, Asia Selatan, Timur Tengah, Amerika Latin dan Afrika.

SFF menyajikan 13 film dari tujuh negara yang akan memberikan edukasi kepada anak sekolah di 51 kota di Indonesia.

Beberapa judul di antaranya: The Marble Brothers Great Adventure! dari Jepang, The Show with the Elephant dari Jerman, Ralph and The Dinosaurs dari Swiss, dan lain sebagainya. Keseluruhan film ini telah dialihbahasakan ke dalam Bahasa Indonesia.

Berlangsung sepanjang 22 Oktober-24 November 2019 di Goethe Institute, Jakarta, SFF merupakan hasil kerjasama Goethe Intitut dengan Kedutaan Besar Jerman, Inisiatif PASCH, Sahid Hotels & Resosrts Indonesia, dan Universitas Paramadina.

*Daniel Deha

Baca Juga

Mengomentari Sanento Yuliman Hari Ini

Portal Teater - Saya bukan seorang seniman, tetapi sangat menikmati tulisan-tulisan Sanento Yuliman. Dia menulis untuk dipahami orang seperti sebuah tanggung jawab. Dia tidak...

Komite Seni Rupa DKJ Gelar Diskusi Buku Tiga Kritikus Seni Rupa

Portal Teater - Komite Seni Rupa Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) menggelar Diskusi Buku Seri Wacana Kritik Seni Rupa dari tiga kritikus seni rupa Indonesia...

“Senjakala” Kritik Seni di Era Digital

Portal Teater - Komite Seni Rupa Dewan Kesenian (DKJ) telah sukses menggelar pameran "Mengingat-ingat Sanento Yuliman (1941-1992)" di Galeri Cipta II, Taman Ismail Marzuki,...

Terkini

“Anak Garuda”, Sebuah Inspirasi Merawat Mimpi

Portal Teater - "Anak Garuda", sebuh film yang diproduksi Butterfly Pictures telah resmi tayang perdana di seluruh bioskop di tanah air pada Kamis (16/1)...

Pematung Dolorosa Sinaga Jadi Direktur Artistik Jakarta Biennale 2020

Portal Teater - Pameran seni kontemporer Jakarta Biennale kembali menyapa warga kota Jakarta tahun ini. Diadakan tiap dua tahun sekali untuk "membaca" identitas kota...

“Senjakala” Kritik Seni di Era Digital

Portal Teater - Komite Seni Rupa Dewan Kesenian (DKJ) telah sukses menggelar pameran "Mengingat-ingat Sanento Yuliman (1941-1992)" di Galeri Cipta II, Taman Ismail Marzuki,...

Mengomentari Sanento Yuliman Hari Ini

Portal Teater - Saya bukan seorang seniman, tetapi sangat menikmati tulisan-tulisan Sanento Yuliman. Dia menulis untuk dipahami orang seperti sebuah tanggung jawab. Dia tidak...

Memaknai Medium dalam Konteks Praktik Seni Kontemporer Lintas/Nir-Medium

Portal Teater - Seni kontemporer hari-hari ini acap kali bergerak sedemikian bebas dari satu bentuk ke bentuk lain, dari satu praktik ke praktik lain, dari...