Jakarta City Philharmonic #25: Modernisme, Musik dan Pemberontakannya

Portal Teater – Jakarta City Philharmonic (JCP) kembali menyajikan konser musik orkes kota edisi ke-25 dengan tema “Manusia dan Mesin”. Tema ini merujuk pada repertoar musik era modern terkait dengan hubungan antara manusia, mesin, dan pemberontakan estetiknya.

Konser digelar pada Rabu (23/10) malam di Teater Besar Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

Adapun JCP edisi Oktober ini menghadirkan karya-karya milik Prokofiev, Adams, Mosolov, dan Sibelius, yang cenderung menggambarkan minat mereka dalam mengeksplorasi bunyi mesin.

Karya Prokofiev: Piano Concerto No.2 in G Minor, Op.16; Adams: Short Ride in a Fast Machine; Sibelius: Symphony No.7 in C Mayor, Op.105; dan Mosolov: Factory: Machine-Music, Op.19, “Iron Foundry”, secara kuat memunculkan isu-isu modernisme dalam seni musik.

Dengan mengusung tema ini, JCP berpendirian menyuguhkan musik-musik yang “selalu memberontak” terhadap kemapanan masa lalu sekaligus membebaskan ruang bagi kreativitas baru.

Konser ini diaba oleh Budi Utomo Prabowo (pengaba utama) dan Vincent Wiguna (pengaba tamu), serta berkolaborasi dengan Stephen Kurniawan Tamadji, pianis dan vokalis grup WARNA.

Musik dan Modernisme

Karya-karya para komposer yang disajikan kali ini merupakan karya-karya yang menandai dimulainya tirai paradigma kebudayaan baru di dunia, yakni modernisme.

Modernisme muncul sebagai reaksi terhadap kondisi mekanisme baru produksi (mesin, pabrik, urbanisasi), sirkulasi massa (sistem transportasi dan komunikasi), dan konsumsi (diseminasi produk massal, periklanan, mode busana instan) sebagai titik pijak keberangkatan dalam transformasi kebudayaan dunia.

Kecenderungan ini mempengaruhi trend musik, seperti misalnya Machine Agricoles (Mesin Agrikultur) karya Darius Milhaud (1919) dan gerakan Pabrik dari balet Pas d’acier (Lompatan Baja) karya Prokofiev (1927). Kedua komponis ini menunjukkan pengaruh mesin.

Dalam pentas musik, para komposer dan musisi umumnya melakukan pemberontakan melalui karya-karya mereka yang liar, frontal, banal dan riuh.

Dengan demikian, modernisme turut mengubah wajah perkotaan dan membentuk gerakan budaya modernis. Mesin, sistem transportasi, moda komunikasi baru, gedung, jembatan canggih, semuanya bersekutu merangsang tumbuhnya estetika modernisme.

Dalam bidang musik, modernisme perlu dipahami melalui kerangka awal eksistensinya sendiri, termasuk apa yang pada awalnya dieksperimentasikan oleh para seniman.

Efek-efek disonan, gagasan kontroversial serta mengejutkan, seluruhnya menantang status quo “romantisme” Eropa Barat yang berlaku umum pada era tersebut.

Wacana terbaru banyak menyebutkan bahwa nantinya mesin juga akan menggantikan posisi manusia di beberapa bidang profesi.

Musik sebagai Pemberontakan

Sebagai penanda kebudayaan baru, para komposer dalam karya-karya mereka berupaya keluar dari pakem mapan dan menyodorkan semacam kemarahan terhadap rezim pada masanya.

Prokofiev adalah salah satunya. Dalam karya-karyanya ia cenderung menampilkan teknik bermain piano tertentu yang meniru getaran suara mesin pabrik, seperti dalam karyanya yang terkenal Toccato dalam D minor, Op.11.

Gagasan ini membuka kemungkinan dalam pengembangan teknik bermain piano baru, sehingga disiapkan trayektori bagi pianis untuk menafsirkan teknik piano modern yang lebih radikal.

Ketimbang pianisisme era Romantik yang meletakkan kredo pada formasi musik atas garis melodi yang lentur dan indah pada piano, Prokofiev mencoba bermain dalam teknik yang lebih perkusif dan bising.

Prokofiev dan para komponis sezamannya berusaha untuk tidak memperlakukan piano sebagai instrumen yang dapat bernyanyi karena sifat piano pada hakekatnya memiliki efek martil yang perkusif.

Sebagai pianis muda, Prokofiev datang ke pentas musik dunia sebagai pianis yang liar, banal, menyerang musik dengan kendali amarah dan memunculkan aroma anti-Romantik yang kental dalam permainannya.

Karya-Karya Lain

Selain Prokofiev, Adams dalam karyanya Short Ride in a Fast Machine yang dideskripsikan sebagai “pawai riuh untuk orkestra” pun melakukan hal yang sama. Musiknya mengilustrasikan perjalanan supercepat sebuah mobil di hutan belantara, misalnya, yang tanpa hambatan.

Karena sensasi aural dan konsep instrinsiknya, karya ini sering menjadi program pembuka konser dan menjadi orkestra komposer Amerika yang paling sering dipentaskan.

Mosolov dalam karyanya Factory: Machine-Music, Op.19, “Iron Foundry” yang biasa dijuluki sebagai “Pengecoran Baja”. Karya ini lebih sering ditampilkan sebagai musik untuk balet sehingga kerap dikenal sebagai Balet Mekanik.

Sementara karya Sibelius merupakan format terakhir dari sang komposer, meski ia menyelesaikan simfoni kedelapannya pada suatu waktu di periode 1930-an.

Menurut catatan pribadinya, karya ini menunjukkan betapa suasana hatinya yang kacau tak menentu, terpaut di antara titik eksrem: hidup telah berakhir dan kegelapan dalam hidupnya.

Pada akhirnya, ia pun tetap menyelesaikan suatu karya baru, dan bukan simfoni baru, pada 31 Oktober 1923.

*Daniel Deha

Baca Juga

Gubernur Lampung Kukuhkan Akademi Lampung dan DKL Periode 2020-2024

Portal Teater - Gubernur Lampung Arinal Djunaidi melalui Sekretaris Daerah Provinsi Lampung Fahrizal Darminto resmi mengukuhkan pengurus struktural Akademi Lampung dan Dewan Kesenian Lampung...

“New Normal” Kesenian: Melampaui Protokol, Menyadari Risiko

Portal Teater - Empat bulan setelah kasus virus corona (Covid-19) muncul pertama kali di Indonesia pada Maret, pemerintah akhirnya menetapkan kondisi "new normal". Berbagai kegiatan...

Terkini

Gubernur Lampung Kukuhkan Akademi Lampung dan DKL Periode 2020-2024

Portal Teater - Gubernur Lampung Arinal Djunaidi melalui Sekretaris Daerah Provinsi Lampung Fahrizal Darminto resmi mengukuhkan pengurus struktural Akademi Lampung dan Dewan Kesenian Lampung...

“New Normal” Kesenian: Melampaui Protokol, Menyadari Risiko

Portal Teater - Empat bulan setelah kasus virus corona (Covid-19) muncul pertama kali di Indonesia pada Maret, pemerintah akhirnya menetapkan kondisi "new normal". Berbagai kegiatan...

Kolaborasi sebagai Praktik Intervensi Membongkar Kebekuan Teater

Portal Teater - Mengapa praktik-praktik penciptaan karya seni sekarang mengarah ke kerja kolaborasi? Praktik-praktik kolaborasi dalam kerja artistik terutama berakar ketika mulai munculnya studi-studi inter-kultur,...

Museum MACAN Gandeng OPPO Gelar “Arisan Karya” Edisi Terakhir

Portal Teater - Setelah sukses di dua ronde pertama, Museum MACAN kembali menggelar program "Arisan Karya" edisi terakhir. Program suntikan motivasi bagi ekosistem seni Indonesia...

Rudolf Puspa: Menggelorakan Berkesenian

Portal Teater - Saya masih ingat ketika pada tahun 2016 Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy menyerukan kepada penyelenggara pendidikan untuk menggelorakan aktivitas kesenian. Saya...