Konstruksi ‘Sound Digital’ dan Akulturasi ‘Kentrung’ dalam Budaya Kota

Oleh: Arung Wardhana Ellhafifie*

Portal Teater – Institut Kesenian Jakarta (IKJ) mengawali pertunjukan Parem Kocak (Parodi Ramuan Kota Jakarta) pada hari Rabu (27/11) dengan melakukan praktik kerja tradisi seperti tidak menggunakan naskah, mengolah pada kekuatan improvisasi, dan pemilihan pemain bukan berdasarkan proses casting, melainkan dengan cara penunjukan langsung.

Selain itu berdasarkan penuturan Made Adrian, sutradara pertunjukan dalam sebuah diksusi, proses kreatif lebih mendudukkan setiap pemainnya pada game session; satu kata melihat kota Jakarta.

Sementara pada pertunjukan kedua, Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta Surabaya (STKWS) mengakulturasi Kentrung ke dalam pertunjukan Joko Galon, sekaligus mengambil spirit Joko Kendil yang dikuatkan dengan kehadiran dalang yang diperankan sutradaranya sendiri, yakni Sandi Hermawan.

Pertunjukan itu sekaligus menutup perhelatan Parade Teater Kampus Seni Indonesia (PTKSI) ke-8 yang berlangsung sejak tanggal 24-28 November di teater besar Institut Seni Indonesia Surakarta.

Peri Sandy menilai, dari keempat pertunjukan yang ditontonnya (karena pertunjukan ISI Yogyakarta dan ISI Padangpanjang tidak sempat ditonton), IKJ dan STKWS memetakan bahwa tema tradisi yang diusung sebagai sesuatu klise.

Di mana tradisi sebagai tradisi, maupun tradisi yang bergeser ketika tradisi tidak dipandang sebagai bentuk melainkan ‘dicaplok’ ke dalam sebuah pertunjukan postmodern hari ini.

Tradisi Urban dalam Konstruksi Sound Digital

Krisis identitas karena tidak mempelajari tradisi spesifik yang terjadi di IKJ, ditumpuki satu modus komersialisasi dalam industri, tepatnya ketika belajar seni peran bagaimana mereka berakting di atas panggung dan kamera sebagai ironi tersendiri bagi Dwi, salah satu mahasiswa IKJ.

Ia kemudian menyebutnya sebagai tradisi urban karena percampuran yang datang dan berjejalan di antara aktivitas pemerananya sendiri ulang alik antara panggung dan kamera.

Dwi menganggap tidak pernah menyentuh tradisi Lenong, yang akhirnya setiap aktor hanya melihat dari subyektivitas melihat ekosistem kota, yakni Jakarta.

Karena itu problematika Jakarta seperti banjir, dan macet, yang bertahun-tahun seolah-olah menjadi tradisinya sendiri dan belum bisa terpecahkan sekalipun di setiap era Gubernur berusaha menyelesaikannya.

Nampak sekali solusi yang dihadirkan tidak pernah selesai; sekalipun hal ini perlu dilacak ulang datanya yang mana Made Adrian menyebutnya sebagai siklus layaknya tari Betawi pada saat menanggapi mahasiswa ISI Padangpanjang yang melihat pertunjukan Parem Kocak sebagai hal yang membingungkan hingga mencapai titik kejenuhan.

Mahasiswa tersebut juga menganggap pertunjukan IKJ menggunakan pola-pola Brecht, dengan alienasinya dan dengan enteng Made Adrian menyebutkan kalau itu dirasa sebuah kejenuhan, jangan-jangan itu tujuan pertunjukannya karena kebanyakan aktornya merasakan betapa jenuhnya dan membosankannya Jakarta dalam satu ekosistem kota.

Pertanyaannya adalah apakah sebuah tujuan dari pertunjukan tidak masuk pada wilayah praktik kerja kita dalam teater? Namun di sisi lain, ada semacam sikap penerimaan dengan situasi dan kondisi tersebut.

Hingga terkesan menurut Ipank, mahasiswa ISI Yogyakarta melihat bahwa teman-teman IKJ dinilai betapa bangganya melihat banjir maupun macet sebagai tradisi; kebiasaan yang berulang-ulang.

Dan baginya sesuatu yang aneh, sama halnya ketika memandang tradisi carok di kampungnya (Madura) yang sama sekali tidak merasa bangga atau mengglorifikasi seperti kebanyakan akademisi lainnya.

Meskipun dianggap oleh Made Adrian bukan juga kebanggaan, melainkan semacam kepasrahan yang akan datang dan berlalu begitu saja.

Kepala saya semakin mumet ketika banyak hal yang perlu dilacak seperti alienasi itu sendiri (lih. Shomit Mitter: Systems of Rehearsal Stanislavsky, Brecht, Grotowski and Brook) yang mungkin samar kalau mengacu pada peristiwa yang sudah selesai di atas panggung.

Tapi saya melihat secara estetika di panggung yang sudah bisa dilihat/ditonton dari awal pertunjukan sudah dibuka dengan konstruksi sound digital (tanpa visual); berita-berita kemacetan, dan banjir di beberapa stasiun televisi, maupun suara hiruk pikuk respon komentar-komentar masyarakat Jakarta maupun bunyi-bunyi klakson.

Lalu di kolase yang lain setiap aktor memproduksi suara ketawa hingga terbahak-bahak, maupun suara tangis di kolase lainnya, disambung dengan makian-makian khas Jakarta yang meluncur begitu saja sembari menjadikan handphone sebagai bahan ekspresifnya.

Justru suara-suara yang ditimbulkan dari digital memberikan tegangan-tegangan estetiknya yang bisa dikelola lebih dalam lagi sebagai praktik kerja dramaturgi.

Nilai tawarnya menurut saya terletak pada medan kerja mengkonstruksi sound digital yang membaca demografi masyarakatnya dalam tradisi urban jika dianggap berada dalam kejenuhan dan kebosanan berulang-ulang.

Bisa mungkin ekosistem kota dengan pembangunan infrastruktur sebagai solusi yang juga memiliki risikonya sendiri, seperti layaknya nilai tawar sound digital tersebut hanya berupa latar belakang, bukan menjadi operating system gagasan keruwetan Jakarta.

Reproduksi suara dalam ekosistem teater kota bisa direkam dari mana saja selain lalu lalang kendaraan bermotor; seperti budaya bunyi yang dihasilkan dari alat berat pembangunan jalan, kereta api, mesin genset, truk, berbagai jenis mesin pabrik, suara makian yang beragam kultur, teriakan banyak orang dari berbagai macam lingkungan bisa ditarik keluar masuk antara yang satu lainnya sebagai kompilasi sound digital dari kota Jakarta, yang mana kita bisa menginterpretasi dalam sikap yang ditawarkan yakni parodi.

Estetika parodi ini bisa mungkin lebih memiliki proyeksi besar jika sound digital ini menjadi semacam tabulasi dan persilangan antara tubuh aktor dengan rekaman-rekaman yang noise tersebut atau yang dianggap mengganggu kita dalam kecacatan.

Jika Luna Kharisma, moderator pada diskusi kreatif malam itu menyebut tradisi sebagai titik tempuh dalam menyikapi peristiwa realitas ekosistem kota, maka sangat memungkinkan konstruksi sound digital dihidupkan/dibangkitkan dalam parodi sebagai gangguan-gangguan dalam memperlakukan fungsi seni hari ini.

Bisa mungkin estetika postmodern lainnya seperti skyzofernia sebagai catatan kritis, yang memang sebagian orang cukup stres dengan kondisi tersebut.

Dan kemungkinan juga kefrustrasian, dan kestresan dalam ekosistem kota seperti Jakarta sudah menjadi tradisi baru yang lain lagi; menjadi titik tempuh lain lagi dalam praktik kerja dramaturgi naskah maupun pertunjukan.

Entah kolase-kolase bunyi yang diproduksi memang sengaja untuk memutuskan saya sebagai penonton agar mengerti ke dalam peristiwanya, atau memang tidak disadari dari setiap kolase bunyi itu menjadi satu mekanisme utuh dari tempat pembuangan kejenuhan dari Jakarta.

Panggung bisa menjadi ‘Bantargebang’ (tempat pembuangan sampah) yang lucu maupun ironi tawaran seni yang cukup signifikan dengan segala macam problematikanya.

Panggung bisa menjadi representasi yang lebih lentur dalam tematik tradisi yang bisa melepaskan dirinya dari klise (yang sudah disebutkan Peri Sandy) sebagai praktik kerja baru; semacam reenactment dari sound digital agar menyambung pernyataan salah satu teman-teman IKJ yang menjelaskan dari praktik representasi teater arena.

Padahal kenyataannya arena hanya sebagai pendukung pertunjukan, bukan keseluruhan dari peristiwa. Sebagian besar didominasi proscenium, beda lagi ketika keterlibatan pemain dari awal berada di antara saya yang biasa-biasa saja menontonnya; di antara kejenuhan dan ingin mengikuti permainan hingga selesai.

Saya dan penonton lainnya dilibatkan oleh beberapa aktor dalam promosi teater tradisi, teater modern melalui Youtube dari handphone setiap aktornya. Justru hal ini seperti satu langkah mundur ke belakang konstruksi-konstruksi pertunjukan dari tawaran yang saya lihat.

Atau memang sengaja peristiwa itu sebagai kolase lain reproduksi media teknologi yang bernama handphone; sebagai kelanjutan kebingungan seakan-akan pergeseran ekosistem dalam revolusi industri 4.0 semakin membuat kita semua jadi semakin tidak cerdas atau bodoh sehingga dibutuhkan watak kerja sales promotion untuk meyakinkan di antara teater tradisi dan teater di era postmodern.

Atau jangan-jangan keduanya tidak bisa berbuat banyak dalam fungsinya sebagai seni; sehingga tawaran yang menarik pun bisa dipotong-potong layaknya daging sapi yang siap dimasak dan dihidangkan tanpa bumbu-bumbu yang tepat sehingga menjadi anyep ketika dinikmatinya.

Akulturasi Kentrung dalam Budaya Kota Surabaya

Sekadar me-review sejenak (bisa penting dan tidak penting), Kentrung adalah alat media untuk menyindir penjajahan di abad ke-16 yang berkembang di pantai utara Jawa (Semarang, Pati, dan Kudus) hingga ke Tuban dan berkembang di daerah lainnya seperti Tulungagung, yang jauh sebelumnya kentrung sebagai media dakwah Sunan Kalijaga, (lih. Suripan Sadi Hutomo: Kentrung Warisan Tradisi Lisan Jawa).

Di sana masyarakat menciptakan kesenian berupa parikan yang pementasannya diiringi beberapa alat musik, seperti timlung (kentheng) serta terbang besar atau biasa disebut rebana.

Biasanya pementasan Kentrung juga sering sebut seni teater tanpa gerak dan laku karena pada mulanya memang sebagai tradisi lisan yang sangat syarat pedoman hidup yang terus bergeser menjadi sindiran hingga sekadar tontonan belaka.

Salah satu adegan Joko Galon STKWS yang disutradarai Sandi Hermawan. -Dok. ISIS.
Salah satu adegan Joko Galon STKWS yang disutradarai Sandi Hermawan. -Dok. ISIS.

Dalam biografi penciptaan, saya tidak mendengar alasan Sandi Hermawan, sang sutradara memilih Kentrung sebagai spirit atau proses akulturasi budaya dalam kaitannya dengan ekosistem kota yang terus bergerak, dan tidak ada di antara penonton lainnya yang mempertanyakan (termasuk saya).

Maka penting juga untuk dilacak kembali perjalanan Kentrung itu sendiri secara historiografi, bukan berarti untuk menjebak sebagai momok yang menakutkan, tapi lebih kepada praktik kerja yang menarik jika menemukan cara lainnya.

Kalau mendengar dari sinopsis yang dipaparkan bahwa tradisi dan modernisasi hakikatnya adalah keniscayaan perubahan hidup.

Kekeliruan kita selama ini adalah membenturkan tradisi dengan modernisasi. Lagi-lagi saya dijebak dengan paradigma teks yang mungkin pada realitasnya kebudayaan sudah berjalan sebagaimana mestinya tanpa adanya tegangan-tegangan di antara keduanya, karena setiap manusia juga mengkonsumsi dan mempertahankan tradisi yang sekiranya masih relevan terus dilakukan.

Sepakat dengan Pery Sandy pada malam itu yang menjelaskan tradisi di ekosistem satu tidak bisa dipaksakan masuk kepada ekosistem lainnya.

Kemudian manusia di era modernisasi muncul konsepsi berpikir yang tampak bertentangan, tetapi mereka hanya coba menyesuaikan dengan kebudayaan yang terus bergerak sesuai ekosistemnya masing-masing.

Pada era postmodern muncullah gagasan-gagasan manusia hari ini untuk mengkiritisi era modernisasi atas perilaku yang dianggap bertentangan dengan leluhurnya, sekalipun secara estetika modern yang menarik tetap juga diterapkan.

Nah, sikap inilah selalu terjadi sebagai proses ulang alik dalam berkebudayaan. Proses ulang alik itu juga disebutkan Sandi Hermawan dalam proses penciptaannya di antara mempraktikkan tradisi pada modernitas.

Sebagai sutradara ia hanya meminta setiap aktornya memahami tradisi ketika mendapatkan naskah (sekalipun tidak menjabarkan bagaimana konsepsi berpikir tradisi di kepala teman-temannya yang juga penting dilacak), sekaligus membedah interpretasi masing-masing pemainnya terhadap teks.

Dari sini saya membaca memang realitasnya Sandi Hermawan dan teman-teman menempatkan praktik kerja modern pada kedudukan semestinya yang tampak terstruktur. Tanpa melihat atau mempraktikkan kerja baru yang masuk pada wilayah ulang alik ini.

Dalam penjabarannya saya tidak menemukan ulang alik yang konkrit sebagai metodologi penciptaan di era hari ini. Di mana generasi Z bekerja dan melakukan pembacaan teks di dalam dan di luar peristiwa. Atau jangan-jangan era postmodern hanya cukup diperlakukan secara verbal dalam sindirannya.

Bagaimana generasi milenial memberikan catatan kritis atau satirnya, bagaimana mereka memberikan tegangan terhadap demografi masyarakatnya; bagaimana mereka peka di antara kebudayaan kotanya; atau mereka hanya larut dalam ‘kemiskinan’ wacana atau ‘kegagapan’ narasi berpikir untuk pemetaan dan menciptakan formalisme baru.

Karena di atas panggung saya hanya dihujani permadani gelagak tawa akibat representasi kemampuan aktornya yang cukup kuat atau sangat menarik dikembangkan dan diolah secara dalam.

Akhirnya saya penonton awam pun berpikir bahwa kebudayaan kota Surabaya semacam itu; saya melihat dari hasil praktik kerjanya di atas panggung.

Bentuk baru yang semestinya lahir dan hadir terperangkap pada guyonan warung kopi yang cukup menguasai sebagian besar wilayah di kota Surabaya.

WiFi di setiap warung kopi kota Surabaya memberikan kemungkinan setiap masyarakatnya bercanda dan berkelakar baik secara sosial media maupun secara langsung dan akhirnya budaya kongkow-kongkow sangat tercermin dalam praktik tubuh, joke, pansline, dan teksnya dalam keseharian.

Tentunya akan berbeda dengan guyonan khas generasi Z Surakarta yang tidak dipenuhi dengan warung kopi (tanpa Wifi di sebagian besar); di mana menciptakan kebudayaan kota yang cukup signifikan jika diperbandingkan antara keduanya ditilik dari atas panggung.

Menariknya adalah saya juga melihat di atas panggung apa yang dilakukan teman-teman STKWS memperlakukan antara dewa dengan manusia yang tanpa batas, bisa bermain-main seolah-olah bukan lagi sabda dewa yang agung (juga dipaparkan Pery Sandy), tetapi mereka juga mengkritisinya secara lentur dalam meletakkan tradisinya.

Barangkali hubungannya dengan kongkow-kongkow itu sebagai refleksi kelenturan dalam memperlakukan tradisi Kentrung, tanpa membaca lagi historikal dan biografikalnya, atau mereposisi Kentrung kepada masyarakatnya di antara generasi Z dan sebelumnya.

Sederhananya adalah meletakkan galon sebagai spirit dari kendil, yang ditempatkan pada hubungan seni dalam ekosistemnya sehingga kebudayaan kota Surabaya secara luas bisa terbaca pada catatan kritis hari ini.

Adakah cermin masyarakat lewat budaya galon hari ini kalau dipandang metafor baru? Atau kebudayaan kota Surabaya terlalu agung untuk dikritisi, atau apakah ada hubungannya dengan generasi Z lainnya yang datang dari kota-kota lain, tumbuh dan berkembang di Surabaya dan hadir dalam hegemoni yang sangat kuat, seakan-akan menjadi heroik sebagai cermin karakteristik keangkuhan dan kesombongan, menjadi dewa (penyelamat) di antara manusia, atau memang ada hubungannya dengan masyarakatnya yang semakin majemuk.

Apakah dalam pertunjukan Joko Galon itu sebagai refleksi narasi kritis yang menganggap orang Surabaya itu semuanya leader, jadi agak susah untuk menerima situasi dan kondisi karakteristik yang hampir sama dengan mereka.

Sekalipun narasi ini juga perlu dilacak kembali secara ekosistem maupun kebudayaan kotanya. Tapi dalam pertunjukan tampak samar sekalipun ada tanda-tanda yang dihadirkan.

Sebagai penutup tulisan ini kebudayaan populer (lih. Dominic Strinati: Pop Culture, Pengantar Menuju Budaya Populer) yang sudah terbiasa dikonsumsi oleh kita semua hari ini dari berbagai macam media, secara tidak langsung sudah menciptakan tradisinya yang semakin lentur merupakan hal yang cukup menarik dalam visi dan misi berkesenian.

Barangkali ditandai dengan gelagak tawa yang berkesinambungan dalam rangka menghibur diri kepada publik di generasinya, tanpa memberikan proyeksi tegangan bagaimana seni populer, benar-benar masuk pada era postmodern sebagai generasi milenial yang seyogyanya lebih peka.

Para akademisi seni khususnya, mungkin kita lebih bisa melacak lagi bukan hanya kecerdasan intelektual dan keterampilan individu yang diutamakan, tapi masalah pentingnya adalah membuka mata hati dari sisi humanismenya masing-masing (lih. Mikke Susanto, Kompas, Selasa (26/11): Problem Budaya Seni Kita).

Humanis kita gelap di antara nilai-nilai humanis yang diperjuangkan setiap waktu. Saya secara pribadi mungkin hanya bisa melakukan apa yang kita bisa lakukan paling sederhana, paling mungkin sebagai empati sesama manusia, bukan hanya sekadar seni ditempatkan setinggi-tingginya secara estetika yang dihasilkan dari sebuah produksi pendidikan di beberapa era pemerintahan belakangan ini.

Kita semua mungkin tidak boleh pesimistis terhadap cara kita mengembalikan kesenian pada fungsi esensialnya (lih. Sal Murgiyanto: Pertunjukan Budaya dan Akal Sehat).

Sekali lagi penting dilacak kembali hubungan perlakuan tradisi yang lentur dalam pembacaan ekosistem kota, kebudayaan kota dalam metafor baru sebagai perangkat demografi masyarakatnya di masa yang akan datang.

Bagaimanapun kita hari ini ada untuk generasi selanjutnya yang mungkin kita tidak akan pernah merasakan dampaknya sekalipun seringkali kita ditakuti dengan paradigma akhir zaman di mana sekumpulan manusia yang gelap sudah ada dan hadir di sebagian kecil manusia-manusia pencerah yang lahir.

*Penulis adalah dramaturg muda yang saat ini sedang menempuh pendidikan Pascasarjana Penciptaan Seni Teater pada ISI Surakarta.

Baca Juga

Peringati Hakordia, Tiga Menteri Jokowi-Ma’ruf Main Teater

Portal Teater - Ada yang unik dengan cara para menteri Kabinet Indonesia Maju Presiden Joko Widodo dan Ma'ruf Amin periode 2019-2024 dalam memperingati Hari...

FTJ Usai, Lab Teater Lumbung Ajak Penonton Bermain Teater

Portal Teater - Di penghujung tahun 2019, Lab Teater Lumbung membuka penerimaan anggota teater baru. Berniat menyasar penonton teater, proses ini berlangsung sejak Desember...

Mahasiswa Prodi Teater IKJ Pentas “Macbeth” dengan Konsep Kekinian

Portal Teater - Mahasiswa Program Studi Teater Institut Kesenian Jakarta (IKJ) dengan bangga akan mementaskan "Macbeth" karya William Shakespeare di Gedung Teater Luwes IKJ,...

Terkini

Ugo Untoro: Melukis Lebih Dekat tentang Personalitas Diri

Portal Teater - Duabelas tahun lalu pameran seni visual Ugo Untoro bertajuk "Poem of Blood" di Galeri Nasional Indonesia Jakarta, 12-26 April 2007, menghebohkan...

Tutup Tahun, JCP Persembahkan Konser Special “Tribute to Farida Oetoyo”

Portal Teater - Jakarta City Philharmonic dan Ballet Sumber Cipta mempersembahkan konser spesial akhir tahun bertajuk Tribute to Farida Oetoyo pada Jumat (13/12), pukul...

Ini Daftar 20 Dance Film Yang Lolos Kompetisi IMAJITARI 2019

Portal Teater - Ada 20 karya dance film yang dinyatakan lolos ke tahapan sesi kompetisi helatan IMAJITARI “International Dance Film Festival” 2019. Dari 20...

Selama 43 Tahun, Kritik Seni Rupa Indonesia Masih Sebatas “Pengantar”

Portal Teater - Ketika kembali ke Indonesia setelah menempuh pendidikan doktoralnya di Prancis tahun 1981, Sanento Yuliman mulai aktif menulis kritik seni rupa di...

Mahasiswa Prodi Teater IKJ Pentas “Macbeth” dengan Konsep Kekinian

Portal Teater - Mahasiswa Program Studi Teater Institut Kesenian Jakarta (IKJ) dengan bangga akan mementaskan "Macbeth" karya William Shakespeare di Gedung Teater Luwes IKJ,...