Langkah Awal PKJ Taman Ismail Marzuki

Oleh: Rudolf Puspa*

Portal Teater – Melangkah keluar dari pintu panggung Teater Tertutup Taman Ismail Marzuki (TIM), usai pentas bersama Sukarno M. Noor drama karya Putu Wiajaya berjudul “Lautan Bernyanyi” sutradara Pramono, dalam acara peresmian TIM oleh Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin, almarhum Djaduk Djajakusuma memanggil saya dan mengatakan agar saya boleh tinggal di TIM dan kerjakan apa yang bisa agar TIM terawat.

Saya tidak tahu apakah saya menjadi seorang pegawai, atau sebenarnya hanya menemaninya yang juga tinggal di salah satu perumahan yang ada di TIM karena memang ia tinggal sendirian.

Rumah Djaduk Djajakusuma persis satu deret dengan rumah Trisno Sumardjo sekeluarga. Tinggal juga di sana Taufik Ismail.

Awal tinggal di sana, pagi-pagi yang saya kerjakan adalah membersihkan gedung-gedung pertunjukkan yang ada waktu itu yakni Teater Arena, Teater Tertutup dan Teater Terbuka serta ruang tari serta ruang pameran.

Teater Arena di Taman Ismail Marzuki Jakarta. -Dok. Rudolf Puspa.
Teater Arena di Taman Ismail Marzuki Jakarta. -Dok. Rudolf Puspa.

Disana tentunya juga ada gedung perkantoran TIM dan juga Dewan Kesenian Jakarta (DKJ).

Disanalah saya kenal penari Sentot Sudiarjo, Sardono W. Kusumo dan dramawan Jos Maruta Efendi serta beberapa lainnya.

Bersama mereka itulah saya mengerjakan apa saja yang bisa saya kerjakan. Misalnya, jika sore hari menyiram tanaman.

General manager TIM dijabat Suri Handono yang sebelumnya kepala bagian keuangan proyek pasar Senen. DKJ diketuai Trisno Sumardjo.

Sebagai pemain teater tentu saya merasa bahagia sekali karena kapan pun saya mau bisa melakukan latihan, seperti olah tubuh, olah rasa sepuas-puasnya.

Teater Tertutup di Taman Ismail Marzuki Jakarta tempo dulu. -Dok. Rudolf Puspa.
Teater Tertutup di Taman Ismail Marzuki Jakarta tempo dulu. -Dok. Rudolf Puspa.

TIM sebagai Produser

Kegiatan kesenian memang pada tahun 1968 itu tentu belum banyak. Rasanya para seniman dari bidang apapun masih gamang harus berbuat apa sementara Gubernur Ali Sadikin sudah sediakan dana agar seniman berkiprah tanpa pikir biaya.

Sepertinya TIM bertindak sebagai produser, sebagai penyelenggara seni pertunjukkan, pameran seni rupa, diskusi sastra, baca puisi. Grup-grup kesenian juga bebas berlatih di TIM.

Sementara DKJ bertindak sebagai penilai karya-karya yang akan ditampilkan kemudian memberikan rekomendasi kepada general manager TIM untuk melaksanakannya.

TIM bertindak selaku produser sehingga grup yang pentas atau pameran di sana diberikan dana. Untung rugi hasil penjualan tiket jadi tanggung jawab dan risiko pihak TIM.

Saya menyaksikan Suri Handono mengatur kegiatan dengan membagi 40% seni murni dan 60% seni komersil.

Tujuan utamanya adalah agar hasil dari pertunjukkan yang bisa dikomersilkan dapat menambah subsidi bagi kegiatan seni murni yang pada tahun-tahun awal TIM termasuk yang masih sulit “menjualnya”.

Maka diundanglah grup Lenong, Wayang Orang Sriwedari dari Solo, Ketoprak, Wayang Golek, Miss Tjitjih, Ludruk dari Surabaya, Srimulat, Wayang Kulit dengan dalang-dalang terkenal yang semuanya bisa dijual mahal tiketnya.

Masih sulit mencari sponsor iklan waktu itu. Pertunjukkan seni rakyat tersebut memiliki pangsa pasar yang cukup besar di Jakarta. Rasa kangen orang daerah menonton kesenian daerahnya sangat besar.

Inilah yang ditangkap pengurus TIM waktu itu. Penonton pun hampir umumnya full house.

Keuntungannya untuk menutup biaya bagi pentas-pentas Bengkel Teater Rendra, Teater Populer, Teater Ketjil, Balet Kelasik, Musik Simponi, Jazz yang tiap tahun mendapat kesempatan manggung.

Teater Terbuka di Taman Ismail Marzuki Jakarta tempo dulu. -Dok. Rudolf Puspa.
Teater Terbuka di Taman Ismail Marzuki Jakarta tempo dulu. -Dok. Rudolf Puspa.

Gencar Publikasi

Pada awal perjalanan TIM, pertunjukkan seni murni masih sangat sulit mendatangkan penonton.

Untuk menunjang agar kegiatan kesenian di TIM dikenal masyarakat, minimal penduduk Jakarta dan sekitarnya, maka disiapkanlah publikasi yang gencar ke ke sudut-sudut kota.

Poster ditempel di pusat-pusat keramaian, di sekolah, kampus, hotel, restoran, spanduk di perempatan jalan.

Termasuk juga cara konvensional, yaitu berkeliling dengan mobil sementara Pak Hamidi sepanjang jalan “berteriak-teriak” mempromosikan pertunjukkan sambil menyebar pamflet dari grup yang akan main di TIM.

Pemetaan kampung-kampung yang penduduknya banyak orang Jawa atau Sunda yang rindu kesenian daerahnya sudah tergambar sehingga perjalanan keliling yang hanya satu mobil itu tidak asal-asalan saja.

Bis kota disiapkan sehingga pertunjukkan yang umumnya selesai di atas pukul 22.000 WIB, maka penonton terjamin pulang ke rumahnya. Bisa jadi dari pagi bergerak baru sore kembali ke TIM.

Suri Handono yang tebiasa mengurus pasar yang menerima pemasukkan dari penyewa kios-kios dan kemudian mengatur untuk dana operasi pasar kini seratus persen berubah mengurus kesenian yang baginya tentu saja sebuah kegiatan baru yang dimulai dari nol.

Dari modal subsidi Gubernur Ali Sadikin yang masih harus mencari tambahan agar kegiatan kesenian yang harus dilaksanakan bisa jalan sempurna. Ditambah lagi membayar gaji pegawai yang bukan pegawai negeri atau pegawai resmi DKI.

Peralatan panggung seperti lampu, sound system, level, layar masih sangat terbatas sehingga harus selalu dipindah-indahkan untuk gedung yang akan dipakai pementasan.

Ketika ada pentas di dua gedung bersamaan waktunya betapa diperlukan pembagian yang adil tentunya. Tenaga panggung pun masih minim sehingga segala hal dikerjakan secara bersama sama.

Mengatur dekor dan set property lalu ramai-ramai mengatur lampu, sound dan ketika pertunjukkan selesai menggelepar bersama tidur di ruang-ruang rias yang ada di teater tertutup-terbuka.

Kunci keberhasilan pertunjukkan adalah mengerjakan semuanya dengan hati. Di sana terwujud kecintaan pada seni.

Ketika ada cinta maka tak akan sulit memberikan apapun yang diperlukan bagi pertunjukkan yang komunikatif.

Suasana sore hari di Taman Ismail Marzuki Jakarta. Foto diambil pada 11 Februari 2020. -Dok. portalteater.com.
Suasana sore hari di Taman Ismail Marzuki Jakarta. Foto diambil pada 11 Februari 2020. -Dok. portalteater.com.

Kerja Kolektif

Sebagai orang-orang pertama yang berada di sebuah pusat kesenian yang pertama kali ada di Indonesia ini, saya merasakan bahwa unsur kerjasama sangat diperlukan.

Bagi saya, inilah pengejawantahan dari ajaran teater yang mengatakan bahwa karya seni pertunjukkan adalah hasil kerja kolektif.

Lebih jauh saya merasakan ada kesamaan yang sangat bernilai yang sudah hidup di negeri kita yang kemudian menjadi jalan hidup bangsa yakni apa yang didengungkan sebagai “gotong royong”.

Seperti kita ketahui bersama bahwa gotong royong adalah roh dari Pancasila. Bangsa ini berhasil merdeka dari penjajahan karena adanya kekuatan gotong royong.

Dan di TIM yang diresmikan Ali Sadikin pada 10 November 1968, saya merasakan betapa kesenian Indonesia mendapatkan rumah besarnya.

Semakin hari semakin terasa menjadi ruang pertemuan antar seniman di seluruh Indonesia. Apalagi tersedia wisma seni yang tarifnya sangat murah bagi kantong seniman.

Hari Pahlawan 10 November hadir mengingatkan kembali semangat merebut kemerdekaan. Dan TIM hadir sebagai mars simponi besar yang berdentang menebar ke setiap hati anak bangsa untuk merebut perhatian bahwa berkesenian adalah gerakan hati yang mampu menggalang rasa peduli dan berbagi.

Dengan demikian kehidupan berbangsa dan bernegara perlu terus dirawat dipersiapkan dalam mendapatkan suasana kehidupan yang aman tenteram sejahtera batinnya yang selanjutnya akan memberi semangat bekerja dengan profesi masing-masing.

Oleh karena begitu bernilainya TIM bagi seniman dan penikmatnya mau tidak mau harus selalu bergandeng tangan dan hati menjaga dan menyelamatkan keberadaannya.

Kembali teringat langkah Suri Handono general manager pertama TIM yang membagi 40% seni murni 60% komersil. Namun jangan lupa semuanya tetap dalam satu gerak kesenian.

Jika Suri Handono yang bukan seniman mampu menangkap arti berkesenian sehingga mampu menemukan jalan keluar untuk menghidupinya dengan cara kesenian, maka pasti masih ada “Suri Handono yang lain” yang mungkin kini lebih hebat dan canggih.

*Rudolf Puspa adalah sutradara senior teater yang telah berkiprah selama lebih dari empat dasawarsa di dunia teater Indonesia. Kesuksesannya bersama Teater Keliling, yang didirikannya 46 tahun silam, membuat arsip, dokumen dan catatan pementasannya disimpan di Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI). Kini ia mengisi hari-hari tuanya, terutama di masa pandemi, dengan menggores sejumput ingatan tentang masalalu teater dan juga kiat-kiat untuk bertumbuh dalam eksosistem teater yang terbatas.

Baca Juga

Rudolf Puspa: “Abdi Abadi” adalah sebuah Tanggung Jawab

Portal Teater - Berdiri di panggung Graha Bhakti Budaya di Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki (PKJ TIM), pada 26 Desember 2016 ketika menerima piagam...

Buku Puisi Sosiawan Leak Berbasis Media 3 in 1 Siap Diterbitkan

Portal Teater - Buku puisi "Rumah-Mu Tumbuh di Hati Kami: Kumpulan Puisi Puasa di Masa Korona" karya penyair multitalenta Sosiawan Leak berbasis media 3...

Galerikertas Kembali Buka Ruang Pameran untuk Publik

Portal Teater - Setelah beberapa bulan ditutup karena situasi pandemi, awal Juli ini Galerikertas akhirnya kembali dibuka untuk publik. Pembukaan kembali galeri berbasis Depok, Jawa...

Terkini

Galerikertas Kembali Buka Ruang Pameran untuk Publik

Portal Teater - Setelah beberapa bulan ditutup karena situasi pandemi, awal Juli ini Galerikertas akhirnya kembali dibuka untuk publik. Pembukaan kembali galeri berbasis Depok, Jawa...

Rontoknya Kekerasan karena Cinta

Portal Teater - Apakakah kekerasan akan luluh lantak dengan indahnya alis mata, binar indah bola mata dan lentik bulu mata. Atau malah makin ganas? Dalang (sutradara)...

Teater Broadway Tutup hingga Awal 2021

Portal Teater - Teater Broadway telah mengumumkan secara resmi bahwa akan tetap menutup teaternya sepanjang sisa tahun ini hingga awal tahun 2021 mendatang. Meski demikian, pembukaan...

Buku Puisi Sosiawan Leak Berbasis Media 3 in 1 Siap Diterbitkan

Portal Teater - Buku puisi "Rumah-Mu Tumbuh di Hati Kami: Kumpulan Puisi Puasa di Masa Korona" karya penyair multitalenta Sosiawan Leak berbasis media 3...

Rudolf Puspa: “Abdi Abadi” adalah sebuah Tanggung Jawab

Portal Teater - Berdiri di panggung Graha Bhakti Budaya di Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki (PKJ TIM), pada 26 Desember 2016 ketika menerima piagam...