LIFest 2019, Membongkar Eksklusivitas Historiografi Dogmatik

Portal Teater – Indonesia adalah salah satu daerah koloni Belanda, Inggris, Portugal dan Jepang. Satu pertanyaan terpenting dalam kajian kesusatraan adalah tentang bagaimana kita menulis dan membentuk identitas kebangsaan lewat karya sastra pascakolonial.

Ashcroft et al. dalam The Empire Writes Back (1989) menulis, sastra pascakolonial mengeksplorasi diskursus pascakolonial dan posisi subjek mereka dalam kaitannya dengan tema-tema seperti ras, etnisitas, bangsa, subjektivitas, kekuasaan, hibriditas, dan kreolisasi (lih. Barker, 2009).

Ashcroft menampilkan dua model sastra pascakolonial, yaitu model nasional dan model tulisan kulit hitam. Model nasional terrpaku pada hubungan antara bangsa dengan bekas penjajahnya. Sedangkan tulisan kulit hitam terpusat pada karya diaspora Afrika Black Atlantic.

Namun demikian, isu dominasi dan subordinasi secara langsung mengemuka dalam perbincangan kontrol militerkolonial, genosida, dan keterbelakangan ekonomi.

Dengan adanya hibridisasi, maka batas-batas sastra pascakolonial semakin kabur karena kreolisasi bahasa, literatur dan identitas budaya membuat seluruh literatur nasional dan etnik diragukan.

Misalnya dalam karya Salman Rushdie, Midnight’s Children, The Satanic Verses dan The Moor’s Last Sigh, memunculkan pertanyaan tentang hibriditas dan representasi budaya melalui karakter yang melintasi atau mengaburkan sekat-sekat budaya.

Konferensi pers LIFest 2019 di Komunitas Salihara, Pasar Minggu, Jakarta Selatan. -Dok. gatra.com
Konferensi pers LIFest 2019 di Komunitas Salihara, Pasar Minggu, Jakarta Selatan. -Dok. gatra.com

Merayakan Keragaman Cerita

Komunitas Salihara menyadari bahwa sejarah adalah cerita, dan sastra memberi ruang luas pada keragaman cerita pascakolonial di Indonesia. Ada irisan keduanya. Namun, sering terjadi perseteruan dan dominasi versi sejarah karena relasi kekuasaan yang timpang.

Mereka melihat masalah besar Indonesia pascakolonial, yakni historiografi yang tertutup dan dogmatik, yang cenderung tak memberi ruang pada keragaman cerita oleh individu masyarakat.

Untuk merayakan keragaman cerita individu dan mengisi halaman-halaman kosong dalam sejarah, baik sejarah besar bangsa, maupun antar bangsa, Komunitas Salihara menghadirkan Literature and Idea Festival (LIFest) atau Festival Sastra dan Gagasan.

Sebanyak 31 orang penampil dari berbagai negara, antara lain Indonesia, Belanda, Singapura, Malaysia dan Prancis akan mengisi kegiatan ini. Beberapa kegiatan yang dijadwalkan antara lain pentas, diskusi, kelas, pameran dan perlombaan.

Pada gelaran ke-8 tahun ini, LIFest mengangkat tema My Story, Shared History (Kisahku, Sejarah Bersama) dan akan dibuka di Komunitas Salihara, Pasar Mingggu, Jakarta Selatan, sepanjang 12-20 Oktober 2019.

Ada beberapa bintang tamu yang akan hadir dalam event ini, antara lain: Hilmar Farid, Ayu Utami, Rizal Iwan, Felix K Nesi, Nancy Jouwe, Lara Nuberg dan Robin Block. Selain nama-nama tersebut, masih akan ada banyak nama seniman, penulis dan penampil dari berbagai negara.

Ayu Utami. -Dok. istimewa
Ayu Utami. -Dok. istimewa

Memintal Cerita Indonesia-Belanda

Persembahan tahunan Komunitas Salihara ini secara spesial ingin menekankan hubungan kekerabatan antara Indonesia dan Belanda. Karena Indonesia dan Belanda pernah memiliki sejarah yang sama pada masa lalu meski ada isu dominasi dan subordinasi.

Setidaknya ada enam seniman keturunan Indo-Belanda yang akan berkolaborasi dengan seniman-penulis Indonesia, dan akan menampilkan sejumlah pertunjukan dan pameran.

Felix Nesi, penulis novel Orang-Orang Oetimu yang memenangkan Sayembara Novel DKJ 2018, berkolaborasi dengan Armando Ello, fotografer Belanda keturunan Timor. Keduanya akan menceritakan kisah keluarga Timor dan Rote di luar sejarah mainstream.

Direktur Festival Ayu Utami menerangkan, selain Felix Nesi dan Armando Ello, ada banyak penampilan kolaboratif berlatar sejarah kolonial mengenai pencarian identitas, cerita keluarga dan personal yang tak kalah menarik dibanding narasi besar sejarah.

Kolaborasi penulis Indonesia dan seniman Indo-Belanda ini menawarkan micro-history dan menjadi langkah awal memulai penulisan sejarah yang lebih inklusif di masa depan.

“Bersama para seniman yang berkolaborasi tersebut kita juga akan mendiskusikan hal-hal seperti bagaimana menceritakan kisah keluarga dengan menarik. Bagaimana menempatkan kisah fiksi di dalam fakta. Sampai bagaimana mementaskan arsip dan dokumentasi sejarah, supaya dapat diterima oleh generasi muda,” katanya dalam konferensi pers di Komunitas Salihara, Selasa (8/10/).

LIFest 2019. -DOk. salihara.org
LIFest 2019. -DOk. salihara.org

Panggung Generasi Muda

Upaya menulis kembali sejarah kebangsaan dalam keragaman perspektif tentu selalu berorientasi futuristik. Karena titik pijak hari ini, kita belum banyak mengeksplorasi isu-isu kebangsaan kita lewat karya sastra, selain misalnya Ayu Utami, Eka Kurniawan, Pramoedya A. Toer, dan beberapa penulis lainnya.

Karena itu, Komunitas Salihara memandang perlunya menyediakan panggung atau wadah bagi generasi muda untuk berkreasi dan menemukan cerita mereka sendiri terkait sejarah dan kesusastraan Indonesia.

Salah satunya adalah kompetisi Debat Sastra tingkat SMA yang bertujuan mengajak para pelajar membandingkan dua karya sastra dari penulis Indonesia dan Belanda.

Bagi Ayu Utami, nilai edukasi dan wawasan perlu ditawarkan bagi generasi muda mengingat betapa sastra kurang dipelajari dan tidak diperhatikan di dalam sistem pendidikan kita hari ini.

“Untuk aspek pendidikan ini kami juga menyelenggarakan workshop dan peluncuran animasi Peta Sastra Kebangsaan untuk memperkenalkan sastra kepada generasi muda dengan cara yang lebih kekinian” paparnya.

Selain itu, LIFEst 2019 juga menghadirkan Starry, Story Night, pembacaan karya oleh bintang sastra generasi muda, yang dilanjutkan Makan Malam Sastra bernuansa Indonesia tempo dulu.

LIFEst 2019 juga bekerjasama dengan Yayasan Cahaya Guru untuk memberi alat bantu pengajaran sejarah sastra berupa video agar lebih gampang dipahami anak muda.

Kolaborasi itu akan membuat pembelajaran dalam bentuk video peta sastra menggunakan 11 kata kunci sederhana dengan melihat kepentingan pribadi dan menghubungkan dengan dunia sastra.

Kolaborasi akan membuat 12 video pendek untuk diunggah di YouTube agar bisa diunduh siapa saja sebagai bahan pengajaran.

Pembacaan naskah "Migrasi Dari Ruang Tamu" pada IDRF 2018 oleh rokateater (Yogyakarta). -Dok. Kurnia Yaumil Fajar/rokateater
Pembacaan naskah “Migrasi Dari Ruang Tamu” pada IDRF 2018 oleh rokateater (Yogyakarta). -Dok. Kurnia Yaumil Fajar/rokateater

Acara Pendukung

LIFest 2019 yang mulai digelar akhir pekan ini juga akan menampilkan musik puisi Poétique Ensemble yang ekspresif asal Prancis. Pun ada pembacaan naskah tentang isu ekonomi pada akhir 1990-an oleh Indonesia Dramatic Reading Festival (Yogyakarta).

Ada pula workshop Membuat Sampul Album Digital Dialita di mana peserta merancang ilustrasi album dan menulis teks penjelasan berdasarkan lagu-lagu yang berisi kesaksian dan pengalaman ibu-ibu Dialita, penyintas Tragedi 1965.

Tak ketinggalan diskusi seru tentang Sastra Indische, salah satu babak yang terlupakan di dalam sastra Indonesia.

LIFEst ditutup dengan Keynote Speech oleh Hilmar Farid, Direktur Jenderal Kebudayaan di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dan Nancy Jouwe, pengajar dan peneliti asal Belanda yang sebenarnya berasal dari keluarga Papua.

Nancy Jouwe. -Dok. suarapapua.com
Nancy Jouwe. -Dok. suarapapua.com

Selain itu, Komunitas Salihara menggelar Dendang Arsip Nusantara, kolaborasi Pemuda Sinarmas dan Sastra Lintas Rupa. Di sana mereka menghadirkan arsip-arsip sastra Indonesia dalam bentuk proyeksi visual dan diiringi dengan lagu-lagu Indonesia 1970-1980-an yang diolah menjadi format musik dansa.

Sumber: Salihara, Bisnis.com, Gatra.com, Republika.co.id, Pojok Seni

*Daniel Deha

Baca Juga

Presiden Jokowi Tetapkan Pembatasan Skala Besar

Portal Teater - Setelah melewati pelbagai pertimbangan, Presiden Joko Widodo akhirnya secara resmi menetapkan pembatasan sosial berskala besar untuk menekan laju penyebaran dan pertumbuhan...

Jelajahi Pameran dan Koleksi Seni Museum MACAN Lewat Tur Digital

Portal Teater - Museum Modern and Contemporary Art in Nusantara (MACAN) Jakarta membuka program tur digital untuk mengajak publik menjelajahi pameran dan koleksi seni...

Virus Corona dan Problem Kultural

Portal Teater - Virus corona (Covid-19) yang kini melanda dunia, bagi Yuval Noah Harari, salah satu filsuf masakini, merupakan krisis global. Mungkin krisis terbesar...

Terkini

Shahid Nadeem: Teater sebagai Kuil

Portal Teater - Dramawan terkemuka Pakistan Shahid Nadeem dalam pidatonya pada World Theater Day 2020 (27 Maret) mengatakan bahwa penciptaan teater masa kini harus...

Jelajahi Pameran dan Koleksi Seni Museum MACAN Lewat Tur Digital

Portal Teater - Museum Modern and Contemporary Art in Nusantara (MACAN) Jakarta membuka program tur digital untuk mengajak publik menjelajahi pameran dan koleksi seni...

Satu Juta Penduduk Dunia Terinfeksi Virus Corona

Portal Teater - Virus Corona (Covid-19) telah memukul dunia di mana lebih dari satu juta penduduk terinfeksi patogen ini. Data ini menjadi tonggak pencapaian...

Intelijen AS Sebut China Sembunyikan Data Covid-19

Portal Teater - Intelijen Amerika Serikat dalam sebuah laporan rahasia mengatakan bahwa pemerintah China telah menyembunyikan data penyebaran virus Corona di negara itu, terutama...

Seni (Harus) Tetap Hidup Melawan Pandemi

Portal Teater - Beberapa bulan terakhir adalah masa berat bagi seluruh umat manusia, termasuk para seniman dan pekerja seni. Virus Corona (Covid-19) telah menewaskan...