Memperkuat Literasi Musik Tradisi Nusantara Di Era Globalisasi

Portal Teater – Benar apa yang disebut Kosasih (1982), bahwa musik merupakan wahana di mana manusia dapat melukiskan getaran jiwa terdalamnya, pemikirannya, visinya, dan apapun yang ada dalam hatinya. Aristoteles pada masanya pun melihat musik berdaya guna menentramkan kegundahan hati; musik menjadi terapi rekreatif untuk mencapai kontemplasi.

Salah satu jenis musik, selain musik modern dan kontemporer yang menjadi kegandrungan generasi saat ini, adalah musik tradisional. Aliran musik ini dipelajari khusus melalui ilmu etnomusikologi, yakni “pembelajaran aspek sosial dan budaya terhadap musik dan tarian dalam konteks lokal dan global” (Pegg, 2008).

Aliran musik ini dicetuskan Jaap Kunst dari kata Yunani “ethnos” (bangsa) dan “mousike” (musik), dan sering dianggap sebagai “antropologi atau etnografi musik” (Titon, 1992).

Semua bangsa di dunia memiliki kekayaan musik-musik tradisi ini. Di Eropa musik tradisi berkembang sangat pesat. Misalnya alat musik Lyra, Leier, Psalterium, dan Dudelsack.

Termasuk Nyckelharpa (instrumen tradisional Swedia) yang dimainkan musisi-akustik Robert Bental pada malam pementasan “Baal” oleh Impermanence Dance Theatre di gelaran Djakarta Teater Platform, 8-20 Juli 2019 di Graha Bhakti Budaya TIM Jakarta.

Di Afrika kita mengenal ada alat musik tradisi bernama Udu, Kalimba, Mbira, Marakas, Djimbe, Vuvuzela.  Di Asia ada Tabla (India), Koto (Jepang), Yueqin (China), dan masih banyak lagi musik-musik tradisi dari wilayah lainnnya.

Sementara di Amerika ada Guiro (Peru), Drum Kayu dan Kulit (Suku Indian/Maya), dan Claves. Selain itu, di Amerika Tengah musik tradisinya sangat kuat dipengaruhi oleh banyak budaya yang berbeda dari Amerika Latin, Amerika Utara, Karibia, Eropa, dan bahkan Afrika.

Di Eropa, pada sekitar dua puluh tahun lalu, apa yang disebut “minimal music”, merujuk kepada musik tradisi, berkembang dengan begitu pesatnya. Ternyata komposisi melodi dari instrumen-instrumen musik itu mirip atau banyak diadopsi dari intisari instrumen musik tradisi Nusantara.

Musik Tradisi Indonesia Hari Ini

Musik tradisi Nusantara adalah elemen musik yang lahir dan berkembang di daerah-daerah di seluruh wilayah Indonesia. Musik tradisi ini memiliki kekhasan, yaitu syair dan instrumennya menggunakan bahasa, melodi, dan ornamen-ornamen musik khas daerah itu. Musik tradisi akhirnya merepresentasikan identitas, ekspresi, dan kebudayaan masyarakat setempat.

Salah satu alat musik tradisional di Indonesia yang telah mendunia adalah Angklung dari Jawa Barat. Yang lainnya adalah Sasando (Nusa Tenggara Timur), Gamelan (Jawa/Bali), Tifa (Maluku/Papua), Kolintang (Minahasa/Sulawesi Utara), Sampek (Kalimatan Timur), Arbab (Aceh), dan masih banyak lagi.

Namun demikian, masih ada begitu banyak musik tradisi yang selama ini luput dari perhatian publik. Musik-musik tersebut bukannya tenggelam karena tidak berkarakter atau tidak menarik, melainkan karena jarang diekspos ke panggung-panggung istimewa.

Dengan kata lain, aksesibilitas informasi tentang musik-musik tersebut sangat minim. Faktanya, musik tradisi semisal Tarawangsa di Rancakalong, Sumedang, Jawa Barat bahkan tidak banyak dikenal oleh masyarakat Jakarta, apalagi Indonesia pada umumnya. Padahal alat musik ini ditengarai lebih tua dari Rebab, alat musik populer pada masa penyebaran agama Islam di Nusantara (abad ke-15).

Ada pula musik tradisi bernama Kakula dari Palu, Sulawesi Tengah. Alat musik ini dimainkan berkelompok, seperti permainan Bonang di Jawa. Demikian halnya dengan alat musik dari suku di Pulau Komodo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, yang hampir tidak tereksplor secara terlembaga.

Jika tidak dirawat dengan baik, maka alat-alat musik khas wilayah-wilayah lain di Nusantara akan hilang dan punah ditelan tsunami keinstanan masyarakat dalam mengkonsumsi jenis musik-musik baru.

Apalagi, kerapkali terjadi di mana orang terlalu banyak menggabungkan elemen-elemen dari musik tradisi dengan umusik modern, sehingga mengaburkan kekhasan musik tradisi itu sendiri.

“Kita yang sekarang perlu untuk merawat agar jangan punah. Karena banyak yang sudah mulai punah,” kata Ketua Komite Musik Dewan Kesenian Jakarta Otto Sidharta, di Kantor DKJ, Jakarta, Rabu (4/9).

Merespon Kegelisahan

Program Pekan Musik Tradisi Etno Musik Festival 2019 yang digagas Komite Musik DKJ, merupakan salah satu cara merespon kegelisahan kolektif adanya pergeseran atau peralihan minat masyarakat saat ini ke genre musik modern dan kontemporer.

Adanya event tersebut bermaksud untuk membangkitkan kembali warisan luhur sejarah kesenian tradisional, terutama permainan alat-alat musik yang begitu kaya.

Festival musik ini juga berniat merawat literasi musik Nusantara dan memperkenalkan genre musik tradisi kepada publik, serta berniat meningkatkan kualitas musik Nusantara dalam perkembangan globalisasi.

Atau setidaknya, musik-musik tradisi Indonesia yang jarang disentuh mendapatkan panggung institusional untuk pentas, bukan hanya dalam skala nasional, tetapi globalisasi menjadi peluang musik tradisi alternatif itu dapat tampil di panggung internasional.

Menurut Otto, sejauh ini, jika Indonesia mementaskan permainan musik tradisi di luar negeri, maka yang ditampilkan atau diekspos adalah musik-musik tradisi yang dominan, misalnya permainan Angklung atau Gamelan dari Jawa. Padahal masih banyak musik tradisi lain yang belum tersentuh.

“Kita perlu yang belum dikenal agar lebih dikenal di dunia luar,” terangnya.

Untuk memperkuat jejaring kerjasama global, Komite Musik DKJ mengundang beberapa musik tradisi dari luar negeri, misalnya dari China, Malaysia dan Filipina, supaya terjadi komunikasi antara pemusik tradisi Indonesia dengan pemusik luar negeri.

Selain itu, dua penyelenggara festival internasional pun diundang Komite Musik DKJ untuk menonton langsung event tersebut. Satunya adalah penyelenggara festival di Shanghai, China, dan lainnya adalah penyelenggara festival di Eropa.

“Supaya mereka juga tahu, oh ternyata musik Indonesia bukan cuman Jawa. Karena selama ini yang diekspos kesana hanya itu saja. Lalu pengetahuan kita tentang musik tradisi kurang, makanya perlu kita perkenalkan,” tandasnya.

Otto pun berharap, keterlibatan pemusik tradisi luar negeri pada event-event selanjutnya menjadi lebih banyak lagi untuk memperluas dan menciptakan jejaring kerja global yang kuat dan bertahan.

“Dari luar negeri ada tiga grup musik, yaitu dari China, Malaysia dan Filipina. Mudah-mudahan tahun depan bisa lebih banyak lagi,” ungkapnya.

Jadi Sumber Perenungan dan Persatuan

Otto menceritakan pada awal tahun 1980-an, DKJ pernah menyelenggarakan Pekan Musik dan Tari, yang menghimpun kelompok-kelompok musik dan tari dari berbagai wilayah/daerah di Indonesia. Namun, gelaran tersebut tidak berkelanjutan. Dan selama hampir tiga puluh tahun, tidak ada lagi program sejenis.

Padahal, musik-musik tradisi menjadi sumber inspirasi dan kekuatan yang tidak pernah kering. Musik-musik itu juga menjadi bahan perenungan, refleksi, dan bukan sekedar hiburan. Kekayaan dan kekuatan itulah yang diangkat dan dikemas kembali melalui wahana yang lebih terstruktur agar mulai diminati lagi.

“Ide dasarnya, karena saya sering jalan-jalan di seluruh Indonesia. Saya menemukan banyak sekali musik-musik yang menarik dan punya kekuatan musikal yang tinggi. Tapi ini sering kurang diperhatikan,” katanya.

Lebih dari itu, festival perdana ini diharapkan menjadi wahana yang memperkuat rasa kebhinekaan Indonesia, terutama melalui komunikasi dan kesalingpengenalan yang lebih personal dan artistik. Demikian halnya seperti konser musik David Bowie yang mempersatukan Jerman Timur dan Barat, pada tahun 1987.

“Kasus konflik antar etnik mungkin juga bisa dihindari. Lewat musik ada hubungan yang lebih personal, bukan hanya terbatas pada hubungan politik, atau lainnya,” ungkapnya.

Otto pun berharap event ini menjadi program tahunan Komite Musik DKJ, karena dianggap sangat penting untuk merawat kekayaan musik yang sudah ada, sekaligus mengembangkan budaya baru.

“Ini harus jadi perhatian kita. Saya berharap ini jadi event yang rutin tiap tahun,” katanya.

Perlu Dukungan Pemda

Otto melihat, selama ini perhelatan festival musik tradisi selalu terkendala oleh sokongan finansial, sehingga Indonesia jarang sekali menyelenggarakan event-event musik tradisi.

Karena untuk mendatangkan kelompok pemusik dari berbagai daerah di Indonesia, misalnya, membutuhkan dana yang tidak sedikit, sedang DKJ sendiri merupakan lembaga semi-pemerintah yang anggarannya sangat terbatas.

“Dan ini sering terbentur oleh dana, misalnya untuk mendatangkan pemusik dari Pulau Komodo, di Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Makanya agak jarang diselenggarakan,” paparnya.

Karena itu, ia berharap Pemerintah Daerah (Pemda) secara moral dan finansial perlu mendukung program tersebut, di samping meringankan beban anggaran DKJ sebagai programer, tetapi juga agar program ini tetap berkelanjutan dan terinstitusi.

Karena pada prinsipnya, program ini melibatkan komunitas atau kelompok musik daerah, yang mana menjadi kekayaan daerah setempat, sehingga Pemda juga mesti mengakomodasinya secara terlembaga.

Menurut Otto, kerjasama itu pun terjadi dalam konteks penentuan jenis musik apa yang akan ditampilkan dalam Etno Musik Festival di tahun-tahun selanjutnya. Sebab, Indonesia memiliki ratusan jenis musik tradisional yang hampir tidak terakomodasi pada tiap event tersebut. Kerja Pemda dalam hal tersebut menjadi sangat penting dan strategis.

“Saya berharap dapat bekerjasama dengan Pemda-Pemda setempat, karena mereka yang paling tahu, ada apa di daerahnya. Saya juga akan lebih senang kalau bisa kerjasama dengan pemerintah daerah untuk memilih musik mana yang harus tampil,” katanya.

*Daniel Deha

Baca Juga

Gubernur Lampung Kukuhkan Akademi Lampung dan DKL Periode 2020-2024

Portal Teater - Gubernur Lampung Arinal Djunaidi melalui Sekretaris Daerah Provinsi Lampung Fahrizal Darminto resmi mengukuhkan pengurus struktural Akademi Lampung dan Dewan Kesenian Lampung...

“New Normal” Kesenian: Melampaui Protokol, Menyadari Risiko

Portal Teater - Empat bulan setelah kasus virus corona (Covid-19) muncul pertama kali di Indonesia pada Maret, pemerintah akhirnya menetapkan kondisi "new normal". Berbagai kegiatan...

Terkini

Gubernur Lampung Kukuhkan Akademi Lampung dan DKL Periode 2020-2024

Portal Teater - Gubernur Lampung Arinal Djunaidi melalui Sekretaris Daerah Provinsi Lampung Fahrizal Darminto resmi mengukuhkan pengurus struktural Akademi Lampung dan Dewan Kesenian Lampung...

“New Normal” Kesenian: Melampaui Protokol, Menyadari Risiko

Portal Teater - Empat bulan setelah kasus virus corona (Covid-19) muncul pertama kali di Indonesia pada Maret, pemerintah akhirnya menetapkan kondisi "new normal". Berbagai kegiatan...

Kolaborasi sebagai Praktik Intervensi Membongkar Kebekuan Teater

Portal Teater - Mengapa praktik-praktik penciptaan karya seni sekarang mengarah ke kerja kolaborasi? Praktik-praktik kolaborasi dalam kerja artistik terutama berakar ketika mulai munculnya studi-studi inter-kultur,...

Museum MACAN Gandeng OPPO Gelar “Arisan Karya” Edisi Terakhir

Portal Teater - Setelah sukses di dua ronde pertama, Museum MACAN kembali menggelar program "Arisan Karya" edisi terakhir. Program suntikan motivasi bagi ekosistem seni Indonesia...

Rudolf Puspa: Menggelorakan Berkesenian

Portal Teater - Saya masih ingat ketika pada tahun 2016 Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy menyerukan kepada penyelenggara pendidikan untuk menggelorakan aktivitas kesenian. Saya...