Mengenal “Sarandaro”, Prosesi Penyerahan Anak Suku Wandawen-Papua Barat

Portal Teater –  Sarandaro adalah sebuah prosesi adat penyerahan anak melalui nyanyian dan tarian secara aktif ketika titik perhatian kepercayaan masyarakat ada pada “Rora” (langit) dan “Uta” (bumi)“.

Ritual ini dilakukan pada saat seseorang yang yang telah berusia dewasa akan pergi meninggalkan orang tuanya baik untuk merantau, mencari pekerjaan, mengikuti istrinya (kawin masuk) atau akan pergi menuntut ilmu di daerah lain.

Namun dalam tradisi suku Wandamen di Papua Barat, seorang anak laki-laki sangat sulit untuk pergi jauh menuntut ilmu.

Pada zaman dahulu Sarandaro hanya dapat dilakukan pada seorang anak laki-laki dewasa yang telah berkeluarga ketika akan meninggalkan ayah dan ibunya untuk menetap bersama istrinya di kampung halaman mertuanya.

Ketatnya tradisi pada anak laki-laki membuat jarang sekali para pemuda Wandamen meninggalkan orang tua dan kampung halamanya untuk merantau mencari pekerjaan atau menuntut ilmu di luar Papua, karena anak laki-laki dalam sebuah keluarga mempunyai kedudukan sangat tinggi sebagai pemegang hak kesulungan (pewaris) sejak lahir.

Sebagai tulang punggung, pelindung keluarga, dan bertanggung jawab pada dusun
sebagai sumber kehidupan marganya. Tradisi ini membuat suku Wandamen kurang dikenal oleh masyarakat Papua lainnya.

Masyarakat Wandamen sendiri berdiam di Kabupaten Manokwari, antara lain di Kecamatan Bintuni, Windesi, Babo, dan Wasior.

Kampung-kampung mereka terdapat sepanjang pantai barat Teluk Cenderawasih dan Teluk Wandamen, dan ke timur sejauh Teluk Bintuni.

Wandamen tampak menonjol pada bagian sebelah barat Teluk Cenderawasih. Tanah ini, bersama berbagai kelompok kepulauan, merupakan daerah bahasa Wandamen selama beberapa abad.

Model latihan Sarandaro oleh Sanggar Seni Iriantos. -Dok. Sanggar Seni Iriantos
Model latihan Sarandaro oleh Sanggar Seni Iriantos. -Dok. Sanggar Seni Iriantos

Jenis Nyanyian Lain

Suku Wandamen sebenarnya memiliki delapan jenis nyanyian selain Sandaro, yaitu:

  1. “Ranu Sosiri”, yaitu nyanyian berbentuk puisi. Nyanyian ini adalah jenis umum untuk semua tipe nyanyian yang menggunakan puisi kiasan.
  2. “Ranu kaiyov”, yaitu nyanyian mendayung perahu. Syair ini dinyanyikan oleh laki-laki yang melakukan perjalanan panjang ke luar Teluk Wandamen. Lirik lagu ini menceritakan gambaran geografi daerah-daerah yang tidak asing lagi dan dilakukan sebagai kenangan akan kampung halaman bagi orang yang sedang bepergian.
  3. “Ranu sai siniomboru”: ratapan orang mati. Ini mencakup suatu nada yang indah yang dimasukkan dalam lirik yang tercipta secara spontan pada waktu kedukaan oleh orang yang berduka.
  4. “Ranu mamuna”, yaitu nyanyian perang, khususnya dikenal pada waktu berlangsungnya suatu perang. Lagu tanda kemenangan menjadi dorongan untuk menguatkan rasa percaya dan bangga.
  5. “Ranu mon/sade”, nyanyian panggilan roh. Nyanyian tidak umum karena hanya beberapa orang yang tahu kata-katanya. Jenis nyanyian ini dinyanyikan dengan bunyi gemerincing yang cepat dan serentak dengan bunyi ketukan dari pinggiran piring keramik yang diketuk.
  6. “Ranu som Sien”, nyanyian pujian kepada Allah. Ini terjadi karena kebutuhan orang Wandamen dalam mengungkapkan tradisi agama baru yang sudah disebarkan ke seluruh daerah itu. Nyanyian ini awalnya merupakan terjemahan dari nyanyian Mazmur yang terkenal dalam Alkitab ke musik Eropa.
  7. “Ranu barengan”, musik dansa, di mana para peserta tari berpasang-pasangan dalam satu lingkaran besar dan bergoyang ke kiri dan kanan sambil menyanyikan nyanyian-nyanyian. Pada bait-bait tertentu dalam nyanyian itu mereka menghentakan kaki dengan kuat agar bergema (Yosim Pancar/Yospan).
  8. “Ranu vavoru”, musik baru. Ini berkaitan dengan pengaruh musik Barat yang didengar melalui radio atau kaset/tape recorder. Musik ini dipilih untuk berdansa (modern).

Robohkan Tradisi

Sanggar Seni Iriantos pada Pekan Teater Nasional (PTN) yang diadakan di Samarinda, 20-26 September, mengusung ritual adat (“Sarandaro”) suku Wandawen ini ke dalam pertunjukan teater.

Dalam pementasannya, Kamis (26/9), kelompok seni ini mengangkat kisah tentang Anio, pemuda yang tersentuh hatinya melihat keterbatasan pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki ayahnya.

Ia bangkit melawan ketidak adilan dalam tradisi yang mengikat anak laki-laki agar memperoleh kebebasan, ruang dan tempat yang adil untuk melangkah memperoleh pendidikan yang layak demi mengangkat harga diri dan masa depan yang lebih baik.

Hal ini tidak mudah dilakukannya, namun ia tetap teguh berdiri bersama tekadnya yang mulia.

Akhirnya ia mampu merobohkan tiang tradisi yang selama ini mengikat anak laki-laki, dan akhirnya ia berhasil meninggalkan orangtua dan kampung halamannya pergi menuntut Ilmu di negeri seberang.

Setelah berhasil meraih dan mengenggam cita-citanya ia mengabarkan orangnya. Berita keberhasilan menjadi kabar suka cita, sehingga orang tuanya bersama para tua-tua adat melakukan upacara Adat Sarandaro (upacara penyambutan) bersama masyarakat.

Tim Kerja Sanggar Seni Iriantos

  • Kepala Tim: George W Yomaki
  • Sutradara: George Willem Yomaki
  • Stage Manager: Leonardo Yembise
  • Penulis Naskah: Geyom
  • Penata Musik: Yanfdly Daiomboa
  • Penata Gerak: Ttovinus Hergiantos Yomaki
  • Penata Ria dan Busana: Meriyanti Totong
  • Penata Cahaya: David Lawalata
  • Periset: John F. Mambor

*Artikel ini ditulis oleh John F. Mambor, salah satu periset pada program Pekan Teater Nasional (PTN) 2019. Naskah oleh George W . Yomaki. Beberapa naskah tambahan Redaksi mengutipnya dari blog Melisa Selly Iswandari.

Baca Juga

“New Normal” Kesenian: Melampaui Protokol, Menyadari Risiko

Portal Teater - Empat bulan setelah kasus virus corona (Covid-19) muncul pertama kali di Indonesia pada Maret, pemerintah akhirnya menetapkan kondisi "new normal". Berbagai kegiatan...

Gubernur Lampung Kukuhkan Akademi Lampung dan DKL Periode 2020-2024

Portal Teater - Gubernur Lampung Arinal Djunaidi melalui Sekretaris Daerah Provinsi Lampung Fahrizal Darminto resmi mengukuhkan pengurus struktural Akademi Lampung dan Dewan Kesenian Lampung...

Terkini

Gubernur Lampung Kukuhkan Akademi Lampung dan DKL Periode 2020-2024

Portal Teater - Gubernur Lampung Arinal Djunaidi melalui Sekretaris Daerah Provinsi Lampung Fahrizal Darminto resmi mengukuhkan pengurus struktural Akademi Lampung dan Dewan Kesenian Lampung...

“New Normal” Kesenian: Melampaui Protokol, Menyadari Risiko

Portal Teater - Empat bulan setelah kasus virus corona (Covid-19) muncul pertama kali di Indonesia pada Maret, pemerintah akhirnya menetapkan kondisi "new normal". Berbagai kegiatan...

Kolaborasi sebagai Praktik Intervensi Membongkar Kebekuan Teater

Portal Teater - Mengapa praktik-praktik penciptaan karya seni sekarang mengarah ke kerja kolaborasi? Praktik-praktik kolaborasi dalam kerja artistik terutama berakar ketika mulai munculnya studi-studi inter-kultur,...

Museum MACAN Gandeng OPPO Gelar “Arisan Karya” Edisi Terakhir

Portal Teater - Setelah sukses di dua ronde pertama, Museum MACAN kembali menggelar program "Arisan Karya" edisi terakhir. Program suntikan motivasi bagi ekosistem seni Indonesia...

Rudolf Puspa: Menggelorakan Berkesenian

Portal Teater - Saya masih ingat ketika pada tahun 2016 Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy menyerukan kepada penyelenggara pendidikan untuk menggelorakan aktivitas kesenian. Saya...