Mengenali Batas dan Peleburan Ketubuhan Lewat “Entrance”

Portal Teater – Pada mulanya “Entrance” adalah hasil olah karya bertumbuh (on progress) Otniel Tasman untuk karya solonya. Berangkat dari kiprah ketubuhan lengger atas diri Otniel, membuat kita berpikir bahwa, di dunia modern sekarang ini, egolah yang mengendalikan tubuh.

Kita selalu dibawa untuk mempertanyakan seberapa besar pemilik tubuh masih mampu mendengarkan intuisi dasar kemanusiaan, ataukah hanya akal budinya yang berkuasa?

Kuasa atas tubuh dikendalikan oleh faktor dari luar tubuhnya; tubuh dipaksa untuk penyeragaman atas tubuh lain. Tubuh harus menerima hukuman atau malah terhukum oleh kesepakatan kesepakatan sosial itu sendiri.

Kita menganggap instalasi ini sebagai inventaris fragmen yang belum selesai: objek peti mati, performativitas, video non-naratif, dan penemuan lainnya.

Mereka adalah situs improvisasi di mana yang dibangun dan siap pakai digunakan untuk mempertanyakan kembali periode manusia pemilik penuh atas tubuhnya untuk kembali menanyakan di tengah-tengah di antara lahir hingga mati.

Hidup, dan berkehidupan untuk kembali bertemu dan saling bertanya pada sesama manusia.

Pentas "Entrance" oleh Otniel Tasman. -Dok. @oniltasman
Pentas “Entrance” oleh Otniel Tasman. -Dok. @oniltasman

Inti dari karya ini adalah putaran umpan balik antara sensasi, pengalaman, gerakan, dan pemahaman. Apa yang kita rasakan, dan bagaimana hal itu masuk akal?

Di mana kita lahir, kapan kita pindah dan di mana kita nanti akan mati? Apa yang kita nilai, dan bagaimana hal itu mengubah nilai kita? Materialitas dan perwujudan, pengaruh dan persepsi, transformasi dan waktu.

Ia ingin mendorong dialog yang lebih besar di sekitar ekologi yang kompleks dan relasional ini dalam peti mati. Ihwalnya, tubuh di dalam setiap orang yang melakukan perjalanan hidupnya adalah berdasar atas cinta.

Penyikapan yang multidimensional dengan daya ungkap kejujuran, atas diri dan tubuh seorang itu sendiri, koloni tempat ia dilahirkan, dari yang terkecil hingga seluas-luasnya.

Pelepasan atas seluruh rasa kadang tidak semua memiliki tujuan akhir yang didambakan, namun lebih dari sebagai penyadaran diri dan kembali menjadi bahan renungan atas realita.

Batas dan Peleburan Ketubuhan

Ketika batas biasanya membuat langkah terhenti, “Entrance” justru memperlakukan batas sebagai pintu masuk untuk memahami realitas yang lebih luas. Dunia maha-kompleks di mana hukum-hukum tentang “tabu” dan “normal” tak lagi berlaku.

Di panggung, tegangan antara kematian dan kehidupan – tampuk hidup manusia — dimainkan lewat peti mati.

Instalasi peti mati dalam pentas "Entrance". -Dok. Otniel Tasman.
Instalasi peti mati dalam pentas “Entrance”. -Dok. Otniel Tasman.

Sementara, arsip vocabulary tubuh Lengger Otniel sepanjang waktu berdialog dengan suara Dariah, maestro lengger Banyumas, yang timbul-tenggelam berseling dengan deru noise.

Subyektivitas — Lengger yang Otniel hidupi dalam tubuhnya kini bebas bertanya, memaknai, dan mendefinisikan dirinya sebagai identitas yang utuh.

Lewat “Entrance”, Otniel ingin menghadirkan perasaan berani dan jujur dalam melakukan dialog soal menghadapi batas-batas yang paradoksal dalam kompleksnya realitas kehidupan.

Dari rahasia-rahasia kecil yang kita sembunyikan di keseharian, hingga narasi-narasi besar yang melingkupi hidup.

Peti mati ibarat persoalan batas, sebuah pintu masuk (entrance), juga sebuah “ruang dialog” antara kehadiran tubuh yang mati lalu bangkit dan hidup kembali untuk berdialog kepada kompleks persoalan batas tersebut atas sejarah kepenarian dalam tubuh lengger Otniel.

“Entrance” adalah bagaimana persoalan paradoksal di antara batas-batas yang pada akhirnya melebur menjadi mediator bagi manusia-manusia yang selalu membicarakan ketabuan dalam kompleksitas batas tersebut.

Pada Pekan Teater Nasional (PTN) di Samarinda (20-26 September 2019), Otniel Dance dari Banyumas mementaskan karya “Entrance” pada Rabu (25/9) melalui pentas solo Otniel (sekaligus koreografer), di bawah sutradara Zen Al Ansory dan musik performer Mahamboro.

Pentas "Entrance" oleh Otniel Dance (Banyumas) pada PTN 2019.
Pentas “Entrance” oleh Otniel Dance (Banyumas) pada PTN 2019.

Tentang Otniel Tasman

Otniel Tasman, lahir di Banyumas tahun 1989, tinggal dan bekerja di Solo. Otniel adalah koreografer muda yang sangat berakar pada tradisi Jawa, terutama tradisi Banyumas, kota kelahirannya.

Ia sedang menjajaki Tradisi Lengger Banyumas, sebagai bahasa ibunya, dan memberinya pengalaman dalam memahami setiap kejadian dalam hidupnya dan menginspirasinya dalam menciptakan karya.

Keunikan Lengger ditarikan oleh laki-laki, mengenakan kostum perempuan dan make-up, penari yang biasa dikenal sebagai Lengger Lanang (Male Lengger).

Otniel sedang mengeksplorasi banyak ide berdasarkan identitas gender Lengger Lanang, dan koreografi secara kontemporari untuk karyanya.

Karya-karyanya antara lain: “Rohwong” (2010), “Angruwat” (2010), “Mantram” (2012), “Looping Back Mantra” (2012), “Barangan” (2013), “Lengger Laut” (2014), “Penantian Dariah” (2015), “Stand Go Go” (2017), “Noseheorit” (2017) dan “CABLAKA” (Commission Work Salihara 2018).

Otniel menyelesaikan studi dari Institut Seni Indonesia Surakarta (2014), dan juga membangun Otniel Dance (2012). Ia memiliki beberapa karya kolaborasi dengan seniman nasional dan internasional, seperti: Ming Wong (Jerman), Daniel Kok (Singapura) ), Arco Renz (Jerman) Maxine Happner (Kanada), Yo-fen Shu (Taiwan), Hanafi Muhammad (Indonesia), dan Garin Nugroho (Indonesia).

Saat ini Otniel sedang mengerjakan karya kolaborasi dengan Bekraf di kota Tomohon Sulawesi Utara, dan dengan Garin Nugroho untuk karya baru berjudul “Planet” untuk opening Asia Topa 2020 di Melbourne, Australia.

Diskusi karya "Entrance" pada PTN 2019. -Dok. @oniltasman
Diskusi karya “Entrance” pada PTN 2019. -Dok. @oniltasman

Zen Al Ansory (Sutradara)

Zen Al Ansory yang memiliki nama lengkap Muchammad Zaenal Al Ansory di Solo, lahir pada 17 Juni 1988. Mulai bersinggungan dengan film sejak ia kuliah di Institut Seni Indonesia Surakarta.

Mulanya ia menyutradarai karya-karya video art untuk Solo International Performing Arts dan juga sebagai creative director bersama Irawati Kusumorasri.

Pada tahun 2011 ia mendirikan sebuah rumah produksi untuk pengembangan film independen bernama Medang Kamulan Films. Pada tahun 2012 ia berkesempatan untuk mengambil kuliah Liberal Arts di Thammasat University Bangkok.

Film pertamanya adalah “Tauhid Dalam Hati” yang dirilis pada tahun 2014. Kemudian pada tahun 2015, Zen Al Ansory membuat film pendek pertamanya, dengan judul “Kunjungan Spesial” yang berhasil diputar perdana di Singapore International Film Festival pada program Country Spotlight dan Jogja-Netpac International Film Festival.

Selain membuat film dan video, Zen juga mendirikan Kisi Kelir, sebuah platform bioskop alternatif di Solo. Selain menyutradarai film ia juga melakukan kerja-kerja interdisiplin kesenian dengan Sardono W Kusumo, dan seniman lain.

Saat ini ia akan mengakhiri studi pascasarjana di ISI Surakarta. Beberapa karya film pendeknya: “Waiting for The Customer”, “Sleep Tiger In Me”, “Dua Altar”, “The Lone Wolf Next Door”, dan “Flowering Pawpaw”.

Mahamboro (Komposer)

Mahamboro lahir di Magelang, Jawa Tengah, pada tahun 1991. Ia dibesarkan dengan musik klasik selama lebih dari 7 tahun.

Mahamboro adalah musisi multi-instrumental, seniman suara dan juga seorang perancang desain audio, sebagian besar dari karyanya ia sebagai komposer musik kontemporer.

Ia memperoleh gelar master dari ISI Surakarta sebagai komposer. Karyanya mempunyai gaya dengan memadukan instrument suara yang diproses dan menemukan obyek suara dengan elemen elektronik kontemporer dan dirinya lebih tertarik pada proses penciptaan interdisipliner.

Dia telah merilis beberapa album dan juga menampilkan beberapa karyanya melalui kolaborasi dengan tari, seni pertunjukan, dan film.

Karya terakhirnya bertema gelap, ambience, industrial dan techno. Album terbarunya mengambil judul-judul seperti, “Tidur” (sleep), “Klawu” (grey) dan “Surup” (sunset).

Karya-karya ini mengacu pada ketertarikan musisi dengan personal lingkungan, di antara keadaan, suasana hati atau kesan yang belum terselesaikan, perbedaan antara bagian dalam dan bagian luar. Perpaduan antara emosi, imajinasi dan ingatan.

*Naskah ini diambil dari Katalog Pekan Teater Nasional di Samarinda, 20-26 September 2019.

Baca Juga

Update Corona 29 Mei: Kasus Baru Turun Tipis, Total 25.216 Positif

Portal Teater - Kasus baru virus corona turun tipis pada Jumat (29/5) sebanyak 678 kasus dari sebelumnya 687 kasus. Dengan demikian, menurut juru bicara Achmad...

Imajinasi dan Kontradiksi Pembukaan Mall

Portal Teater - Pemerintah akan menerapkan "new normal" mulai 1 Juni mendatang. Penerapan protokol kesehatan ini merupakan pilihan kebijakan di antara pilihan lainnya untuk...

Pasien Meninggal di AS Tembus 100 Ribu Orang

Portal Teater - Kematian akibat virus corona di Amerika Serikat telah mencapai 100 ribu orang pada Kamis (28/5). Ini terjadi hanya lebih dari empat bulan...

Terkini

Silang-Sengkarut “New Normal”

Portal Teater - Sejak beberapa waktu lalu, Presiden Joko Widodo telah mendengungkan wacana pemberlakukan "new normal", atau yang menurut ahli Bahasa Indonesia sebut sebagai...

“Dini Ditu” Teater Kalangan: Menjahit Publik di Ruang Digital

Portal Teater - Kehadiran pandemi virus corona barangkali tak pernah dipikirkan atau diramalkan, meski ada teori konspirasi yang menyeruak belakangan bahwa Bill Gates telah...

Teater di Ruang Digital

Portal Teater - Bencana bukan alam sedang menghinggapi sebagian besar negara di dunia dan Indonesia termasuk kebagian. Wabah yang disebut Covid-19 sedang bergentayangan dan belum...

Rencana Reaktivasi Pembelajaran Ditolak

Portal Teater - Dunia pendidikan menjadi salah sektor yang ikut terpukul oleh pandemi virus corona. Di Indonesia, seluruh kegiatan pembelajaran dihentikan dan dilakukan secara...

Update Corona 29 Mei: Kasus Baru Turun Tipis, Total 25.216 Positif

Portal Teater - Kasus baru virus corona turun tipis pada Jumat (29/5) sebanyak 678 kasus dari sebelumnya 687 kasus. Dengan demikian, menurut juru bicara Achmad...