Mengurai Batas Teater dan Film dalam Platform Digital

Portal Teater – Gema pembicaraan mengenai platform internet atau media sosial dalam dunia teater dan film barangkali tidak begitu kencang terdengar sebelum pandemi virus Corona merebak.

Meski kita patut mengakui bahwa kehadiran internet di periode akhir tahun 1990-an dan mulai masuk ke Indonesia di awal 2000-an, telah mendorong sejumlah perubahan dan pergeseran dalam masyarakat.

Dikatakan belum bergema kencang karena baik (industri) teater maupun film tidak terlalu memikirkan platform digital tersebut.

Kedua genre kesenian ini pada prinsipnya bergerak pada medium yang berbeda, yaitu panggung (teater) dan bioskop (film), sehingga gagasan penciptaan karya tidak selalu menyentuh internet.

Namun siapa sangka, virus Corona datang secara tak terduga ketika kedua industri ini masih tertidur, khususnya teater.

Film menjadi salah satu sektor yang dengan mudah melakukan transformasi di level distribusi, meski level produksi mandek karena pembatasan sosial dan penguncian wilayah.

Artinya, ketika situasi terjepit seperti pandemi sekarang ini, penonton masih dapat menikmati film yang didistribusikan penyedia melalui layanan digital seperti Netflix atau Youtube.

Teater menjadi yang paling terguncang, bahkan “mati”, meminjam istilah Ari Pahala Hutabarat, sutradara Komunitas Berkat Yakin Lampung dalam obrolan daring teater, Selasa (5/5) lalu.

Lalu muncul wacana, apakah memungkinkan bila panggung kerja teater ditransformasi menyerupai film agar distribusi dan konsumsi karya teater lebih luas dinikmati penonton.

Itu terjadi baik di masa pandemi seperti saat ini, atau bahkan menjadi praktik kerja baru di masa depan di tengah euforia internet.

Pertunjukan "Ruang Tunggu" oleh Teater Labo L Aktor dari Jakarta Selatan yang memadukan ragam disiplin seni dan teknologi. -Dok. Afrizal Malna.
Pertunjukan “Ruang Tunggu” oleh Teater Labo L Aktor dari Jakarta Selatan yang memadukan ragam disiplin seni dan teknologi. -Dok. Afrizal Malna.

Perbedaan Elementer

Kami melakukan wawancara dengan beberapa seniman dan pengamat teater di Jakarta dan Surabaya akhir pekan lalu. Jawaban hampir serupa saya dapatkan dari antara mereka.

Pada umumnya mereka mengatakan bahwa teater dan film memiliki dua wilayah kerja yang berbeda secara elementer.

Namun mereka juga menggarisbawahi bahwa keduanya bekerja secara simbiosis. Teater membutuhkan film, dan sebaliknya, film sangat-sangat membutuhkan kerja teater.

Dendi Madiya, sutradara Artery Performa berbasis Jakarta menyebutnya dengan istilah teater-film dan film-teater.

Untuk film-teater, menurut Dendi, dapat terlihat dalam praktik kerja sutradara film Garin Nugroho melalui dua karyanya “Opera Jawa” (2006) dan “Nyai: A Woman from Java” (2016).

Sementara untuk teater-film, dipraktikan oleh Imitating the Dog, perusahaan teater tur Inggris yang didirikan tahun 1998. Ada lagi misalnya Woster Group, God Squad dan beberapa lainya.

Imitating the Dog pernah tampil pada Djakarta Teater Platform 2018, salah satu platform program Komite Teater Dewan Kesenian Jakarta.

Afrizal Malna, Ketua Komite Teater mengatakan, pada prinsipnya teater dan film memiliki perbedaan defenitif pada proses produksi dan distribusinya.

Produksi teater merupakan platform yang spesifik dan terbatas. Sementara film dibuat sebagai industri massal. Ruang dan waktu distribusi film tidak terbatas.

Sementara ruang distribusi teater, menggunakan istilah Brecht, adalah “di sini dan kini”. Teater dan penonton berada dalam waktu dan ruang yang sama.

Akbar Yumni, dramaturg teater dan pegiat seni pada Forum Lenteng Jakarta pun menandaskan, kedua entitas ini berbeda “secara kodrati” baik medium maupun proses penciptaan.

Teater sebagai seni peristiwa sedangkan film sebagai seni reproduksi. Tingkat performatif keduanya pun beda.

Teater membutuhkan “tatapan” langsung sementara film bisa ditonton tidak hanya di bioskop tapi bisa melalui platform digital.

Ari Pahala secara terpisah pun mengatakan, teater dan film tak mungkin dapat disamakan meski nantinya berada dalam platform yang sama, yaitu media sosial atau internet.

Dalam obrolan dengan Afrizal bertajuk “apa artinya panggung dalam konteks corona dan dampak-dampakya?”, Ari menandaskan, teater dan film memiliki batasan naratif yang berbeda.

Jika panggung teater menjadi transformasi biologis aktor, dalam film peran aktor menjadi demikian kecil karena ia sudah dikondisikan oleh kamera dan nantinya dalam proses editing.

Arung Wardhana Elhafiffie, pengamat muda teater dari Surabaya, sebenarnya tidak terlalu melihat perbedaan kedua genre seni ini.

Sebab keduanya bisa diandaikan. Yang membedakan adalah bahasa, ruang, material, dan strategi atau metode penciptaannya.

Hal senada dikatakan Joind Bayuwinanda, sutradara Sindikat Aktor Jakarta. Menurutnya, meski keduanya berdiri sendiri secara estetika, tapi memiliki kaitan erat, misalnya kebutuhan ide dan acting.

Achmad Chotib memperagakan fashion show berbalutkan sampah plastik dalam pertunjukan "Beautiful Water" di Studio PFN Jakarta, Jumat (13/3). Pertunjukan ini memadukan teater, performance, tari, dan teknologi.-Dok. portalteater.com
Achmad Chotib memperagakan fashion show berbalutkan sampah plastik dalam pertunjukan “Beautiful Water” di Studio PFN Jakarta, Jumat (13/3). Pertunjukan ini memadukan teater, performance, tari, dan teknologi.-Dok. portalteater.com

Teater dan Film dalam Platform Digital

Mengutip pertanyaan Afrizal, lalu apa bedanya teater dan film ketika keduanya berada dalam platform digital atau media sosial?

Ketika orang tidak bisa lagi datang ke bioskop atau ke gedung teater untuk menonton film atau pertunjukan, apa bedanya ketika keduanya sama-sama menggunakan teknologi kamera dan internet?

Menurut Afrizal, pertanyaan ini tidak menyingkap perbedaan esensial antara teater dan film, tapi untuk memposisikan keduanya dalam medium yang baru yaitu media sosial.

Dalam media sosial, katakanlah itu Facebook, Instagram atau Youtube, kita berada dalam platform yang tidak tunggal (seperti gedung teater atau bioskop yang tunggal), tapi majemuk.

Dalam platform ini banyak aplikasi lain atau konten lain. Jadi kita seperti memasuki sebuah trans-market tanpa batas.

Setiap viewer bisa pindah dari jendela satu ke jendela lainnya, keluar masuk tanpa ada otoritas yang melarang, kecuali gangguan sinyal.

Dalam realitas seperti itu, teater dan film sama-sama menghadapi pertanyaan yang sama: bagaimana merancang durasi yang pendek dengan konten yang padat dan menggigit.

Sebab narasi yang terlalu kompleks, atau materi yang terlalu kaya, akan membuat performance sebuah karya menjadi terlalu ceweret.

Atau ketika performance terlalu banyak memberi tawaran material bisa jadi viewer akan merasa malas untuk merajutnya.

Kerja Lintas Disiplin

Jika merunut pada sejarah, menurut Afrizal, semua disiplin seni, sejak Fluxus tahun 1960-an, sebenarnya tidak lagi terlalu bermain dalam wilayah genre-genre kesenian.

Aliran Fluxus diinisiasi oleh beberapa seniman seperti Yvonne Rainer, Emmett Williams, Philip Corner, John Cage, Eric Andersen, George Maciunas, dan Mierle Laderman Ukeles serta beberapa lainnya.

Pendekatan lintas disiplin maupun lintas media pun kian banyak dilakukan setelah era Dada yang masih dianggap eksperimental.

Aliran ini berkembang pada awal abad ke-20. Seniman seperti Tristan Tzara dan Francis Picabia menjadi pencetus di era ini.

Afrizal berpandangan bahwa ketika seni pertunjukan, semisal teater, film, tari, atau musik, termasuk juga seni rupa dan sastra, bermain atau berpindah ke platform digital, maka genre-genre tersebut akan menghilang dan muncul sebuah seni hibrid yang lain.

“Walau mungkin masih berbasis seni rupa, seni pertunjukkan maupun sastra,” katanya.

Penyair senior mengambil contohnya, misalnya sebuah lukisan, dalam platform media sosial, sama saja dengan bunuh diri: mati.

Karena semuanya bekerja dalam prinsip-prinsip performatif dan performativitas dengan efek reproduksinya yang tak berbatas.

“Dalam platform media sosial, seni maupun sastra tidak lagi mendapatkan eksklusivitas untuk dilihat sebagai produk dari budaya tinggi. Semuanya berada dalam pertarungan yang sama untuk mendapatkan viewer dan subscriber┬ádan semuanya gratis,” katanya.

Hal senanda diungkapkan Dendi, bahwa pada masa ini, berbagai disiplin kesenian sudah demikian bergeser, bahkan berbaur.

Kita terkadang sulit mengidentifikasi, apakah sebuah pertunjukan itu masuk kategori tari atau teater. Lantas muncul beberapa medium baru seperti teater-tari, teater-musik, teater-film, dll.

Lebih lagi, ketika basis produksi teater tidak lagi mengandalkan teks atau naskah, melainkan bergeser ke arsip dan aplikasi.

Ini sebenarnya merujuk pada aplikasi Tik Tok yang sedang digandrungi masyarakat global kini. Beberapa seniman bahkan menganggap aplikasi buatan China ini sebagai “teater baru”.

“Seniman sekarang menggunakan banyak medium, nggak tunggal,” ungkapnya.

Bahkan, menurut Arung, beberapa karya Erwin Piscator, salah satu pelaku teater dokumenter, misalnya, menggunakan kamera secara tidak langsung dalam praktik kerjanya.

Menurut mahasiswa tingkat akhir pascasarjana ISI Solo, inilah yang disebut teater sinematografi. Hal mana pernah dipraktikan Lehmann, Derek Paget, termasuk juga Garin di Indonesia.

Dengan praktik-praktik tersebut, dinding pertunjukan teater berpindah menjadi film, sehingga menimbulkan pengaburan.

Dengan perubahan ketika kamera ditempatkan menjad medium utama dalam praktik penciptaan, maka yang kemudian membedakan keduanya hanyalah bahasa.

Mengambil contoh seri karya performance Teater Masker Afrizal Malna, Arung melihat bahwa pilihan bahasa dalam medium tersebut penting sebab ia harus disesuaikan dengan material penciptaan.

Bahasa dalam teater sudah jelas harus puitik (sastra), sementara bahasa dalam film didominasi oleh pilihan screen/gambar.

“Bagaimana bahasa film atau teater-film sudah terlihat, apakah film selama ini menggunakan bahasa yang dipakai dalam performance,” pungkasnya.

Yustiansyah Lesmana, sutradara Teater Ghanta, mempertegas lagi bahwa sebenarnya apapun medan penciptannya, dapat digolongkan sebagai teater, jika hal itu didudukkan dalam kerangka kebudayaan masyarakat cair (liquid mass).

Hal itu didorong oleh kebutuhan kritis situasi kontemporer atas konvensi dan metode olah cipta dalam pertunjukan.

“Yang sering luput dari peristiwa transformasi tersebut adalah menyoal perilaku penyikapan atas batas itu sendiri,” katanya.

Karena itu, dalam kondisi krisis dan liminalitas, teater akan tetap berupaya hadir untuk menunjukkan eksistensi dan ketahanannya.

Tidak lagi dipersoalkan medium atau keruangan di mana teater dipentaskan atau didistribusikan. Karena kita toh tidak dapat membedakan antara pentas online dan tidak online.

“Pentingkah watak mediumnya menjadi pertimbangan estetika? Bagaimana itu kamera? Dalam studi antropologi film, kamera seringkali dibaca sebagai mata, kaki, tangan, dan sebagainya. Bukan sekedar alat perantara yang dokumentatif,” ujar Tian.

Rudolf Puspa, sutradara senior Teater Keliling Jakarta pun mengamini argumentasi bahwa sudah saatnya teater dan film berkolaborasi.

Mungkin istilah apa cocok untuk menamakan hibridisasi tersebut. Apakah teater-film atau film-teater, atau seperti pernyataan Afrizal, menjadi sesuatu yang sama sekali baru.

Rudolf tak menampik kenyataan bahwa, seperti yang sering dilakukan Teater Keliling, teater bekerjasama dengan para sineas untuk memproduksi pertunjukan yang memiliki watak sama baiknya di panggung maupun di medium digital.

Dengan adanya krisis Corona, tandas Rudolf, telah mendorong kreativitas baru seniman untuk mementaskan teater secara live streaming, ataupun yang direkam menjadi sebuah karya digital.

“Corona mengajarkan terjadinya kolaborasi baru antara sineas dengan seniman panggung,” katanya.

Ia menekankan bahwa meski terancam oleh pandemi Corona, teater tetap memiliki masa depan.

Karena teater telah menjadi kebutuhan dasar manusia, meminjam istilah Tian, teater sebagai ritual yang bisa memuaskan olah batin manusia.

Terkendala SDM

Sebagai seniman senior teater, Rudolf masih percaya bahwa teater akan menemukan jalannya sendiri.

Ada buih kerinduan terpendam dalam benak penonton untuk berjumpa dengan para idolanya di panggung.

Di tengah optimisme itu, ia pun tak memungkiri kenyataan bahwa Indonesia masih terkendala di SDM teater.

“Problemnya kita masih berada pada teater miskin, dalam arti miskin penulis skrip, aktor-aktris, sutradara, produser, dan gedung pertunjukan yang layak,” ucapnya.

Hal itu juga diungkapkan Toto Sokle, Ketua Simpul Interaksi Teater Selatan (SINTESA). Menurut Toto, industri teater Indonesia kekurangan, bahkan belum memiliki SDM yang memadai.

Bilamana berbicara mengenai transformasi panggung teater ke metode produksi film, hal itu mustahil dilakukan, karena ekosistem teater di Indonesia belum sampai pada tahap tersebut.

Toto pun menggarisbawahi bahwa tidak mudah berpindah ke medium baru sementara medium lama belum terurus.

Dalam konteks perpindahan, industri teater kebanyakan belum memiliki alur pemasaran atau distribusi seperti film. Lebih lagi, belum ada “sistem” yang mengatur alur distribusi tersebut.

Hal itu berbeda dengan film yang sudah pasti memiliki sistem atau alur pemasaran, bahkan diakomodasi oleh pemerintah/lembaga.

Dalam sistem tersebut, menurut Toto, yang perlu dipikirkan adalah berapa royalti, upah dan keuntungan yang diperoleh sebuah grup atau komunitas teater.

Sebab jika sudah dikatakan berpindah ke sistem digital, maka teater harus mengikuti ketentuan platform dan permainan digital.

Melakukan pementasan online, entah lewat live streaming ataupun direkam dan divideokan, hal itu dapat dilakukan.

Namun pertanyaannya, apakah karya tersebut memberi, katakanlah keuntungan bagi para pencipta, atau malah tidak sama sekali.

Salah satu musisi terbaik itu menandaskan, wacana transformasi medium teater dari panggung ke platform digital harus menyertakan perbaikan ekosistem teater dan “sistem” yang melek digital.*

Baca Juga

Silang-Sengkarut “New Normal”

Portal Teater - Sejak beberapa waktu lalu, Presiden Joko Widodo telah mendengungkan wacana pemberlakukan "new normal", atau yang menurut ahli Bahasa Indonesia sebut sebagai...

Rudolf Puspa: Kiat Terus Berkiprah

Portal Teater - Sebuah catatan sekaligus menjawab pertanyaan seorang ibu, guru Bahasa Indonesia di sebuah SMA di Jakarta, membuat saya segera membuka tembang lama...

Seni Berkekuatan Daya Getar

Portal Teater - Seni adalah kekuatan yang memiliki daya getar. Bertahun-tahun aku dibimbing pelukis Nashar untuk mempelajari kesenian tanpa ingat waktu, lapar dan kemiskinan. Aku...

Terkini

Rudolf Puspa: Kiat Terus Berkiprah

Portal Teater - Sebuah catatan sekaligus menjawab pertanyaan seorang ibu, guru Bahasa Indonesia di sebuah SMA di Jakarta, membuat saya segera membuka tembang lama...

“Mati Konyol”: Paradoks, Retrospeksi, Kegamangan

Portal Teater - Pintu rekreatif tulisan ini dibuka dengan pertanyaan dari seorang awam, tentang apa uraian dramaturgi, dramaturg, dan drama. Bagaimana ciri, konvensi, guna,...

Menolak Mati Konyol di Era Konyol

Portal Teater - Uang, teknologi, status sosial, jabatan, pangkat, citra, dan popularitas, barangkali adalah serangkaian idiom yang menghiasi wajah kehidupan manusia hari ini. Menjadi...

Buntut Corona, FDPS 2020 Disajikan dalam Format Digital

Portal Teater - Festival Drama Pendek SLTA (FDPS) 2020 yang digagas Kelompok Pojok direncanakan diadakan pada April kemarin. Buntut pandemi virus corona merebak di Indonesia...

Seni Berkekuatan Daya Getar

Portal Teater - Seni adalah kekuatan yang memiliki daya getar. Bertahun-tahun aku dibimbing pelukis Nashar untuk mempelajari kesenian tanpa ingat waktu, lapar dan kemiskinan. Aku...