“Panembahan Reso”, Sihir Teater “Si Burung Merak” yang Terus Aktual

Portal Teater – Tiga puluh empat tahun lalu, Istana Olahraga (Istora) Senayan, yang kini menjadi Gelanggang Olahraga Bung Karno, Jakarta, dipadati sekitar 15.000 penonton. Siapakah dan untuk apa mereka berada di pusat olahraga Indonesia kala itu?

Untuk ukuran suporter sepakbola, jumlah demikian terbilang kecil, dan menunjukkan kapasitas dan kualitas klub sepakbola yang dintontonnya.

Namun bagi sebuah pementasan teater, jumlah itu merupakan sebuah pencapaian terbesar, ketika sebuah karya ditonton oleh belasan ribu manusia.

Setelahnya, hampir tidak ada lagi penonton sebanyak itu, meski kita harus mengamini bahwa karya terbaik tidak hanya diukur dari banyak-sedikitnya penonton.

Penonton di Istora itu bukanlah suporter, tapi, meminjam istilah Bramantyo Abdinagoro, mereka adalah fans sang maestro teater Indonesia WS Rendra.

Mereka datang dari berbagai sudut kota dan kampung, menyaksikan ‘sihir teater’ yang dibuat Rendra lewat karyanya “Panembahan Reso”.

Afrizal Malna, Ketua Komite Teater Dewan Kesenian Jakarta, beberapa waktu lalu pernah mengatakan, melubernya penonton teater yang ditampilkan Bengkel Teater Rendra lebih disebabkan karena Rendra menjadi primadona produksi berita di media-media kala itu.

Lewat karya-karyanya, Rendra melontarkan kritik-kritik karikatural terhadap intrik kekuasaan rezim Orde Baru, baik dalam bentuk syair/sajak, drama maupun teater.

Pementasan “Panembahan Reso” kala itu berjalan selama tujuh jam tanpa sela selama dua hari, masing-masing pada 26 dan 27 Agustus 1986.

Ingatan publik akan peristiwa besar dalam sejarah perteateran Indonesia itu masih terus melekat. Sebagiannya dimiliki seniman (senior), jurnalis, dan pencinta teater di kota Jakarta dan sekitarnya.

Bagi sebagian publik lainnya, laporan media kala itu turut mengendapkan ingatan mereka akan penyair besar Indonesia itu.

Salah satu aktor dalam pementasan "Panembahan Reso" di Ciputra Artpreneur, Jakarta, 25 Januari 2020. -Dok. genpi.co
Salah satu aktor dalam pementasan “Panembahan Reso” di Ciputra Artpreneur, Jakarta, 25 Januari 2020. -Dok. genpi.co

Setelah Tiga Dekade

Setelah berjalan melewati lebih dari tiga dekade, Ciputra, salah satu pemain penting dalam bisnis properti Indonesia, berupaya menghidupkan kembali ingatan itu lewat pementasan ulang (remake) karya seniman berjuluk “Si Burung Merak” ini.

Meski sang ‘raja pengembang’ itu tidak bisa merasakan sihir baru yang dirancang oleh sutradara Hanindawan, karena telah berpulang sebelum pementasan ini dilakukan, dapat diyakini bahwa ia turut berbahagia melihat karya ini dipentaskan di salah satu pusat kesenian yang didirikannya tahun 2004 silam, Ciputra Artpreneur, Jakarta.

Mengutip tempo.co, Putri Almarhum Ciputra, Rina Ciputra Sastrawinata mengatakan, di mata keluarga Ciputra, Rendra adalah seorang penyair besar di dunia sastra, yang diakui tidak hanya di Indonesia tapi juga dunia internasional.

Meski tidak ada jejak komunikasi langsung antara kedua maestro beda disiplin, karya Rendra yang begitu populer membuat Ciputra memintanya membuatkan puisi untuk disematkan pada Patung Pangeran Diponegoro yang berdiri di depan Taman Suropati, Jakarta Pusat.

Pementasan remake ini berlangsung selama dua hari, 24-25 Januari 2020, dengan menyunting durasi pertunjukan menjadi tiga jam.

Pementasan hari pertama lebih merupakan sebuah gladi bersih (gratis), dan hari kedua sebagai pementasan premium (berbayar).

Diproduseri Auri Jaya, Seno Joko Suyono, dan Imran Hasibuan, proyek ini melibatkan pemain teater dari Jakarta, Yogyakarta dan Lampung. Mereka antara lain: Whani Darmawan, Sha Ine Febriyanti, Jamaludin Latif, Ruth Marini, Rudolf Puspa, dan Maryam Supraba (putri Rendra).

Abi ML, salah satu sutradara pertunjukan muda, menilai, pementasan ini menggabungkan ragam dramaturgi, yang disebutnya ‘crossing dramaturgy’, mulai dari artistik, akting, generasi pemain, dan juga profesi para pemeran.

Sha Ine Febriyanti dalam pementasan "Panembahan Reso" di Ciputra Artpreneur, Jakarta, Sabtu, 25 Januari 2020. -Dok. genpi.co
Sha Ine Febriyanti dalam pementasan “Panembahan Reso” di Ciputra Artpreneur, Jakarta, Sabtu, 25 Januari 2020. -Dok. genpi.co

Terus Aktual di Era Dotcom

Narasi tentang kekuasaan sepanjang hayat akan terus aktual dan relevan. Merebut, melawan, berpihak, atau beroposisi, merupakan hal-hal yang terus mewarnai tata kekuasaan.

Demikian halnya, berupaya memperbaiki sistem kekuasaan karena kepincangan pemegang kekuasaan lewat kritik, protes, bahkan makar, senantiasa mengemuka.

‘Panembahan Reso’ karya Rendra merupakan salah satu ‘kritik karikatural’ terhadap intrik kekuasaan yang dijalankan orang-orang yang haus akan takhta dan tamak terhadap segala sumber daya yang ada dalam pusaran kekuasaan.

Mengutip investor.id, drama ini merefleksikan bagaimana di suatu pemerintahan, perebutan kekuasaan diraih dengan cara-cara licik dan penuh darah. Demi kekuasaan, segala cara dihalalkan, termasuk ‘mengorbankan’ rakyat, keluarga dan sahabat.

Lebih dari itu, karya ini sejatinya merupakan epos yang merefleksikan betapa hasrat membabi buta terhadap kekuasaan selalu menimbulkan aspek-aspek delusional seorang pemimpin dan pengikutnya.

Sejumlah pengamat budaya mengatakan, karya ini mampu membedah secara dalam watak dan psikologi seorang pemimpin yang kehilangan kontrol terhadap akal sehat dan terjerumus ke dalam ambisi dan ilusi-ilusi pribadi.

Substansi dari cerita dan semangat Rendra dalam karya ini penting di era dotcom saat ini dan perebutan kekuasaan era modern melalui pemilu langsung.

Sebab, Rendra mencampur pamflet atau kritik dengan sastra.

Saat ini kita dapat melihat terang benderang bagaimana media sosial berperan sebagai medium kritik dengan narasi yang vulgar, tapi tanpa perikemanusiaan.

Rendra dalam karya ini tidak serta merta mengkritik rezim yang timpang, tapi dengan estetika bunyi dan bahasa, ia mampu mengganbungkannya menjadi suguhan yang bermutu dan enak ditonton.

Karena itulah karya ini masih terus aktual dan menarik untuk ditonton.

Ketua MPR Bambang Soesatyo turut menonton "Panembahan Reso" dalam acara glasi bersih di Ciputra Artpreneur, Jakarta, Jumat (24/1) malam. -Dok. tempo.co
Ketua MPR Bambang Soesatyo turut menonton “Panembahan Reso” dalam acara glasi bersih di Ciputra Artpreneur, Jakarta, Jumat (24/1) malam. -Dok. tempo.co

Ketua MPR Bambang Soesatyo, misalnya, mengatakan, semua narasi dalam “Panembahan Reso” masih relevan kendati naskah itu dibuat untuk mengkritik rezim Orde Baru.

Dalam satu petikan dialog terdapat kalimat yang mengatakan, “kenapa raja atau pemimpin diberi mahkota? Karena kebusukan kekuasaan akan tertutupi oleh mahkota.”

Menurut mantan Ketua DPR periode 2014-2019 itu, lewat ‘Panembahan Reso’ Rendra ingin menghembuskan pesan bahwa dalam memilih pemimpin harus yang punya kemampuan kenegaraan dan keikhlasan untuk rakyat; tidak hanya bermain pencitraan.*

Baca Juga

Corona Meluas, Teater Katak Tunda Pementasan “Zeus and The Olympian God”

Portal Teater - Mencermati transmisi virus corona (Covid-19) yang makin luas di Indonesia, Teater Katak mengumumkan penangguhan seluruh aktivitas produksi pertunjukan "Zeus and The...

Cegah Covid-19 Baru, China Batasi Akses Wisatawan Asing

Portal Teater - Untuk mencegah penyebaran virus corona baru, otoritas China sementara waktu akan menutup perbatasannya untuk sebagian besar wisatawan asing. Penutupan akses tersebut...

Melihat Dampak Konsumerisme terhadap Air

Portal Teater - Koji Yamazaki, 38 tahun, keluar dari sebuah tong sampah besar berwujud kontainer yang terbuat dari aluminium berwarna kuning karat. Ia hanya...

Terkini

Presiden Jokowi Tetapkan Pembatasan Skala Besar

Portal Teater - Setelah melewati pelbagai pertimbangan, Presiden Joko Widodo akhirnya secara resmi menetapkan pembatasan sosial berskala besar untuk menekan laju penyebaran dan pertumbuhan...

Kasus Corona Masih Fluktuatif, Ratusan Bioskop di China Kembali Ditutup

Portal Teater - Menyusul kembali meningginya penemuan pasien terkonfirmasi virus Corona akhir pekan lalu, otoritas China meminta pelaku industri bioskop untuk menutup kembali lebih...

ITI Ajak Insan Teater Berbagi Karya Lewat Media Daring

Portal Teater - Virus corona (Covid-19) merebak seantero dunia. Ratusan negara telah terpapar virus yang datang bagai ledakan asteroid ini. Sementara ratusan ribu umat...

Corona Meluas, Teater Katak Tunda Pementasan “Zeus and The Olympian God”

Portal Teater - Mencermati transmisi virus corona (Covid-19) yang makin luas di Indonesia, Teater Katak mengumumkan penangguhan seluruh aktivitas produksi pertunjukan "Zeus and The...

Tujuh Program Studiohanafi Ditunda Karena Corona

Portal Teater - Meluasnya penyebaran virus corona, di mana saat ini tercatat sudah 27 provinsi di Indonesia terpapar dan mungkin akan menghantam seluruh penduduk,...