Pantun Betawi sebagai Sarana Komunikasi Multifungsi

Portal Teater – Berbicara tentang pantun Betawi, maka akan lebih baik (afdal) rasanya jika kita memahami definisi terlebih dahulu tentang istilah pantun.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), pantun adalah bentuk puisi Indonesia (Melayu), tiap bait (kuplet) biasanya terdiri atas empat baris yang bersajak (a-b-a-b), tiap larik biasanya terdiri atas empat kata, baris pertama dan baris kedua biasanya untuk tumpuan (sampiran) saja dan baris ketiga dan keempat merupakan isi.

Sesuai dengan definisi ini maka pantun merupakan bagian dari sastra (puisi) yang tujuannya sebagai alat komunikasi dengan ragam tujuan. Pantun dapat menjadi sarana menyampaikan nasihat, memberi hiburan, bahkan dapat dijadikan alat kritik sosial, tanpa harus melukai perasaan orang yang mendengarnya. Itulah salah satu kelebihan pantun.

Penelitian tentang pantun telah dilakukan sangat lama, hasilnya menunjukkan bahwa pantun merupakan produk yang sangat luasa sebarannya di Nusantara tanpa terbentur strata sosial dan agama.

Menurut Maman Mahayana dalam bukunya ” Pantun Betawi” (2008), pantun telah banyak menarik perhatian peneliti Barat sejak tahun 1933, sebagaimana dikatakan Prof. Dr. R.A. Hoesien Djajadiningrat dalam pidato peringatan 9 tahun berdirinya sekolah Hakim Tinggi di Betawi.

Sementara Dr. M.G. Emeis (1949) dalam bukunya “Bloelezing Iut Het Klassiek Maleis” (“Bunga Rampai Melayu Kuno”) mengatakan, pantun merupakan seni ra’jat asli. Tiap-tiap orang harus dapat menyatakan isi hatinya dalam pantun, baik para tetua ketika berpidato, bersenda gurau atau menyindir. Atau bagi anak muda, pantun digunakan untuk mengungkapkan isi hatinya.

Tunjukan Ekspresi Spontan

Selain pantun Melayu yang tersohor, hampir semua kebudayaan di Indonesia memiliki pantunnya tersendiri sesuai dengan bahasanya masing-masing. Dalam tradisi kebudayaan Jawa, ada yang disebut “wangsalan” dan “parikan”. Sementara bagi orang Tapanuli (Batak), disebut dengan “ende-ende”. Begitu pula dengan orang Madura yang menyebutnya “paparegan”.

Bagi masyarakat Betawi, pantun khas Betawi ini biasa disebut “pantun dengan memakai bahasa Melayu Betawi”. Lantas, apa yang menjadi keunikan dari pantun Betawi.

Salah satu hal yang menonjol dari pantun Betawi adalah kekuatannya untuk menunjukkan ekspresi spontan dari seseorang dalam merespon tindakan, pengamatan, atau realitas sosial tertentu. Hampir semua sampiran menunjukkan hal demikian. Dapat dikatakan, ini merupakan semangat untuk membangun kesamaan bunyi: a-b-a-b. Sampiran umumnya tidak kaitan dengan isi.

Berdasarkan jenis dan fungsinya, pantun ada yang berisi nasihat, humor, agama, rumah tangga, politik, dan masih banyak hal lainnya.

Maman (2008) menggolongkan pantun ke dalam 32 jenis menurut tema dan isinya, sedangkan Zahrudin Ali Al Batawi dalam bukunya “1500 Pantun Betawi” (2014) membaginya ke dalam 319 jenis pantun berdasarkan isinya.

Pantun Betawi, selain memakai rima a-b-a-b seperti pantun Melayu, juga menggunakan rima a-a-a-a. Sementara kedua baris pertama tetap menjadi sampiran dan kedua baris terakhir menjadi isinya.

Contoh pantun dengan pola a-b-a-b:

Ujan gerimis aje

Ikan bawal diasinin

Lu ngape nangsi aje

Bulan Syawal nanti dikawinin

Contoh pantun dengan pola a-a-a-a:

Indung-indung kepala lindung

Ujan di sono di sini mendung

Anak siape pake kerudung

Mate melirik kaki kesandung

Selebihnya, dalam pertunjukan lenong, pantun biasanya dipakai sebagai sarana untuk membuka acara dan juga dialog. Salah satu pantun yang dipakai dalam pembuka seremoni ini adalah “nilah”. Sebagai pembuka acara, biasanya pantun dinyanyikan.

Contohnya:

Tabe lah tuan, tabe lah nyonya

Tabe lah penonton sekalianye

Kalo ada si jarum lah patah

Tiada lah boleh disimpen di dalem peti

Kalo ada kami salah berkata

Tidak lah boleh disimpen di dalam hati

Pantun Betawi Saat Ini

Saat ini, geliat perkembagan pantun Betawi muncul kembali seiring dengan berdirinya grup Palang Pintu Betawi yang menggunakan pantun sebagai sarana berkomunikasi.

Palang Pintu Betawi sendiri merupakan upacara adat perkawinan khas Betawi berupa di mana terjadi berbalas pantun antara kedua mempelain, yang disertai dengan pembacaa ayat-ayat Alquran dan permainan “main pukulan”.

Dalam upacara ini, jagoan pihak tamu haru berusaha sedemikian cara untuk mengalahkan jagoan pihak tuan rumah agar bisa diizinkan ke dalam rumah. Rombongan palang pintu biasanya diiringi rebana ketimpring.

Tradisi palang pintu ini tidak hanya terjadi dalam upacara perkawinan, tetapi juga menjadi seremoni dalam menyambut dan mengiringi tamu (pejabat, orang terhormat) yang masuk ke lingkungan masyarakat Betawi.

Menurut Yahya Andi Saputra, budayawan dan sejarawan Betawi, pantun menjadi kian penting dan strategis karena merupakan media komunikasi untuk menghindari penggunaan dialog keseharian yang terkesan kasar, atau berteriak-teriak. Pantun di sini dapat digunakan untuk memperhalus betuk dialog agar tercipta atmosfer kesalinghormatan, sakral dengan tidak menghilangkan kesan meriah.

Saat ini pantun Betawi ini sudah bisa di-download di aplikasi Google Play, yang merupakan kumpulan pantun terbaik anggota komunitas Pantun Betawi Facebook, yang dibuat oleh Abet TNB.

Tentang Rachmad Sadeli

Rachmad Sadeli telah menghabiskan waktunya sebagai wartawan selama 16 tahun di tabloid OTOMOTIF milik Kompas Gramedia Grup bernama “MotorPlus”, terhitung sejak tahun 200. Selain itu ia juga bekerja sebagai wartawan pada tabloid Grid.id.

Lelaki kelahiran tahun 1974 di Tanjung Duren, Jakarta Barat ini saat ini bekerja sebagai pengelola situs Kementrian Pariwisata bernama www.pesonatravel.com. Rachmad juga adalah pendiri dan pemilik situs majalahbetawi.com, IG@majalahbetawi, dan pendiri Pustaka Betawi.

Atas jerih payahnya itu, nama Pustaka Betawi kini mulai terdengar di sejumlah warga Betawi yang punya perhatian sama terhadap budaya yang kini mulai tergeser ke pinggiran.

Di samping itu, lulusan Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Jakarta tahun 1999 ini juga menjadi pengurus pada Lembaga Kebudayan Betawi, Perkumpulan Betawi Kita dan Ketua Literasi Baca Betawi.

Kini Rachmad semakin serius mendokumentasikan segala hal yang berkaitan dengan Betawi. Bersama teman-temannya, ia tengah merancang agar budaya-budaya Betawi tercatat secara resmi di dinas pariwisata Pemerintah Propinsi DKI Jakarta.

*Daniel Deha

Baca Juga

“Konser Seni” Kembali Gairahkan Aktivitas Kesenian di Bengkulu

Portal Teater - Aktivitas kesenian di Provinsi Bengkulu kembali bergairah. Akhir pekan lalu, ratusan seniman dari berbagai kota dan daerah di Bengkulu menggelar pentas...

Memaknai Medium dalam Konteks Praktik Seni Kontemporer Lintas/Nir-Medium

Portal Teater - Seni kontemporer hari-hari ini acap kali bergerak sedemikian bebas dari satu bentuk ke bentuk lain, dari satu praktik ke praktik lain, dari...

Mengomentari Sanento Yuliman Hari Ini

Portal Teater - Saya bukan seorang seniman, tetapi sangat menikmati tulisan-tulisan Sanento Yuliman. Dia menulis untuk dipahami orang seperti sebuah tanggung jawab. Dia tidak...

Terkini

Di Antara Metode Penciptaan dan Praktik Kerja Berbasis Riset

Portal Teater - Pada 17-18 Januari 2020, Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta Surabaya (STKW) menggelar Ujian Komposisi Koreografi dan Kreativitas Tari Jenjang 3 Jurusan Seni...

TEKO UI akan Pentas Teater Musikal Skala Besar di GKJ

Portal Teater - Teater Psikologi Universitas Indonesia (TEKO UI) akan mempersembahkan pentas teater musikal dengan skala besar selama dua hari, pada 13-14 Februari 2020...

“Anak Garuda”, Sebuah Inspirasi Merawat Mimpi

Portal Teater - "Anak Garuda", sebuh film yang diproduksi Butterfly Pictures telah resmi tayang perdana di seluruh bioskop di tanah air pada Kamis (16/1)...

Pematung Dolorosa Sinaga Jadi Direktur Artistik Jakarta Biennale 2020

Portal Teater - Pameran seni kontemporer Jakarta Biennale kembali menyapa warga kota Jakarta tahun ini. Diadakan tiap dua tahun sekali untuk "membaca" identitas kota...

“Senjakala” Kritik Seni di Era Digital

Portal Teater - Komite Seni Rupa Dewan Kesenian (DKJ) telah sukses menggelar pameran "Mengingat-ingat Sanento Yuliman (1941-1992)" di Galeri Cipta II, Taman Ismail Marzuki,...