Pesan Albert Einstein

Oleh: Rudolf Puspa*

“Menjauhlah dari orang-orang yang berpikiran negatif. Mereka memiliki masalah untuk semua penyelesaiannya” (Albert Einstein).

Portal Teater – Negatif dan positif adalah dua hal yang selalu bertentangan. Namun sering keduanya selalu berdampingan.

Jika Albert Einstein (1879-1955) punya pandangan seperti di atas bisa masuk akal karena kesimpulan itu muncul pengamatannya terhadap kehidupan sehari-hari, mulai dari lingkungan masa kecilnya hingga besar dan sepanjang hidupnya; bukan hanya sehari-dua hari.

Dibutuhkan waktu yang cukup dan kejelian pikiran serta kepekaan hati sehingga sebuah kesimpulan dapat diterima baik pada zaman diucapkannya hingga sekian puluh atau ratus tahun ke depan.

Jika kita tarik ke dalam diri kita hari ini rasanya lambat atau cepat akan bisa menangkap kebenaran Einstein.

Negatif atau positif keduanya memiliki energi yang akan mempengaruhi perkembangan karakter manusia.

Di ruang ini kita bicara hal negatif dalam artian buruk; sebab dalam terjemahan baik istilah ini juga tak jarang dipakai.

Misalnya saja tes Covid-19 jika dinyatakan negatif justru jadi kabar menggembirakan. Tapi tes kehamilan negatif begitu menyedihkan karena pupuslah harapan untuk memiliki keturunan.

Negatif dan positif menyatu maka nyala lampu-lampu kita. Untuk itu kita perlu membatasi agar tak muncul debat kusir yang hanya buang waktu untuk hal-hal yang keluar dari substansi pembicaraan.

Potret kejadian seperti ini cukup banyak bisa dilihat misalnya setiap ada pejabat tinggi bicara, lalu hanya diambil satu kata atau kalimat sehingga menjadi berbeda arti sesungguhnya jika dibaca secara keseluruhan pembicaraan. Lalu justru hal itulah yang diviralkan.

Orang-orang yang terkena virus negatif di otaknya hari-hari belakangan ini cukup menjamur.

Turunan dari virus ini bisa terlihat dari kegiatan yang selalu memelintir ucapan orang yang dianggapnya lawan atau musuh.

Virus negatif selalu tumbuh subur pada orang-orang yang telah mengidap penyakit akut seperti rasa benci, dendam, sehingga menjadi gelap mata hatinya.

Akan sulit melihat sinar terang atau warna putih bersih yang ada disekitarnya karena semuanya tampak hitam gelap kotor.

Padahal manusia lahir dalam keadaan telanjang bersih dan membawa kedamaian bagi sekitarnya; paling tidak bagi orang tuanya yang memang mengharapkan kehadirannya.

Tanaman tumbuh sehat di tanah yang subur.

Demikianlah para petani terus menerus merawat sawah ladangnya agar selalu bersih dari berbagai hama, aliran air yang cukup bagi bertumbuhnya tanaman dan sesekali diberikan hidangan pupuk organik yang sudah terbukti lebih bagus daripada pupuk kimiawi.

Begitulah halnya dengan bayi yang membesar akan mendapat asupan negatif atau positif dari lingkungannya.

Asupan awal pastilah dari rumah dan selanjutnya di luar rumah, di sekolah yang sangat beraneka ragam hidangan disajikan.

Secara naluriah, anak akan memilih aneka rupa makanan yang serba manis. Adalah kepiawaian pengasuh pertama sejak lahir yang memiliki kekuatan awal menunjukkan bahwa manis ada takarannya.

Tatkala mereka sudah membesar maka seperti Kalil Gibran mengatakan bahwa anak bukan milik orang tuanya. Ia bagai anak panah yang lepas dari busurnya mengembara mencari sasarannya.

Einstein tidak mengatakan siapa yang harus mengajar anak menjauh dari orang-orang yang berpikiran negatif.

Itu artinya seruan tersebut diarahkan kepada manusia yang sudah mampu berpikir sehingga bisa melihat mana yang negatif atau positif.

Sementara jika mengikuti saran Gibran maka masih ada unsur busur yang dalam melepas anak panah ada kekuatan rahasia yang hanya pemegangnya yang tahu.

Apakah melepas dalam keadaan sedang sedih, sedang marah, sedang benci, sedang dendam, sedang jatuh hati, sedang bahagia dan hentakkan yang tentu berbeda-beda itu akan menjadi batu loncatan si anak panah dalam mengarungi kehidupan.

Daya dorong busur itulah yang akan mewarnai pola tingkah laku dalam pergaulan dewasanya.

Hasil Pergaulan Sehari-hari

Selanjutnya dalam pergaulan sehari-hari, ia akan bertemu aneka ragam busur busur yang akan mempengaruhi bangunan karakter yang akan menjadi kepribadiannya dalam gerak langkah di tengah masyarakat luas.

Dua kemungkinan bisa terjadi sebagai hasil pergaulan hari-harinya.

Itu sebabnya tidak perlu heran ketika melihat orang yang selama ini tampak bersih, ramah, rajin beribadah tiba-tiba digerebek polisi karena ternyata termasuk golongan teroris.

Begitu juga sebaliknya yang tampak beringas, kasar bicaranya, badan tatoan dengan gambar yang seram, namun setiap ada bencana, perampokkan, penindasan, melihat penderitaan, kemiskinan maka segera berdiri di garis depan dan tanpa mendapat komando akan bergerak memberikan solusi positif.

Orang-orang semacam ini mudah tergerus, trenyuh hingga menangis melihat segala bentuk kekerasan terhadap sesamanya.

Urgensi Pendidikan

Maka dalam menata hidup manusia harus mampu memilih, memilah menakar segala aneka hidangan sehingga tidak salah pilih.

Berarti manusia harus memiliki kecerdasan yang prima. Untuk itu diperlukan alat bantu yang sangat penting yakni pendidikan.

Pendidikan yang sudah diterima secara non formal di rumah perlu penambahan gizi pendidikan melalui sekolah.

Dua domain pendidikan inilah yang akan menyiapkan anak menjadi manusia cerdas.

Dengan memiliki kecerdasan yang prima maka akan tidak mudah dirangkul dengan janji janji manis karena tipuan permen manis sudah kadaluwarsa.

Manusia cerdas memiliki jiwa-jiwa yang tangguh sehingga mampu berdiri tegak bahkan membantu orang lain menjadi tangguh.

Orang-orang yang dikuasai energi negatif ketika menjadi pemimpin akan dengan cepat dan mudah memberi penilaian negatif kepada orang lain yang menyanyikan lagu yang tidak sesuai dengan hatinya.

Maka dengan kekuasaan dan kekuatan, ia tega menghentikan sang penyanyi dan jika dipandang membahayakan dirinya maka akan dibasmi bahkan dienyahkan tanpa ketahuan di mana kuburnya.

Negativisme tidak memiliki kemampuan untuk menjaga perdamaian, sehingga sulit diajak berdialog.

Sekali seseorang diberi cap musuh maka perbuatan sebaik apapun tetap aja akan ditolak.

Akan dibuat tudingan negatif, fitnah dan penyebaran hoax yang sangat biadab.

Orang yang sudah terlanjur terperangkap oleh paham-paham dogmatis yang menjadikan sikap fanatik dan sangat kuat dan yakin bahwa kebenaran hanya ada pada diri dan gurunya dan orang lain yang bersuara beda itu salah, haram, kafir dan harus dilawan.

Kehadiran Seni

Melihat kehidupan semacam itu semakin terasa sangat perlu hadirnya kegiatan berkesenian yang tiada henti oleh hujan dan panas.

Kesenian selalu hadir membawa sapaan manis yang bukan permen dengan bungkus keindahan.

Kesenian akan mengasah kepekaan rasa keindahan sehingga membawa kita untuk mampu melihat sinar kasih yang terang menyejukkan yang akan membawa kedamaian antar sesama umat-Nya.

Berbagai bentuk kesenian harus dihadirkan di seluruh desa, kota, kabupaten, provinsi, ibukota, sehingga seluruh negeri bernyanyi, menari, bermusik, berdialog di panggung terbuka yang menggugah daya hidup dalam kebersamaan dan berkesinambungan.

Kearifan lokal, nasional bahkan internasional pasti akan selalu bersama bergandengan erat karena masing-masing kita memiliki kebutuhan yang bisa dipanen dari manapun dalam suasana riang.

Barangkali Albert Einstain akan tersenyum renyah melihat manusia dengan cara sendiri atau bersama sama menemukan cara menjauhi orang-orang yang berpikir negatif dalam hidupnya dan manusia tidak terjatuh pada kehidupan yang hanya terus menerus berkubang dalam permasalahan yang tak bisa diselesaikan.

Salam jabat literasi.

* Rudolf Puspa adalah sutradara teater senior. Ia aktif berkarya bersama Teater Keliling, dan terlibat dalam gerakan literasi teater di kalangan anak-anak muda, terutama pelajar SMP dan SMA di Jakarta.

Baca Juga

Rontoknya Kekerasan karena Cinta

Portal Teater - Apakakah kekerasan akan luluh lantak dengan indahnya alis mata, binar indah bola mata dan lentik bulu mata. Atau malah makin ganas? Dalang (sutradara)...

Galerikertas Kembali Buka Ruang Pameran untuk Publik

Portal Teater - Setelah beberapa bulan ditutup karena situasi pandemi, awal Juli ini Galerikertas akhirnya kembali dibuka untuk publik. Pembukaan kembali galeri berbasis Depok, Jawa...

Teater Broadway Tutup hingga Awal 2021

Portal Teater - Teater Broadway telah mengumumkan secara resmi bahwa akan tetap menutup teaternya sepanjang sisa tahun ini hingga awal tahun 2021 mendatang. Meski demikian, pembukaan...

Terkini

Galerikertas Kembali Buka Ruang Pameran untuk Publik

Portal Teater - Setelah beberapa bulan ditutup karena situasi pandemi, awal Juli ini Galerikertas akhirnya kembali dibuka untuk publik. Pembukaan kembali galeri berbasis Depok, Jawa...

Rontoknya Kekerasan karena Cinta

Portal Teater - Apakakah kekerasan akan luluh lantak dengan indahnya alis mata, binar indah bola mata dan lentik bulu mata. Atau malah makin ganas? Dalang (sutradara)...

Teater Broadway Tutup hingga Awal 2021

Portal Teater - Teater Broadway telah mengumumkan secara resmi bahwa akan tetap menutup teaternya sepanjang sisa tahun ini hingga awal tahun 2021 mendatang. Meski demikian, pembukaan...

Buku Puisi Sosiawan Leak Berbasis Media 3 in 1 Siap Diterbitkan

Portal Teater - Buku puisi "Rumah-Mu Tumbuh di Hati Kami: Kumpulan Puisi Puasa di Masa Korona" karya penyair multitalenta Sosiawan Leak berbasis media 3...

Rudolf Puspa: “Abdi Abadi” adalah sebuah Tanggung Jawab

Portal Teater - Berdiri di panggung Graha Bhakti Budaya di Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki (PKJ TIM), pada 26 Desember 2016 ketika menerima piagam...