“Sinopsis TIM 2019+”: Meleburkan Publik ke Dapur Produksi Kesenian

Portal Teater – Saya mulai dari kesan yang tidak pernah puas dengan pertunjukan (seni) yang digelar di panggung prosenium. Sebuah pengalaman yang membawa saya pada banyak pertanyaan. Pasalnya, hampir semua pertunjukan yang saya saksikan di prosenium membuat saya selalu tertidur, kehilangan konsentrasi, merasa berjarak, kaku dan terasing.

Apalagi kebiasaan penonton belakangan ini lebih suka mengabadikan pertunjukan di handphone mereka daripada menikmatinya secara langsung. Jadilah interupsi cahaya handpone pada ruang gelap penonton.

Seiring waktu, ada rekaan dan asumsi yang muncul dari kesan yang tertanam di bawah sadar saya. Apakah karena kebanyakan kreator dan performer tak mengenali dengan baik ruang prosenium itu, sehingga tak mampu “menundukkan” atau bersinergi dengannya? Atau memang soal stamina saya saja yang selalu drop tepat ketika menyaksikan pertunjukkan? Atau ada hal lain terkait dengan interior ruangan serta relasinya dengan pihak terkait? Kekuasaan misalnya atau kepentingan sejarah yang melatarinya?

Tentunya hal itu sangat subjektif. Tetapi kemudian muncul rasa tidak akrab yang terus terbawa dalam diri, sehingga saya tak pernah punya greget untuk mau menyelenggarakan karya pertunjukkan di panggung prosenium.

Namun belakangan saya mulai menyikapinya sebagai sebuah tantangan, hingga ketika menerima undangan Komite Teater DKJ untuk mengikuti Forum Djakarta Teater Platform yang rencananya akan dihela di Graha Bhakti Budaya pada bulan Juli 2019.

Karenanya, ingatan dan kesan atas ketidakpuasan itu bermunculan kembali. Pembangunan pusat kesenian Jakarta tidak bisa lepas dari kepentingan kekuasaan.

Satu sisi, pemerintah memfasilitasi dengan cara melokalisasi kegiatan kesenian secara intensif dan sistematis. Namun di sisi lain lain, seniman dan masyarakat kesenian dengan mudah dikontrol oleh pemerintah yang sedikit banyaknya dapat mempengaruhi proses penciptaan karya dan hubungam keduanya.

Kepentingan kekuasaan yang mempengaruhi hal tersebut, sangat terasa pada bangunan gedung pertunjukan dengan bentuk panggung prosenium, seperti gedung Graha Bhakti Budaya yang dibangun pada masa orde baru oleh Gubernur Tjokropranolo. Juga Gedung Kesenian Jakarta yang difungsikan kembali dan diresmikan oleh Gubernur Suprapto.

Panggung prosenium yang menyerupai bingkai raksasa, dalam sejarah berdirinya telah membuat dialog satu arah dan pembatasan yang jelas antara penampil dan penonton. Antara dunia fiksi dan nyata. Antara subjek dan objek.

Di antara itu, ada garis tegas yang terbangun untuk membatasi hubungan keduanya. Membangun hubungan formil dan sikap kaku. Membatasi rasa ingin tahu satu sama lain lebih dari sekedar tampak permukaan. Membatasi impian dan harapan bersama. Membuat pandangan hidup masyarakat semakin individualistik.

Pembatasan ruang berarti mencukupkan dan atau menafikan “dapur” yang adalah sisi kemanusiaan keduanya.; latar belakang atau jejak rekamnya.

Meskipun telah dilakukan berbagai upaya dan strategi untuk membangun keakraban dengan penonton oleh sejumlah seniman, tetapi bentuk prosenium terasa sukar beradaptasi dengan ragam penonton. Apalagi meminta penonton untuk berpartisipasi langsung.

Sebagaimana relasi kuasa dalam pertunjukkan, mengalami kesulitan membangun komunikasi dua arah di bawah kendali interior ruangan yang solid. Sebagaimana pola relasi kekuasaan yang alot kerumitannya hingga membuat kerja birokrasi kekuasaan tak bisa dengan sungguh membuka ruang partisipasi warga negara.

Dalam rentang sejarahnya, seni pertunjukan Indonesia baik yang disebut modern dan tradisional selalu merasa lebih nyaman ketika melakukan pertunjukan di panggung prosenium. Bahkan yang asal mulanya dari seni rakyat direduksi untuk kepentingan penonton dan kekuasaan. Padahal, kecenderungan seni pertunjukan mutakhir semakin kuat menawarkan ruang-ruang baru.

Seiring dengan peluasan media yang semakin tak terbendung, dan cara-cara kerja seniman yang semakin beragam dalam proses penciptaan karyanya. Apalagi ketika pandangan kesetaraan memasuki babakan post-modern, maka panggung prosenium hanya berperan sebatas menghidupkan kenangan, melanggengkan keberadaan elit dan ilusi kejayaan segelintir orang, layaknya seorang motivator. Sekedar alternatif pelepas kebosanan dari muaknya bentuk sajian tontonan layar kaca.

Panggung prosenium (baik yang berlayar maupun tidak berlayar) menunjukan spirit kekuasaan yang cenderung korup dan hasrat menguasai penonton sebagai objek pasif. Kepentingannya tak lebih hanya untuk didengar, disetujui dan diamini mereka yang berada di hadapannya. Selanjutnya ia hanya tinggal sebagai rekaman dan kenangan.

Pandangan yang masih spekulatif dan longgar itu, saya berniat untuk menurunkan dalam proses penciptaan pertunjukan seni. Bagaimana membaca panggung prosenium sebagai ruang sistemik yang membekukan sejarah dan kenyataan hidup manusia. Di mana realitas kekuasaan, masyarakat kesenian dan pelaku seni yang dipengaruhi arus tradisi barat turut serta membangun keberadaannya.

Sebuah realitas yang telah menjadi bagian dari sejarah perkembangan seni pertunjukan Indonesia, yang sudah tidak fit in lagi dengan kebutuhan zaman.

Karenanya, perlu dirayakan segala yang membentuk keberadaannya dengan cara dimuseumkan. Terutama aspek kekuasaan yang melingkarinya, yang melahirkan trauma. Sebab kekuasaan tak dapat lari dari kenyataan, bahwa dirinya dibangun dari klaim dan ketakutan.

Museum sebagai ruang penyimpanan dan perawatan benda-benda bersejarah yang menandai peradaban bangsa tertentu. Termasuk di dalamnya semangat dan pandangan zamannya.

Peran dasar museum ini dipinjam dalam pertunjukan karya Lab teater Ciputat untuk menunjukan peristiwa pembekuan realitas melalui karya seni pertunjukan. Museum menjadi karya pertunjukan itu sendiri bersama benda-benda dan peristiwa yang dibekukan dan tersusun bersama ingatan para pelaku.

Para penonton diajak untuk memasuki momen-momen pembekuan dan proses pemuseuman dirinya. Menyaksikan dalam dingin bahwa sebagian dari dirinya, handai taulannya atau masa lalunya berada dalam kotak kaca steril dan diorama. Seperti juga ketika kita berada dalam ruang jenazah.

Secara teknis mereka akan memasuki pemuseuman, mulai dari loby, teras, lorong kiri GBB, wing kiri GBB, Ruang rias dan wing kanan GBB.

Di babak berikutnya, generasi milenial yang sudah lebih dulu berada di ruang auditorium GBB, akan menyambut kedatangan penonton di atas panggung. Mereka akan diabadikan dengan ber-selfie-ria menggunakan kamera foto dan video.

Selanjutnya akan terjadi upaya bersama untuk mencairkan suasana dan menerobos jarak antara penonton dan penampil yang telah berlangsung lama. Upaya ini akan menggunakan pendekatan gaya hyper-realis dan gimik dari para pemain milenial .

Di beberapa bagian, penonton menyaksikan dirinya berada di layar screen hasil rekaman perjalanan mereka dari teras GBB. Menemukan dirinya berada di tengah guliran peristiwa yang sangat dekat dan akrab di area panggung prosenium dan audiorium.

Apa yang kemudian tertangkap oleh setiap audiens adalah apa yang ingin diketahui para pemain. Apa yang telah disterilkan oleh kekuasaan atau elit politik sosial, agama dan budaya, adalah sesuatu yang ingin disibak dalam pertunjukan ini.

Karenanya dibuat strategi bagaimana penonton dapat menjadi bagian integral dari pertunjukan ini lewat puluhan generasi milenial yang menjadi representasi masyarakat. Bagaimana peformer akan membuat ruang-ruang kecil di luar panggung, sebentuk tafsir dan respon terhadap museum itu.

Ini yang akan menjadi basis penciptaan karya LTC dalam semangat kolektif dan kolaboratif.

Bambang Prihadi

Bambang atau yang akrab disapa “Beng-beng” lahir di Jakarta 7 April 1976. Ia mulai berteater sejak di pesantren Asalam Sukabumi tahun 1999. Kemudian bergiat di teater Syahid IAIN Jakarta sejak 1995 dan teater Kubur pimpinan Dindon sejak 1998.

Alumni fakultas adab UIN Jakarta ini mendirikan Lab Teater Ciputat tahun 2005. Menyutradarai sejumlah pertunjukan, antara lain; Eksodus 1999, Aduh 2000, Umang-umang 2001, Tarkeni Madekur 2002, Telah Pergi Ia Telah Kembali Ia 2002, Ozone 2003, Kubangan 2005-2009, Terjepit 2008, Cermin Bercermin 2010-2011, Orang Pulo Di Pulau Karang 2013, Mada 2013, Mata Air Mata 2016, XQM4GZ 2018.

Bambang juga pernah menjadi direktur pelaksana Federasi Teater Indonesia tahun 2009-2014, dan pengajar tidak tetap mata kuliah Kajian Drama di Jurusan PBSI Fakultas Tarbiyah UIN Jakarta.

Tercatat sebagai sutradara terbaik FTJ 2003 dan Sutradara Terbaik Festival Teater Mahasiswa Nasional lll di Yogyakarta 2005. Mendapat Hibah Seni Inovatif 2007 dan Hibah pentas keliling tiga kota dari Kelola Foundation untuk karya Kubangan.

Karena kemampuannya, ia menjadi juri di sejumlah Festival Teater dan supervisi pertunjukkan.

Beng-beng juga pernah diundang dalam pertemuan sutradara muda se-Asia di Tokyo oleh Asean Performing Art Festival (APAF) tahun 2012, 2013, dan 2015. Mendapat Art Grant dari Japan Foundation untuk ikutserta dalam Pelatihan Keaktoran Metode Suzuki di markas SCOT pegunungan Toga Toyama Jepang 2015.

Selama tuga tahun (2016-2019), ia giat mendampingi aktor Indonesia dalam kolaborasi pertunjukkan Dionysus di bawah penyutradaraan Tadashi Suzuki, kerjasama SCOT dan Bumi Purnati, sekaligus sebagai asisten sutradara, yang dipentaskan di Toga Japan, Prambanan Indonesia dan Sifa Singapura.

Melakukan kerja kolaborasi pertunjukan berjudul “Beautiful Water” sebagai sutradara, bersama dua sutradara: Junnoisuke Tada dari Jepang dan Jo Khukatas dari Malaysia, beserta 12 aktor dari tiga negara. Karya itu tampil perdana di Fujimi Kirari Art Centre Oktober 2018.

Saat ini sedang membantu persiapan karya pertunjukan The Journey of Life bersama Bumi Purnati yang akan dipentaskan bulan September di 9th Theatre Olympics, Kurobe, Japan.

Selain itu, Beng-beng juga berkolaborasi dengan seniman muda Jepang Yasuhito Yano. Dalam waktu tiga tahun ke depan, keduanya berkomitmen merealisasikan proyek kerjasama tersebut.

Artikel ini merupakan tulisan asli Bambang Prihadi, sutradara Lab Teater Ciputat, yang dimuat dalam Katalog Djakarta Teater Platform 2019.

Baca Juga

Cegah Covid-19 Baru, China Batasi Akses Wisatawan Asing

Portal Teater - Untuk mencegah penyebaran virus corona baru, otoritas China sementara waktu akan menutup perbatasannya untuk sebagian besar wisatawan asing. Penutupan akses tersebut...

Tujuh Program Studiohanafi Ditunda Karena Corona

Portal Teater - Meluasnya penyebaran virus corona, di mana saat ini tercatat sudah 27 provinsi di Indonesia terpapar dan mungkin akan menghantam seluruh penduduk,...

Kasus Corona Masih Fluktuatif, Ratusan Bioskop di China Kembali Ditutup

Portal Teater - Menyusul kembali meningginya penemuan pasien terkonfirmasi virus Corona akhir pekan lalu, otoritas China meminta pelaku industri bioskop untuk menutup kembali lebih...

Terkini

Presiden Jokowi Tetapkan Pembatasan Skala Besar

Portal Teater - Setelah melewati pelbagai pertimbangan, Presiden Joko Widodo akhirnya secara resmi menetapkan pembatasan sosial berskala besar untuk menekan laju penyebaran dan pertumbuhan...

Kasus Corona Masih Fluktuatif, Ratusan Bioskop di China Kembali Ditutup

Portal Teater - Menyusul kembali meningginya penemuan pasien terkonfirmasi virus Corona akhir pekan lalu, otoritas China meminta pelaku industri bioskop untuk menutup kembali lebih...

ITI Ajak Insan Teater Berbagi Karya Lewat Media Daring

Portal Teater - Virus corona (Covid-19) merebak seantero dunia. Ratusan negara telah terpapar virus yang datang bagai ledakan asteroid ini. Sementara ratusan ribu umat...

Corona Meluas, Teater Katak Tunda Pementasan “Zeus and The Olympian God”

Portal Teater - Mencermati transmisi virus corona (Covid-19) yang makin luas di Indonesia, Teater Katak mengumumkan penangguhan seluruh aktivitas produksi pertunjukan "Zeus and The...

Tujuh Program Studiohanafi Ditunda Karena Corona

Portal Teater - Meluasnya penyebaran virus corona, di mana saat ini tercatat sudah 27 provinsi di Indonesia terpapar dan mungkin akan menghantam seluruh penduduk,...