Teater Karantina #3: Hantu Sejarah dan Dekonstruksi Genre-genre Seni

Portal Teater – Tahun 1950-an merupakan dekade penuh gagasan untuk menentukan bagaimana politik kebudayaan dipahami, sekaligus membingungkan.

Dekade yang melahirkan Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat), Surat Kepercayaan Gelanggang, Lesbumi (Lembaga Seniman Budayawan Muslim Indonesia), dan kemudian LKN (Lembaga Kebudayaan Nasional).

Masa penuh gejolak antara dua sistem politik yang diterapkan Presiden Soekarno: Demokrasi Parlementer (1949-1959) dan Demokrasi Terpimpin (1959-1965). Dan bertambah kuatnya partai PKI di antara menjamurnya partai-partai politik.

Pun berlangsung pemberontakan daerah PRRI (Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia) yang meletus di Sumatra Barat.

Pemberontakan ini bisa dilihat sebagai representasi konflik politik pada era ini yang melibatkan kubu-kubu dalam Angkatan Darat dan Islam.

Secara mengejutkan, Soekarno membuat Konferensi Asia Afrika, April 1955 (menjelang Pemilu), sebagai Gerakan Non-Blok, membawa Indonesia jadi bagian dari Perang Dingin yang berlangsung antara kubu-kubu Uni Soviet, Sekutu juga China.

Kemudian Soekarno membuat peristiwa olahraga sebagai metafor politik yang mengejutkan melalui Ganefo (Games of The New Emerging Forces) di Jakarta tahun 1963, untuk menandingi Olimpiade dan melihat olahraga tidak bisa dipisahkan dari politik.

Penculikan hingga pembunuhan yang terjadi pada peristiwa Pemilu pertama tahun 1955, memperlihatkan runyamnya bagaimana demokrasi dipahami.

 

Pemilu pertama di Indonesia tahun 1955. -Dok. ANRI.
Pemilu pertama di Indonesia tahun 1955. -Dok. ANRI.

Gejolak-gejolak ini memperlihatkan berkelindannya kubu-kubu politik yang kesulitan dalam memandang perbedaan, walau kubu-kubu tersebut menggunakan Pancasila dan Revolusi Indonesia sebagai dasar organisasi maupun gerakan mereka.

Bahkan pemberontakan di Sumatra Barat juga menggunakan istilah “Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia”.

Tahun 1959, setahun setelah meletusnya PRRI, Sukarno menerapkan sistem politik Demokrasi Terpimpin, yang tidak bisa dipisahkan dari konteks polarisasi politik agar tidak terjadi perpecahan.

Walau istilah ini membingungkan dengan adanya kontradiksi dalam penempatan antara istilah “demokrasi” dan “terpimpin”.

Pada saat yang sama dalam dua dekade ini (1950-1960-an) berlangsung Perang Vietnam (1957-1975) dan Perang Dingin (1947-1991), serta dua wabah global “Flu Asia” (1957) dan “Flu Hongkong” (1968).

Kesibukan militer mondar-mandir (Perang Vietnam dan Perang Dingin) di antara dua wabah ini ikut mempercepat terpaparnya wabah menjadi global.

Sekitar 9 juta orang di Britania Raya terpapar Flu Asia, dan sekitar 14.000 orang meninggal.

Di Indonesia, wabah bergerak dari Medan setelah kunjungan kenegaraan Presiden Uni Soviet K. E. Worosjilov ke Indonesia (6-18 Mei 1957), yang disambut oleh Presiden Soekarno.

Kunjungan ini membawa rombongan yang besar: 7 pesawat jenis Ilyushin, Dakota dan Convair.

Wabah kemudian merajalela di Bandung, Jakarta, Jawa Barat dan kota-kota lain di Indonesia.

Di Berlin, dalam wabah Flu Hong Kong, mayat korban terpaksa disimpan di terowongan bawah tanah, karena begitu banyaknya korban.

Pada era ini, naskah teater “Mega-Mega” karya Arifin C. Noer, terbit di majalah sastra Horison, 1968, pada masa terpaparnya wabah Flu Hong Kong.

Naskah ini memang tidak memberikan indikasi kuat keterkaitannya dengan wabah, kecuali tahun penerbitan yang sama dan sebuah dialog yang dinyatakan Retno, tokoh utama naskah ini:

“Sejak gadis dulu aku mengidamkan dapat melahirkan anak laki-laki. Anak itu laki-laki dengan mata yang teduh seperti kolam. Hatiku selalu bergetaran menyanyi setiap kali bertemu dengan mata itu. Tapi makin lama mata itu makin kering, sebab bapaknya tidak
pernah melakukan apa-apa. Suatu ketika aku sakit. Anak itu sakit. Kelaparan. Ia mati. Sejak itu aku hampir gila oleh perasaan kecewa dan sesal. Suatu hari suamiku pulang setelah menuntaskan bergelas-gelas arak. Bukan main aku marah. Dan sekonyong nasib turut campur, rumah itu terbakar. Setan! Setan!”

Pasien memenuhi ruang tunggu sebuah klinik di Hong Kong selama epidemi influenza pada Juli 1968. -Dok. SCMP (South China Morning Post).
Pasien memenuhi ruang tunggu sebuah klinik di Hong Kong selama epidemi influenza pada Juli 1968. -Dok. SCMP (South China Morning Post).

Angkatan ’45 dan Angkatan Darat

Jepang membentuk banyak platform pada masa pendudukan (1942-1945) di Indonesia.

Banyak tokoh-tokoh penting dalam sastra, seni rupa, drama, film dan militer merupakan bagian dari platform ini (dari Peta, Heiho hingga Keimin Bunka Shidosho “Pusat Kebudayaan Jepang”) yang berada di bawah lembaga propaganda Jepang “Sendenbu”.

Generasi ini kemudian disebut sebagai “Angkatan ’45”, juga disebut sebagai “Angkatan Gema Tanah Air” oleh HB. Jassin.

Nasution, Suharto maupun Pramoedya Ananta Toer, juga pernah tergabung dalam Heiho.

Pada dekade 1950-an, generasi Angkatan ’45 ini melahirkan titik-pandang baru dalam melihat politik Kebudayaan.

Yang pertama dilakukan oleh Lekra, berdiri pada 17 Agustus 1950. Dan kedua dinyatakannya “Surat Kepercayaan Gelanggang” yang dimuat di majalah Siasat, edisi 22 Oktober 1950.

Yang satu sebagai organisasi, dan satunya lagi sebagai manifesto. Kehadiran keduanya sangat mengejutkan pada masanya.

Lekra berangkat dari premis bahwa Revolusi Indonesia telah gagal. Politik diplomasi yang dijalankan pemerintahan Soekarno membuat Indonesia jatuh dalam neokolonialisme.

Dalam mukadimah Lekra, tertulis: “Gagalnya Revolusi Agustus 1945 berarti memberi kesempatan kepada kebudayaan-feodal dan imperialis untuk melanjutkan usahanya, meracuni dan merusak-binasakan budi-pekerti dan jiwa Rakyat Indonesia. Pengalaman menunjukkan, bahwa kebudayaan-feodal dan imperialis telah membikin Rakyat Indonesia bodoh, menanamkan jiwa pengecut dan penakut, menyebarkan watak lemah dan rasa hina-rendah tiada kemampuan untuk berbuat dan bertindak. …. bahwa rakyat adalah satu-satunya pencipta kebudayaan.”

Pada sisi lain, “Surat Kepercayaan Gelanggang” salah satu di antaranya menyatakan: “Kami adalah ahli waris yang sah dari kebudayaan dunia”.

Kedua pandangan itu bereaksi secara berbeda atas politik diplomasi yang dijalankan Orde Lama yang anti kebudayaan Barat. Namun pada masanya tidak terjadi polemik antara keduanya.

Kenapa? Padahal dua korpus inilah awal yang membuat terjadinya konstruksi pembelahan politik kebudayaan di Indonesia antara “Realisme Sosialis” dan “Universalisme”, walau generalisasi atas penggunaan istilah-istilah ini terhadap masing-masing kubu belum pernah mendapatkan bangunan penjelasan yang memadai.

Dan cenderung menjadi “hantu sejarah” dalam hutan rimba sejarah Indonesia bersama dengan semak-belukarnya.

Alexander Supartono yang melakukan penelitian dalam bukunya “Lekra vs Manikebu, Perdebatan Kebudayaan Indonesia 1950-1965” (Jakarta, 2000), tidak melihat adanya perseteruan di antara korpus ini.

Melalui Joebaar Ajoeb, Sekretaris Lekra, Supartono menangkap kesan bahwa Chairil Anwar, sebagai representasi utama dari Angkatan ’45, tetap dipandang sebagai tokoh revolusioner.

Dalam sebuah wawancara yang pernah saya lakukan bersama Srikaton (sebagai sutradara) dengan Pramoedya Ananta Toer untuk video sastrawan Indonesia produksi Yayasan Lontar, Pram juga sangat menghormati wawasan Asrul Sani yang dianggapnya luas; sama seperti ia menghormati Idrus sebagai “raksasa prosa” pada masanya. Memunculkan kesan adanya ikatan intelektual yang khas pada generasi Angkatan ’45.

Polemik baru terjadi setelah dinyatakannya “Manifes Kebudayaan”, 17 Agustus 1963.

Kenapa baru terjadi polemik hebat? Padahal manifes ini lebih memunculkan pandangan moral dalam melihat kebudayaan (“kebudayaan adalah perjuangan untuk menyempurnakan kondisi hidup manusia”).

Melalui buku Keith Foulcher (Social Commitment in Literature and the Arts: the Indonesia “Institute of People’s Culture 1950-1965”), 1986, Supartono menarik garis logis bahwa adanya unsur Angkatan Darat yang mendukung Manifes Kebudayaan, merupakan faktor berlangsungnya perseteruan ini.

Wiratmo Soekito yang merupakan tokoh utama dalam Manifes Kebudayaan, juga bekerja di Badan Inteljen dan penyiar radio RRI untuk seni dan sastra.

Namun Supartono tidak sempat melihat bahwa Manifes Kebudayaan juga bisa dipandang sebagai munculnya generasi baru setelah Angkatan ’45 (seperti Goenawan Mohamad maupun Taufik Ismail); Wiratmo Soekito (1929-2001) sendiri bukan Angkatan ’45.

Kalangan sastrawan maupun seniman pada masanya, terutama yang terhubung langsung dengan Manifes Kebudayaan, terguncang ketika Presiden Soekarno merespon Manifes Kebudayaan dengan melarangnya.

Dan sejumlah seniman maupun sastrawan yang terlibat dengan Manifes, dipecat dari kedudukannya dalam lembaga-lembaga pemeritah, termasuk Wiratmo Soekito. Tindakan Soekarno pada sisi ini memperlihatkan perbedaannya dengan Angkatan Darat.

Pada masanya, Wiratmo Soekito merupakan seorang yang konsisten menulis esai-esai teater Barat (terutama dari perspetif naskah drama) di berbagai media massa koran (Kompas, Sinar Harapan, Berita Buana, dll). Dan menjadi sangat khas, karena Wiratmo selalu menulis sebelum sebuah pertunjukan akan berlangsung.

Wiratmo seolah-olah menjalankan kerja dramaturgi justru untuk publik teater (di samping sebagai dosen jurusan Teater di IKJ), terutama melalui pandangan Bertolt Brecht “teater sebagai di sini dan kini”.

Dan tampak kecewa ketika naskah-naskah seperti Hamlet, Machbet maupun King Lier diadaptasi ke setting Jawa, Batak maupun Sunda justru oleh tokoh-tokoh penting dalam teater modern di Indonesia.

Membuat pertunjukan mereka jatuh menjadi teater etnografi, menyimpang dari pemahaman “teater sebagai kini dan di sini”.

Generasi Pasca Perang, Dekonstruksi Genre-genre Seni dan Tubuh Gender

Kalau di Indonesia, di antara perang dan wabah melahirkan Lekra, Surat Kepercayaan Gelanggang, Lesbumi, LKN dan Manifes Kebudayaan, apa yang bisa kita lihat di belahan dunia yang lain?

Generasi Paska Perang II yang traumatik pada era 1950-1960-an mulai memperlihatkan visi-visinya dalam merespon krisis sosial-ekonomi setelah perang.

Perang Dunia II merupakan perang dengan teknologi canggih yang mengerikan: nuklir. Dan dengan tega digunakan untuk menghancurkan Hiroshima dan Nagasaki yang membuat Jepang seketika takhluk.

Namun dalam waktu cepat, Jepang kemudian tumbuh sebagai kekuatan industri baru.

Perang modern ini mungkin pada masanya tidak cukup terpahami di Indonesia di mana “bambu runcing” menjadi metafor untuk perang rakyat. Dan karena itu pula peristiwa “10 November” di Surabaya menjadi mitos.

Linimasa perang, wabah, seni dan politik kebudayaan selama periode 1950-1960-an. -Dok. istimewa.
Linimasa perang, wabah, seni dan politik kebudayaan selama periode 1950-1960-an. -Dok. istimewa.

Di Jepang muncul tiga gelombang gerakan seni: Gutai bereaksi langsung atas gagalnya praktik-praktik representasi seni maupun kegagalan politik dan budaya totaliter. Butoh bereaksi atas tubuh traumatis pasca perang. Dan Mono-Ha bereaksi atas bangkitnya industrialisasi Jepang pasca perang dan sikap kritis atas imperialisme AS di Asia (terutama dalam konteks perang Vietnam).

Kasuo Shiraga, salah seorang tokoh Gutai, membuat pernyataan: “Ketika totaliterisme gagal dalam politik, dalam budaya, juga segala sesuatu yang totaliter harus dihilangkan.”

Shiraga menolak seluruh praktik representasi dalam seni. Praktik representasi dalam seni memang mulai menjadi pantulan baru dalam kerja penciptaan seni setelah Marcel Duchamp menghadirkan kloset dalam karyanya “Fountain” (1917), maupun ketika René Magritte
membuat lukisan “The Treachery of Images” (1929).

Lukisan ini merepresentasi bentuk pipa, tetapi juga ditoreh sebuah tulisan “ini bukan pipa” pada badan lukisan itu sendiri.

Lukisan karya René Magritte: "The Treachery of Images" (1929).
Lukisan karya René Magritte: “The Treachery of Images” (1929).

Tatsumi Hijikata, generasi pertama Butoh memandang Butoh sebagai keberadaan, cara hidup. Bukan tarian.

Tubuh dibawa ke wilayahnya yang ekstrem, dan yang rata-rata memang telanjang dengan pewarna putih dalam banyak pertunjukan Butoh. Koreografi merupakan bagian dari riset butoh antara tubuh dan efek gravitasi.

Gelombang seni Arte Povera yang muncul di Itali pada dekade 60-an hampir mirip dengan Mono-Ha di Jepang.

Arte Povera mempertanyakan peran seniman menghadapi tantangan sosial dan ekonomi di Itali pasca-perang.

Salah satu karya Arte Povera dari Michaelangelo Pistoletto, "Venus of the Rags", 1967, 1974. -Dok. tate.org.
Salah satu karya Arte Povera dari Michaelangelo Pistoletto, “Venus of the Rags”, 1967, 1974. -Dok. tate.org.

Kadang dipahami sebagai ‘Seni Miskin’, mengingatkan pada konsep dan praktik “poor theatre’ (teater miskin) Jerzy Grotowski di Polandia.

Pada sisi lain, Mono-Ha menyelidiki materi sebagai sesuatu dalam dirinya sendiri, bagaimana ia berkaitan dengan bahan lain dan ruang di sekitarnya; antara bahan-bahan alami dan industri: batu, pelat baja, kaca, bola lampu, kapas, spons, kertas, kayu, kawat, tali, kulit, minyak, dan air. Di Wina juga muncul gerakan “Actionisme Wina”.

Salah satu karya Mono-Ha dari Shigeo Anzai, The 10th Tokyo Biennale ‘70 -- Between Man and Matter, Tokyo Metropolitan Art Museum. -Dok. Jannis Kounellis (May, 1970)/i-d.vice.com.
Salah satu karya Mono-Ha dari Shigeo Anzai, The 10th Tokyo Biennale ‘70 — Between Man and Matter, Tokyo Metropolitan Art Museum. -Dok. Jannis Kounellis (May, 1970)/i-d.vice.com.

Seluruh gerakan itu merupakan DNA utama untuk Fluxus maupun performance art dan kemudian gelombang feminisme dalam seni.

Gelombang yang melakukan dekonstruksi atas genre-genre seni, dualisme antara karya dan seniman, maupun dualisme antara karya dengan penonton.

Gerakan yang secara radikal di mana seniman melakukan intervensi atas pandangan-pandangan seninya menjadi “anti seni”.

George Maciunas, salah seorang tokoh Fluxus, melihat tujuan Fluxus untuk menghancurkan batas antara seni dan kehidupan.

Sebagaimana dengan Butoh, performance art maupun Feminisme dalam seni memandang tubuh menjadi medan baru dalam seni.

Nelly Richard, salah seorang Feminis gelombang pertama, melihat bahwa “Tubuh adalah agen fisik dari struktur pengalaman sehari-hari. Ini adalah penghasil mimpi, pemancar dan penerima pesan budaya. Makhluk kebiasaan, mesin keinginan, gudang ingatan, aktor dalam teater kekuasaan, jaringan pengaruh dan perasaan. Karena tubuh berada pada batas antara biologi dan masyarakat, antara dorongan dan wacana, antara seksual dan kategorinya dalam hal kekuasaan, biografi dan sejarah, itu adalah situs par excellence untuk tubuh melampaui batasan makna dari sesuatu yang dianggap normal dalam wacana sosial.”

Caroli Snimen, generasi pertama feminisme dalam seni, membuat gangguan pada batas antara sensualitas, seksualitas, erotisme dan pornografi. Tubuh-aurat perempuan yang internal dibuat menjadi eksternal di hadapan publik.

Pada karyanya, Interior Scroll (1975), misalnya, mengeluarkan gulungan teks dari vaginanya, seolah-olah vaginanya-lah yang berbicara sebagai “monolog vagina”.

“Saya memikirkan vagina dalam banyak hal — secara fisik, konseptual, sebagai bentuk patung, rujukan arsitektur, sumber pengetahuan suci, ekstasi, jalur kelahiran dan transformasi.”

Sementara pada karya Mary Beth Edelson, Some Living American Women Artists (1972), mengambil alih “Perjamuan Terakhir” karya Leonardo da Vinci, dan mengganti seluruh tokoh lelaki dalam Perjamuan itu dengan foto seniman-seniman perempuan, termasuk Yesus diganti menjadi perempuan.

Karya ini dilihat sebagai gugatan atas performativitas lelaki dalam wacana-wacana agama yang terlalu patriarkis.

Feminisme meluaskan dekonstruksi atas genre-genre seni ke arah dekontruksi performativitas gender, dan baru menjadi bahan kajian utama dalam buku Judith Butler, Gender Trouble (1990).

Karya Mary Beth Edelson, "Some Living American Women Artists" (1972). -Dok. moma.org.
Karya Mary Beth Edelson, “Some Living American Women Artists” (1972). -Dok. moma.org.

Dada (isme) merupakan awal pertama terjadinya dekonstruksi genre-genre seni dalam seni modern.

Gelombang seni ini juga berlangsung di antara dua wabah global: Flu Rusia (1889), Flu Spanyol (1918) dan Perang Dunia I (1914-1918); dan sebelumnya peristiwa “letusan Gunung Krakatau” (1883) yang membuat selama setahun langit kelabu karena cahaya matahari terhalang debu letusan gunung.

Gustav Klimt dan Egon Schille, dua seniman Wina yang sempat melukis tentang wabah, keduanya meninggal sebagai korban wabah.

Flu Spanyol dianggap wabah yang paling banyak menjatuhkan korban. Naskah Baal karya Brecht (yang sempat bekerja di rumah sakit militer pada masa Perang Dunia I), juga ditulis tahun 1918 di mana wabah Flu Spanyol sedang berjangkit.

Brecht juga berhubungan dekat dengan seniman-seniman dari gerakan Dada. Sikap kritis terhadap Nasionalisme sebagai sumber terjadinya perang dan bereaksi terhadap seni borjuis, merupakan dasar dari gerakan Dada.

Hantu Digital Tanpa Orbit

Apakah tubuh? Menjadi pertanyaan kembali ketika terjadi bencana alam maupun wabah yang melumpuhkan peradaban.

Apakah tubuh (seperti halnya binatang), pernah memiliki sensor untuk bisa mendeteksi bencana alam maupun wabah?

Apakah tubuh, di mana kelemahannnya dianggap kian dilengkapi oleh lahirnya media maupun teknologi artifisial, justru membuat tubuh kian kehilangan alat sensor naturalnya? Apakah tubuh kita sudah bukan lagi bagian dari alam?

Ketika terjadi Tsunami Tokyo, misalnya, Festival Teater Tokyo 2013 mengangkat tema kuratorialnya tentang tubuh untuk mempersoalkan kembali indra-indra manusia, di mana Studio Teater Indonesia dari Serang menjadi tamu utama dalam festival ini.

Pertunjukan "Bio Narasi" Studio Teater Indonesia Serang, Desember 2012, pada pembukaan Festival Teater Jakarta, TIM Jakarta. -Dok. Afrizal Malna.
Pertunjukan “Bio Narasi” Studio Teater Indonesia Serang, Desember 2012, pada pembukaan Festival Teater Jakarta, TIM Jakarta. -Dok. Afrizal Malna.

Teater Studio Indonesia merespon tema tersebut dengan memunculkan tantangan bagaimana tubuh tumbuh bersama bambu sebagai bagian dari tubuh utama pertunjukan.

Bambu kemudian menghasilkan bangunan yang bisa digerakkan, menciptakan ketinggian, sekaligus tantangan pada tubuh dalam merespon ketinggian maupun kemungkinan jatuh dari bangunan bambu yang terus bergerak.

Pertunjukan disutradarai oleh Nandang Aradea yang tidak menghadiri festival itu sendiri, karena meninggal oleh gagal ginjal.

Kita terbiasa menerima tubuh didefinisikan oleh ruang di mana tubuh kita berada bersama fungsi-fungsi ruang: rumah, sekolah, tempat bekerja, rumah ibadah, cuaca, geografi, teritori tertentu dan seterusnya.

Ketika saya mulai mengenal “Surat Kepercayaan Gelanggang” pada masa di SMA, saya merasa wah begitu kayanya kita sebagai “ahli waris kebudayaan dunia”.

Namun pada saat bersamaan saya tidak bisa mengalami apa itu “kebudayaan dunia”. Kita tidak memiliki satu museum pun yang bisa merepresentasi budaya dunia.

Bahkan menjadi geram, karena pelajaran di sekolah tidak bisa memberikan rujukan memadai mengenai budaya candi seperti Borobudur maupun Prambanan, dan lebih banyak lagi candi di Jawa Timur maupun Jawa Tengah sebagai korpus narasi masa lalu yang kaya tentang sastra maupun cerita Panji.

Kita lebih banyak kehilangan asal-usul di luar wilayah Jawa, dan bergantung pada konstruksi wawasan tradisi dari sumber-sumber Belanda.

Sampai saya mulai mengenal internet, saya cenderung masih tidak terlalu perduli apa itu Renaissans, Pencerahan, Modernisme, Dada maupun Fluxus, bahkan saya tidak mengenal apa itu Gutai maupun Arte Povera.

Saya cenderung menganggap istilah-istilah itu sebagai “bungkusan besar” untuk jualan Monalisa, Picasso, van Gogh dan barang-barang antik lainnya.

Apa yang menjadi dasar sasaran kritik Lekra atas gagalnya Revolusi Agustus, justru saya alami sebagai kondisi mental dari bangsa yang pernah dijajah.

Namun saya lebih memilih penjelasan bahwa modernisasi di Indonesia berlangsung di “halaman belakang” yang berada jauh dari pusatnya (Eropa), juga berlangsung dalam lingkungan kolonial.

Penjelasan yang membuat saya merasa lebih bisa saya alami, karena saya lahir setelah Indonesia merdeka, tidak mengalami langsung bagaimana penjajahan dialami.

Juga dalam bayangan kabur bahwa “sejarah ditulis oleh mereka yang menang” atau ditulis oleh mereka “yang mengambil kesempatan dalam sejarah yang membingungkan”.

Kenapa politik kebudayaan yang terjadi di Indonesia pada dekade 1950-1960-an yang diapit dua wabah dan setelah perang berakhir, berbeda dengan yang terjadi di Eropa, Amerika maupun Jepang?

Saya juga melihatnya sebagai bagian dari politik budaya yang berlangsung di halaman belakang modernisasi.

Ketika dekonstruksi terhadap genre-genre seni mulai berlangsung melalui gerakan Dada pada awal abad ke-20, Indonesia masih Hindia Belanda dan baru taraf awal mengenal seni modern pada waktu itu.

Dekonstruksi atas genre-genre seni baru terjadi di Indonesia pada akhir dekade 1970-an yang dilakukan Gerakan Seni Rupa Baru, dan yang usianya juga terlalu pendek.

Tetapi ketika kita mulai masuk ke era Big-Data, yang kadang juga dilihat sebagai gelombang kedua dari Dada (Dada-Data) di mana Big-Data dilihat sebagai pusat dari post-truth, usia historis saya seolah-olah dengan serta merta dipaksa menjadi bagian dari sejarah dunia.

Era Big-Data ini, dalam kondisi wabah Corona, seolah-olah atau sesungguhnya menghasilkan situasi yang tidak terduga. Yaitu menjadi era “penaklukan digital” atas tubuh maupun budaya ruang kita sebelumnya dalam isolasi Corona.

Bagaimana Nelly Richard menarasikan tubuh dalam Feminisme gelombang pertama, tiba-tiba menjadi sebuah pecahan aneh di mana akses tubuh terhadap banyak hal dipreteli secara teritorial.

Seluruh tulisan ini, bahan rujukan yang saya gunakan juga sepenuhnya dicari melalui fasilitas internet, karena tidak mungkin mencarinya ke perpustakaan atau mendapatkan sumber-sumber rujukan dalam bentuk buku.

Namun secara bersamaan saya juga merasa berada dalam wilayah intelektual yang seolah-olah mulai “terbebaskan” dari “hantu-hantu sejarah”.

Dan suasana ganjil yang mencekam, seolah-olah semuanya bergerak di luar orbit tanpa adanya poros utama.

Berlangsung di tengah berbagai provokasi tentang virus Covid-19 yang tidak akan pernah hilang, atau ramalan kiamat untuk menegakan otoritas apapun itu namanya, yang saya kira juga kian kehilangan orbitnya.

Yang berlaku dalam ruang tanpa orbit itu adalah: sinyal, pulsa, registrasi, password, subscribe, upload dan download.

Sumber:

  1. “Ada Apa di Medan 63 Tahun Silam? Mencekam, 135 Meninggal Akibat Pandemi”, https://waspadaaceh.com/.
  2. Alexander Supartono: “Lekra vs Manikebu, Perdebatan Kebudayaan Indonesia 1950-1965”, Jakarta, 2000.
  3. Antariksa: “3 1/2 Bekerja”, katalog Teater Arsip, DKJ, 2018.
  4. “Arte Povera”, https://www.tate.org.uk/”
  5. Arte Povera – History and Concepts”, https://www.theartstory.org/.
  6. “Butoh”, https://www.contemporary-dance.org/.
  7. Carolee Schneemann Artworks, American Performance Artist and Video Artist, https://www.theartstory.org/.
  8. Claire Jackson: “History lessons: the Asian Flu pandemicHistory lessons: the Asian Flu pandemic”, British Journal of General Practice. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/.
  9. “Dada Data | Contemporary Art Practice in the Era of Post-Truth Politics, https://forarthistory.org.uk.
  10. Dale Eisinger: “The 25 Best Performance Art Pieces of All Time”, https://www.complex.com/.
  11. Dick Higgins: “[Fluxus Chart], Intermedia Chart”, http://stendhalgallery.com/.
  12. Emily Pothast: “Why Carolee Schneemann Was Such a Woefully Underrated Artist”, https://medium.com.
  13. Faishal Hilmy Maulida: “Sejarah Pemilu 1955: Panitia Pemilihan Diculik hingga Dibunuh”, tirto.id/sejarah-pemilu-1955.
  14. Felix Petty: “Shigeo anzaï’s document of the japanese art scene”, https://i-d.vice.com/en_au/topic/culture.
  15. “Feminist Art – History and Concepts”, https://www.theartstory.org/.
  16. “Fluxus Portal For the Internet”, http://www.fluxus.org.
  17. Irvan Sjafari: “Bandung 1957 (3) Panik Influenza Mei-Juni”, Kompasiana. https://www.kompasiana.com/.
  18. “Hong Kong Flu (1968 Influenza Pandemic)”, https://www.sinobiological.com/.
  19. Jeff Goldberg: “How Butoh, the Japanese Dance of Darkness, Helps Us Experience Compassion in a Suffering World”, https://tricycle.org/.
  20. Kara Rogers: “1968 flu pandemic”, https://www.britannica.com/.
  21. Kylie Knott: “How Hong Kong flu struck without warning 50 years ago, and”, South China Morning Post, https://www.scmp.com/.
  22. “Performance Art”, https://www.theartstory.org/.
  23. “Poor Art – Rich Legacy. Arte Povera and Parallel Practices 1968–2015, https://www.nasjonalmuseet.no/en/.
  24. “Arte Povera: 7 Things You Need to Know”, https://www.sothebys.com.
  25. “What is performance art?”, https://www.khanacademy.org/.
  26. “Wawancara dengan Wiratmo Soekito” oleh Suryansyah, “Ini Bukan Manifes Kebudayaan II”, Majalah Tiras, 1 Juni 1995.
  27. Wiratmo Soekito: “Beaumarchais di Sini dan Kini”, Media Indonesia, Jumat 14 Juli 1989.
  28. Wiratmo Soekito: “Pementasan Endgame Beckett”, Suara Pembaruan, Jumat 3 Februari 1988.*

Baca Juga

Teater di Ruang Digital

Portal Teater - Bencana bukan alam sedang menghinggapi sebagian besar negara di dunia dan Indonesia termasuk kebagian. Wabah yang disebut Covid-19 sedang bergentayangan dan belum...

Buntut Corona, FDPS 2020 Disajikan dalam Format Digital

Portal Teater - Festival Drama Pendek SLTA (FDPS) 2020 yang digagas Kelompok Pojok direncanakan diadakan pada April kemarin. Buntut pandemi virus corona merebak di Indonesia...

Menolak Mati Konyol di Era Konyol

Portal Teater - Uang, teknologi, status sosial, jabatan, pangkat, citra, dan popularitas, barangkali adalah serangkaian idiom yang menghiasi wajah kehidupan manusia hari ini. Menjadi...

Terkini

Rudolf Puspa: Kiat Terus Berkiprah

Portal Teater - Sebuah catatan sekaligus menjawab pertanyaan seorang ibu, guru Bahasa Indonesia di sebuah SMA di Jakarta, membuat saya segera membuka tembang lama...

“Mati Konyol”: Paradoks, Retrospeksi, Kegamangan

Portal Teater - Pintu rekreatif tulisan ini dibuka dengan pertanyaan dari seorang awam, tentang apa uraian dramaturgi, dramaturg, dan drama. Bagaimana ciri, konvensi, guna,...

Menolak Mati Konyol di Era Konyol

Portal Teater - Uang, teknologi, status sosial, jabatan, pangkat, citra, dan popularitas, barangkali adalah serangkaian idiom yang menghiasi wajah kehidupan manusia hari ini. Menjadi...

Buntut Corona, FDPS 2020 Disajikan dalam Format Digital

Portal Teater - Festival Drama Pendek SLTA (FDPS) 2020 yang digagas Kelompok Pojok direncanakan diadakan pada April kemarin. Buntut pandemi virus corona merebak di Indonesia...

Seni Berkekuatan Daya Getar

Portal Teater - Seni adalah kekuatan yang memiliki daya getar. Bertahun-tahun aku dibimbing pelukis Nashar untuk mempelajari kesenian tanpa ingat waktu, lapar dan kemiskinan. Aku...