Teks-teks Erotik dalam Isolasi “Wabah” Makna

Portal Teater – 10 Juni 2020, angka positif terpapar virus Covid-19 di Indonesia memasuki jumlah 35.000 orang, yang sembuh memasuki angka 15.000 orang.

Angka yang seolah-olah mencari harmoni dalam skala perbandingan 2:1. Yang meninggal memasuki angka 2.000.

Surabaya dan Sulawesi Selatan memasuki zona hitam yang terpapar wabah. Sementara penyebaran global hingga 8 Juni 2020 mencapai angka 7 juta kasus, kesembuhan melampaui 3 juta dan jumlah pasien yang meninggal melewati 400 ribu orang (Liputan6.com).

Orang-orang juga mulai lebih banyak lagi keluar rumah dalam ketegangan menentukan skala prioritas antara ancaman PHK, kebutuhan ekonomi dan corona.

Masyarakat mulai terbelah dalam memahami wabah sebagai fakta global atau hasil konspirasi.

Belahan biner yang didorong melalui digorengnya isu perang yang akan terjadi antara China dan Amerika, sambil mempertanyakan praktik sains maupun teknologi dalam permainan kekuasaan global di tengah wabah.

Kehidupan saya hampir sepenuhnya menulis dan melakukan wisata data di internet.

Mengerjakan beberapa proyek pribadi (non-sponsor) seperti “Teater Masker” untuk Youtube dan “Teater Karantina” untuk portalteater.com.

Proyek yang saya tinggalkan setelah muncul status baru dalam corona (“new-normal”), yang datang tepat ketika saya mulai bosan dengan kedua proyek ini.

Salah satu dari wisata data yang terkait adalah teks-teks erotik, dan saya mencoba mengungkap struktur pengetahuan yang mungkin bisa dipetakan darinya.

Sebuah karya e-book dengan judul “Mencari Enny Arrow” baru-baru ini diterbitkan, menolong saya sebagai titik tolak dalam melakukan pemetaan ini, walau masih membutuhkan investigasi lebih jauh.

Enny Arrow dikenal sebagai penulis sastra porno dan populer pada masa Orde Baru.

Karya yang mungkin jadi hiburan tersendiri dalam “isolasi politik” yang dilakukan Orde Baru pada masanya, setelah terjadinya peristiwa Tragedi 1965, dan Orde Lama tumbang.

Wabah corona membuat istilah “isolasi” memunculkan gema baru dalam membaca sejarah.

Teks-teks erotik dalam sastra memiliki bungkusan berbeda dan memberinya status tersendiri dalam peredarannya di pasar buku dibanding dengan karya sastra pada umumnya.

Yang satu menggunakan label “best seller” maupun sejumlah penghargaan yang pernah diraihnya untuk menarik pembeli, dan dicetak mewah.

Satunya lagi beredar dalam pasar gelap, berada dalam ketegangan nyata yang oleh negara didefinisikan sebagai “benda terlarang” melalui undang-undang anti pornografi, dan dicetak dengan biaya produksi murah.

Namun harga dan jumlah penjualan antara keduanya bisa berbeda jauh. Teks-teks erotik merupakan salah satu yang membuat platform “pasar gelap” untuk buku tetap eksis, dan teks-teks itu dicetak dalam edisi tak terbatas (non edisi); walau bisa muncul label “edisi baru” pada buku sejenis yang bisa dibaca sebagai pembaruan gaya bahasa maupun gaya hidup pada tokoh-tokohnya.

Sebuah buku “sastra bokep” karya Enny Errow dengan label harga tercetak “Rp2.500” pada cover buku (seolah-olah buku langka) dan jumlah halaman tipis, bisa dijual di pasar gelap dengan harga Rp150.000.

Karya “Mencari Enny Arrow” ini berusaha hadir sebagai re-performance buku-buku yang terkesan langka dari sastra bokep karya Enny Arrow.

Nama penerbitnya juga dengan sengaja menggunakan nama dan logo yang sama: “Penerbit Mawar”, dan tercetak “Rp2.500” sebagai harga jualnya.

Agar terkesan sebagai re-performance dari sastra bokep yang langka, buku ini juga dirancang menggunakan kertas usang yang terkesan rapuh, dan menggunakan font-font yang khas dipakai mesin cetak stensilan pada masanya.

Karya ini diterbitkan sebagai karya seni rupa, atau genre seni jadi tidak penting lagi di sini.

Salah satu halaman buku "Mencari Enny Arrow".
Salah satu halaman buku “Mencari Enny Arrow”.

Buku ini dirancang sebagai salah satu praktik hubungan kerja seni dengan arsip, karya Farhan Acil Rafia. Bagian dari salah satu program “Short Course” Gudskul.

Juga dijadikan sebagai salah satu diskusi live-streaming mereka yang arsipnya masih bisa kita lihat di Youtube.

Namun nama Acil maupun program yang membuat karya ini terwujud, tidak dilibatkan ke dalam buku.

Seolah-olah buku ini masih merupakan bagian dari misteri akan “bungkusan gelap” yang menyelimuti kehidupan teks-teks erotik di Indonesia.

Bungkusan gelap itu mengukuhkan “isolasi makna” atas sastra bokep sebagai fiksi yang diisolasi melalui fiksi lain yang diproduksi oleh lembaga hukum kita, yaitu undang-undang anti pornografi.

Bagaimanakah makna undang-undang ini pada ruang isolasi corona, di mana lembaga seks mengalami guncangan mendasar dalam batas aman untuk tidak terpapar wabah?

Pelacakan atas Enny Arrow dilakukan Acil melalui peristiwa terjadinya pelarangan atas diskusi “Sastra Erotik Enny Errow” di Semarang, 25 Juli 2017, sebagai pembatas awal, yang dilakukan oleh pihak keamanan.

Sebagai generasi masakini, Acil merasa heran, masyarakat seperti apakah yang merasa terancam oleh Enny Errow?

Apakah masyarakat Indonesia tidak pernah dewasa dalam melihat peran dan fungsi pornografi, setelah begitu banyak kitab-kitab seks kuno yang diproduksi oleh berbagai kepercayaan maupun tradisi, termasuk banyaknya posting bokep di internet?

Pelarangan itu memaparkan struktur pengetahuan unik di sekitar bagaimana “fiksi ketakutan” atas teks-teks erotik sebagai karya fiksi, dilaksanakan dengan patuh oleh pihak keamanan melalui pelarangan atas diskusi tersebut.

Peristiwa yang justru melibatkan pihak keamanan sebagai pelaku fiksi dan kemudian mengubah korpus fiksi menjadi nyata melalui pelarangan.

Peristiwa ini memperlihatkan rangkaian fiksionalisasi dalam memperluas isolasi makna, hingga isolasi tersebut memperlihatkan kualitas negara dalam memposisikan pandangan etis yang terkait dengan kehidupan publik.

Acil melakukan pelacakan untuk mendapatkan gambaran, siapa sebenarnya Enny Errow yang seluruh karir sastranya seolah-olah digunakan untuk menciptakan teks-teks erotik.

Acil menempuh pelacakan standar dalam pengumpulan data melalui sumber internet, maupun riset lapangan ke beberapa lapak buku-buku bekas di Jakarta (Kwitang, Pasar Baru, Blok M Square).

Data-data yang diperoleh diantaranya, Enny Errow lahir di Bogor, tahun 1924, dengan nama “Enny Sukaesih Probowidagdo”.

Nama “Errow” dilekatkan pada nama kepengarangannya dari sebuah nama toko menjahit di mana Enny pernah bekerja.

Perubahan politik di Indonesia membawa Enny berkelana ke berbagai negeri, kemudian menjadi penulis novel di Amerika.

Pelacakan atas data-data skunder tidak mengalami banyak kesulitan, dan menemukan banyak adegan performatif dari para pedagang buku porno di pasar gelap.

Di antaranya, buku ini tidak di-display seperti buku-buku pada umumnya, namun berada dalam tas yang selalu dibawa oleh pedagang ketika melayani penjual di lapaknya.

Berbagai narasi riwayat perubahan zaman untuk mendapat gambaran keberadaan sastra bokep ini, bermunculan sambil tawar-menawar. Hingga mulai terbuka hubungan dengan beberapa kolektor yang mengoleksi buku-buku Enny Errow sebagai barang antik.

Dari seluruh pelacakan itu, sumber primer tetap tidak tersentuh: Siapa Enny Errow? Dan tampaknya inilah yang dijadikan dramaturgi oleh Acil yang mendasari karyanya tentang “Mencari Enny Errow”.

Yaitu memantulkan bayangan post-truth ke dalam konteks isolasi makna yang dialami teks-teks erotik dalam lebel Enny Errow, menjadi sebuah evaluasi atas pemahaman kita tentang pornografi dalam era corona.

Bayangan post-truth dari isolasi makna itu dilanjutkan dengan rancangan cover buku, di mana Acil memanipulasi tubuhnya sendiri sebagai lelaki menjadi sosok perempuan, seolah-olah Enny Errow tampil bugil di sebuah kolam renang.

Manipulasi yang melanjutkan kenyataan bahwa tidak ada jawaban apakah Enny Errow itu perempuan atau lelaki, seseorang atau sebuah tim yang memproduksi sastra bokep untuk pasar gelap.

Dengan cara ini arsip dibawa keluar dari ruang isolasi makna ke wilayah kajian, dan memproduksi fiksi baru sebagai mata rantai evaluatif atas ruang isolasi makna terhadap karya-karya sastra bokep.

Memunculkan struktur pengetahuan dari praktik-praktik isolasi makna yang berkelindan dalam pasar gelap, dan menghasilkan penyikapan yang membentuk konsep dramaturgi karya ini.

Relasi kuasa, di mana seks diperlakukan sebagai korpus sejarah untuk mengukuhkan identitas kekuasaan oleh otoritas-otoritas tertentu yang disoroti Michel Foucault (lihat karya Foucault dalam versi bahasa Indonesia: “Seks dan Kekuasaan: Sejarah Seksualitas”, 2000), oleh Acil dibawa sebagai praktik dekonstruksi arsip dari ruang isolasi makna.

Dalam dunia media sosial, terutama Instagram, korpus seks menghasilkan ribuan status setiap harinya di sekitar teks-teks mesum dalam konteks isolasi wabah.

Status-status itu diposting dengan narasai intim, ringan, cantik, puitis dan juga tetap vulgar sebagai DNA utama dari korpus seks.

Isolasi makna seolah-olah menjadi rontok dengan sendirinya ketika korpus ini bergerak dalam latar isolasi wabah yang memunculkan bayangan baru di sekitar praktik “seks sendiri tanpa pasangan”.

Riwayat seks telah mengalami berbagai bentuk isolasi maupun evakuasi melalui konsep di sekitar rumah (perkawinan, rumah tangga, keturunan) setelah lembaga prostitusi terus digeladah dan dihancurkan (dengan alasan moral, padahal konteks yang dihadapi adalah lapangan kerja), membatalkan struktur pengetahuan lain di sekitar seks.

Namun status teks-teks mesum di dunia medsos mendapatkan teritori baru dalam memproduksi erotisme, di mana latar yang bisa menjelaskan ke mana arah teks-teks tersebut tertuju, ditentukan oleh viewer yang mengkutinya.

Teks-teks itu mengapung dalam dunia maya teknologi digital. Walau mungkin ada prosedur yang bisa ditempuh untuk melanjutkan setiap posting dengan mencari relasinya ke dalam akun-akun pribadi.

Perintah “ikuti” maupun “jelajahi” memang merupakan metode yang diarahkan dalam memanfaatkan aplikasi ini, dan pemilik akun bisa menyampaikan undangan mesra: “Abang … add dong yang mau kenalan.”

Tangkapan layar sebuah unggahan di Instagram.
Tangkapan layar sebuah unggahan di Instagram.

Sebuah drawing dari Semarang dengan sosok perempuan merokok, diposting dengan teks berbunyi: “Cukup Mr. P yang tegang, kita jangan”.

Teks ini menyasar ke dua tujuan sekaligus: ketegangan menghadapi beban ekonomi dalam kondisi wabah yang dibebankan ke Mr. P (lelaki), dan ketegangan organ seksual lelaki yang memang harus tegang dalam hubungan seks.

Sejarah isolasi makna yang dialami teks-teks erotik membangun realitas baru dalam dunia medsos, dan berkelindan dengan bayangan post-truth dalam isolasi corona.

Bentukan realitas virtual dalam dunia medsos itu dikonstruksi melalui panggilan “fakgirl” untuk perempuan dan “fakboi” untuk lelaki, di samping sebutan “abang” atau “kakak” dalam asosiasi erotis di mana foto seksi yang diposting sebagai inti teks.

Dan kita tidak pernah tahu akun yang memposting status-status tersebut sebagai lelaki atau perempuan.

Identitas di sini hadir dan bergerak sebagai “serangga Kafka” melalui kerja-kerja metamorfosis yang multidimensi.

Sebuah posting dari Dusseldorf menggambarkan sosok perempuan menggunakan masker, berusaha menjelaskan identitas seks di masa kini, atau sebagai evaluasi atas bagaimana kita memahami seks sekarang ini?

Tangkapan layar unggahan sebuah akun Instagram.
Tangkapan layar unggahan sebuah akun Instagram.

Dalam liputan yang dilakukan sebuah media online, Hops (10/4), mengungkapkan persaingan ketat antara penjualan masker dengan penjualan peralatan-peralatan seks artifisial (sex toy) dalam konteks corona.

Liputan yang memproyeksikan masa depan seks sebagai hubungan human-barby, di mana pasangan kian tergantikan oleh teknologi artifisial. Artinya seks mengalami evakuasi baru yang tidak baru.

Isolasi coronalah yang mempertebalnya menjadi institusi seks yang baru maupun kapling untuk komoditi masadepan.

Tangkapan layar unggahan sebuah akun Instagram.
Tangkapan layar unggahan sebuah akun Instagram.

Bandingkan posting di atas dengan sebuah posting perempuan berkebaya menggunakan masker, dan memantulkan fashion tradisi (Bali) ke wilayah masakini melalui corona.

Karya yang mewarnai dunia fashion dengan metode foto selfie dalam merespon corona pada dunia medsos.

Deinstitusionalisasi isolasi makna atas teks-teks erotik yang berlangsung dalam isolasi wabah masa kini, di antaranya menjadi bagian dari aktivisme bagaimana bahasa seks atau erotisme ikut diperbarui.

Di antaranya muncul dalam sebuah postingan dengan akun @meryem_8517. Postingan ini memperlihatkan organ-organ seksual pada tubuh perempuan yang semuanya menggunakan masker dengan warna biru cerah, baik sebagai warna corona yang mengancam maupun sebagai warna romantik yang mengundang.

Dekonstruksi performatifitas identitas gender pada seks yang berlangsung dalam dunia seni maupun berbagai gerakan gelombang feminisme, kini memasuki batas baru yang mengejutkan di masa corana.

Sebuah karya Mella Jaarsma, Between Food Stalls in Blok M Jakarta, 2012, bisa kita lihat sebagai fenomena dari dekonstruksi ini dalam seni rupa di Indonesia. Karya ini merupakan evaluasi atas identitas seks dalam budaya Jawa.

Mella mengubah tradisi perkawinan dalam budaya Jawa (yang biasanya merupakan adegan pengantin saling menyuapi pasangannya dengan latar singgasana aristokrasi perkawinan yang megah), dan dibuat berlangsung dalam lapak para pedagang makanan kaki lima di Blok M.

Adegan dibuat berlangsung antarperempuan menggunakan kebaya sehari-hari, dan duduk di atas kursi plastik saling menyuapi dengan tangan masing-masing. Keduanya hanya mengenakan sandal jepit.

Mella Jaarsma, "Between Food Stalls in Blok M Jakarta", 2012. -Dok. indoartnow.com.
Mella Jaarsma, “Between Food Stalls in Blok M Jakarta”, 2012. -Dok. indoartnow.com.

Karya tersebut juga bisa dilihat sebagai evaluasi seni dari isolasi makna nilai-nilai berjois yang banyak mendominasi seni rupa.

Pada karya tampak piring-piring bekas pembeli lain dibiarkan mengambil sebagian dari pembagian bidang komposisi gambar.

Membuat interpretasi atas karya berlanjut sebagai karya seni dan karya dokumentasi fotografi, atau karya seni yang dikerjakan dengan metode dokumentasi. Menghasilkan karya yang terkesan dibiarkan kotor.

Sebaliknya, dengan karya Acil, karya riset diwujudkan sebagai kelanjutan dari sifat fiksi atas objek yang diriset, yaitu keberadaan Enny Errow sebagai penulis sastra bokep.

Pertunjukan Teater Sae juga merupakan karya yang pernah melakukan dekonstruksi gender pada tubuh-akting dalam pertunjukan mereka (“Pertumbuhan di Atas Meja Makan” maupun “Biografi Yanti Setelah 12 Menit”) pada tahun 1991 dan 1992 di Taman Ismail Marzuki, Jakarta (lihat karya mereka yang videonya dibuat Michael Bodden: https://youtu.be/BJlUpBj29Ck dan https://youtu.be/TB3K5QaBpTc).

Namun pada masanya dekonstruksi ini memang tidak terbaca, di mana pemikiran feminisme (terutama dari Judith Butler) belum masuk ke Indonesia (karya Judith, Gender Trouble, terbit tahun 1990 dan belum diterjemahkan hingga kini).

Dalam pertunjukannya, Teater Sae memunculkan tubuh lelaki menggunakan BH, dan membuat garis baru pada bagian dada aktor lelaki.

Atau semua gender adalah bernama “Yanti” maupun bernama “Yanto”, sambil memasukkan lagu-lagu cengeng yang dilarang Menteri Orde Baru (Harmoko) ke dalam panggung pertunjukan mereka.

Karya Farhan Acil Rafia, Mella Jaarsma maupun fenomena teks-teks erotik dalam media sosial, memantulkan kembali stuktur pengetahuan kita dalam menghadapi teks-teks sensitif yang mereduksi kemanusian kita.

Reduksi yang bisa membuat kita justru kehilangan sensitivitas dalam mencium bahaya atas praktik-praktik kekuasaan yang hidup di sekitar kita.

Mella Jaarsma di antara yang banyak bergerak dalam ruang biner nilai-nilai sensitif ini, baik dalam karyanya yang menggunakan sumber tradisi Jawa maupun instalasinya yang menggunakan koteka agar tubuh kita juga mau beradaptasi dengan budaya yang beragam dengan banyak perbedaannya.

Setiap perbedaan adalah sumber pengetahuan, dan bukan ancaman untuk disingkirkan atau dinegatifkan.*

*Afrizal Malna adalah penyair dan aktivis teater. Saat ini menetap di Surabaya dan mengerjakan proyek pribadi maupun komunitas bersama anak-anak muda. Afrizal adalah penulis dan pengamat teater yang sampai saat ini masih terus produktif menulis esai-esai bertemakan teater atau seni pertunjukan, sastra, dan budaya (populer).

Baca Juga

Teater Broadway Tutup hingga Awal 2021

Portal Teater - Teater Broadway telah mengumumkan secara resmi bahwa akan tetap menutup teaternya sepanjang sisa tahun ini hingga awal tahun 2021 mendatang. Meski demikian, pembukaan...

Galerikertas Kembali Buka Ruang Pameran untuk Publik

Portal Teater - Setelah beberapa bulan ditutup karena situasi pandemi, awal Juli ini Galerikertas akhirnya kembali dibuka untuk publik. Pembukaan kembali galeri berbasis Depok, Jawa...

Rontoknya Kekerasan karena Cinta

Portal Teater - Apakakah kekerasan akan luluh lantak dengan indahnya alis mata, binar indah bola mata dan lentik bulu mata. Atau malah makin ganas? Dalang (sutradara)...

Terkini

Galerikertas Kembali Buka Ruang Pameran untuk Publik

Portal Teater - Setelah beberapa bulan ditutup karena situasi pandemi, awal Juli ini Galerikertas akhirnya kembali dibuka untuk publik. Pembukaan kembali galeri berbasis Depok, Jawa...

Rontoknya Kekerasan karena Cinta

Portal Teater - Apakakah kekerasan akan luluh lantak dengan indahnya alis mata, binar indah bola mata dan lentik bulu mata. Atau malah makin ganas? Dalang (sutradara)...

Teater Broadway Tutup hingga Awal 2021

Portal Teater - Teater Broadway telah mengumumkan secara resmi bahwa akan tetap menutup teaternya sepanjang sisa tahun ini hingga awal tahun 2021 mendatang. Meski demikian, pembukaan...

Buku Puisi Sosiawan Leak Berbasis Media 3 in 1 Siap Diterbitkan

Portal Teater - Buku puisi "Rumah-Mu Tumbuh di Hati Kami: Kumpulan Puisi Puasa di Masa Korona" karya penyair multitalenta Sosiawan Leak berbasis media 3...

Rudolf Puspa: “Abdi Abadi” adalah sebuah Tanggung Jawab

Portal Teater - Berdiri di panggung Graha Bhakti Budaya di Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki (PKJ TIM), pada 26 Desember 2016 ketika menerima piagam...