Yang Murni dari Domba-Domba yang Tersesat

Ini disimbolkan dengan sosok seniman dalam pentas "Domba-Domba Revolusi" oleh Teater Ciliwung, Selasa (19/11).

Portal Teater – Lagu Indonesia Raya berkumandang 10 menit menjelang pertunjukan “Domba-Domba Revolusi” karya Bambang Soelarto oleh Teater Ciliwung yang persis dimulai pada pukul 19.57 WIB.

Lagu ini dipilih secara simbolik untuk menandai dimulainya pentas yang berlatar perang revolusi pada masa awal kemerdekaan tersebut.

Siluet cahaya bulat besar yang berasal dari proyektor di atas kepala penonton memancarkan gambar bendera Merah Putih ke tengah-tengah layar merah di panggung Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

Tirai panggung belum dibuka, tapi seolah api perjuangan melawan penjajahan Belanda dan mempertahankan kedaulatan sedang disulut. Perlahan-lahan, siluet cahaya berpendar, lalu layar tampak gelap.

Penonton penasaran, apa yang akan terjadi pada adegan pembukaan naskah yang ditulis sebagai kritik sosial terhadap hukum dan pemerintahan pada tahun 1948.

Sebab, selain menceritakan segala hal, termasuk konflik-konflik yang terjadi pada tahun 1948, naskah drama ini menampilkan kisah romansa yang apik dan mengiris hati. Seperti apakah itu?

Siaran radio tentang keadaan darurat bangsa dan pidato-pidato revolusi dihembuskan pada awal pertunjukan untuk mendukung pesan revolusioner yang mau disampaikan.

Seorang perempuan paruh baya (diperankan Margareta Marisa) muncul di panggung, berpakaian serba putih, baik baju atau roknya. Ia memeriksa keamanan losmen dan pergerakan para tamu yang sudah menginap beberapa hari di situ.

Suaminya telah menceraikannya lama sekali. Setelah cukup mandiri, ia kemudian membangun losmen itu persis di jantung Kota Tengah; di antara Kota Utara dan Selatan.

Lalu, seoang laki-laki muda (diperankan Bagus Ade Saputra) keluar dari kamarnya di losmen itu. Ia menginap di situ karena keadaan di luar sana cukup mencekam.

Meski bekerja sebagai wartawan majalah Republik, ia tetap mawas diri agar tidak terjebak dalam arus perpolitikan pada masanya.

Mengenakan kemeja putih berbalut jas krem dan celana panjang ala pemuda zaman doeloe, cukup mewakili kalau ia bukan pemuda biasa. Ia ingin dikenal sebagai seniman.

Sosok seniman dalam tokoh ini disentil B. Soelarto untuk merepresentasikan konflik kepentingan politik dan kebudayaan masa itu yang berdampak pada pekerjaan kesenian.

Di meja tamu di losmen itu, perempuan membuka percakapan dengan menceritakan tentang karakter dan tujuan para penghuni losmennya selama beberapa hari terakhir.

Ia mengatakan tidak menyukai sifat-sifat yang dimiliki oleh ketiga orang tamunya yang tidak senonoh dan memperlakukan dirinya sebagai perempuan simpanan. Ketiganya, kecuali seniman, berusaha merayu dan meminta layanan ekstra.

Kemudian baru diketahui mereka adalah politikus (diperankan Irwan Soesilo), petualang (diperankan Lucky Moniaga) dan pedagang (dperankan Suganda Lalamping).

Lelaki petualang, masih muda, bermatarpencaharian sebagai pengusaha obat-obatan. Ia menyuplai obat bagi kesatuan-kesatuan tentara revolusi dan mengaku seorang Profesor Tabib.

Lelaki politikus, seorang jejaka tua dan diplomat serta pemimpin di Kota Tengah. Sementara pedagang adalah seorang suami dari tiga istri, bertopi, dan tidak berbicara dengan baik, sehingga si petualang harus membantunya menjelaskan apa yang dimaksudkan ketika ia berbicara dengan pemilik losmen.

Ketiganya menginap di losmen tersebut untuk bersembunyi dari serdadu-serdadu musuh yang siap untuk menguasai Kota Tengah, setelah Kota Utara telah ditaklukkan.

Dalam perjalanan dari Kota Utara ke Kota Selatan, ketiganya tertahan di Kota Tengah. Meski bersembunyi, musuh telah mencium bau mereka.

Setelah seniman dan pemilik losmen itu bercakap-cakap, si seniman menyadari akan tugasnya sebagai wartawan yang harus memantau keadaan paling aktual di kota itu. Ia berpamitan dan segera meninggalkan losmen.

Setelah berada di luar, ia berteriak lewat jendela, mengatakan bahwa dirinya akan tetap kembali dengan selamat.

Kemudian, masuklah kedua laki-laki lain: petualang dan pedagang. Sebagai seorang intelektualis, si petualang banyak memberi nasihat kepada pedagang agar meninggalkan komandannya, yaitu politikus.

Politik seduksinya berhasil. Ia juga dengan licik membujuk pedagang agar memberikan surat tagihan senilai Rp2 juta dan anak kunci sebuah brankas yang berisikan barang berharga.

Masuklah politikus dalam perbincangan mereka. Ia keluar dari kamar mengenakan pakaian serba putih, sebagaimana busana para politisi masa itu.

Politikus mencari-cari opsir yang akan membawanya pergi dari losmen. Di saat situasi yang mencekam, ia ingin menyelamatkan dirinya sendiri. Baginya, nyawanya lebih penting dari nyawa 1000 prajurit revolusi.

Si petualang dan pedagang melaporkan bahwa opsirnya sudah pergi dan tak pernah kembali. Petualang, dengan kecerdasannya, membujuk politikus agar berdiplomasi dengan musuh agar situasi segera pulih. Tapi politikus menolaknya.

Si petualang mencari cara lain dengan menawarkan pemikiran agar politikus melarikan diri ke perbatasan. Ada beberapa titik aman yang bisa dilewatkan.

Sebelum melarikan diri, politikus ternyata membawa serta dokumen negara. Ia tidak tahu dikemanakan dokumen-dokumen rahasia itu. Atas usulan si petualang dan pedagang, politikus pun membakar semua arsip negara itu.

Baginya, dengan membakar maka dokumen itu tidak akan jatuh ke tangan musuh.

Segala sesuatu telah siap dan ketiganya segera berangkat menuju Kota Selatan, yang pada masa itu menjadi pusat pemerintahan.

Si pedagang yang sebelumnya berniat kembali ke Kota Utara merawat istrinya, dan si petualang yang ingin ke Kota Barat, pun dibatalkan. Ketiganya melarikan diri bersama.

Di tengah percakapan, muncullah si seniman yang kembali setelah mengintai situasi. Ia membawa beberapa granat yang bisa digunakan melawan musuh. Tapi apakah dengan satu granat bisa melumpuhkan musuh, sedang musuh sudah menguasai seluruh kota.

Ketiga sahabatnya itu tidak bisa menerima anggapan bahwa perjuangan revolusi harus dilakukan dengan turut berperang melawan musuh. Diplomasi, bagi politikus merupakan strategi terbaik untuk mengendalikan situasi.

Si seniman berniat mengajarkan cara menggunakan granat kepada mereka, namun mereka bersikukuh menolaknya. Akhirnya si seniman menyerah dan membiarkan mereka pergi mencari keselamatan pribadi.

Nasib nahas menimpa mereka. Dalam perjalanan, mereka diserang musuh. Karena takut, mereka berteriak-teriak. Namun si petualang selamat karena menggunakan otaknya, ia kembali ke jalan semula dengan tenang.

Seniman, yang juga bersembunyi di losmen itu, diam-diam disukai perempuan pemilik losmen. Bagi perempuan itu, seniman adalah satu-satunya tamu yang baik sifatnya.

Namun perasaan itu tidak pernah diungkapkannya. Ia tetap memendamnya, karena ia telah mengetahui, bahwa seniman muda itu adalah anak dari mantan suaminya, dan ia adalah ibu tirinya.

Dalam pertemuan keduanya di losmen itu, si seniman menceritakan kisah masa kecilnya yang kelam setelah ditinggal ibunya. Sementara ayahnya menikah lagi dengan perempuan yang jauh lebih muda darinya.

Pernikahan itu tidak berjalan mulus. Ayahnya kemudian menceraikan istri barunya itu. Si perempuan terharu mendengar kisah kelabu pemuda di hadapannya.

Si seniman bersikeras agar perempuan itu menerima pinangannya. Namun pendirian perempuan itu terlalu kokoh, karena ia tahu pemuda di hadapannya adalah anak tirinya.

Si seniman pun pergi dengan meninggalkan catatan harian miliknya pada perempuan pemilik losmen. Tangis tak dapat ditahan perempuan itu. Semuanya tercampur jadi satu.

Di akhir cerita semua menjadi lebih jelas, di mana kisah ini pada akhirnya menampilkan kelicikan-kelicikan yang dilakukan si petualang; ia telah menipu si pedagang dan si politikus dan keduanya telah mati.

Namun, si petualang tidak menampilkan rasa dukacita, karena dialah yang membuat si pedagang dan politikus meninggal. Yang lebih kejamnya lagi ternyata barang-barang yang dimiliki oleh pedagang dan politikus diambilnya.

Dia kembali ke losmen, dan mencoba merayu perempuan pemilik losmen dengan menawarkan uang dan barang-barang hasil rampokannya. Kepada perempuan, dia tidak menginginkan hartanya, tapi tubuhnya.

Ia ingin menyerahkan tubuh perempuan itu ke serdadu-serdadu musuh. Intriknya itu dibaca oleh perempuan pemilik losmen. Dengan kelicikan pula, perempuan seolah hendak melayani keduanya. Di kamarnya, perempuan itu menikamnya.

Dua serdadu yang datang kemudian untuk meminta jatah pun dihabisi nyawanya dengan sebilah pisau.

Perempuan pemilik losmen sebenarnya adalah tokoh baik-baik namun terpaksa membunuh demi keselamatannya dari kelicikan si petualang yang memanfaatkan situasi untuk kepentingannya.

Setelah membunuh tiga laki-laki itu, ia mengambil kursi di ruang tamu, lalu duduk di atasnya. Dengan pisau di tangan, ia berdoa:

“Tuhan, ampunilah arwah mereka yang kubunuh dan akan membunuh aku, ampunilah arwah domba-domba revolusi yang sesat.”

Narasi yang terpantul dari doa seorang wanita polos ini memperlihatkan bahwa hanya senimanlah yang dianggap unik, benar, berani, murni kehendaknya dalam menggelorakan api revolusi.

Yang lainnya hanya memanfaatkan kesempatan bagi kepentingan mereka sendiri. Mereka adalah “domba-domba” revolusi yang tersesat dalam pandangan oportunis.

Si petualang dengan intelektualismenya, mengelabui sahabat-sahabatnya ke jurang maut. Politikus adalah seorang yang egois dan ambisius yang mau mencari zona nyaman. Sementara si pedagang, hanya memanfaatkan keuntungan ekonomi.

Sosok seniman dalam lakon ini direposisi dari cerita asli yang diperoleh penulis, yang adalah seorang pengamen keroncong.

Dengan ini, seniman menjadi semacam “juru bicara” penulis untuk mengatakan bahwa kerja kesenian merupakan kerja yang murni tanpa intrik politik dalam membangun kebudayaan bangsa.

Latar kisah ini seperti yang terungkap pula dalam pementasan “Malam Ke Seratus” oleh Maura Lintas Teater pada Jumat (15/11) pekan lalu. Bahwa membangun kebudayaan merupakan sebuah perjalanan mistik.

*Daniel Deha

Baca Juga

Cinta Yang Melampaui Takhta

Portal Teater - Yayasan Oplet Robet (Ocehan Plesetan Rombongan Betawi) berniat terus berkiprah di dunia kesenian tradisi untuk menjaga, melestarikan dan memajukan seni budaya...

Dahlan Iskan Minta Aktivitas Teater di Surabaya Kembali Bergairah

Portal Teater - Seusai menonton pementasan "Para Pensiunan" oleh Teater Gandrik di Ciputra Hall, Surabaya, Sabtu (7/12) malam, mantan Menteri BUMN Dahlan Iskan meminta...

Empat Perupa Muda ‘Memburu Diri’ di Galerikertas Studiohanafi

Portal Teater - Selama enam hari para perupa muda berproses bersama di Galerikertas Studiohanafi Depok, Jawa Barat, pada pertengahan bulan lalu. Bersama seniman asal Yogyakarta...

Terkini

Ugo Untoro: Melukis Lebih Dekat tentang Personalitas Diri

Portal Teater - Duabelas tahun lalu pameran seni visual Ugo Untoro bertajuk "Poem of Blood" di Galeri Nasional Indonesia Jakarta, 12-26 April 2007, menghebohkan...

Tutup Tahun, JCP Persembahkan Konser Special “Tribute to Farida Oetoyo”

Portal Teater - Jakarta City Philharmonic dan Ballet Sumber Cipta mempersembahkan konser spesial akhir tahun bertajuk Tribute to Farida Oetoyo pada Jumat (13/12), pukul...

Ini Daftar 20 Dance Film Yang Lolos Kompetisi IMAJITARI 2019

Portal Teater - Ada 20 karya dance film yang dinyatakan lolos ke tahapan sesi kompetisi helatan IMAJITARI “International Dance Film Festival” 2019. Dari 20...

Selama 43 Tahun, Kritik Seni Rupa Indonesia Masih Sebatas “Pengantar”

Portal Teater - Ketika kembali ke Indonesia setelah menempuh pendidikan doktoralnya di Prancis tahun 1981, Sanento Yuliman mulai aktif menulis kritik seni rupa di...

Mahasiswa Prodi Teater IKJ Pentas “Macbeth” dengan Konsep Kekinian

Portal Teater - Mahasiswa Program Studi Teater Institut Kesenian Jakarta (IKJ) dengan bangga akan mementaskan "Macbeth" karya William Shakespeare di Gedung Teater Luwes IKJ,...