12 Pusat Kesenian di Jakarta

Portal Teater – Kota Jakarta memiliki sejarah yang panjang dan tua dalam hal kesenian. Sejak dulu, Jakarta tidak hanya menjadi pusat ekonomi, bisnis dan politik, melainkan juga menjadi tempat di mana ornamen kesenian se-Indonesia terpusat. Catatan ini mengukuhkan label Jakarta sebagai kota seni dan budaya, di samping kota Yogyakarta.

Jakarta sebagai sebuah kota, seperti juga kota-kota lain di Indonesia, merupakan batas ekosistem dengan skala yang relatif lebih mudah untuk mengukur kaitan antar medan produksi seni dengan orientasi perkembangan budaya dalam sebuah kota. Demikianlah, Jakarta akhirnya dilihat lebih sebagai “kota” lebih dari sebuah “ibukota”.

Di Jakarta bergelimpangan seniman dan calon-calon seniman. Mereka datang dari pelbagai kota dan kampung-kampung di Indonesia. Ada yang sudah menjadi seniman di kampung atau kotanya, dan ada pula yang baru mencari peruntungan menjadi seniman di Jakarta. Lainnya, seniman yang lahir dan besar di Jakarta.

Para seniman ini mula-mula giat membentuk komunitas seniman untuk membuat pertunjukan, pameran, diskusi, dll. Mereka masih terpecar pada golongan tertentu dan belum ada lembaga-lembaga terpusat yang benar-benar menjadi tempat di mana mereka bebas berkekspresi dan menelurkan idealisme dan imajinasi mereka.

Misalnya, pada masa-masa pemerintah pergerakan hingga Orde Lama, kita mengenal yang disebut Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) atau Manifes Kebudayaan (Manikebu), Angkatan ’66, Angkatan ’45, Angkatan Balai Pustaka, Angkatan Pujangga Baru, dll.

Kategorisasi ini masih bersifat sektarian dan terbatas pada kepentingan dan afiliasi dengan pemerintah atau kolonial yang mendukungnya.

Namun, sejak tahun 1968, aktivitas kesenian para seniman ini mulai terkonsentrasi pada lembaga atau pusat-pusat kesenian. Salah satunya adalah pendirian pusat kesenian Jakarta, Taman Ismail Marzuki (TIM). Termasuk juga Taman Mini Indonesia Indah, Museum Toeti Heraty, Edwins’ Gallery, Bentara Budaya, dll.

Beberapa pusat kesenian (budaya) yang terbentuk sebelum periode itu (pra-kemerdekaan), antara lain: Gedung Kesenian Jakarta, Galeri Nasional, Gedung Kesenian Miss Tjitjih, dll.

Seiring dengan gerakan Reformasi yang mengusung tajuk “kebebasan”, aktivisme kesenian dan pusat-pusat kesenian di Jakarta makin bertumbuh pesat. Agaknya, udara kebebasan Reformasi telah memberi ruang di mana kerja seniman yang mengusung narasi “kebebasan” mendapatkan tempatnya.

Maka berdirilah beberapa pusat kesenian di Jakarta, termasuk misalnya komunitas Salihara dan Teater Utan Kayu, Ciputra Artpreneur, Galerikertas Studiohanafi, dan yang paling baru adalah Ciputra Artpreneur, serta masih banyak lagi.

Dengan adanya pusat-pusat kesenian itu, baik yang lama maupun yang baru, Jakarta ternyata tidak hanya melulu dilihat sebagai kota yang menawarkan alternatif budaya konsumerisme dan hedonisme ala metropolitan.

Pusat-pusat kesenian itu hari ini telah berubah menjadi destinasi wisata kesenian dan taman rekreasi yang berkelas bagi semua kalangan, terutama generasi milenial yang hobi akan budaya fotografi (selfie).

Berikut kami ulas 12 pusat kesenian di Jakarta yang dianggap memiliki pengaruh yang kuat dan besar terhadap perkembangan ekosistem kesenian Jakarta. Pemilihan pusat-pusat kesenian ini lebih berdasar pada luas dan intensitas aktivitas kesenian yang terjadi di tempat-tempat tersebut.

1. Taman Ismail Marzuki (TIM)

Bagi masyarakat Jakarta, TIM merupakan destinasi kesenian paling popular karena di tempat ini seniman jalanan, seniman yang sudah punya nama, calon seniman, penikmat seni, dan pengamat seni, seringkali berkumpul, baik untuk diskusi, lokakarya, pameran, pertunjukan, dll.

Sementara, publik ibukota pun ikut berekreasi ke tempat ini, baik untuk menonton atau mengunjungi pameran/pertunjukan, maupun untuk sekedar melepas lelah karena kepenatan kerja atau studi. Tiap hari, tempat ini senantiasa dikunjungi, entah baik atau tidak waktunya; ada event atau tidak ada event.

Taman Ismail Marzuki didirikan pada 10 November 1968 oleh Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin. Pendirian TIM merupakan bentuk kegelisahan Bang Ali, begitu sapaannya, untuk menyeimbangkan hiruk-pikuk aktivitas bisnis dan politik di ibukota sekaligus untuk menyatukan keterpencaran kepentingan politik para seniman kala itu.

Impian para seniman yang kala itu meminta Bang Ali membangun sebuah pusat kesenian, semisal Ajip Rosidi, dkk, pun terkabul dengan dibangunnya berbagai fasilitas seperti ruang pameran, teater terbuka, dan teater tertutup hingga planetarium dan gedung bioskop modern.

Nama TIM diambil dari pencipta lagu terkenal Indonesia, Ismail Marzuki. TIM dibangun di areal tanah seluas 9 hektar yang dulu merupakan sebuah lokasi kebun binatang Raden Saleh yang terletak di Cikini, Jakarta Pusat.

Ada juga Galeri Cipta II dan Galeri Cipta III yang sering digunakan untuk pameran lukisan, kerajinan, seni patung, diskusi, seminarm pemutaran film, dll. Selain itu ada Teater Kecil dengan kapasitas 200 orang.

Ada pula fasilitas Teater Halaman yang dibuat untuk menampung berbagai jenis pertunjukan seni eksperimen para seniman muda.

Di salah satu pojok TIM juga ada toko buku tua kecil, namun kerap didatangi orang, terutama jika mencari buku-buku cetakan lama yang sudah jarang ditemui di jaringan toko buku besar.

Di sebelah kiri dari toko buku kecil diapit dengan perpustakan HB Jassin terdapat gedung baru nan megah yang melengkapi kebutuhan tempat untuk pertunjukan skala besar yaitu Gedung Teater Jakarta yang bisa digunakan untuk berbagai kegiatan seni.

Selain ruang untuk berkarya, di TIM juga didirikan Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta (LPKJ) yang diresmikan Presiden Soeharto pada tanggal 25 Juni 1976. Kemudian sejak tahun 1981 beralih nama menjadi Institut Kesenian Jakarta (IKJ) dengan sistem pendidikan formal sesuai usulan Departmen Pendidikan dan Kebudayaan. Letak IKJ persisi berada di samping Gedung Graha Bhakti Budaya TIM.

TIM sampai saat ini terus diperhatikan pemerintah DKI Jakarta, termasuk pendanaan dan pengelolaan. Saat ini TIM sedang dalam upaya revitalisasi untuk memperluas eksesnya sebagai salah satu pusat kesenian di Jakarta, serentak sebagai pusat kesenian di Asia.

2. Taman Mini Indonesia Indah (TMII)

Selain sebagai kawasan taman wisata bertema seni dan budaya Indonesia, Taman Mini Indonesia Indah (TMII) juga merupakan pusat kesenian Jakarta, di mana hampir tiap pekan digelar ragam kegiatan kesenian di tempat ini: tari, teater, musik, festival, parade budaya, dll.

Di TMII, dihadirkan gambaran keragaman suku dan budaya Indonesia melalui anjungan Daerah, yang mewakili suku-suku yang berada di 34 provinsi Indonesia (pada tahun 1975 berjumlah 26 provinsi).

Anjungan provinsi ini dibangun di sekitar danau dengan miniatur Kepulauan Indonesia, secara tematik dibagi atas enam zona: Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Bali dan Nusa Tenggara, Maluku dan Papua.

Tiap anjungan menampilkan bangunan khas daerah/provinsi masing-masing. Selain itu, tiap anjungan kerap digelar berbagai kegiatan kesenian daerah oleh masyarakat diaspora. Sementara beberapa agenda kesenian dan kebudayaan pemerintah pun diadakan di tempat yang berlokasi di Jakarta Timur tersebut.

Sementara di tengah-tengah TMII terdapat kereta gantung, berbagai museum, dan Teater IMAX Keong Mas dan Teater Tanah Airku, dan berbagai sarana rekreasi yang menjadikan TMIII sebagai salah satu kawasan wisata kesenian terkemuka di ibukota.

TMII memiliki logo yang pada intinya terdiri atas huruf TMII, Singkatan dari “Taman Mini Indonesia Indah”. Sedangkan maskotnya berupa tokoh wayang Hanoman yang dinamakan NITRA (Anjani Putra). Maskot Taman Mini “Indonesia Indah” TMII ini diresmikan penggunaannya oleh Ibu Tien Soeharto, bertepatan dengan dwi windu usia TMII, pada tahun 1991.

TMII dibangun di atas lahan seluas kurang lebih 150 hektar, merupakan hasil inisiatif istri Presiden Soeharto, Siti Hartinah, atau yang dikenal sebagai Tien Soeharto, pada 1975.

Gagasan ini tercetus pada suatu pertemuan di Jalan Cendana No. 8 Jakarta pada tanggal 13 Maret 1970. Melalui miniatur ini diharapkan dapat membangkitkan rasa bangga dan rasa cinta tanah air pada seluruh bangsa Indonesia. Maka dimulailah suatu proyek yang disebut Proyek Miniatur Indonesia “Indonesia Indah”, yang dilaksanakan oleh Yayasan Harapan Kita.

TMII mulai dibangun tahun 1972 dan diresmikan pada tanggal 20 April 1975. Aslinya topografi TMII agak berbukit, tetapi ini sesuai dengan keinginan perancangnya. Tim perancang memanfaatkan ketinggian tanah yang tidak rata tersebut untuk menciptakan bentang alam dan lanskap yang kaya, menggambarkan berbagai jenis lingkungan hidup di Indonesia.

Bagi publik ibukota, selaian menjadi tempat menonton acara kesenian, TMII merupakan tempat di mana mereka bisa mendapat udara yang segar karena di sana terdapat pohon-pohon hijau yang membentang dari sepanjang pintu masuk.

3. Gedung Kesenian Jakarta

Gedung Kesenian Jakarta (GKJ) merupakan bangunan tua peninggalan bersejarah pemerintah Belanda yang hingga sekarang masih berdiri kokoh di Jakarta.

Terletak di Jalan Gedung Kesenian No. 1, Sawah Besar, Jakarta Pusat, GKJ merupakan tempat para seniman dari seluruh Nusantara mempertunjukkan hasil kreasi seninya, seperti drama, teater, film, sastra, mini konser, musik tradisional, dll.

Gedung ini memiliki bangunan bergaya neo-renaisance yang dibangun tahun 1821 di Weltevreden yang saat itu dikenal dengan nama Theater Schouwburg Weltevreden, atau disebut dengan Gedung Komedi.

Gagasan pendirian GKJ berasal dari Gubernur Jenderal Belanda, Daendels. Ide tersebut kemudian direalisasikan oleh Gubernur Jenderal Inggris, Thomas Stamford Raffles pada tahun 1814. Gedung yang bersejarah ini dibentuk dengan gaya empire oleh arsitek VOC, Mayor Schultze.

Gedung yang berpenampilan mewah ini pernah digunakan untuk Kongres Pemoeda yang pertama (1926) di mana perwakilan pemuda dari Jong Java, Jong Sumatera, Jong Betawi serta perwakilan pemuda lainnya berada di GKJ dalam membahas agenda kemerdekaan.

Pada 29 Agustus 1945, Presiden RI pertama Ir. Soekarno menggunakan gedung ini sebagai tempat diresmikannya Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP).

Kemudian gedung ini dipakai oleh Fakultas Ekonomi & Hukum Universitas Indonesia (1951), dan sekitar tahun 1957-1961 dipakai sebagai Akademi Teater Nasional Indonesia (ATNI).

Selanjutnya tahun 1968 dipakai menjadi bioskop “Diana” dan tahun 1969 Bioskop “City Theater”. Baru pada akhirnya pada tahun 1984 dikembalikan fungsinya sebagai Gedung Kesenian (Surat Keputusan Gubernur Kepala Daerah Khusus Ibukota Jakarta No. 24 tahun 1984).

Gedung ini direnovasi pada tahun 1987 dan mulai menggunakan nama resmi Gedung Kesenian Jakarta hingga saat ini menjadi sebuah tempat pertunjukkan seni tradisional dan modern.

4. Ciputra Artpreneur

Ciputra Artpreneur didirikan pada tahun 2014, merupakan sebuah pusat seni terintegrasi di mana didalamnya terdapat galeri, museum seni, dan teater, yang terletak di jantung kota Jakarta.

Pendirian pusat kesenian ini persis terjadi pada momen ulang tahun pernikahan ke-60 Ir Ciputra dan Dian Sumeler, pendiri Ciputra Artpreneur.

Gagasan dasar kelahiran Ciputra Artpreneur adalah untuk mengembangkan industri kreatif Indonesia melalui kegiatan-kegiatan pemberdayaan berbasis seni dan budaya dengan cakupan yang luas dari seni rupa, seni kriya dan desain, arsitektur, seni pertunjukan, serta seni musik.

Berlokasi di Ciputra World 1 Jakarta, Kuningan, Jakarta, Ciputra Artpreneur memiliki Multi-Function Hall yang dapat mengakomodir tamu hingga 2.000 orang, yang dapat digunakan untuk berbagai acara seperti pameran, talkshow, workshop, peluncuran produk, gala dinner, konser, fashion show, acara korporasi, pernikahan, hingga pertunjukan seni dan theater.

Selain itu, memiliki Museum yang menampilkan karya Hendra Gunawan koleksi pribadi dari Dr. (HC) Ir. Ciputra. Pendirian Museum ini berawal dari persahabatan yang erat antara Ir. Ciputra dengan pelukis Hendra Gunawan. Saat ini terdapat 32 lukisan dan 18 sketsa Hendra Gunawan yang dipamerkan di museum.

Adapula Ciputra Artpreneur Gallery, sebuah multi-function hall seluas 1.500 meter persegi berkapasitas hingga 2.000 orang, dilengkapi dengan fasilitas layar proyeksi yang memenangkanaward dari MURI (Museum Rekor Indonesia) untuk sistem proyeksi audio visual terpanjang di Indonesia berukuran 60×12 meter.

Keunggulan lainnya yang dimiliki Ciputra Artpreneur Gallery adalah adanya pemandangan kota Jakarta. Beberapa acara yang pernah diselenggarakan adalah UOB Painting of The Year, Fashion Show Sebastian Gunawan, Launching Google Android, pameran, seminar, pernikahan, dan corporate event.

Ciputra Artpreneur Theater adalah salah satu Theater di Indonesia yang berstandar internasional dengan kapasitas 1.163 kursi. Theater ini dilengkapi dengan sound system terbaik dari Meyer MICA, serta memiliki kualitas tata pencahayaan, suara, dan akustik yang berstandar internasional.

Ciputra Artpreneur Theater telah menyelenggarakan pertunjukan Broadway pertama di Indonesia seperti Beauty and The Beast, dan pertunjukan lain seperti Shrek The Musical, Annie, Vienna Boys Choir, dan Shaolin Warriors serta pentas I La Galigo.

5. Galerikertas Studiohanafi

Studiohanafi berdiri pada tahun 1999, sebagai komunitas nirlaba-non profit. Awalnya Studiohanafi merupakan sebuah studio pribadi bagi seniman senior, Hanafi, berkarya, terletak di bibir sungai Pesanggrahan, Parung Bingung, Depok, Jawa Barat.

Studiohanafi lahir semacam gerakan sosial untuk menumbuhkembangkan kesenian melalui studi ekologi (mempelajari interaksi antara organisme dengan lingkungannya) dengan pendekatan kultural.

Visi-misi Studiohanafi adalah berjalan bersama dalam kesenian dan ikhtiar melakukan regenerasi lewat kesenian dan kebudayaan. Dengan memakai pola residensi, diskusi, pendekatan masalah untuk konsep, festival kesenian, dan workshop.

Datangnya reformasi sebagai koreksi terhadap Orde Baru, gaungnya seperti suara yang menghormati kebebasan manusia dan sebagai modal utama untuk dapat bergerak maju secara terbuka.

Tahun 2005, Studiohanafi membuka perpustakaan dan tempat belajar tari, teater, musik, menulis dan melukis bagi anak-anak dan remaja. Sebuah komunitas anak-anak dan remaja, berlatih setiap akhir pekan pada Sabtu dan Minggu.

Studiohanafi sendiri memiliki banyak platform seni seperti teater anak (yang sekarang bernama TeKo/Teater Ekologi), karya-karya kolaborasi Hanafi dengan seniman lintas media, dan juga Galerikertas yang lebih terfokus kepada edukasi dan regenerasi.

Galerikertas merupakan ruang pameran untuk karya seni visual dan seni rupa yang menggunakan kertas, baik sebagai media, material, atau apapun kemungkinan penciptaan lainnya. Maka, karya-karya yang bisa dihadirkan di Galerikertas mulai dari sketsa, desain komunikasi visual, rancang bangunan, bahkan komposisinon musik, sampul buku, hingga karya tiga dimensi serupa instalasi, patung, topeng, serta segala kemungkinan penciptaan seni visual dan seni rupa yang menggunakan kertas.

Galerikertas berniat menjadikan kertas sebagai sorotan utama galeri ini dikarenakan berbagai silang kondisi yang membuat kertas kian menepi dari khazanah seni kita. Ini tidak sebatas merespon persoalan isu global yang terlanjur lantang membuat dikotomi keras antara kertas sebagai warisan industri cetak yang berhadap-hapan dengan industri digital yang menawarkan masa depan dunia bersama berbagai varian media elektroniknya sebagai pengganti kertas cetak.

6. Komunitas Salihara dan Teater Utan Kayu

Keberadaan Komunitas Salihara telah dimulai sejak 1994. Sekitar satu tahun setelah majalah Tempo diberedel oleh pemerintah Orde Baru pada 1994, sebagian pengasuh majalah tersebut, bersama sejumlah wartawan, sastrawan, intelektual, dan seniman mendirikan Komunitas Utan Kayu.

Komunitas Utan Kayu terdiri atas Institut Studi Arus Informasi (ISAI), Galeri Lontar, Teater Utan Kayu (TUK), Kantor Berita Radio 68H, dan Jaringan Islam Liberal.

Galeri Lontar memamerkan karya para seniman dalam dan luar negeri berupa gambar, lukisan, karya grafis, foto, patung, atau instalasi , terutama berdasarkan kualitas dan semangat inovatifnya. Galeri ini telah memperkenalkan para seniman yang kini menempati posisi terdepan dalam khazanah seni rupa Indonesia.

Teater Utan Kayu secara berkala menyelenggarakan pementasan lakon, musik, tari, pemutaran film, serta ceramah dan diskusi tentang kebudayaan, seni, dan filsafat. Teater ini memberi ruang seluas-luasnya bagi seniman dari khazanah tradisi maupun seniman mutakhir yang ingin bereksperimen dan menawarkan kebaruan.

Komunitas Utan Kayu pun sudah biasa mengelola kegiatan berskala internasional, di antaranya Jakarta International Puppetry Festival (2006), Slingshort Film Festival (2006), dan International Literary Biennale yang berlangsung tiap dua tahun sejak 2001.

Komunitas Utan Kayu berniat meneruskan dan mengembangkan diri demi menampung perluasan aktivitas kesenian, para pendiri dan pengelolanya pun akhirnya memprakarsai pendirian kompleks Komunitas Salihara pada 8 Agustus 2008.

Goenawan Mohamad menjadi penggagas terbentuknya komunitas ini. Berlokasi di Jln. Salihara 16, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, komunitas ini terdiri dari Teater Salihara, Galeri Salihara, Anjung Salihara, dan perkantoran.

Kemudian menjadi merupakan pusat seni multidisiplin pertama di Indonesia. Komunitas Salihara menjadi tempat berkumpulnya seniman dari berbagai disiplin seni, seperti sastra, film, koreografi, penerjemah, pecinta buku, dan arsitek muda.

Komunitas Salihara memiliki visi memelihara kebebasan berpikir dan berekspresi, menghormati perbedaan dan keragaman, serta menumbuhkan dan menyebarkan kekayaan artistik dan intelektual sebagai upaya menghadapi kondisi Indonesia yang meskipun sudah menjalankan demokrasi elektoral, namun kebebasan berpikir dan berekspresi masih sering terancam dari atas (aparat Negara) maupun dari samping (kelompok yang mengatasnamakan agama dan suku).

Komunitas Salihara memprioritaskan kesenian-kesenian baru dalam desain programnya. Kebaruan ini bukan hanya menandakan masyarakat pendukung kesenian yang dinamis, tetapi juga sikap kreatif terhadap berbagai warisan kesenian Indonesia dan dunia.

7. Cemara 6 Galeri Museum

Cemara 6 Galeri didirikan oleh Prof. Dr. Toeti Heraty N Roosseno pada tahun 1993. Berlokasi di Jln. HOS. Cokroaminoto, Menteng, Jakarta Pusat, galeri ini memiliki ruang pameran utama, halaman belakang untuk kegiatan seni dan budaya seperti diskusi, presentasi seni video, pertunjukan, pembacaan puisi dan kegiatan kesenian lainnya.

Cemara 6 Galeri telah dikonsep secara dominan sehingga terjadi hubungan antara seni dan masyarakat, antara budaya dan hak-hak dasar dan kapasitas manusia untuk mengekspresikan diri kita secara bebas dan kreatif.

Cemara 6 Galeri juga memfokuskan pada promosi seniman yang baru muncul, melalui pameran kelompok dan tunggal, dan dengan ini menekankan pentingnya pertukaran budaya dan jaringan internasional.

Galeri telah secara aktif mengatur dan berpartisipasi dalam pameran seni internasional, antara lain di Belanda, Italia, Spanyol, Bosnia Herzegovina, Jepang dan Kanada.

Pada tahun 1996, Galeri mengoordinasikan Program Pertukaran Budaya termasuk lokakarya berorientasi proses dan pameran kelompok seniman Indonesia dan Belanda, yang diselenggarakan bersama oleh FINED (Forum Indonesia Nederland) dan FNI (Forum Nederland Indonesia) ”di Universitas Erasmus, Rotterdam.

Pada tahun yang sama Cemara 6 Galeri juga mengoordinasi Paviliun Indonesia di Venice Bienniale, “Modernitas dan Kenangan, Karya Terbaru dari Dunia Islam”, yang diorganisir oleh The Rockefeller Foundation dan the Jakarta Foundation for the Arts.

Pada tahun 1998, Cemara 6 Galeri menyelenggarakan pameran seni bergengsi karya 16 seniman wanita Indonesia “Perempuan di Alam Spiritualitas” di Universitas Kepausan Gregoriana, Roma – Italia.

Pada tahun 1999, galeri mengkoordinir pameran seni yang diadakan sejajar dengan simposium tentang Hak Asasi Manusia dan Krisis Kemanusiaan di Indonesia: “Against Impunitas”, Rai Congress Center Amsterdam.

Cemara 6 Galeri juga memiliki koleksi pribadi karya seniman Indonesia terkenal, yang dikumpulkan selama bertahun-tahun oleh pendirinya Prof. dr. Toeti Heraty, menampilkan koleksi permanen lebih dari 60 seniman Indonesia terkenal seperti Basoeki Abdullah, S. Soedjojono, Srihadi Soedarsono, Popo Iskandar, Affandi, Mochtar Apin.

Ada pula kamar khusus dengan sekitar 50 lukisan Salim, seorang pelukis Indonesia yang telah menghabiskan sebagian besar hidupnya di Paris. Koleksi pribadi ini diperlihatkan pada tahun 1995, “Pilihan Hati, Lukisan Indonesia Modern dari Koleksi Toeti Heraty”, di Museum voor Volkenkunde di Rotterdam, Belanda.

8. Edwin’s Gallery

Galeri Edwin didirikan dan didirikan pada tahun 1984 oleh Edwin Rahardjo dan menjadi satu-satunya Artspace paling aktif dan terlama di Indonesia. Lokasinya berada di Jln. Kemang Raya, Kemang, Jakarta Selatan.

Berawal dari ruang galeri kecil dan studio fotografi di sebuah garasi, Edwin’s Gallery menjelma menjadi galeri seni diatas lahan seluas 2.000 meter persegi.

Hingga saat ini, ada lebih dari tiga ratusan pameran yang diselenggarakan oleh galeri, yang meliputi media lukisan, cetakan, patung, benda, seni media baru, serta permadani lebih dari 400 seniman dari berbagai generasi.

Di antara tokoh-tokoh modernis penting yang dipamerkan adalah S. Sudjojono, Mochtar Apin, Affandi, Srihadi Soedarsono, Djoko Pekik, Sunaryo, Donald Friend, Rudolf Bonet, dan Le Mayeur.

Namun, sejak awal 1990-an, fokus galeri adalah untuk mempromosikan seniman muda, kontemporer dan baru. Karenanya, seniman seperti Heri Dono, Nyoman Masriadi, Sigit Santoso, Entang Wiharso, dan bahkan yang lebih muda seperti Ayu Arista Murti, Ay Tjoe Christine, Bunga Jeruk telah berbagi sejarah dengan galeri.

Pada awal tahun 1989, galeri telah memelopori produksi pameran yang dikuratori secara serius, yang melibatkan kurator independen dan kritikus seni terkemuka, yaitu Sanento Yuliman, Jim Supangkat, dan Suwarno Wisetrotomo walaupun itu belum menjadi praktik umum di kancah seni Indonesia saat itu.

Kurator muda dan kritikus seni seperti Farah Wardhani, Agung Hujatnikajennong, Enin Supriyanto, Aminudin TH Siregar dan Rifky Effendy juga secara teratur bekerja di berbagai proyek galeri. Tradisi kuratorial yang kuat penting untuk produksi pameran berkualitas.

Edwin memiliki visi dan misi, yaitu mencari bibit baru dan mengenalkannya ke publik. Tidak mengherankan, jika ia sering melahirkan seniman muda Indonesia yang berkualitas.

Di mancanegara, Edwin’s Gallery pernah menyelenggarakan pameran di Wina, NUS Museum di Singapura, Asia Art Center and New Age Gallery di Beijing, Godo Gallery di Seoul, 1918 Artspace di Shanghai, Sichuan Museum di Cina, dll.

Dari segi konstruksi, Edwin’s Gallery merupakan hasil perpaduan berbagai unsur dan mengggabungkannya menjadi suatu bangunan yang menarik. Arsitekturnya memiliki cita rasa kontemporer di bagian dalam dan cita rasa etnik Jawa di bagian luarnya.

9. Museum MACAN

Museum of Modern and Contemporary Art in Nusantara (Museum Seni Modern dan Kontemporer di Nusantara – Museum MACAN) adalah sebuah museum seni di Jakarta. Museum MACAN adalah institusi yang memberikan akses publik terhadap koleksi seni modern dan kontemporer yang signifikan dan terus berkembang dari Indonesia dan seluruh dunia.

Museum ini memiliki program pameran dan acara aktif di fasilitas seluas 7.100 meter persegi yang mencakup ruang pendidikan dan konservasi.

Sebagai institusi seni, Museum MACAN berdedikasi untuk mendukung pendidikan interdisipliner dan pertukaran budaya.

Selain itu, museum MACAN juga menawarkan berbagai program publik dan pameran yang dinamis. Sebagai perwujudan misinya, museum ini akan menjadi wadah yang penting untuk seniman nasional dan internasional untuk mempresentasikan karya mereka pada audiens global, serta menginisiasi karya komisi dari berbagai seniman untuk memperluas perspektif seni kontemporer di dalam dan luar Indonesia.

Museum MACAN juga menawarkan kesempatan pengembangan profesional untuk seniman, kurator dan pegiat seni lainnya untuk bersama-sama membangun ekologi seni Indonesia yang bergairah.

Museum MACAN didirikan Haryanto Adikoesoemo pada tahun 1962 di Surabaya. Haryanto Adikoesoemo adalah Presiden Direktur PT AKR Corporindo Tbk, sebuah perusahaan logistik terbuka di Jakarta, Indonesia.

Sebagai kolektor, Haryanto telah mengembangkan koleksinya selama 25 tahun menjadi salah satu koleksi paling signifikan di Indonesia, mulai dari seni rupa modern Indonesia awal hingga seni modern dan kontemporer dari seluruh dunia.

Pada tahun 2017, dalam penghargaan Authenticity, Leadership, Excellence, Quality, Seriousness in Art yang digelar di Jakarta, Haryanto dianugerahkan sebagai Kolektor Terbaik, bersama dengan 12 pemain penting lainnya di dunia seni Indonesia.

Berlokasi di AKR Tower Level MM di Jalan Panjang No. 5, Kebon Jeruk, Jakarta Barat, museum seni kontemporer ini menjadi salah satu tempat bermain bagi milenial yang mencari spot foto Instagramable.

Di Museum MACAN ini menampilkan pameran bertema ART TURNS, WORLD TURNS, yang menampilkan 90 karya seni dari 800 koleksi Haryanto Adikoesomo. Selain itu, menampilkan karya- karya tentang pergerakan sejarah Indonesia dan dunia. Ada juga salah satu karya seni yang menjadi favorit adalah, ‘Infinity Mirrored Room’ karya seniman Jepang, Yayoi Kusama.

10. Gedung Kesenian Miss Tjitjih

Pendirian Geduang Kesenian Miss Tjitjih ini diprioritaskan untuk pelestarian dan pengembangan Sandiwara Sunda. Gedung ini juga digunakan untuk pertunjukan yang konsepnya dikemas dengan sejarah perjalanan kesenian di Indonesia seperti lenong, longser, ketoprak, tarling dan pengembangannya.

Gedung ini juga ditujukan untuk pertunjukan teater yang mengedepankan karya sutradara muda atau kelompok teater baru.

Berangkat dari kelompok sandiwara “Bimanyurupa Bangsawan” seorang Abubakar Bafagih pada tahun 1920-an mendirikan kelompok sandiwara “Opera Valencia” dengan tetap mengembangkan garapan-garapan cerita dan teknik sandiwara Bimanyurupa Bangsawan dari satu tempat ke tempat lain, dari satu panggung ke panggung lain.

Seorang gadis asli Sumedang Jawa Barat, tahun 1926 bergabung dengan Opera Valencia yang dipimpinan Abu Bakar Bafagih, bernama Tjitjih dengan paras cantik, kreatif dan penuh disiplin dalam berkesenian. Sebagai sebuah penghargaan pada tahun 1928 Opera Valencia diubah menjadi Miss Tjitjih Tonil Gezelschap yang awalnya bahasa pengantar Melayu menjadi Sunda.

Tahun 1928 rombongan Miss Tjitjih ke Jakarta dan menetap di tanah kosong sebelah Bioskop REK di Kramat Munde Senen Jakarta Pusat. Perjalanan sebuah kelompok kesenian yang sangat panjang dan berliku-liku, sejak saat itu Miss Tjitjih telah menjadi bagian penting bagi kehidupan masyarakat Jakarta, namanya semakin terkenal sehingga Miss Tjitjih tidak dapat dipisahkan dari nuansa budaya Jakarta.

Miss Tjitjih merupakan salah satu aset penting dalam pelestarian dan pengembangan Seni Budaya daerah khususnya Seni Budaya Sunda Jawa Barat.

Sayangnya, Tjitjih tidak dapat menikmati kemashurannya, di mana pada tanggal 27 Agustus 1939 ia meninggal dunia diatas panggung saat memerankan Sulastri dalam ceritera Gagak Solo.

Pada tanggal 17 Agustus 1962 Miss Tjitjih mendapatkan penghargaan Piagam Kehormatan Widjajakusuma dari Presiden Republik Indonesia Pertama Bapak Soekarno.

Tanggal 6 Nopember 2003 Presiden Republik Indonesia Ibu Megawati Soekarnoputri memberikan Penghargaan Kehormatan kepada Miss Tjitjih Bintang Budaya Dharma. Saat itu Preisden Megawati pernah menyaksikan secara langsung Pergelaran Kesenian Sunda Miss Tjitjih.

Sejak tahun 1980-an Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memberikan perhatian terhadap kelangsungan hidup kelompok Sandiwara Sunda Miss Tjitjih bersama-sama Yayasan Pembangunan Jawa Barat, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memprakarsai dibentuknya Yayasan Miss Tjitjih dengan Akte Notaris Soelaeman Ardjasasmita, SH.

Selanjutnya pada tahun 1986 dibangun gedung pertunjukan diatas lahan Yayasan Pembangunan Jawa Barat yang berlokasi di Jalan Kabel Pendek Cempaka Baru Timur Jakarta Pusat. Namun pada tanggal 27 April 1997 Gedung Kesenian Miss Tjitjih habis terbakar bersama dengan aset-asetnya.

Akhirnya Sandiwara Miss Tjitjih melakukan pergelaran percobaan di Gedung Berdikari Jalan Teluk Gong No. 23 Jakarta Barat dan dapat berjalan sampai 3 tahun lamanya.

Selanjutnya dengan mempertimbangkan bahwa Sandiwara Sunda Miss Tjitjih adalah merupakan salah satu aset budaya Jakarta maka Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Dinas Kebudayaan dan Permuseuman Provinsi DKI Jakarta, mulai tahun 2000 dilaksanakan kembali pembangunan Gedung Kesenian Miss Tjitjih dan diselesaikan pada tahun 2003 yang selanjutnya dapat difungsikan sebagai sarana Pergelaran Kesenian Sunda secara umum.

Pada tanggal 26 Maret 2004 Gedung Kesenian Miss Tjitjih dibuka secara resmi oleh Ibu Megawati Soekarnoputri. Program-program pementasan Miss Tjitjih hingga saat ini dilaksanakan secara rutin setiap bulannya.

11. Galeri Nasional Indonesia

Pada tahun 1817, G.C van Rijk membangun sebuah gedung bernama Indische Woonhuis di Konengsplein Cost No. 4, yang sekarang disebut dengan Jln. Medan Merdeka Timur No.14 Jakarta Pusat.

Kemudian pada tahun 1900 gedung ini merupakan bagian dari Gedung Pendidikan yang didirikan oleh Yayasan Kristen Carpentier Alting Stitching (CAS) yang bernaung di bawah Ordo Van Vrijmetselaren atas prakarsa pendeta Ds. Albertus Samuel Carpentier Alting ( 1837-1935).

Gedung yang berarsitektur kolonial Belanda ini dipergunakan untuk Asrama Khusus bagi wanita, sebagai usaha pendidikan yang pertama di Hindia Belanda.

Pada tahun 1955, pemerintah Indonesia melarang kegiatan pemerintah dan masyarakat Belanda. Bangunan dan pengelolaan usaha pendidikan tersebut kemudian dialihkan kepada Yayasan Raden Saleh yang masih penerus CAS dan tetap dibawah gerakan Vijmetselaren Lorge.

Berdasarkan keputusan yang dikeluarkan penguasaan tertinggi No.5 tahun 1962 yang ditanda tangani oleh Presiden Soekarno, gerakan Vijmetselaren Lorge dilarang dan Yayasan Raden Saleh dibubarkan. Sekolah-sekolah beserta segala peralatannya diambil alih oleh pemerintah Indonesia dan diserahkan kepada Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Berdirinya Galeri Nasional Indonesia (GNI) merupakan salah satu wujud upaya pembangunan Wisma Seni Nasional/Pusat Pembangunan Kebudayaan Nasional yang telah dirintis sejak tahun 1960-an.

Sambil menunggu realisasi Wisma Seni Nasional, Prof. Dr. Fuad Hasan (Menteri Pendidikan dan Kebudayaan) memprakarsai renovasi gedung utama tersebut menjadi Gedung Pameran Seni Rupa Depdikbud, sebagai sarana aktivitas dan apresiasi seni rupa yang diresmikan pada tahun 1987.

Melalui prakarsa Ibu Prof. Edi Sedyawati (Direktur Jendral Kebudayaan waktu itu) diperjuangkan secara intensif pendirian Galeri Nasional Indonesia tahun 1995. Akhirnya pada tahun 1998 telah di setujui melalui surat persetujuan Menko Pegawasan Pembangunan dan Pendayagunaan Aparatur Negara No. 34/MK.WASPAN/1998.

Selanjutnya ditetapkan melalui Kepmendikbud No.099a/0/1988 dan diresmikan operasionalnya pada tanggal 8 Mei 1999 oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Yuwono Sudharsono.

Struktur awal organisasi GNI ( Kepmendikbud No. No.099a/0/1988 ) mengalami beberapa kali perubahan , terakhir ketika GNI berada dibawah Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, maka SK GNI dirubah menjadi Kepmendikbud Nomor PM.41/OOT.001/MKP-2006.

Organisasi tata kerja Galeri Nasional Indonesia saat ini berdasarkan Permendibud Nomor 72 Tahun 2012 merupakan unit pelaksanan teknis dilingkungan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang berada dibawah dan bertanggung jawab kepada Direktur Jenderal Kebudayaan.

Galeri Nasional indonesia menyimpan, menghimpun dan memamerkan karya seni rupa seperti lukisan, sketsa, grafis, patung, keramik, fotografi, seni kriya dan seni instalasi.

Saat ini Galeri Nasional Indonesia memiliki sekitar 1785 koleksi karya seniman Indonesia dan mancanegara, antara lain: Raden Saleh, Hendra Gunawan, Affandi, S. Sudjojono, Basoeki Abdullah, Barli Sasmitawi Nata, Trubus, Popo Iskandar, Ahmad Sadali, Nashar, Soedarsono, Sunaryo, Amrus Natalsya, Hardi, Heri Dono, Dede Eri Supria, Ivan Sagita, FX. Harsono, Lucia Hartini, Irlantine Karnaya, Hendrawan Kanaryo, Nyoman Gunarsa, Made Wiyanta, Ida Bagus Made, I Ketut Soki, Wassily Kand insky (Rusia), Hans Hartung (Jerman), Victor Vassarely (Hongaria), Sonia Delauney (Ukraina), Pierre Saulages (Parncis), Zao Wou Ki (China).

Selain itu terdapat karya seniman dari Sudan, India, Peru, Cuba, Vietnam, Myanmar dan lain-lain.

Ruang lingkup kegiatan Galeri Nasional yaitu, melaksanakan pameran (permanen, temporer, keliling), melaksanakan preservasi (konservasi, restorasi), akuisisi dan dokumentasi, seminar, diskusi, workshop, performance art, pemutaran film/video (screening), festival, lomba, dan lain-lain yang berkenan dengan peningkatan pemahaman, keterampilan dan apresiasi seni rupa.

Galeri Nasional Indonesia juga memberikan pelayanan riset koleksi dan pemanduan (guilding ) untuk pelajar, mahasiswa dan masyarakat umum.

Galeri Nasional Indonesia dikurasi oleh tim kurator, antara lain: Sudjud Dartanto, Asikin Hasan, Citra Smara Dewi, RIzki A. Zaelani dan Suwarno Wisetrotomo.

12. Bentara Budaya

Bentara Budaya adalah lembaga kebudayaan Kompas Gramedia, yang artinya utusan budaya. Diresmikan pertama kali oleh Jakob Oetama pendiri Kompas Gramedia pada tanggal 26 Juni 1986 dengan Surya tajuk “Manembah Hangesti Songing Budi”.

Sebagai hasil karya arsitek terkenal Romo Mangunwijaya, Bentara Budaya memiliki motto sebagai utusan budaya yang enampung dan mewakili wahana budaya bangsa, dari berbagai kalangan, latar belakang, dan cakrawala, yang mungkin berbeda.

Balai ini terletak di Jln. Palmerah Selatan 17, Jakarta Pusat, berupaya menampilkan bentuk dan karya cipta budaya yang mungkin pernah mentradisi. Ataupun bentuk-bentuk kesenian massa yang pernah populer dan merakyat. Pun karya-karya baru yang seolah tak mendapat tempat dan tidak layak tampil di sebuah gedung terhormat.

Bentara Budaya Jakarta Memiliki koleksi lukisan 573 buah dari lukisan karya pelukis-pelukis terkenal, antara lain: S. Sudjojono, Hendra Gunawan, Affandi, Basoeki Abdullah, Affandi, Aming Prayitno, Fadjar Sidik, Basoeki Resobowo, Bagong Kussudiardjo, Ahmad Sadali, Zaini, Dede Eri Supria, Batara Lubis, Otto Jaya, Sudjono Abdullah, Kartika Affandi, Wahdi.

Selain itu, ada pula erbagai lukisan Bali karya I Gusti Nyoman Lempad, Wayan Djujul, Nyoman Daging, I ketut Nama, Made Djata, I Ketut Regig, I Gusti Made Togog, I Gusti Ketut Kobot, Anak Agung Gde Sobrat, pun perupa muda seperti Eddie Hara, Nasirun, Made Palguna Wara Anindyah dll.

Sebanyak 625 buah keramik dari berbagai dinasti pun dikoleksi oleh lembaga kebudayaan Harian Kompas tersebut. Mulai dari dinasti Yuan, Tang, Sung, Ming dan Ching, dan juga keramik lokal dari Singkawang, Cirebon, Bali, Plered.

Koleksi patung dari Papua dan Bali mencapai 400-an, mebel yang tergolong antik seperti meja, kursi, dan lemari. Wayang golek karya dalang kondang Asep Sunarya dari Jawa Barat berjumlah 120-an wayang, juga memperkaya koleksi.

Terdiri dari berbagai macam karakter, mulai dari tokoh punakawan sampai tokoh-tokoh utama baik Pandawa maupun Kurawa. Beberapa patung Buddha dengan berbagai posisi mudra pun menambah maraknya koleksi Bentara Budaya.

Salah satu koleksi yang paling membanggakan dan menakjubkan yaitu Rumah Tradisional Kudus yang dibawa langsung dari Kudus, Jawa Tengah. Rumah adat berukiran indah itu sebelumnya terletak di lingkungan Kauman, tidak jauh dari menara Kudus.

Bentara Budaya Jakarta kini semakin marak dengan berbagai macam acara bulanan, yakni: pameran dan pagelaran, pemutaran film, dan diskusi bulanan, pentas musik dan teater ataupun berbagai seni pertunjukan lainnya.

Tidak hanya itu, Bentara Budaya Jakarta pun menjadi salah satu rujukan pusat kegiatan budaya terus menggeliat dengan acara-acara yang sifatnya nasional dan agenda tahunan seperti lomba seni grafis Trienal Grafis yang diadakan sejak tahun 2003 dan Pameran Ilustrasi Cerpen KOMPAS setiap tahunnya.

Demikianlah ulasan 12 pusat kesenian di Jakarta. Masih ada banyak pusat kesenian lainnya yang juga berkomitmen untuk memajukan dan mengembangkan ekosistem kesenian Jakarta.

Namun kali ini, kami hanya mengelompokkan 12 pusat kesenian yang dianggap paling ramai dan populer serta dibuka dalam skala yang luas dan memiliki sejarah yang panjang.

*Daniel Deha

Baca Juga

Buka Lembaran 2020, Kineforum DKJ Putar Lima Film Keluarga

Portal Teater - Kineforum, salah satu sayap program Komite Film Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) membuka lembaran tahun ini dengan mempersembahkan "FAMILIAL", sebuah program untuk...

Komit Bangun Kebudayaan, Bupati Tubaba Gelar “Megalithic Millennium Art”

Portal Teater - Pembangunan kesenian dan kebudayaan di Provinsi Lampung belakangan ini terus bertumbuh. Aktivisme itu tidak hanya digiatkan oleh seniman dan komunitas/sanggar seni,...

Tandai HUT Ke-30, Teater Gema Gelar Wicara “Filosofi Hidup Berteater”

Portal Teater - Teater Gema baru saja merayakan 30 tahun berdirinya pada Senin (13/1) lalu. Menandai perayaan tersebut, salah satu Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM)...

Terkini

Buka Lembaran 2020, Kineforum DKJ Putar Lima Film Keluarga

Portal Teater - Kineforum, salah satu sayap program Komite Film Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) membuka lembaran tahun ini dengan mempersembahkan "FAMILIAL", sebuah program untuk...

ORArT ORET Semarang Gandeng SCMC Gelar Konser Edisi Ke-2 “Barokan Maneh”

Portal Teater - Komunitas ORArT ORET Semarang kembali menjalin kerjasama dengan  Semarang Classical Music Community (SCMC), menggelar konser musik klasik pada Jumat (24/1) di...

Tolak Komersialisasi TIM, Para Seniman Gelar Diskusi “Genosida Kebudayaan”

Portal Teater - Menolak komersialisasi Taman Ismail Marzuki Jakarta, sejumlah seniman yang tergabung dalam Forum Seniman Peduli TIM menggelar diskusi publik di Pusat Dokumentasi...

Pemerintah Alokasikan Rp1 Triliun Dana Perwalian Kebudayaan 2020

Portal Teater - Pemerintah mengalokasikan Dana Perwalian Kebudayaan bagi pegiat seni budaya dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2020 sebesar Rp1 triliun. Alokasi...

Tur Keliling ASEAN, Kreuser/Cailleau Singgah di Jakarta dan Surakarta

Portal Teater - Selama bulan Januari dan Februari 2020, komponis Jerman Timo Kreuser dan pembuat film Prancis Guillaume Cailleau melakukan tur keliling Asia Tenggara...