Taman Ismail Marzuki, Oase Di Gurun Metropolis

Portal Teater – Orang selalu mengatakan, kerja kesenian adalah kerja untuk peradaban. Merenung, merefleksikan, dan/atau aktivitas berpikir merupakan wujud tertinggi kehidupan manusia sebagai “makhluk berakal budi”. Tanpa berpikir manusia kehilangan eksistensinya. Kehadirannya di dunia hanyalah seonggok daging yang tiada berguna.

Tanpa berpikir kehidupan manusia punah, hilang, lenyap.

Dulu sekali, para pemikir klasik Yunani, terutama ketiga nabi: Sokrates, Plato dan Aristoteles, selalu menulis, bahwa puncak pencarian kesempurnaan (kebahagiaan) manusia adalah kontemplasi. Derajat tertinggi kehidupan manusia ini dicapai lewat aktivitas berpikir atau abstraksi pemikiran.

Persis, abstraksi murni pemikiran manusia hanya bisa terjadi dalam kondisi di mana manusia mampu menyelami kemendalaman realitas lewat permenungan atau refleksi. Tanpa refleksi, manusia tidak mampu menangkap cercah cahaya kesempurnaan yang terlintas cepat di pikirannya.

Konkretisasi aktivitas berpikir manusia itu ada dalam kerja kesenian. Kesenian adalah cara hidup yang jarang dilalui manusia kebanyakan. Kesenian adalah “jalan lain” untuk melihat lebih jelas dan terang fakta, fenomena dan kompleksitas realita yang hadir.

Kerja kesenian ini amat dekat dengan kerja filosofis, sebuah pencarian kebenaran; keduanya bagai pinang dibelah dua; yang tak saling meniadakan. Kerja kesenian adalah upaya untuk mengimanensi kemanusiaan, sekaligus mentransedensi eksistensi imanen manusia.

 Kesenian Sebagai Oase

Sejak zaman kolonial (Belanda), Jakarta, atau yang dulu disebut Batavia, merupakan pusat kegiatan ekonomi Hindia Belanda. Segala transaksi ekonomi dan perdagangan internasional antara Belanda dan negara-negara Asia sekitarnya terjadi di kota kemudian menjadi ibukota negara ini (sejak 26 Agustus akan dipindahkan ke Kalimantan).

Keterpusatan aktivitas ekonomi, industri, bisnis dan perdagangan di Jakarta membuat kota ini terasa tandus, kering, gersang, bagaikan sedang berada di gurun pasir Sahara.

Kegersangan, dan term-term sejenisnya, di ibukota ini terjadi bukan hanya kenyataan bahwa kota ini memang punya udara yang buruk, ruang hijau yang minim, tanggul-tanggul banjir yang tak terurus, dll, tapi lebih karena ada kekosongan rohani yang tidak sempat terisi di dalam hidup para penghuninya.

Kepentingan akumulasi keuntungan, ekspansi bisnis, pengembagan industri, dll, melulu menjadi pusat perhatian anak-anak manusia di kota tua ini. Ada ketimpangan tajam di mana aktivitas ekonomi (wilayah privat) dan aktivitas politik (wilayah publik) tidak setara dengan aktivitas kesenian (wilayah pemikiran/rohani).

Banyak seniman yang menghuni kota metropolis ini. Sejak masa kolonial, pun hingga masa sekarang. Mereka tidak diperhatikan layaknya para pebisnis, ekonom, politisi. Mereka hidup di komunitas-komunitas kecil yang miris tak terawat; hampir punah.

Ketika Indonesia dijajah hingga awal kemerdekaan, mereka mendapat tempat istimewa di hadapan publik dan kekuasaan. Beberapa angkatan seniman punya pengaruh yang kuat terhadap pilihan kebijakan dan kekuasaan saat itu. Namun, nama-nama mereka mulai redup seiring tonggak kekuasaan yang mulai berubah.

Menyadari akan pentingnya aktivitas kesenian di pusat kota, Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin pada tahun 1968 berpikir untuk mengakomodasi kerja kesenian para seniman itu ke dalam wilayah atau wahana yang strategis dan terkonsentrasi.

Gubernur Ali Sadikin tahu betul, bahwa untuk membangun ibukota, tidak melulu membangun bentukan fisik tata kota. Membangun kota adalah membangun peradaban. Pada titik itulah, kerja kesenian berperan penting dalam membangun peradaban kota. Apalagi Jakarta telah menjadi bagian dari pusaran kosmopolitan global.

Bangunan kesenian yang kokoh dan berkelanjutan bagi Gubernur Ali Sadikin tentu akan menyeimbangkan dan mengobati dahaga rohani para penghuni kota. Bagi Ali, kesenian adalah oase di padang gurun kegersangan anak-anak manusia yang bekerja tanpa waktu kualitatif.

Baginya, Jakarta yang sering kali sibuk dengan geliat ekonomi akan membuatnya gersang. “Kota ini akan jadi gersang andai rohani tak dikembangkan. Kesenian di jakarta harus hidup, tumbuh, serta berkembang di tengah hiruk pikuk,” katanya dalam buku “Bang Ali Demi Jakarta 1966-1977” (1992).

Maka, dibangunlah pusat kesenian Jakarta pada 10 November 1968 di daerah Cikini, Jakarta Pusat, dengan nama Taman Ismail Marzuki (TIM) di atas areal tanah seluas 9 hektar.

Ismail Marzuki (1914-1957) adalah seorang komponis pejuang kelahiran Betawi yang telah menciptakan lebih dari 200 lagu diantaranya merupakan lagu-lagu perjuangan bangsa, antara lain, lagu Halo-Halo Bandung, Berkibarlah Benderaku, Nyiur Melambai, Sepasang Mata Bola.

Dulu tempat ini dikenal sebagai ruang rekreasi umum Taman Raden Saleh (TRS), merujuk pada nama pelukis terkenal Indonesia, Raden Saleh, yang merupakan Kebun Binatang Jakarta sebelum dipindahkan ke Kebun Binatang Ragunan di Jakarta Selatan.

Para pengunjung TRS selain dapat menikmati kesejukan paru-paru kota dan melihat sejumlah hewan, juga bisa nonton balap anjing di lintasan Balap Anjing yang kini berubah menjadi kantor dan ruang kuliah mahasiswa Fakultas Perfilman dan Televisi Institut Kesenian Jakarta (IKJ).

Ada pula lapangan bermain sepatu roda berlantai semen, termasuk dua gedung bioskop, Garden Hall dan Podium, yang melengkapi suasana hiburan malam warga ibukota.

Sejarah Kelahiran TIM

Pembangunan TIM pada dasarnya berawal dari kegelisahan Gubernur Ali Sadikin atau terkenal Bang Ali, sebagaimana diuraikan di atas. Bang Ali sangat jeli dalam mengatur tatanan kota Jakarta, termasuk salah satunya ialah upaya menyatukan para seniman Jakarta dalam satu wadah dengan didirikannya: TIM. Apalagi para seniman waktu itu berceceran terpecah-belah oleh kekuatan politik.

Dikisahkan, pada suatu pagi yang cerah, Bang Ali Sadikin menemui tiga orang tamu sebelum ia berangkat kerja, yaitu Ajip Rosidi, Ilen Surianegara, dan Ramadhan K.H. Ketiga orang ini membawa gulungan kertas yang di isinya tercantum bagan mengenai cita-cita dan impian semua seniman yang diciptakan oleh seorang pelukis bernama Oesman Effendi.

Hasil pertemuan orang-orang hebat itu menjadi pijakan historis dalam catatan perjalanan semua seniman Jakarta. Bang Ali sekonyong-konyong teringat seniman-seniman yang biasa berada di daerah Pasar Senen, Jakarta Pusat. Namun, ternyata para seniman di sana sudah tidak lagi berkumpul.

Sebagai seorang Gubernur Jakarta yang provinsinya tengah mengembangkan berbagai hal, Bang Ali pun ingin Jakarta menjadi pusat kebudayaan. Bang Ali lalu menyuruh para seniman berkumpul dan membicarakan urusan tersebut secara mendetail. Akhirnya muncul kesepakatan baru: pusat kesenian nantinya bakal dibangun di jantung ibukota Jakarta.

Awalnya, tim akan terdiri dari Asrul Sani, Usmar Ismail, Mochtar Lubis, Pirngadi, Gayus Siagian, Zulharmans, dan Jayakusuma. Para seniman ini bertugas merangkai kepengurusan dari Dewan Kesenian Jakarta (DKJ). Kemudian, DKJ terbentuk dan Trisno Sumardjo terpilih sebagai Ketua.

Pada 7 Juni 1968, Ali Sadikin meresmikan DKJ yang anggotanya terdiri dari 25 orang. Semula, Bang Ali beranggapan para seniman ini tak bakal bisa mengurus dan membuat pusat kesenian yang segera didirikan. Menurutnya, semua seniman ialah jenis orang-orang yang tidak akan dapat mengurus hal lainnya, karena mereka sendiri tak pandai mengurus diri sendiri.

Namun, Ajip Rosidi meyakinkannya bahwa seniman-seniman tersebut akan dimintai pertanggungjawaban sesudah diberi tanggungjawab dan dana. Bang Ali akhirnya setuju dan berkomitmen tidak akan mencampuri urusan pengelolaan pusat kesenian Jakarta tersebut.

Selanjutnya ia menantang para seniman untuk sungguh-sungguh bekerja mengelola “tempat tinggal” mereka.

“Saudara-saudara seniman, saya tantang kini untuk bekerja dalam organisasi. Kalau saudara-saudara tidak beres, akan saya kerahkan pemuda-pemuda mendemonstrasi saudara,” katanya.

Ketua DKJ Trisno Sumardjo kemudian merampungkan Pedoman Dasar dan Program Kerja yang mereka susun sendiri. Hal itu makin menguatkan Bang Ali bahwa ternyata seniman pun mampu mengatur diri.

Bang Ali memilih lahan bekas kebun binatang di Jalan Cikini Raya sebagai lokasi Pusat Kesenian Jakarta yang luasnya kurang lebih 9 hektar. Kompleks ini kemudian dinamakan Taman Ismail Marzuki (TIM) hingga saat ini.

Pada 10 November 1968, Bang Ali meresmikan TIM. Acara kesenian digelar selama tujuh hari. Ada drama, gending karesmen Sunda, pameran dokumentasi kesusastraan Indonesia, pameran lukisan anak-anak, konser dengan solis Iravati Sudiarso dan Rudy Laban oleh Orkes Simfoni Jakarta di bawah pimpinan Adidharma, tari balet, pantomim dari Jerman, diskusi soal bahasa Indonesia, lenong “Nyai Dasima”, tarian Tapanuli, dll.

Selain ruang untuk berkarya, di TIM juga didirikan Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta (LPKJ) yang diresmikan Presiden Soeharto pada tanggal 25 Juni 1976. Kemudian sejak tahun 1981 beralih nama menjadi Institut Kesenian Jakarta (IKJ) dengan sistem pendidikan formal sesuai usulan dari Departmen Pendidikan dan Kebudayaan.

Arti Logo Cipta

Adapuan TIM diberi logo dengan nama Cipta. Logo ini dibuat oleh Oesman Effendi, pelukis dan dosen di IKJ. Dalam logo tersebut ada beberapa simbol: Daun Palma: mengartikan Pancasila dalam kehidupan Seni Budaya; Buah Tujuh: melambangkan tujuh bidang seni yaitu Musik, Tari, Sastra, Seni Rupa, Teater, Film, dan Tradisi.

Secara umum, logo Cipta itu merupakan pohon kelapa yang memiliki arti penting dalam kehidupan manusia. Dari batang, daun, lidi, daun muda, buah, air buah, sari air buah, akar, memiliki manfaat nyata bagi kehidupan. Sementara tulisan Cipta berarti bahwa seniman 6 disiplin yang selalu berkreasi dan mencipta keindahan untuk sesama.

Manajemen Pengelolaan

Setelah TIM diresmikan, DKJ sebagai motor kesenian TIM meminta kepada Bang Ali untuk mendapatkan orang yang akan mengelola kompleks pusat kesenian tersebut. Kemudian dipilihlah Suri Handono, salah seorang direksi PT Pembangunan Jaya yang berkeinginan membantu dunia kesenian dan kebudayaan.

Meski manajer TIM dipegang oleh seorang yang bukan seniman, setiap program yang akan dipertunjukkan dan dipamerkan di sana ditetapkan oleh DKJ. Manajer TIM hanya pelaksana program yang ditetapkan DKJ dan mengelola pendapatan serta pengeluaran.

Dalam perjalanannya, karena DKJ dibatasi masa kepengurusan dan pengurus DKJ awal dipilih oleh formatur sementara, maka kemudian dibentuklah Akademi Jakarta yang salah satu tugasnya memilih dan menetapkan para anggota DKJ. Anggota Akademi Jakarta tidak hanya seniman yang berdomisili di Jakarta, tetapi juga dari Bandung dan Yogyakarta.

Selain itu, untuk menyiapkan seniman di masa yang akan datang, para seniman juga menghendaki didirikannya sebuah lembaga pendidikan kesenian yang akan menjadi penerus mereka di masa-masa berikutnya. Gagasan ini melahirkan Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta yang sekarang bernama IKJ.

Dinamika kerap terjadi sampai saat ini. Salah satunya adalah Petisi Cikini 2015 yang diterbitkan sejumlah seniman. Para seniman itu menolak peraturan baru yang mengharuskan Pemda DKI membentuk Unit Pelaksana Teknis (UPT) sebagai pengelola TIM. Mereka mengkhawatirkan terancamnya kebebasan seniman jika birokrasi masuk ke pusat kesenian.

Sementara Pemda DKI Jakarta beralasan bahwa pihaknya dituntut Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) untuk menjalankan peraturan yang tidak membolehkan pemberian dana hibah seperti kepada TIM secara terus-menerus. Ini mendorong Pemprov untuk membentuk sebuah UPT agar pengeluaran dana kepada TIM sesuai dengan peraturan birokrasi.

Akhirnya, TIM Jakarta saat ini resmi dikelola oleh Unit Pengelola Pusat Kesenian Jakarta (UPPKJ) TIM, yang memang berada di bawah nauangan pemerintah. Begitu pula dengan pendanaannya.

Setelah 51 Tahun

Saat ini TIM telah berusia 51 tahun. Di dalam kompleks TIM terdapat Graha Bhakti Budaya, Galeri Cipta II dan Galeri Cipta III, Teater Kecil atau Teater Besar, Teater Halaman atau Studio Pertunjukan Seni dan Plaza.

Selama puluhan tahun, TIM terus-menerus menggelar pelbagai pertunjukan dan pameran kesenian. Tempat ini amat populer sebagai tempat mangkal para seniman, baik seniman betulan maupun mereka yang seolah-olah seniman karena kerap nongkrong di sana tanpa menghasilkan karya apa pun.

Adapun acara-acara seni dan budaya dipertunjukkan secara rutin di pusat kesenian ini, termasuk pementasan drama, tari, wayang, musik, sastra, teater, pameran lukisan dan pertunjukan film.

Berbagai jenis kesenian tradisional dan kontemporer, baik yang merupakan tradisi asli Indonesia maupun dari luar negeri juga ditampilkan di tempat ini. Pidato sebagai refleksi kebudayaan terus diproduksi pada setiap ulang tahunnya.

Saat ini TIM sedang dalam proyek revitalisasi sebagai komitmen pemerintah DKI Jakarta untuk menjadikan TIM, tidak hanya sebagai pusat kesenian Jakarta, tetapi bahkan akan menjadi pusat kebudayaan Asia.

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan pada Juli lalu mengatakan, revitalisasi tersebut akan meliputi perencanaan, pembangunan, serta pengelolaan dan perawatan. Direncanakan, revitalisasi TIM ini akan bisa rampung pada Juni 2021.

Dalam revitalisasi ini, Anies berharap TIM bakal menjadi ruang yang menciptakan ekosistem yang sehat bagi pertumbuhan dan pengembangan kerja kesenian dan kebudayaan Indonesia.

Bahkan, mengikuti gagasan Bang Ali, Anies berniat menjadikan TIM Jakarta sebagai tuan rumah bagi perhelatan kesenian dan kebudayaan dunia.

Proyek revitalisasi ini memerlukan dana Rp1,8 triliun. Sumber dana revitalisasi ini pun berasal dari Penyertaan Modal Daerah (PMD) DKI Jakarta tahun 2019 sebesar sebesar Rp200 miliar. Sementara itu, PT Jakarta Propertindo (Jakpro) ditunjuk untuk mengelola revitalisasi TIM, sebagaimana diatur dalam Peraturan Gubernur No.63/2019.

Arsitek Isandra Martin pun ditunjuk untuk membangun revitalisasi TIM. Menurut Andra, desain revitalisasi TIM dirancang agar mengembalikan jiwa TIM saat pertama kali dibangun pada 1968, yakni menjadi bangunan yang inklusif, terbuka, dan guyub.

Sejak petengahan Agustus lalu, bioskop dan sebagian ornamen di TIM dibongkar dan secara perlahan-lahan, monumen sejarah ini akan direnovasi ke dalam bentuknya yang lebih modern. (Dari berbagai sumber)

*Daniel Deha

Baca Juga

Pemerintah Alokasikan Rp1 Triliun Dana Perwalian Kebudayaan 2020

Portal Teater - Pemerintah mengalokasikan Dana Perwalian Kebudayaan bagi pegiat seni budaya dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2020 sebesar Rp1 triliun. Alokasi...

Merayakan Suara Melanesia yang Langka Lewat “Planet-Sebuah Lament”

Portal Teater - Pementasan kontemporer berbaju tradisi, "Planet-Sebuah Lament", karya Garin Nugroho selama dua hari pada akhir pekan lalu, Jumat-Sabtu (17-18 Januari), berhasil menghibur...

Tandai HUT Ke-5 JIVA, Galnas Pamerkan Karya 19 Seniman Muda

Portal Teater - Menandai lima tahun Jakarta Illustration Visual Art (JIVA), Galeri Nasional Indonesia menggelar pameran seni rupa sepanjang 8-27 Januari 2020. Pameran bertajuk...

Terkini

Buka Lembaran 2020, Kineforum DKJ Putar Lima Film Keluarga

Portal Teater - Kineforum, salah satu sayap program Komite Film Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) membuka lembaran tahun ini dengan mempersembahkan "FAMILIAL", sebuah program untuk...

ORArT ORET Semarang Gandeng SCMC Gelar Konser Edisi Ke-2 “Barokan Maneh”

Portal Teater - Komunitas ORArT ORET Semarang kembali menjalin kerjasama dengan  Semarang Classical Music Community (SCMC), menggelar konser musik klasik pada Jumat (24/1) di...

Tolak Komersialisasi TIM, Para Seniman Gelar Diskusi “Genosida Kebudayaan”

Portal Teater - Menolak komersialisasi Taman Ismail Marzuki Jakarta, sejumlah seniman yang tergabung dalam Forum Seniman Peduli TIM menggelar diskusi publik di Pusat Dokumentasi...

Pemerintah Alokasikan Rp1 Triliun Dana Perwalian Kebudayaan 2020

Portal Teater - Pemerintah mengalokasikan Dana Perwalian Kebudayaan bagi pegiat seni budaya dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2020 sebesar Rp1 triliun. Alokasi...

Tur Keliling ASEAN, Kreuser/Cailleau Singgah di Jakarta dan Surakarta

Portal Teater - Selama bulan Januari dan Februari 2020, komponis Jerman Timo Kreuser dan pembuat film Prancis Guillaume Cailleau melakukan tur keliling Asia Tenggara...