Hibur Masyarakat Jakarta, Teater Tanah Air Pentaskan Lagi “HELP”

Portal Teater – Teater Tanah Air akan menghibur masyarakat pencinta seni teater ibukota lewat pementasan teater visual berjudul “HELP” pada akhir tahun ini.

Digelar selama dua hari, yaitu pada 7-8 Desember 2019, tiap pukul 16.00 WIB, di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, lakon ini disutradarai Jose Rizal Manua, yang juga adalah pimpinan dan penata artistik Teater Tanah Air.

Pada Juni 2018, lakon karya Putu Wijaya ini mendapat predikat “The Best Performance” pada Festival Anak-Anak Dunia ke-15 di Jerman.

Sekembalinya ke Indonesia, kelompok teater anak yang berdiri pada 14 September 1998 ini mementaskan ulang lakon tersebut di Kudus pada November 2018 dan di TIM Jakarta sebulan berikutnya.

Setahun berselang, Bang Jos, sapaan Jose Rizal Manua, berniat menyuguhkan lagi karya terbaik ini kepada masyarakat Jakarta. Tujuannya agar para pencinta seni teater tidak hanya menonton “HELP” lewat televisi, tapi juga menyaksikannya secara langsung di gedung pertunjukan.

Pada Oktober 2019 lalu, Teater Tanah Air menjadi bintang tamu Festival Teater Anak DKI Jakarta dan tampil lewat lakon yang sama.

Di hadapan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, pejabat Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta dan penonton, penampilan anak-anak Teater Tanah Air begitu memukau dan mengagumkan.

“Karena saya melihat masyarakat Jakarta belum menontonnya. Maka saya pingin masyarakat Jakarta melihat pertunjukan yang berbeda dengan petunjukan yang mereka lihat di televisi atau pertunjukan yang teater anak-anak yang ada di Jakarta,” ujar Bang Jos, di TIM Jakarta, Selasa (3/12).

Jose Rizal Manua, pendiri dan sutradara Teater Tanah Air. -Dok. Facebook/Jose Rizal Manua.
Jose Rizal Manua, pendiri dan sutradara Teater Tanah Air. -Dok. Facebook/Jose Rizal Manua.

Konsep Total Teater

Pementasan “HELP” oleh Teater Tanah Air mengusung konsep total teater. Konsep tersebut, kata Bang Jos, menekankan kekuatan pada perpaduan yang apik dari beragam unsur seni, antara lain seni tari, musik, sastra, seni rupa, dan film.

Lewat konsep ini, para aktor yang kebanyakan merupakan anak-anak ini dapat mengekspresikan imajinasi mereka dalam tarian, nyanyian, musik, dan unsur-unsur lainnya, seperti bayangan dan visualisasi.

“Semua berkolaborasi, bekerjasama begitu rupa, sehingga membentuk satu kesatuan yang utuh,” tuturnya.

Bang Jos mengatakan, konsep total teater merupakan sebuah keharusan bagi kinerja teater saat ini. Di Indonesia, belum banyak komunitas teater yang mengembangkan konsep ini.

Ia melihat masih banyak grup/komunitas teater yang menciptakan sekat dan ikatan-ikatan yang kaku, sehingga aktivitas tidak bekerja pada perspektif yang lebih kaya dan beragam.

Di komunitas Teater Tanah Air, Bang Jos tidak bekerja sendiri. Ada penata tari dan penata gerak yang dapat membantu kerja penyutradaraan.

“Saya bekerja dengan penata tari dan penata musik. Bukan saya tidak mengerti tari atau musik, tapi kalau ada yang lebih ahli, mengapa saya tidak mau bekerja sama?” ungkapnya.

Pentas "HELP" oleh Teater Tanah Air besutan Jose Rizal Manua. -Dok. ist.
Pentas “HELP” oleh Teater Tanah Air besutan Jose Rizal Manua. -Dok. ist.

Kembalikan Spirit Gotong Royong

Seperti arti namanya, lakon “HELP” sarat makna. Salah satunya adalah tentang kekuatan spirit gotong royong dan kerjasama menjadi untuk membangun kehidupan.

Dalam skala ruang yang lebih luas, lakon ini ingin menghembuskan makna semangat gotong royong untuk membangun bangsa Indonesia yang begitu besar dan kaya.

Tidak ada gotong royong maka tiap orang akan bekerja menurut ego sektoralnya dan itu justru memecah belah kesatuan.

Apalagi di tengah kedasyatan paparan teknologi informasi, spirit dan jiwa gotong royong ini tampak makin terkikis dari kebudayaan bangsa.

“Tujuannya untuk mengingatkan kepada masyarakat akan pentingnya kerjasama, semangat gotong royong, kalu kita mau capai sesuatu, kita harus melakukannya bersama-sama, tidak bisa sendiri-sendiri,” katanya.

Dalam lakon “HELP”, spirit kerjasama itu dimunculkan lewat adegan dua penjahat yang menyamar sebagai robot alien berniat mencuri bulan. Anak-anak yang tak ingin kehilangan bulan pun bahu membahu mengusir robot jahat itu.

Bulan bagi anak-anak merupakan representasi kebahagiaan dan mimpi yang harus dipertahankan. Lewat syair-syair lagu, mereka mengecam dan menyerukan agar segala bentuk perang segera dihentikan.

Metode ‘Masuk Ke Dalam Alam’

Untuk merancang sebuah pertunjukan yang melibatkan banyak anak, Bang Jos memiliki metode khusus agar anak-anak tersebut tampil bergembira di atas panggung.

Salah satu metode yang dipakai dan dianggap tepat untuk memberdayakan kemampuan anak-anak, yaitu apa yang disebutnya sebagai metode “Masuk Ke Dalam Alam, Keluar dari Kebudayaan”.

“Masuk ke dalam alam” maksudnya adalah bagaimana anak-anak masuk ke dalam naluri alamiahnya untuk melakukan gerakan, mimik, dan ekspresi sesuai apa yang mereka pikirkan atau imajinasikan.

Misalnya, dalam proses latihan, anak-anak diminta untuk berimajinasi bagaimana jika tiba-tiba ada kumbang atau ular menyerang.

Misalnya, mula-mula seekor kumbang datang menyerang, lalu kemudian muncul kumbang yang lebih banyak hingga ribuan ekor. Begitu juga ketika berjalan, diserang seekor ular, atau puluhan hingga ribuan ular.

“Gerakan-gerakan itu muncul secara alamiah, bukan muncul dari kebudayaan,” terangnya.

Menurut Bang Jos, metode ini sangat membantu anak-anak untuk bereaksi dan membentuk gerakan tubuh tertentu, baik lewat tangan, kaki, badan, dan lain-lain.

Sebab, pada hakikatnya semua adegan yang ada di pangung adalah fiktif. Namun adegan itu menjadi sebuah realita ketika ketika aktor menghidupkannya.

“Ini menunjukkan bahwa seni teater adalah seni berimajinasi,” ungkapnya.

Lebih lanjut, kata salah satu pujangga Indonesia itu, metode tersebut sangat membantu meleburkan anak-anak ke dalam satu kesatuan komunitas yang tanpa sekat kelas sosial tertentu.

“Kita tidak membedakan lagi mana anak orang kaya dan anak orang miskin. Misalnya soal cara berpakaian. Jadi kalau ada grup teater yang belum menyentuh aspek tersebut, berarti salah dalam metode latihannya,” katanya.

Pencapaian Teater Tanah Air

Sepanjang perjalanan karyanya, Teater Tanah Air telah mengukir prestasi gemilang, tidak saja dalam ranah perteateran Indonesia, tapi juga di kancah global.

Tahun 2004, Teater Tanah Air berhasil meraih prestasi internasional, dengan memperoleh 10 medali emas pada “The Asia-Pasific Festival of Children’s Theatre” di Toyama, Jepang.

Kemudian, tahun 2006, Teater Tanah Air kembali meraih 19 medali emas pada 9th World Festival of Children’s Theatre di Lingen, Jerman.

Tahun 2008, Teater Tanah Air menjadi The Best Performance pada 10th World Festival of Children’s Theatres di Moskow, Rusia.

Pada tahun 2013, Teater Tanah air juga meraih gelar The Best Performance dalam ajang Festival Teater Anak Dunia atau International Childrens Festival of Performing Arts, di New Delhi, India.

Tahun lalu, kelompok teater anak-anak yang bergiat latihan di TIM Jakarta ini mendapat predikat “Best Performance” pada “15th World Festival of Children’s Theater” di Lingen (Ems) Jerman pada tanggal 22-29 Juni 2018.

Baca Juga

Viral! Pisang Karya Maurizio Cattelan di Art Basel Miami Dibandrol Rp1.7 Miliar

Portal Teater - Karya instalasi seniman eksentrik Italia Maurizio Cattelan berupa pisang yang dipamerkan oleh Galeri Perrotin pada Art Basel di Miami, Amerika Serikat,...

Dukung Kerja Kesenian, Pemerintah Minta Seniman Daftar Lewat Aplikasi Online

Portal Teater - Sebuah kabar gembira datang di penghujung tahun 2019 buat pegiat atau pelaku kesenian di seluruh Indonesia. Pemerintah melalui Direktorat Kesenian, Direktorat Jenderal...

Hahan Bangkitkan Memori Warga Dresden tentang Raden Saleh Lewat Lukisan

Portal Teater - Seniman asal Yogyakarta Uji Handoko Eko Saputro, atau akrab disapa Hahan, baru saja memamerkan lukisan kolosal Raden Saleh dengan Pop Art...

Terkini

Ugo Untoro: Melukis Lebih Dekat tentang Personalitas Diri

Portal Teater - Duabelas tahun lalu pameran seni visual Ugo Untoro bertajuk "Poem of Blood" di Galeri Nasional Indonesia Jakarta, 12-26 April 2007, menghebohkan...

Tutup Tahun, JCP Persembahkan Konser Special “Tribute to Farida Oetoyo”

Portal Teater - Jakarta City Philharmonic dan Ballet Sumber Cipta mempersembahkan konser spesial akhir tahun bertajuk Tribute to Farida Oetoyo pada Jumat (13/12), pukul...

Ini Daftar 20 Dance Film Yang Lolos Kompetisi IMAJITARI 2019

Portal Teater - Ada 20 karya dance film yang dinyatakan lolos ke tahapan sesi kompetisi helatan IMAJITARI “International Dance Film Festival” 2019. Dari 20...

Selama 43 Tahun, Kritik Seni Rupa Indonesia Masih Sebatas “Pengantar”

Portal Teater - Ketika kembali ke Indonesia setelah menempuh pendidikan doktoralnya di Prancis tahun 1981, Sanento Yuliman mulai aktif menulis kritik seni rupa di...

Mahasiswa Prodi Teater IKJ Pentas “Macbeth” dengan Konsep Kekinian

Portal Teater - Mahasiswa Program Studi Teater Institut Kesenian Jakarta (IKJ) dengan bangga akan mementaskan "Macbeth" karya William Shakespeare di Gedung Teater Luwes IKJ,...