Mei 15, 2021

Portal Teater

Periksa halaman ini untuk berita utama terkini Indonesia,

Gempa ke-39 kembali mengguncang Majeen dan Mamuju

KOMPAS.com – Wilayah Majene dan Mamuju di Provinsi Sulawesi Barat kembali terguncang Gempa bumi Bumi Tektonik 12.11 WITA, Senin (18/1/2021).

Pusat gempa dilaporkan di bawah dasar Samudera Pasifik, namun tidak ada peringatan tsunami yang dikeluarkan untuk hari kelima berturut-turut.

Pusat gempa dilaporkan di bawah dasar Samudra Pasifik, namun tidak ada peringatan tsunami yang dikeluarkan. Pusat gempa dilaporkan di bawah dasar Samudra Pasifik, menurut Survei Geologi AS.

“Warga kembali kaget dan panik pasca gempa kuat sebelumnya,” kata Tariono. Compass.com, Senin (18/1/2021).

Baca juga: 4 Fakta tentang gempa Mazeen, tindak lanjut yang tak terduga

Bagian tengahnya juga disebutkan Gempa bumi Yang terjadi terletak di koordinat 2,91 LS dan 118,99 BT.

Lokasi tepat tanah terjadi pada kedalaman 10 km, 27 km tenggara kota Mamuju.

Seperti rangkaian gempa sebelumnya, gempa yang satu ini merupakan gempa dangkal dengan mekanisme sesar propulsi akibat beroperasinya kesalahan Mamuju-Majene.

Gempa bumi Hal ini membuat Majene dan Mamuju shock tingkat parahnya MMI II dan tidak ada kemungkinan tsunami.

Gempa susulan Perlahan, tapi bisa terjadi lagi

Menurut Tariono, meski gempa melanda 39 kali, itu masih insiden Gempa Mamuju Dan Majen mengakui bahwa produktivitas resesi berjalan lambat.

Gempa kuat berkekuatan 6,2 pada skala Richter tidak diperlukan pada hari kelima39 Kemunduran,” dia berkata.

Hal ini karena pada umumnya gempa bumi tipe superficial crustal dengan kekuatan lebih dari 6,0 biasanya mendekati 100 gempa susulan pada hari kelima.

“Melihat produktivitas resesi yang rendah, kami yakin ini pertanda baik, namun kami tetap harus waspada,” ujarnya.

Baca juga: PMKG mengungkap sejarah gempa di Sulawesi Barat, gempa Majen sebelumnya

READ  Kombase KLP Partai Demokrat Hadi Sipolangit Bicara soal, berikut adalah kalimatnya

E.P.A. Para korban gempa Mamuju mengungsi ke luar rumah mereka.

Dipercaya bahwa kondisi minimum gempa akan terus berlangsung dan tidak akan ada gempa kuat hingga kemudian kondisi tektonik di zona seismik akan stabil dan kembali normal.

“Meski kami yakin tidak akan ada gempa kuat lagi, kemunduran dengan kekuatan kecil biasanya masih akan terjadi,” jelasnya.

Pasalnya, saat ada gempa besar atau Guncangan utama, Terbentuk pecahnya kerak bumi, membentuk massa batuan besar di bawah permukaan.

Perpindahan besar balok-balok batuan ini akan memicu ketidakseimbangan gaya tektonik di zona seismik.

Hal ini karena, biasanya setelah gempa kuat, muncul gaya tektonik yang menggerakkan balok batuan ke belakang untuk mencari kesetimbangan baru menuju kondisi stabil.

Jadi, untuk mencapai titik itu, balok-balok batu tiba-tiba kembali, yang memanifestasikan dirinya sebagai efek samping.

“Fenomena ini akan terus berlanjut hingga tercapai kesetimbangan tektonik, setelah itu kondisi batuan akan sepenuhnya stabil dan menjadi aman kembali,” ujarnya.

Baca juga: Gempa Majene yang didorong oleh Mamuju-Majeen dipicu oleh kesalahan, PMKG menjelaskan