Kemendalaman Simbol dalam Lakon “Kursi-Kursi” Teater amatirujan

Dipentaskan pada FTJ 2019 di Teater Kecil, TIM Jakarta, Senin (25/11) malam.

Portal Teater – Pertunjukan akrobatik Dediesputra Siregar yang memerankan Carel dalam pementasan “Kursi-Kursi” karya Eugene Ionesco sungguh mumpuni. Tentu, hal itu didukung oleh teknik pengolahan tubuh yang baik. Padahal usianya tak lagi muda.

Bagi seorang aktor berusia 50 tahun seperti dirinya, ia akan lebih hati-hati dalam mencari dan memilih bentuk pertunjukan. Tapi, berperan sebagai tokoh protagonis, ia justru memperlihatkan kinerja keaktorannya tak termakan usia.

Berdiri pada tiga lapis kursi yang tersusun ke atas (seperti pada foto thumbnail), tubuhnya masih lentur dan kuat, meski terlihat tergopoh karena memerankan usia Carel yang ditaksir sekitar 80-an tahun.

Tidak hanya di situ. Pada akhir cerita, bersama istrinya, Semiramis (diperankan Taufik Adi Nugroho), menaiki sebuah tower yang tersusun dari kursi-kursi. Tower itu terpancang menjulang di ujung kanan panggung di dekat kursi penonton.

Adegan-adegan ini dengan gamblang memperlihatkan kebersatuan dua-tubuh, yaitu antara Carel dan Dediesputra. Seolah keduanya berdiri pada kekuatan yang sama untuk merayakan kejayaan mereka pada masa muda.

Itulah sepenggal impresi yang tercerap dari pertunjukan Teater amatirujan pada Senin (25/11) malam di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

Lakon itu berkisah tentang absurditas nilai dan makna hidup manusia setelah segala sesuatu yang dianggap penting dan berguna tak pernah memberi jawaban final terhadap pencaharian kebahagiaan.

Diceritakan, Carel dan Semiramis, sepasang suami-istri, berada pada masa tua yang berusaha menepis tumpukan kebosanan dari pelupuk mata mereka.

Carel lebih memilih merenungkan nasib dan ingatan-ingatannya di tepian laut. Melihat laut lepas seperti mampu menumpahkan semua kejenuhan masatua dan kepikunannya. Hal itu menjadi rutinitas hariannya.

Keduanya hidup dan tinggal seperti di sebuah pengasingan. Sebuah rumah di tengah lautan lepas. Lingkungan tanpa dunia sosial. Itulah yang mempertebal kebosanan mereka.

Sampai akhirnya Carel menyusun kursi-kursi untuk menggapai semua harapan dan kenangan yang seperti tak pernah dimilikinya lagi.

Namun ia tak memiliki bahasa yang cukup untuk melukiskan kenangan dan kejayaan di masa lalu, sehingga meminta seorang juru bicara untuk menyampaikannya.

Semua tamu, dari kalangan biasa sampai petinggi negeri diundang untuk mendengar cerita itu. Seolah-olah sangat penting. Ketika semua tamu hadir, juru bicara yang diminta pun datang.

Namun ternyata ia hanyalah seorang bisu dan tuli. Ia hanya menulis kata-kata yang tak dipahami manusia di sebuah gulungan kain pada pintu rumah mereka.

Penggalian Simbol Yang Mendalam

Seperti berada di luar konsep pemanggungan mainstream, Teater amatirujan lewat lakon ini menggarapnya melalui penggalian yang mendalam terhadap simbol-simbol.

Lentera, kursi-kursi, tower, daun-daun pintu yang bergerak, adalah media-media simbolik yang dihadirkan grup teater berbasis Jakarta Utara ini.

Dengan membacanya melalui kacamata Martin Esslin terhadap karya Ienesco ini, Teater amatirujan mengkonvergensikan simbol dengan intertekstualitas, bahasa bunyi dan penggalian akrobatik tubuh-benda secara memadai.

Simbol lentera, misalnya, yang dihadirkan pada adegan pembuka dan tetap menyala sepajang pemanggungan mendesak penonton untuk kembali ke masalalu hidupnya, yaitu ketika masyarakat belum digempur revolusi industri.

Lentera juga menjadi simbol bahwa keduanya jauh dari keramaian kota. Mereka tidak pernah mengalami lagi situasi ‘jaya’ dalam hidup mereka seperti hidup mereka.

Cahaya lentera adalah setitik api harapan yang masih menyala di dalam hidup mereka.

Demikian halnya dengan kehadiran tumpukan kursi di atas panggung. Meski terlihat hanya akan mengundang kebosanan dari penonton karena tak melihat keindahan apapun di atasnya, tapi bila dirasakan secara intim, tumpukan itu seperti magnet yang menarik emosi penonton ke panggung.

Tumpukan kursi tidak hanya di tepian panggung depan, tapi juga di tengah, dan di belakang setelah tirai layar digulungkan. Selang beberapa menit, setidaknya enam menit, penonton hanya terdiam, dan tidak mengerti apa-apa tentang tumpukan itu.

Panggung hening tanpa aktor. Tak ada suara, bunyi ataupun musik. Tapi cahaya putih di belakang panggung yang mengarah ke derekan kursi di atasnya membuat panggung tak kosong. Di hadapan penonton ada segudang kursi.

Tumpukan kursi itu sebenarnya merupakan kursi-kursi yang disiapkan Carel dan Semiramis untuk menyambut kedatangan para tamu yang begitu banyak ke rumah mereka.

Setelah beberapa kursi tertata di ruang tamu, keduanya pun menderek puluhan bahkan ratusan kursi lain dari mana-mana bagi tamu-tamu mereka.

Beberapa penonton beranjak pergi karena merasakan sendiri apa arti kebosanan sebagaimana dialami Carel dan Semiramis. Sutradara Dediesputra dengan lihai menghadirkan emosi itu di benak penonton, agar dapat masuk ke dalam tubuh pertunjukan.

Terbilang sukses karena penonton mulai tidak sabar menghadapi situasi kejenuhan yang dipantulkan dari pengalaman kedua pasangan suami istri itu. Kesabaran sedang diuji, dan banyak yang tidak mampu menghadapinya.

Padahal justru pada titik itulah, pertunjukan ini ingin membawa penonton masuk ke dalam tanda yang dihadirkannya (yaitu kursi), untuk melihat di mana ‘kursi’ yang ditempatinya, atau ingin ditempatinya: kursi teratas, kursi tengah, atau kursi terendah.

Selan enam menit, keduanya masuk ke panggung, seolah tumpukan kursi itu melemparkan mereka ke ruang lain yang begitu lebar. Sambil memanggil-manggil, keduanya pun bertemu dan berpelukan.

Berupaya mencari jalan di antara tumpukan kursi, keduanya siap menyambut tamu paling terakhir dan paling agung, yaitu sang Baginda. Merangkak lalu melesat dari tumpukan kursi itu adalah cara terbaik bagi mereka.

Sang Baginda telah datang dan disambut dengan ala kadarnya. Sembari memperkenalkan diri sendiri, mereka juga memperkenalkan tamu-tamu lain yang telah menanti Baginda.

Baginda, bagi Teater amatirujan adalah penguasa politik yang kemudian dihubungkan dengan kenangannya tentang taman. Karena itu, Baginda harus mendengarkan kisah tentang taman itu. Sebab taman itu begitu berharga di masalalu.

Secara simbolik, Teater amatirujan menyentil problem Taman Ismail Marzuki, Jakarta, yang belakangan ini sedang dipergunjingkan oleh seniman di Jakarta karena konsep pembangunannya dianggap menyimpang dari marwah dasarnya di masalalu.

Dengan mereposisi simbol tersebut, Teater amatirujan telah mengeluarkan absurditas tanda yang dihadirkan dalam naskah ini. Tidak lagi berbicara tentang kenangan dan harapannya pribadi, tapi justru kenangan itu menyangkut memori kolektif penonton.

Pada titik itulah pertunjukan ini menjadi menarik karena penonton tampak lebih aktif dan masuk ke dalam tubuh pertunjukan, meski tetap bersetia pada panggung proscenium.

Yang lebih menarik lagi, ketika turun dari proscenium untuk menyambut Baginda, keduanya pun berciuman di bawah tower. Penonton meledak tertawa karena melihat keanehan terjadi dalam adegan itu.

Menjadi aneh karena istrinya Semiramis justru diperankan oleh Taufik Adi Nugroho yang adalah seorang laki-laki. Karenanya, adegan itu dapat dilihat sebagai praktik homoseksualitas.

Tapi, mengapa adegan tersebut ditampilkan jika memang secara moral, agama dan sosial dianggap sebagai keanehan? Apakah itu memang simbol perayaan kenangan lain di masalalu Carel dan Semiramis?

Selain Taufik yang berubah menjadi seorang perempuan, adegan itu dapat ditafsir dalam beberapa sudut pandang. Salah satunya, Teater amatirujan ingin meruntuhkan konstruksi sosial yang ada dalam pengalaman penonton, yang menganggap homoseksualitas sebagai hal yang menyimpang. Barangkali.

Di akhir cerita mereka, bukannya menyongsong si juru bicara, dan melayani tamu-tamu, keduanya malah memanjat tower dan berpikir dengannya keduanya mampu mengusir semua kejenuhan akut.

Barangkali membangun tiang tinggi dan menaikinya ke langit menjadi cara tersahih untuk memaknai kehidupan ini. Tapi, apakah menaiki tangga yang tersusun dari kursi-kursi itu seperti menaiki tangga ke surga, tempat di mana manusia mengalami kebahagiaan purna?

Kiranya simbol-simbol yang dihadirkan tidak serta merta dapat dibaca secara langsung. Ada sisipan makna tersembunyi yang ingin disampaikan sutradara dalam lakon ini.

Selain konsep artistik yang penuh simbol-simbol, pertunjukan ini juga diperkuat dengan instrumen musik bergenre kontemporer, baik sebagai iringan biasa maupun sebagai ledakan untuk mempertebal pemeranan.

Begitu pula dengan pencahayaan. Kedatangan para tamu disimbolkan dengan siluet cahaya yang dipancarkan dari sisi kiri tribun penonton. Dan untuk mengaktifkan kinerja tim, para aktor seperti berbicara dengan penata cahaya untuk melihat respon penonton.

Memang tidak banyak penonton yang menonton pertunjukan ini. Bisa jadi karena ia belum memiliki penonton bawaan seperti grup-grup sebelumnya yang massanya meluber di gedung pertunjukan.

Namun, sebenarnya memiliki penonton bawaan memiliki kelebihan dan kekurangan tersendiri. Terlepas dari kelebihannya, kekurangannya adalah terciptanya eksklusivitas penonton, sehingga Festival Teater Jakarta terlihat sepi penonton.

Artinya, FTJ secara mandiri belum memiliki penonton tersendiri.

Carel dan Semiramis berupaya melewati tumpukan kursi untuk menyongsong kedatangan sang baginda dalam pentas "Kursi-Kursi" karya Eugene Ionesco pada FTJ 2019, Senin (25/11) malam. -Dok. portalteater.com
Carel dan Semiramis berupaya melewati tumpukan kursi untuk menyongsong kedatangan sang baginda dalam pentas “Kursi-Kursi” karya Eugene Ionesco pada FTJ 2019, Senin (25/11) malam. -Dok. portalteater.com

 

Tim Produksi

Sutradara: Dediesputra Siregar
Penata musik: Dediesputra Siregar
Penata artistik: Dediesputra Siregar
Penata cahaya: Jipin dan Gamek
Penata busana: Rio
Pendukung lain: Imam, Herie, Ari, Asep, Dimas, Ompong, dll.

Tentang Teater amatirujan

Teater amatirujan berawal dari Hujan Matahari pada 2016, yang kemudian menjadi Matahari Hujan pada tahun 2018. Saat ini beranggapan untuk menjadi Teater amatirujan pada FTJ 2019.

Grup teater berbasis Jakarta Utara ini adalah kelompok lintas seni, individu dan komunitas, sebagai upaya membuka peluang kolaborasi.

Teater amatirujan (dengan a huruf kecil) didirikan dan disutradarai Dediesputra Siregar. Lahir di Binjai, 5 Desember 1969, Sumatra Utara, Dedies adalah lulusan Akademi Bahasa Asing Jurusan Bahasa Inggris Universitas Borobudur Jakarta Timur 1990-1991.

Tahun 2000-2001 seniman yang menyukai kesenian sejak kanak-kanak ini menempuh pendidikan pada jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Terbuka Jakarta.

*Daniel Deha

Baca Juga

“New Normal” Kesenian: Melampaui Protokol, Menyadari Risiko

Portal Teater - Empat bulan setelah kasus virus corona (Covid-19) muncul pertama kali di Indonesia pada Maret, pemerintah akhirnya menetapkan kondisi "new normal". Berbagai kegiatan...

Gubernur Lampung Kukuhkan Akademi Lampung dan DKL Periode 2020-2024

Portal Teater - Gubernur Lampung Arinal Djunaidi melalui Sekretaris Daerah Provinsi Lampung Fahrizal Darminto resmi mengukuhkan pengurus struktural Akademi Lampung dan Dewan Kesenian Lampung...

Terkini

Gubernur Lampung Kukuhkan Akademi Lampung dan DKL Periode 2020-2024

Portal Teater - Gubernur Lampung Arinal Djunaidi melalui Sekretaris Daerah Provinsi Lampung Fahrizal Darminto resmi mengukuhkan pengurus struktural Akademi Lampung dan Dewan Kesenian Lampung...

“New Normal” Kesenian: Melampaui Protokol, Menyadari Risiko

Portal Teater - Empat bulan setelah kasus virus corona (Covid-19) muncul pertama kali di Indonesia pada Maret, pemerintah akhirnya menetapkan kondisi "new normal". Berbagai kegiatan...

Kolaborasi sebagai Praktik Intervensi Membongkar Kebekuan Teater

Portal Teater - Mengapa praktik-praktik penciptaan karya seni sekarang mengarah ke kerja kolaborasi? Praktik-praktik kolaborasi dalam kerja artistik terutama berakar ketika mulai munculnya studi-studi inter-kultur,...

Museum MACAN Gandeng OPPO Gelar “Arisan Karya” Edisi Terakhir

Portal Teater - Setelah sukses di dua ronde pertama, Museum MACAN kembali menggelar program "Arisan Karya" edisi terakhir. Program suntikan motivasi bagi ekosistem seni Indonesia...

Rudolf Puspa: Menggelorakan Berkesenian

Portal Teater - Saya masih ingat ketika pada tahun 2016 Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy menyerukan kepada penyelenggara pendidikan untuk menggelorakan aktivitas kesenian. Saya...