Komite Tari DKJ Gelar “IMAJITARI” sebagai Ajang Sosialisasi Dance Film

Portal Teater – Komite Tari Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) kembali menggelar IMAJITARI “International Dance Film Festival” sepanjang 12-13 Desember 2019 di Art Cinema FFTV Institut Kesenian Jakarta.

Program ini dirancang sebagai salah satu upaya sosialisasi seputar dance film kepada para koreografer, sutradara, maupun publik yang tertarik mendalami dance film.

Tidak hanya bagi seniman lokal, tapi juga membuka kolaborasi dan pertukaran gagasan dan budaya dengan pelaku seni tari luar negeri.

Atau secara geopolitik, program ini ingin menjadikan Indonesia sebagai brand dan pusat baru kegiatan film tari internasional.

Sebagai festival yang berbasis pada genre baru, festival ini berupaya untuk lebih membuat standar pengertian film tari yang lebih fokus antara hubungan koreografi dan sinematografi.

Karya-karya yang sangat diapresiasi pada program ini adalah karya film tari yang membawa kemungkinan-kemungkinan terhadap pendekatan yang eksperimentatif antara koreografi dan sinematografi tersebut.

Ketua Komite Tari DKJ Yola Yulfianti. -Dok. youtube.com
Ketua Komite Tari DKJ Yola Yulfianti. -Dok. youtube.com

Masih Mandek

Ketua Komite Tari DKJ Yola Yulfianti mengatakan, perkembangan dance film di Indonesia memang mengalami kemandekan. Sejak mulai dikembangkan oleh Sardono W. Kusumo para era 1970-an, belum ada lagi muncul produksi film tari yang kuat.

Sembari menjelajahi perkembangan film tari di luar negeri, Komite Tari DKJ berniat membuka program ini agar koreografer Indonesia lebih produktif berkarya dan memiliki ruang alternatif selain gedung pertunjukan konvensional.

Selain itu, dengan platform ini, Komite Tari DKJ berupaya meraba bentuk film tari yang barangkali dapat dikembangkan di Indonesia sebagai satu ekosistem baru yang memberdayakan kinerja dunia seni tari Indonesia.

“Sekarang perkembangannya hampir tidak ada. Ini baru muncul lagi ketika ada Imajitari. Sebab kita masih punya persoalan mendasar antara tubuh, tari dan medium film,” katanya di Jakarta, Senin (9/12).

Meski demikian, kita patut berbangga karena ternyata kreativitas koreografer Indonesia tidak kalah jauh dengan koreografer luar negeri.

Tahun lalu ketika program ini pertama kali digelar, ada tiga karya koreografer lokal yang meraih prestasi terbaik pada kompetisi yang diikuti 44 peserta dari seluruh dunia, sepanjang 22-25 Oktober di Kineforum dan Gedung Kesenian Jakarta (GKJ) tersebut.

Adalah Weaving Anteh (Indonesia) dan Breathe yang disutradarai Sammaria Simanjuntak dan koreografer Marintan Sirait. Keduanya berasal dari Bandung. Ada juga Another I dengan sutradara dan koreografer Kresna Kurnia Wijaya.

Dari luar negeri ada Vestiges of Dissapear (Korea Selatan) sutradara dan koreografer Jinyoung Park; Misogyny Pandora (Chili) sutradara Felipe Diaz dan koreografer Javiera Acuna Rosati; dan Over a Low fFame (Israel) sutradara Amit Sides dan koreografer Yaara Moses.

Pengajar pada Pascasarjana IKJ ini menjelaskan, tahun ini IMAJITARI diikuti oleh 77 negara dengan sekitar 640 film tari yang akan dilombakan.

Enam karya dari peserta lomba akan dipilih menjadi karya terbaik sesuai kriteria kuratorial Komite Tari DKJ dan penilaian Dewan Juri.

“Pesertanya sudah beragam. Dari Indonesia, palingan cuman 20-an. Kebanyakan dari luar. Dari India sebanyak 69 film tari, dan juga dari Amerika Latin. Dari Indonesia ada yang dari Solo, Jakarta, dan Yogyakarta,” terangnya.

Karena itu, penerima Program Hibah Seni Perempuan Yayasan Kelola tahun 2014 dan 2015 itu berharap event ini terus dijalankan secara kontinu ke depannya.

IMAJITARI menjadi kesempatan bagi koreografer Indonesia berkompetisi dengan seniman-seniman luar negeri yang karya-karyanya yang barangkali sudah lebih maju.

“Di mana menjadi tempat belajar tentang pertukaran budaya bagi teman-teman korefografer Indonesia,” ungkapnya.

Masih Langka

Pelaksana Tugas (Plt.) Ketua DKJ Danton Sihombing mengatakan, Indonesia masih langka memproduksi film tari sebagai ruang alternatif ekspresi seni bagi seniman tari dan film.

Karena itu, program IMAJITARI digagas oleh Komite Tari DKJ merupakan salah satu upaya mengakrabkan film tari kepada akademisi seni tari dan film, koreografer, sutradara, dan publik.

Film tari merupakan bagian dari estetika seni pertunjukan tari itu sendiri, hasil eksplorasi artistik tari dan interpretasi sinematik dari karya tari yang melibatkan koreografi kamera.

Karenanya, kamera diperlakukan sebagai tubuh bagi dirinya sendiri yang berkontribusi pada pembacaan makna konotatif dan denotatif dari sebuah tarian.

“Film tari menggunakan aspek fisik dan spasial yang melekat pada tarian serta kemampuan visual dan temporal film untuk menciptakan media ekspresi baru,” katanya melalui pernyataan tertulis, Minggu (8/12).

Dengan platform ini, kata Danton, diharapkan film tari dapat mempermudah dan mempercepat proses pertukaran budaya, meminimalisir biaya produksi, dan memperkaya perbendaharaan artistik para koreografer.

“Kegiatan-kegiatan dalam IMAJITARI seperti kompetisi, diskusi, dan pemutaran film tari terpilih diikhtiarkan dapat memperluas ruang lingkup genre seni tari di Indonesia dan menamatkan masa keterasingan film tari selama ini,” tutupnya.

Sebagai informasi, film tari yang dilombakan dalam festival ini diproduksi maksimal 2 tahun terakhir dengan durasi karya 3-20 menit, dan tiap peserta boleh mendaftarkan maksimal 2 film.

Sementara untuk kategori film tari pada Instagram, durasi filmnya hanya satu menit. Pendaftarannya telah ditutup pada 28 November 2019 lalu.

Pada acara puncak, penyelenggara akan memberikan penghargaan “Best Dance Film-IMAJITARI 2019” kepada enam pemenang di dua kategori.

Yang mana, untuk Dance Filmmakers akan dipilih 3 film tari terbaik kompetisi umum dan 3 film tari kompetisi Instagram.

Rundown Acara

Berikut rundown acara IMAJITARI 2019.

Kamis, 12 Desember 2019
Pukul 14.00-16.00
Pemutaran 10 film tari terpilih.

Pukul 16.30 – 19.30
Pemutaran film tari Sardono W. Kusumo dan diskusi/Nara Sumber: Sardono W. Kusumo/Pembicara: Duha Ramadani/Moderator: Akbar Yumni.

Jumat, 13 Desember 2019
Pukul 14.00-16.00
Pemutaran 10 film tari terpilih

Pukul 16.30-18.30
Pemutaran film tari Maya Deren (USA) dan diskusi/Pembicara: Dedih Nur Fajar Paksi/Moderator: Akbar Yumni

Pukul 19.00-21.00
Malam penganugerahan film tari terbaik Imajitari 2019.*

Baca Juga

Teater Lorong Yunior Eksplorasi Kreativitas Anak Lewat Lakon “Sang Juara”

Portal Teater - Teater Lorong Yunior  mengeksplorasi kreativitas anak-anak lewat pementasan drama musikal "Sang Juara" pada Minggu (19/1) di Gedung Kesenian Jakarta. Lakon ini mengangkat...

Juni Nanti, Museum Nasional Pamerkan 1.500 Koleksi Museum Delft

Portal Teater - Museum Nasional Indonesia berencana memamerkan 1.500 benda-benda budaya koleksi eks Museum Nusantara Delft, Belanda, pada Juni mendatang. Mengutip historia.id, pameran benda-benda hasil...

Pematung Dolorosa Sinaga Jadi Direktur Artistik Jakarta Biennale 2020

Portal Teater - Pameran seni kontemporer Jakarta Biennale kembali menyapa warga kota Jakarta tahun ini. Diadakan tiap dua tahun sekali untuk "membaca" identitas kota...

Terkini

TEKO UI akan Pentas Teater Musikal Skala Besar di GKJ

Portal Teater - Teater Psikologi Universitas Indonesia (TEKO UI) akan mempersembahkan pentas teater musikal dengan skala besar selama dua hari, pada 13-14 Februari 2020...

“Anak Garuda”, Sebuah Inspirasi Merawat Mimpi

Portal Teater - "Anak Garuda", sebuh film yang diproduksi Butterfly Pictures telah resmi tayang perdana di seluruh bioskop di tanah air pada Kamis (16/1)...

Pematung Dolorosa Sinaga Jadi Direktur Artistik Jakarta Biennale 2020

Portal Teater - Pameran seni kontemporer Jakarta Biennale kembali menyapa warga kota Jakarta tahun ini. Diadakan tiap dua tahun sekali untuk "membaca" identitas kota...

“Senjakala” Kritik Seni di Era Digital

Portal Teater - Komite Seni Rupa Dewan Kesenian (DKJ) telah sukses menggelar pameran "Mengingat-ingat Sanento Yuliman (1941-1992)" di Galeri Cipta II, Taman Ismail Marzuki,...

Mengomentari Sanento Yuliman Hari Ini

Portal Teater - Saya bukan seorang seniman, tetapi sangat menikmati tulisan-tulisan Sanento Yuliman. Dia menulis untuk dipahami orang seperti sebuah tanggung jawab. Dia tidak...