Maret 1, 2024

Portal Teater

Periksa halaman ini untuk berita utama terkini Indonesia,

Kuliah Sains Prof.  Surjamando: Mengungkapkan berbagai solusi mengatasi urban heat island untuk mengurangi permasalahan termal di perkotaan

Kuliah Sains Prof. Surjamando: Mengungkapkan berbagai solusi mengatasi urban heat island untuk mengurangi permasalahan termal di perkotaan

Salah satu yang menyampaikan ceramahnya adalah Prof. Dr. Ira Surjamanto Wonorahardjo dari Sekolah Arsitektur, Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan (SAPPK) ITB, MT. Topik yang diberikan oleh Prof. Surjamondo adalah “Pengembangan Teknologi Pengendalian Lingkungan Termal pada Bangunan Gedung dan Kawasan Perkotaan”.

Ia menjelaskan, material yang digunakan dalam konstruksi bangunan merupakan salah satu faktor yang memiliki dampak paling besar terhadap iklim perkotaan. Hal ini bisa terjadi karena bahan bangunan berperan sebagai selubung yang menutupi seluruh bangunan.

Kemudian selubung ini menerima energi dari matahari dan menyimpannya dalam bentuk panas yang kemudian dipancarkan ke lingkungan dalam bentuk gelombang panjang atau inframerah. Fenomena ini kemudian menciptakan lingkungan termal di sekitar bangunan perkotaan.

Di awal pemaparannya, Prof. Bangunan yang terbuat dari batu bata, beton, aspal, dan material berat lainnya cenderung mengeluarkan panas lebih banyak dibandingkan material yang lebih ringan seperti kaca, kata Surjamanto. Hal ini terlihat dari kamera infra merah atau thermal imager yang mengeluarkan warna dominan merah saat memeriksa benda berat.

“Material konstruksi, terutama material berat seperti beton dan aspal, melepaskan emisi panas ke lingkungan sehingga fenomena urban heat island tidak dapat dihindari.

Kerusakannya sangat serius. “Hujan es, banjir lokal dan berbagai permasalahan terkait pemanasan global termasuk permasalahan yang bisa timbul jika permasalahan tersebut tidak dikendalikan,” ujarnya.

Urban heat island merupakan fenomena peningkatan suhu udara perkotaan dibandingkan wilayah sekitarnya. Menurut Prof. Surjamanto, fenomena ini bukanlah masalah baru karena muncul pada tahun 1818 dan 1820. Namun pengembangan solusi efektif untuk mengatasi masalah ini terus dilakukan hingga saat ini.

Salah satu teknologi yang dirancang untuk mengatasi masalah ini adalah penggunaan isolasi termal pada bangunan. Pada prinsipnya solusi ini dilakukan dengan mengganti dinding bangunan bata dengan dinding sandwich. Penggunaan larutan ini akan mempengaruhi proses aliran panas pada dinding.

Intinya, dinding sandwich ini mencegah aliran panas masuk ke dalam ruangan. Alhasil, ruangan di dalam menjadi lebih sejuk karena dapat memisahkan panas dari luar. Namun pemisahan ini lebih serius karena secara tidak langsung meningkatkan tingkat suhu. di luar, jadi untuk lingkungan tropis, solusinya kurang memuaskan bagi kami,” jelasnya.

Solusi lain adalah Prof. Itu adalah teknologi reflektif, kata Surjamando, yang prinsip di balik solusinya adalah memanfaatkan pantulan sinar matahari pada bahan bangunan. Mengecat beberapa area yang terkena sinar matahari dengan warna putih merupakan upaya untuk menimbulkan proses reflektif.

“Hasil dari teknologi reflektif ini sangat mengesankan. Solusi ini secara langsung dapat mengurangi efek urban heat island pada saat cuaca panas terik. Selain itu, solusi ini dapat mengurangi kehilangan panas di perkotaan meski saat matahari tidak tinggi,” jelasnya.

Di akhir pemaparannya, Prof. Surjamondo menguraikan beberapa solusi alternatif untuk mengatasi masalah pulau panas perkotaan, termasuk peneduh dan selubung cahaya, massa termal internal, dan konversi energi. Teknologi ini terus dikembangkan sehingga solusi yang lebih baik terhadap masalah lingkungan termal ini dapat diselesaikan.

Koresponden: Noor Rama Adamus (Teknik Sipil, 2020)