Rudolf Puspa: Menulislah untuk Keindahan

Portal Teater – Pelajaran awal ketika memasuki jenjang pendidikan tingkat dasar adalah mengenal huruf lalu kata dan kemudian kalimat.

Singkat kata, setelah membaca, lanjut ke mendengar dan bicara, lalu selanjutnya menghitung.

Dengan itu, lengkaplah sudah kemampuan kita sehingga di setiap akhir jenjang pendidikan diadakan ujian akhir.

Sebagai siswa diajarlah untuk mampu menuliskan apa yang sudah diajari selama berada di sekolah sesuai tingkatannya.

Menulis adalah kemampuan untuk menyampaikan pemikiran, pendapat, tanggapan, gagasan untuk disampaikan ke publik.

Dalam bahasa pendidikan, menulis bisa diterjemahkan sebagai makalah, laporan akhir, skripsi, tesis, atau disertasi.

Di profesi yang lain misalnya seniman tentu saja punya terjemahan yang berbeda. Pelukis akan menuliskan gagasan-gagasannya lewat kanvas yang disebut melukis.

Sastrawan melalui karya sastranya seperti novel atau cerpen. Sementara fotografer melalui karya fotonya yang dijepret menggunakan kamera seperti halnya sineas melalui kamera filmnya.

Koreografer lewat karya gerak tari dan musikus lewat peralatan musik dan lagu-lagu.

Teater pun memiliki bahasa tersendiri yakni karya panggungnya. Bisa sendiri yang sering disebut monolog atau pantomim.

Semua bentuk “menulis” merupakan penyampaian gagasan atau ide-ide kreatif seseorang.

Ketika aktor menerima teks dari penulis maka akan dibacanya teks itu. Dipelajari hingga mengenal isi cerita dan menyurut ke peran yang diberikan oleh sutradara.

Maka dengan ilmunya mulailah berkenalan dengan sang peran. Membacanya dan mendengarkan suara peran sehingga menemukan pesan-pesan yang ada dibalik teks.

Ketika sudah menemukan dan meyakini penemuannya benar, ia kemudian berbincang bersama sutradara untuk mendapatkan keputusan final.

Setelah itu, aktor akan mulai “menulis”-kannya di atas panggung.

Apa-siapa-mengapa-dimana-dan-bagaimana peran itulah yang harus bisa didengar serta dilihat penonton lewat sang aktor.

Jika bermain sendiri barangkali menjadi lebih mudah untuk menggiring penonton memahami bahasa aktor dan ikut merasakan apa yang dirasakan aktor.

Tetapi ketika peran bukan satu tapi lebih maka akan kerja keras para aktor diperlukan sehingga tercapai satu komposisi yang komunikatif.

Pementasan "Wek Wek" karya D.Djajakusuma oleh Teater Keliling di BLK Jakarta Selatan. -Dok. Rudolf Puspa.
Pementasan “Wek Wek” karya D.Djajakusuma oleh Teater Keliling di BLK Jakarta Selatan. -Dok. Rudolf Puspa.

Seperti Klub Sepakbola

Itu sama halnya dengan kesebelasan sepak bola. Bagaimana 11 orang bermain bersama dalam satu gerak menyerang dan bertahan sehingga bisa memasukkan bola kejaring lawan.

Hanya orang-orang egois yang sulit bermain sepak bola atau bermain teater di panggung.

Dalam membentuk satu komposisi yang indah diperlukan kemampuan bekerjasama dalam sebuah kebersamaan tujuan.

Untuk itulah diperlukan kehadiran sutradara yang akan menyatukan berbagai tafsir pemain terhadap teks untuk mendapatkan satu visi.

Semua pekerja baik aktor dan teknis hanya berpegang pada satu titik visi yang telah digariskan oleh sutradara.

Perbedaan visi di antara aktor dan manajemen dapat menimbulkan kebingungan pada benak penonton. Itulah yang sering kita dengar pertanyaan orang “apa tema” pementasannya?

Dalam hal satu visi ini bukan hanya dalam teater dijadikan kekuatan namun bisa kita lihat diluar panggung.

Perusahaan besar maupun kecil atau perkumpulan sosial hingga partai dan juga pemerintahan sebuah negara tentulah memerlukan adanya satu visi.

Visi bisa dirangkum dari perbincangan pemimpin dengan bawahannya atau pemilik modal; tapi juga bisa hanya langsung dari sang pemimpin.

Dalam pemerintahan sering disebut paham otoriter atau diktator. Perkara mana yang lebih baik kadang sukar menentukan.

Sebab di dunia banyak contoh negara berpaham komunis, kapitalis, feodalis, atau demokratis sekalipun memiliki dampak yang berbeda-beda terhadap kesejahteraan rakyat.

Ada negara komunis dan rakyatnya sejahtera, tapi ada komunis yang rakyatnya menderita. Begitu juga dengan isme-isme yang lainnya.

Pertunjukan "Dokter Gadungan" karya Molierre saduran Teater Keliling di Auditorium RI Jakarta, 14-17 Maret 2009. Dalam pertunjukan ini, Teater Keliling berkolaborasi dengan gabungan ekskul teater SMA binaannya. -Dok. Rudolf Puspa.
Pertunjukan “Dokter Gadungan” karya Molierre saduran Teater Keliling di Auditorium RI Jakarta, 14-17 Maret 2009. Dalam pertunjukan ini, Teater Keliling berkolaborasi dengan gabungan ekskul teater SMA binaannya. -Dok. Rudolf Puspa.

Menulis untuk Keindahan

Kembali ke permasalahan daya menulis, tiap orang atau kelompok memiliki kemampuan menulis yang berbeda-beda.

Dalam dunia teater, seseorang dituntut agar dapat menulis dengan baik agar penonton ikut senang dan merasakan kenikmatan keindahan seni panggung.

Lebih jauh bisa dikatakan teater menjadi katarsis sehingga orang selalu mencari agenda pentas teater.

Untuk bisa sampai pada tujuan tersebut penggarap teks teater perlu kemampuan prima dalam menyampaikan gagasan lewat tulisan.

Ini tak ubahnya sebagai koki yang hebat dalam memasak makanan sehingga yang pertama kali memakannya langsung jatuh hati dan kenikmatan itulah yang membuat selalu mencarinya.

Seorang koki yang baik adalah mereka yang mampu membuat masakan yang hampir 90 persen menyukainya. Mereka tidak mengeluh dan bertanggung jawab terhadap konsumen.

Seperti halnya di panggung tak peduli mau abstrak, absurd, surealis, realis yang utama adalah komunikatif atau tidak.

Seni adalah bahasa kalbu, ungkapan rasa, sehingga kadang penonton merasa senang bahkan histeris namun tidak bisa mengatakan kenapa.

Teater memang tepat jika ada yang mengatakan dialog dari hati ke hati. Hati sang aktor-lah yang menulis di panggung sehingga hati penonton pun tersentuh.

Menekankan Harmoni

Para aktor yang terjun di dunia nyata jauh lebih rumit kerjanya. Bukan hanya satu dua jam akan menjadi perhatian penonton atau rakyat tapi akan menjadi tokoh yang dibutuhkan selama 5 tahun.

Meski jika di tengah jalan ternyata banyak cacat akan terpaksa dirumahkan dan diganti aktor lain.

Para aktor ini akan menjalankan alat musiknya atas arahan dirigennya. Bukan seenaknya sendiri bekerja sehingga akan mengacaukan bunyi orkestranya.

Improvisasi masih dimungkinkan dalam berkesenian tapi tidak merusak ketukan atau hitungan barnya.

Bisa dibayangkan seperti apa dirigen yang harus berdiri di depan mengarahkan para musisinya selama lima tahun?

Tentu penuh perjuangan yang tidak ringan dan sering sepi pujian namun bertumpuk ejekkan bahkan makian atau hujatan.

Kalau memang kenyataannya gagal memimpin sehingga orckestranya tak mengeluarkan simponi yang indah bisa dipahami jika tahun depannya tidak dipilih lagi.

Namun jika banyak hasilnya baik, meski dengan kekurangan, namun ia masih dihujat, maka itulah risiko menjadi pemimpin.

Bukan Hal Mudah

Menulis sebagai penghujung dari aktivitas belajar atau literasi memang diakui bukan hal yang mudah.

Sejak sekolah dasar hingga perguruan tinggi kita sudah menghabiskan waktu sekitar 14-16 tahun.

Namun ketika waktu pengerjaan skripsi, atu tesis dan disertasi tiba, kita bisa menghabiskan waktu hingga 2 tahun untuk selesai.

Ini menunjukkan betapa tidak mudahnya untuk memiliki kemampuan menulis yang baik.

Kuliah seni teater untuk sampai setingkat S1 saja dibutuhkan 4 tahun pada umumnya. Setelah itu barulah bisa dinyatakan mampu berperan jika jurusannya keaktoran.

Tentu kita pinggirkan bagi mereka yang memang memiliki bakat alam yang sudah terlihat sejak lahir.

Namun dengan semakin canggihnya keilmuan di abad digital ini pastilah jenjang belasan tahun akan bisa dikurangi.

Banyak negara sudah membuktikan mampu melahirkan doktor atau profesor dalam usia relatif muda.

Teknologi mutakhir semakin mampu mempercepat pembangunan fisik, seperti gedung, jalan tol, pelebaran sungai. Mampu melahirkan industri alat transportasi darat, laut, udara hingga ke angkasa.

Logikanya tentu saja juga mampu mempercepat tingkat kecerdasan manusia karena semua kemajuan teknologi juga dihasilkan oleh otak manusia yang terus menerus bekerja.

Perbaiki Sistem

Jika dalam sebuah negara kemajuan pendidikan masih lamban tentu perlu ada evaluasi besar-besaran untuk menemukan penyebab dan sekaligus mengganti dengan sistem yang lebih baik.

Ada pendapat yang mengatakan jika ingin melihat budaya atau kecerdasan sebuah bangsa nontonlah teater, komedi atau lawaknya.

Setinggi apa sih lelucon-lelucon yang disenangi banyak orang?

Asumsi dasarnya adalah bahwa bangsa cerdas pasti leluconnya juga cerdas dari segi intelektualnya.

Karena itu, marilah sama-sama introspeksi dan sekali waktu nonton lawakan kita di televisi atau panggung dan secara jujur tak perlu malu ambil kesimpulan bahwa …

Saya merasa bangga dan senang makin banyak jumlah anak muda memasuki sekolah-sekolah kesenian di segala bidang.

Ini menandakan adanya kesadaran bersama yang mengalir untuk mengasah hati dan batin sehingga mampu membaca, mendengar, bicara dan kemudian menuliskan bagaimana kehidupan berbangsa dan bernegara.

Sebuah kesadaran baru bahwa segala bentuk kekerasan, debat-debat konyol hanya berdasar suka dan tidak suka pada subjek manusia adalah sebuah kebiadaban yang harus diberadabkan.

Rasanya memang Ki Hajar Dewantara benar bahwa pendidikan seni adalah landasan bagi pendidikan secara keseluruhan.

Artinya semua pendidik pada bidang apapun memang orang yang terasah rasa seninya sehingga mampu mengasah para muridnya.

Mereka tidak perlu menjadi seniman untuk memiliki rasa keindahan yang terpuji. Dan para pendidik harus mampu untuk itu.

Salam jabat literasi.

*Rudolf Puspa adalah sutradara senior dan pendiri Teater Keliling, Jakarta. Beliau dapat dihubungi melalui pusparudolf@gmail.com.

Baca Juga

Buntut Corona, FDPS 2020 Disajikan dalam Format Digital

Portal Teater - Festival Drama Pendek SLTA (FDPS) 2020 yang digagas Kelompok Pojok direncanakan diadakan pada April kemarin. Buntut pandemi virus corona merebak di Indonesia...

“Mati Konyol”: Paradoks, Retrospeksi, Kegamangan

Portal Teater - Pintu rekreatif tulisan ini dibuka dengan pertanyaan dari seorang awam, tentang apa uraian dramaturgi, dramaturg, dan drama. Bagaimana ciri, konvensi, guna,...

Teater di Ruang Digital

Portal Teater - Bencana bukan alam sedang menghinggapi sebagian besar negara di dunia dan Indonesia termasuk kebagian. Wabah yang disebut Covid-19 sedang bergentayangan dan belum...

Terkini

Rudolf Puspa: Kiat Terus Berkiprah

Portal Teater - Sebuah catatan sekaligus menjawab pertanyaan seorang ibu, guru Bahasa Indonesia di sebuah SMA di Jakarta, membuat saya segera membuka tembang lama...

“Mati Konyol”: Paradoks, Retrospeksi, Kegamangan

Portal Teater - Pintu rekreatif tulisan ini dibuka dengan pertanyaan dari seorang awam, tentang apa uraian dramaturgi, dramaturg, dan drama. Bagaimana ciri, konvensi, guna,...

Menolak Mati Konyol di Era Konyol

Portal Teater - Uang, teknologi, status sosial, jabatan, pangkat, citra, dan popularitas, barangkali adalah serangkaian idiom yang menghiasi wajah kehidupan manusia hari ini. Menjadi...

Buntut Corona, FDPS 2020 Disajikan dalam Format Digital

Portal Teater - Festival Drama Pendek SLTA (FDPS) 2020 yang digagas Kelompok Pojok direncanakan diadakan pada April kemarin. Buntut pandemi virus corona merebak di Indonesia...

Seni Berkekuatan Daya Getar

Portal Teater - Seni adalah kekuatan yang memiliki daya getar. Bertahun-tahun aku dibimbing pelukis Nashar untuk mempelajari kesenian tanpa ingat waktu, lapar dan kemiskinan. Aku...