Teater Digital KAP: Kembali ke Sumber untuk Bertumbuh

Portal Teater – Setelah satu bulan berselang, Kamateatra Art Project (KAP) Malang kembali menyapa penonton lewat persembahan karya teater terbaru berjudul “Back to Basic”.

Menurut produser pertunjukan KAP Elyda K. Rara, penciptaan teater ini dikemas dalam bentuk teater digital, seperti edisi sebelumnya berjudul “Pandemi Paranoid 19”.

Edisi pertama teater digital KAP ditayangkan pada 21 April lalu, digagas bersama dengan Komunitas Teater Kaki Langit Surabaya.

Sementara edisi kedua ini diproduksi bersama dengan Teater Komunitas berbasis Malang. Pertunjukan akan dirilis pada 17 Mei 2020 pukul 20.00 WIB melalui akun Youtube KAP.

Elyda menerangkan, pertunjukan ini masih bertemakan pandemi virus Corona seperti pertunjukan bulan lalu.

Namun yang membedakannya adalah bahwa dalam edisi kedua ini, sutradara pertunjukan Anwari bergerak lebih jauh ke dalam konteks permasalahan sosial dan budaya masyarakat.

Jika sebelumnya seniman 28 tahun merespon kepanikan masyarakat lantaran hantamana wabah global dan kelahiran mitos-mitos baru, kali ini, Anwari menggali dimensi terdalam hidup manusia.

“Back to Basic” sebagai tajuk utama pertunjukan ini, kata Elyda, ingin meniupkan satu gagasan bahwa ternyata pandemi turut membawa “berkah” bagi kehidupan manusia.

Beberapa contoh, misalnya, udara di kota-kota besar yang makin bersih, es di kutub kembali terbentuk, dan bumi pun sedang melakukan pemulihan, seolah melahirkan benih baru.

Pada akhir bulan lalu, Badan Energi Internasional (IEA) merilis laporan bahwa emisi karbon (CO2) dunia turun hingga 8 persen.

Hal itu terjadi lantaran penurunan permintaan di sektor batubara, minyak dan gas, yang menjadi mesin produksi kapitalisme industri.

Pada tahun 2019, Global Carbon Project melaporkan bahwa emisi karbon dunia mencapai rekor tertinggi dengan 37 miliar ton. Hal itu terjadi karena permintaan minyak dan gas alam.

Dalam pertunjukan ini, kata Elyda, Anwari ingin mengajak publik untuk kembali dasar, ke sumber, yang menjadi hakekat kehidupan manusia di mana kehadirannya ada tanpa tendensi.

“Kita sedang berada dalam fase harus diam dan kembali ke dasar. Diam karena harus menahan pergerakan-pergerakan besar dan tidak menimbulkan persebaran (virus). Kembali ke dasar karena di sinilah puncak dari segala diam,” katanya, Kamis (14/5).

Aktor FN Bagaskara melakukan pertunjukan "Back to Basic" di sebuah sawah. -Dok. Kamateatra Art Project.
Aktor FN Bagaskara melakukan pertunjukan “Back to Basic” di sebuah sawah. -Dok. Kamateatra Art Project.

Tiga Isu

Elyda menceritakan, dalam proses penggarapannya, Anwari melihat ada tiga profesi yang turut terpukul oleh pandemi, namun secara esensial mereka masih tetap beraktivitas seperti biasanya.

Ketiga profesi yang menjadi isu utama Anwari dalam penciptaan ini yakni petani, nelayan dan seniman.

Petani, misalnya, masih bisa bekerja di sawah atau ladangnya, meski pandemi menghantam daerah, kota atau lingkungannya.

Asalkan ia bekerja sendiri atau bersama keluarga, dengan tetap menjaga jarak aman.

Begitu pula dengan nelayan. Anwari melihat bahwa para nelayan yang bekerja di lautan tidak begitu terjebak oleh pandemi. Mereka tetap melaut, karena pekerjaannya tidak melibatkan banyak orang.

Seniman pun demikian. Dengan adanya teknologi digital, atau platform media sosial dan internet, mereka masih dapat bekerja dari rumah, untuk sedikit menggeserkan dramaturgi tempat.

Beberapa seniman, diantaranya teater, tari, musik, misalnya, tetap berkarya secara live streaming maupun melalui video rekaman.

Premis dasarnya, pandemi tidak menjadi pukulan yang menyebabkan kematian daya kreativitas seniman. Apapun tetap mereka lakukan agar terus bertumbuh. Meski beberapa masih harus melakukan adaptasi ketika memasuki ruang virtual dan sama sekali baru.

“Isu-isu tersebutlah yang sedang dicoba hadirkan Anwari dalam pertunjukan barunya,” tutur Elyda.

Untuk bertumbuh, seseorang perlu menanam kembali. Foto: aktor FN Bagaskara melakukan pertunjukan "Back to Basic" di sebuah sawah. -Dok. Kamateatra Art Project.
Untuk bertumbuh, seseorang perlu menanam kembali. Foto: aktor FN Bagaskara melakukan pertunjukan “Back to Basic” di sebuah sawah. -Dok. Kamateatra Art Project.

“Menanam” Kembali

Menarik lebih jauh gagasan pertunjukan digital ini, menurut Elyda, Anwari juga ingin menyembulkan satu isyarat bahwa sudah saatnya manusia menjahit kembali bumi yang terluka.

Dalam pertunjukan ini, Anwari menggunakan simbol “menanam”. Simbol tersebut berarti bahwa untuk memperbaiki masa depan yang lebih baik, manusia perlu “menanam” segala yang baik sejak kini.

Menurut Elyda, dengan “menanam” maka kita mengharapkan ada benih yang tumbuh. Pertumbuhan itulah yang diharapkan terjadi di masa pasca pandemi, baik di sektor ekonomi maupun sosial.

Tidak hanya itu, pertumbuhan juga mesti terjadi pada dimensi pemikiran, jiwa dan hidup manusia itu sendiri.

Dalam terminologi masyarakat agraris, Anwari menggunakan istilah “lumbung”, tempat penyimpanan padi, untuk menampung pertumbuhan benih-benih kebaikan itu.

Dengan istilah itu, salah satu aktor terbaik Indonesia ingin mengajak publik untuk memperbanyak “lumbung” kebaikan masing-masing.

Bertumbuh dalam harapan, pemikiran dan dasar hidup manusia untuk mencapai apa yang terbaik bagi masa depan manusia. Foto: aktor FN Bagaskara melakukan pertunjukan "Back to Basic" di sebuah sawah. -Dok. Kamateatra Art Project.
Bertumbuh dalam harapan, pemikiran dan dasar hidup manusia untuk mencapai apa yang terbaik bagi masa depan manusia. Foto: aktor FN Bagaskara melakukan pertunjukan “Back to Basic” di sebuah sawah. -Dok. Kamateatra Art Project.

Untuk menggali gagasan tersebut, Anwari tidak sendirian. Ia bekerja dengan Sofyan Joyo Utomo sebagai kameramen dan editor video.

Pekerjaan kameraman dan editor video menjadi penting dalam platform digital karena memang dramaturgi ruang pertunjukan sudah bergeser dari panggung konvensional ke panggung virtual.

Menurut Dea Widya dalam percakapan daring dengan Afrizal Malna, Selasa (12/5) malam, dalam ruang virtual, seniman harus mampu beradaptasi dengan medan (medium) kerja baru.

Sebab mereka dituntut untuk mengendalikan algoritma dan software yang ada dalam platform digital tersebut. Karena perangkat-perangkat itulah yang menjadi struktur artistik panggung.

Dalam pertunjukan ini, Anwari menggandeng Bedjo Supangat sebagai penata artistik dan Harintadi sebagai penata musik.

Adapun para aktor yang terlibat dalam pementasan ini adalah FN Bagaskara yang didkung oleh Jajaran Menteri Art sebagai tim kreatif.

Seperti pertunjukan digital sebelumnya, KAP membuka dan menerima segala bentuk ulasan penonton yang dapat dikirimkan ke surel kamateatraartproject@gmail.com.

Tulisan-tulisan menarik akan dimuat di media publikasi KAP (kamateatraartproject.blogspot.com), dan video ulasan menarik akan kami tayangkan di Youtube KAP.

Karya pertunjukan digital ini bebas digunakan sebagai bahan ajar siswa-siswa SMP/SMA, serta mahasiswa perguruan tinggi.*

Baca Juga

Galerikertas Kembali Buka Ruang Pameran untuk Publik

Portal Teater - Setelah beberapa bulan ditutup karena situasi pandemi, awal Juli ini Galerikertas akhirnya kembali dibuka untuk publik. Pembukaan kembali galeri berbasis Depok, Jawa...

Teater Broadway Tutup hingga Awal 2021

Portal Teater - Teater Broadway telah mengumumkan secara resmi bahwa akan tetap menutup teaternya sepanjang sisa tahun ini hingga awal tahun 2021 mendatang. Meski demikian, pembukaan...

Rontoknya Kekerasan karena Cinta

Portal Teater - Apakakah kekerasan akan luluh lantak dengan indahnya alis mata, binar indah bola mata dan lentik bulu mata. Atau malah makin ganas? Dalang (sutradara)...

Terkini

Galerikertas Kembali Buka Ruang Pameran untuk Publik

Portal Teater - Setelah beberapa bulan ditutup karena situasi pandemi, awal Juli ini Galerikertas akhirnya kembali dibuka untuk publik. Pembukaan kembali galeri berbasis Depok, Jawa...

Rontoknya Kekerasan karena Cinta

Portal Teater - Apakakah kekerasan akan luluh lantak dengan indahnya alis mata, binar indah bola mata dan lentik bulu mata. Atau malah makin ganas? Dalang (sutradara)...

Teater Broadway Tutup hingga Awal 2021

Portal Teater - Teater Broadway telah mengumumkan secara resmi bahwa akan tetap menutup teaternya sepanjang sisa tahun ini hingga awal tahun 2021 mendatang. Meski demikian, pembukaan...

Buku Puisi Sosiawan Leak Berbasis Media 3 in 1 Siap Diterbitkan

Portal Teater - Buku puisi "Rumah-Mu Tumbuh di Hati Kami: Kumpulan Puisi Puasa di Masa Korona" karya penyair multitalenta Sosiawan Leak berbasis media 3...

Rudolf Puspa: “Abdi Abadi” adalah sebuah Tanggung Jawab

Portal Teater - Berdiri di panggung Graha Bhakti Budaya di Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki (PKJ TIM), pada 26 Desember 2016 ketika menerima piagam...