Seni Berkekuatan Daya Getar

Oleh: Rudolf Puspa*

Portal Teater Seni adalah kekuatan yang memiliki daya getar. Bertahun-tahun aku dibimbing pelukis Nashar untuk mempelajari kesenian tanpa ingat waktu, lapar dan kemiskinan.

Aku menjelajah ke seluruh sukma, ke seluruh nurani, ke seluruh garbaku. Kutemui suara hati, kudapatkan getaran itu.

Selanjutnya aku praktekkan dalam kegiatan sebagai aktor. Tidak satu atau dua hari langsung sambung, namun memerlukan waktu lebih setahun baru berhasil menjadikan daya getar tersebut sebagai kekuatan memainkan berbagai karakter peran.

Daya getar inilah yang menuntun gerakkan tubuh, suara, ucapan sehingga membentuk karakter peran.

Daya getar ini pula yang mengembara menyentuh daya getar tiap penonton sehingga terjadilah komunikasi dua arah.

Sekian tahun kemudian aku baru berani melatihkan ke teman-temanku. Selanjutnya sekian tahun lagi memberikan pelatihan ini kepada pemain-pemain muda.

Namun seperti awal aku mulai berlatih diri, aku menemukan kegersangan yang teramat sangat. Tidak mudah mengajak mengembara ke pedalaman yang luas seolah tak bertepi.

Kehidupan di pertengahan kekuasaan Orde Baru telah menciptakan lingkungan yang serba dikungkung nafsu keduniawian. Sangat berseberangan dengan hidup berkesenian yang berlandaskan kekuatan hati, rasa, keindahan.

Tak ada getaran. Tak ada sukma yang bergolak.

Dengan sabar aku berusaha menggunakan berbagai cara namun semakin lama justru semakin menjauh karena kekuatan iming-iming kenikmatan duniawi semakin merangkul erat bahkan berubah menjadi rantai yang mengikat sepanjang hayat.

Tentu saja ada yang bisa berhasil dari kerja kerasnya walau sedikit jumlahnya. Minimal hingga mencapai ke perasaan lega, bebas karena hilang stres akibat hidup sehari-hari yang seperti mesin saja.

Akhirnya karena kebutuhan produksi yang harus terus berjalan aku terpaksa dan amat terpaksa menjadi tukang cetak pemain dalam berperan walau bagi mereka terasa menyenangkan.

Ironi, kataku dalam hati, melihat kegembiraan hingga kecapa-kecipi luapkan kegembiraan yang hanya wadag.

Pemain banyak bagus dan hebat namun mereka melakukan tanpa kesadaran. Bisa menjadi hebat tanpa rasa karena memang tak ada kekuatan itu.

Banyak bakat, banyak kekuatan terpendam namun tambang itu telah ditutup kuat oleh baja-baja materialis, hedonis dan sebangsanya.

Maka sering aku menangis sendirian ketika harus berpisah walau secara baik namun aku merasa gagal.

Kehebatan pemilik modal besar atau yang sering disebut kapitalis adalah membentuk sel-sel. Orang dikapling kesarjanaannya. Istilah kerennya adalah spesialis.

Orang dijadikan alat sepotong-sepotong saja. Misalnya apa yang disebut kunci pas yang tiap satunya punya ukuran sendiri.

Sangat berbeda dengan yang dikatakan kunci Inggris yang satu alat namun bisa disetel ukurannya sesuai dengan kebutuhan.

Maka tidak perlu heran dan harus menerima kenyataan pahit jika masuk rumah sakit harus menghadapi banyak dokter spesialis.

Dan masing-masing ada harganya sendiri sendiri. Tak peduli yang lain telah beri obat apa.

Rudolf Puspa bersama cucunya, Alexandria Kahagani di sela-sela latihan teater. -Dok. Rudolf Puspa.
Rudolf Puspa bersama cucunya, Alexandria Kahagani di sela-sela latihan teater. -Dok. Rudolf Puspa.

Masih Sepi

Seni teater masih sepi, masih kering dan tidak mudah menata hatinya. Namun masih banyak anak muda yang mampu menjaga dirinya untuk terus beriman dan mau mengasah diri hingga memiliki daya getar positif dalam usaha dagangnya.

Berusaha menjadi kaya namun tidak korup. Kaya tapi tidak menipu.

Daya getar telah terbukti bukan hanya milik seniman namun di profesi apapun sangat bermanfaat.

Seni teater mengajarkan jujur pada diri sendiri karena yang muncul dipanggung adalah 90 persen dirinya sendiri.

Dirinya yang bicara, yang teriak, yang bergerak. Apapun perannya yang dimainkan maka suara pribadinya tetap muncul.

Ketika berada di panggung tidak ada lagi pengarang, sutradara, produser karena semua sudah menjadi milik pemain.

Dengan banyak kenal jiwa peran, berarti banyak kenal sifat, karakter manusia, maka pastilah harus kenal dirinya sendiri yang mana.

Nah proses menjadi diri inilah yang kini perlu dihidupkan. Sejak dini perlu pendidikan mengenal dirinya sendiri.

Bagaimana bisa kenal orang lain, jika dengan diri sendiri tidak kenal? Bagaimana mau mengubah orang lain kalau mengubah diri sendiri masih tidak sanggup.

Di masa tuanya, sutradara teater senior Rudolf Puspa lebih banyak menghabiskan waktu bersama cucunya: Alexandria Kahagani. Dan yang lebih penting, ia mulai menggali kembali memori-memori keaktoran dan penyutradaraannya melalui tulisan-tulisan. -Dok. Rudolf Puspa.
Di masa tuanya, sutradara teater senior Rudolf Puspa lebih banyak menghabiskan waktu bersama cucunya: Alexandria Kahagani. Dan yang lebih penting, ia mulai menggali kembali memori-memori keaktoran dan penyutradaraannya melalui tulisan-tulisan. -Dok. Rudolf Puspa.

Penjaga Terakhir

Penjaga agar terhindar dari perasaan pesimis adalah terus berada dalam daya getar seluruh jiwa raga yang sudah berumah di pondok teater yang kokoh.

Inilah rumahku di mana aku merasa mendapat ruang untuk bicara, untuk menjadi diriku seutuhnya.

Dan tentu ini memerlukan kerja keras untuk setiap muncul akan selalu hadir baru, akan selalu bertarung menyiapkan kelahiran baru dan kemudian akan menuju sepi diri kembali.

Tepuk riuh, kekaguman, ucapan selamat, peluk cium akan dibawa pulang penonton sehingga terasa ada yang hilang memang dan itu tak perlu dirisaukan karena akan menjadi penyakit dan juga kehilangan itu toh tak akan kembali.

Namun coba tanya kepada siapa saja: apakah ingin menjadi lebih baik? Pasti jawabnya: “Ya”. Lalu tanyakan apakah ingin uang jutaan maka jawabnya pun:”Ya”.

Namun dalam langkah hidupnya tak pernah ada perubahan untuk menggapai apa yang baru saja diucapkan.

Akhirnya kita tak pernah tau apakah ucapan adalah sebuah potret diri atau ungkapan jujur atau sekedar basa-basi yang segera menguap secepat kita mengucapkannya?

Begitu susahnya menjalani proses menjadi diri dengan daya getar yang dahsyat. Dan ketika seni menawarkan ruang gelap untuk bersiap diri maka belum memulai sudah muncul ketakutan gagal.

Banyak kendala namun begitu indah pengembaraannya. Mengembara di hutan belantara yang ditumbuhi pedang-pedang kapitalis yang dengan genggaman uangnya menebas siapa saja yang ingin menjatuhkannya.

Maka jika kesadaran berkata perlunya pendidikan dibangun semurah mungkin maka kita akan semakin terkecoh sebab nyatanya pendidikan begitu mahal dan dalil yang diberikan sejak dini hingga universitas adalah: “Sekolah berarti menanam investasi.”

Maka tidak salah bahkan wajar menurut ajaran kapitalis bahwa setelah lulus harus kerja untuk membayar berapa jumlah investasi dan kemudian segera menambah daya untuk mengeruk keuntungannya.

Semakin giat adalah semakin cepat untung dan itu artinya hidup bergelimang uang. Lalu bagaimana keadaan kaum proletar?

Ya, biarkan saja atau sesekali buka jendela dan sebar recehan bersedekah atau bantuan bagi yang ketiban bencana alam. Itulah hiburan ringan dan murah telah rela berkorban bagi fakir miskin.

Seni yang progresif menurut Bertolt Brecht memiliki sikap kritis yang mirip dengan sains, yang siap melayani kepentingan mengenyahkan kebodohan serta kemiskinan dengan merebut kontrol sosial.

Dan pikiran ini terlalu mahal karena sering hanya menjadi ilusi sehingga akibatnya, “perubahan adalah hanya ilusi belaka”.

Namun aku percaya bahwa teater memiliki daya dobrak walau sekecil semut yang terus mampu merayap. Aku tetap di sana, di rumahku yang terus aku gendong kemanapun pergi.

Sakit bukan halangan dan aku tentu punya malu setiap mendengar Chairil Anwar berteriak sekian puluh tahun lalu: ”Aku mau hidup seribu tahun lagi” meski kemudian ia mati muda.

Meski begitu, teriakkannya masih hidup hingga kini, paling tidak dalam sanubariku.

*Rudolf Puspa adalah sutradara senior teater. Menjadi pendiri Teater Keliling dan telah berkarya lebih dari empat dasawarsa. Kini ia tingal di Jakarta, menikmati masa tuanya bersama seorang cucu: Alexandria Kahagani. Petuah-petuah-nya tentang teater dapat Anda baca di website ini. Ia bisa dihubungi melalui email: pusparudolf@gmail.com.

Baca Juga

Galerikertas Kembali Buka Ruang Pameran untuk Publik

Portal Teater - Setelah beberapa bulan ditutup karena situasi pandemi, awal Juli ini Galerikertas akhirnya kembali dibuka untuk publik. Pembukaan kembali galeri berbasis Depok, Jawa...

Rontoknya Kekerasan karena Cinta

Portal Teater - Apakakah kekerasan akan luluh lantak dengan indahnya alis mata, binar indah bola mata dan lentik bulu mata. Atau malah makin ganas? Dalang (sutradara)...

Buku Puisi Sosiawan Leak Berbasis Media 3 in 1 Siap Diterbitkan

Portal Teater - Buku puisi "Rumah-Mu Tumbuh di Hati Kami: Kumpulan Puisi Puasa di Masa Korona" karya penyair multitalenta Sosiawan Leak berbasis media 3...

Terkini

Galerikertas Kembali Buka Ruang Pameran untuk Publik

Portal Teater - Setelah beberapa bulan ditutup karena situasi pandemi, awal Juli ini Galerikertas akhirnya kembali dibuka untuk publik. Pembukaan kembali galeri berbasis Depok, Jawa...

Rontoknya Kekerasan karena Cinta

Portal Teater - Apakakah kekerasan akan luluh lantak dengan indahnya alis mata, binar indah bola mata dan lentik bulu mata. Atau malah makin ganas? Dalang (sutradara)...

Teater Broadway Tutup hingga Awal 2021

Portal Teater - Teater Broadway telah mengumumkan secara resmi bahwa akan tetap menutup teaternya sepanjang sisa tahun ini hingga awal tahun 2021 mendatang. Meski demikian, pembukaan...

Buku Puisi Sosiawan Leak Berbasis Media 3 in 1 Siap Diterbitkan

Portal Teater - Buku puisi "Rumah-Mu Tumbuh di Hati Kami: Kumpulan Puisi Puasa di Masa Korona" karya penyair multitalenta Sosiawan Leak berbasis media 3...

Rudolf Puspa: “Abdi Abadi” adalah sebuah Tanggung Jawab

Portal Teater - Berdiri di panggung Graha Bhakti Budaya di Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki (PKJ TIM), pada 26 Desember 2016 ketika menerima piagam...