Taufik Monyong Jangan Dicemooh, Dia Seniman

Oleh: Ribut Wijoto*

Portal Teater – Saya masih saja penasaran dengan video Taufik Monyong yang menyatakan, virus Corona atau Covid-19 tidak ada di Surabaya, di Jawa Timur, bahkan di Indonesia.

Saya putar video itu berulang-ulang. Lebih dari 15 kali.

Lalu saya semakin menyadari, video itu memang layak viral. Jadi perbincangan banyak orang.

Satu hal yang saya heran juga. Perbincangan khalayak ramai lebih mengarah pada sisi yang negatif: mencemooh.

Terutama terkait ucapan Taufik Monyong (nama sebenarnya adalah Taufik Hidayat) yang hendak menyedot mulut pasien positif virus corona.

Padahal di video itu Taufik Monyong jelas-jelas memperkenalkan diri sebagai seniman.

“Saya Taufik Monyong, seniman Jawa Timur,” ucapnya.

Tangkapan layar video Taufik Monyong yang viral di media sosial.
Tangkapan layar video Taufik Monyong yang viral di media sosial.

Dan semua tahu, pekerjaan seniman adalah menciptakan karya seni. Artinya, video Taufik Monyong harus diposisikan sebagai karya seni. Dilihat melalui perangkat karya seni.

Tanpa memperkenalkan diri pun, kalangan pecinta seni maupun lingkungan aktivis di Surabaya dan Jatim tahu kalau Taufik Monyong seorang seniman.

Ranah seni telah dilakoni Taufik Monyong sejak kuliah di Jurusan Seni Rupa Universitas Negeri Surabaya (Unesa).

Hampir pada tiap unjuk rasa, Taufik Monyong ambil bagian. Satu tangan terkepal, tangan lain memegang megaphone.

Tidak sekadar orasi, Taufik Monyong mengekspresikan tuntutan dan gagasan dengan balutan seni. Aksi teatrikal: street performance.

Monyong pernah telanjang berlepotan lumpur, pernah membakar toga. Nyaris drop out, beruntung Taufik Monyong berhasil lulus, menyandang gelar sarjana.

Lulus kuliah, Taufik Monyong terus setia dengan dunia aktivis dan kesenian. Dia melukis, membuat instalasi vespa, menyanyi, menjadi aktor teater kolosal, bermain Ludruk, menjadi MC, juga tetap turun ke jalan.

Dengan pakaian nyentrik, sudah biasa, Taufik Monyong melakukan demo tunggal. Melalui tubuh, melalui benda-benda, melalui ucapan; Taufik Monyong selalu mengusung spirit perlawanan.

Kali ini, Taufik Monyong bikin karya seni dengan media video. Dia mempublikasikan melalui media sosial. Lalu viral. Diperbincangkan banyak orang, banyak netizen, diberitakan berbagai media massa, dan dipanggil Polda Jatim.

Apa yang sedang diperjuangkan Taufik Monyong? Mengapa video karya seni Taufik Monyong bisa viral?

Setidaknya ada 3 sebab yang bisa menjadi jawaban.

Pertama, medianya. Dulu Taufik Monyong berpeluh keringat turun ke jalan, menemui massa. Teriak-teriak teatrikal untuk menyuarakan aspirasi atau tuntutan.

Kali ini Taufik Monyong berbeda. Dia membuat video. Mirip vlog, seperti yang biasa dilakukan remaja milenial ataupun mama muda.

Taufik Monyong mengunggah videonya berdurasi 5 menit 29 detik ke media sosial Facebook pada Minggu (7/6). Sehari sebelumnya, dia juga membagikan video durasi 4 menit 45 detik.

Pilihan media dan cara penyebaran ini menandakan Taufik Monyong telah beradaptasi dengan perkembangan zaman dan kecanggihan teknologi.

Jika teatrikal di jalan, dia paling hanya disaksikan puluhan atau ratusan orang.

Tetapi berkat media sosial, jumlah orang yang menyaksikan karya Taufik Monyong sangat tidak terbatas. Viral.

Selain itu, media video juga membuka kemungkinan eksplorasi lain dibandingkan media tatap muka.

Tetapi sebagai karya seni berwujud video, orang mungkin akan menyoroti segi artistik ciptaan Taufik Monyong.

Perihal kualitas tata cahayanya, kualitas komposisi tata bunyi, sudut pengambilan gambar, maupun artistik setting.

Video Taufik Monyong memang sangat sederhana. Mirip vlog. Dari segi artistik, jauh kalah lengkap dibandingkan dengan karya film profesional.

Namun juga perlu diingat, keindahan karya seni tidak bisa semata dilihat dari struktur artistik.

Membandingkan karya bentuk vlog dengan karya bentuk film tentu tidak adil. Sama seperti membandingkan musik klasik dengan musik jazz.

Keindahan karya seni dinilai dari keberhasilannya mendekati kebenaran. Sedangkan kebenaran itu bisa sangat banyak jenisnya.

Sehingga kebenaran yang diperjuangkan sebuah karya seni belum tentu sama dengan yang diperjuangkan oleh karya seni lain.

Di bidang puisi juga sama. Dulu, Sutan Takdir Alisjahbana menilai puisi Chairil Anwar jelek.

Penyebabnya, bahasa puisi Chairil Anwar mirip dengan bahasa keseharian masyarakat.

Tetapi Chairil Anwar bersikukuh. Keduanya bersinggungan karena memang menggenggam jenis kebenaran yang berbeda.

Itu artinya, kualitas karya seni ciptaan Taufik Monyong yang sederhana itu perlu diapresiasi.

Kedua, kode yang dipakai. Taufik Monyong secara cerdik menyemburkan beragam kode. Terdiri dari kode aktual, kode budaya, kode politik, kode sejarah.

Semburan kode dalam video itu menciptakan banyak pintu kepada orang-orang untuk memasuki.

Dia berbicara tentang pandemi virus corona. Wabah ini merebak luas dan memengaruhi berbagai sendi kehidupan.

Surabaya dan Jatim menjadi sorotan karena jumlah pasien positifnya termasuk tinggi di Indonesia.

Taufik Monyong juga menyinggung budaya warga pinggiran Kota Surabaya yang suka cangkruk di warung.

Ia juga menyentil pemerintahan Presiden Joko Widodo. Dan memilih berbicara pada 6 Juni 2020 bersamaan dengan tanggal lahir Presiden Soekarno.

Ketiga, perspektif atas kode. Tidak sekadar menyemburkan karnaval kode, Taufik Monyong juga melontarkan perspektif.

Dia mengaku Soekarnois, aktivis, cinta Indonesia,dan mengaku sedang berusaha membela kepentingan warga Surabaya dan Jatim.

Paling utama, Taufik Monyong membalikkan opini publik. Di tengah pandemi Covid-19, dia justru bilang virus tersebut tidak ada.

Dia bilang Covid-19 sebatas konspirasi fitnah, yang tidak ada diada-adakan, sehingga menjadi ketakutan bagi seluruh masyarakat Jawa Timur dan Surabaya.

“Ini adalah konspirator yang ingin merugikan negara yang saya cintai, merugikan pemerintah yang saya cintai, merugikan bangsa Indonesia yang saya cintai. Hati-hati, kita rakyat pemilik sah negeri ini dan jangan main-main,” ujar Taufik Monyong.

Untuk memperkuat pembalikan opini itu, Taufik Monyong bersedia mencium mulut pasien Covid-19 untuk menyedot virusnya.

Yang lantas menjadi problem, orang-orang meminta Taufik Monyong merealisasikan janjinya untuk menyedot virus dari mulut pasien.

Tantangan Taufik Monyong dinilai konyol, dagelan, cari panggung, frustrasi (dalam setahun terakhir, dia memang mengalami 2 kali kegagalan, gagal terpilih jadi anggota DPRD Jatim dan gagal maju di Pilwalkot Surabaya), norak, iseng semata.

Orang-orang mungkin lupa, video Taulfik Monyong adalah karya seni. Ruang peleburan fakta dan fiksi.

Dia sedang bertindak sama seperti ketika penyair menulis larik puisi, “aku rajawali, mengangkasa, menukik, mengelilingi samudera”.

Apakah lantas orang-orang hendak menagih si penyair untuk membuktikan dirinya bisa terbang? Tentu tidak.

Orang-orang tahu tulisan penyair adalah fiksi. Metafor. Di luar makna harafiah atau makna kamus.

Kata-kata dalam puisi bersifat multi tafsir. Puisi menciptakan ‘realitas’ yang berbeda dengan realitas.

Justru dengan dunia ciptaannya itu, puisi mampu merangsang pembaca untuk berpikir lebih jauh, merangsang keluasan imajinasi pembaca, mengajak pembaca untuk melihat dunia dengan perspektif yang berbeda.

Dan itulah yang dilakukan oleh Taufik Monyong melalui videonya. Taufik Monyong seorang seniman dan dia menciptakan serta menyodorkan karya seni.

Realitas yang tersaji di karya seni adalah realitas yang berbeda dengan yang ada di kehidupan keseharian.

Seniman menciptakan kembaran realitas. Sebuah realitas yang menggambarkan gagasan, pikiran, imajinasi, fantasi seniman.

Hubungan antara realitas di karya seni dengan realitas di keseharian tidak selalu linier. Tidak selalu seperti orang memotret model wanita cantik. Jika rambut model keriting, keriting pula rambut dalam potret.

Menjadi berbeda misalnya model wanita cantik itu dilukis oleh perupa beraliran kubisme, bisa jadi, rambut keritingnya berubah jadi kotak-kotak bersiku.

Taufik Monyong dalam karya videonya menyatakan tidak ada virus corona. Covid-19 sebatas konspirasi fitnah yang hanya menghabiskan anggaran pemerintah dan menakut-nakuti masyarakat.

Maka melalui tokoh dalam video (yang diperankan oleh Taufik Monyong sendiri), dia mengajak agar sekolah-sekolah dibuka, tempat ibadah dibuka, masjid dibuka, pura dibuka, gereja dibuka, vihara dibuka, tempat-tempat wisata dibuka.

Untuk membuktikan pernyataannya, tokoh dalam video (sekali lagi, tokoh yang diperankan oleh Taufik Monyong sendiri) bersedia mendatangi orang yang divonis sebagai pasien Covid-19.

Tujuannya untuk menyedot virus Corona yang berada di mulut pasien tersebut. Tokoh dalam video itu yakin kalau dirinya tidak mati oleh Covid-19. Sebab Covid-19 diyakininya tidak ada.

Semua monolog yang diucapkan oleh tokoh dalam video Taufik Monyong itu fiksi belaka. Itu adalah realitas rekaan.

Bisa jadi, realitas tersebut mewakili harapan atau impian dari Taufik Monyong. Bisa jadi pula, Taufik Monyong mengungkapkan harapan atau impian dari masyarakat luas.

Masyarakat yang sudah mulai sumpek karena lama berada di dalam rumah, sedangkan hendak beraktivitas keluar, mereka takut terjangkit virus Corona.

Tetapi sayangnya, respon terhadap video Taufik Monyong yang viral tidak seperti itu. Dia dinilai bikin gaduh, tidak logis, konyol, frustrasi.

Melawan opini publik melalui karya seni memang penuh risiko. Penyair WS Rendra pernah meringkuk di balik jeruji besi akibat karyanya. Salman Rushdie dicaci maki dan diancam hukuman mati.

Sejarah sastra pernah dihebohkan oleh keberadaan cerpen “Langit Makin Mendung” karya Ki Panjikusmin yang terbit di majalah Sastra edisi bulan Agustus 1968.

Salah satu isinya tentang Nabi Muhammad bersama malaikat Jibril turun ke bumi, di Jakarta persisnya.

Kegaduhan publik merebak akibat cerpen ini. HB Jassin sebagai redaktur, dia maju ke pengadilan.

Secara apik, tajam, dan panjang lebar; di depan hakim, HB Jassin mendedahkan posisi karya sastra sebagai sebuah dunia fiksi.

Keterkaitan karya sastra dengan ajaran agama. Toh pembelaan Jassin tidak bisa menyelamatkannya. Dia tetap diputus bersalah.

Hakim memvonis HB Jassin dengan kurungan penjara 1 tahun, masa percobaan 2 bulan.

Ribut Wijoto. -Dok. Berita Jatim.
Ribut Wijoto. -Dok. Berita Jatim.

Satu hal yang saya juga cukup heran. Taufik Monyong terlalu cepat meminta maaf. Selepas dipanggil Polda Jatim, dia mengaku bersalah karena telah membuat kegaduhan.

Seharusnya Taufik Monyong lurus bergerak maju. Sama seperti HB Jassin. Melangkah sampai ke pengadilan.

Di depan hakim, Taufik Monyong bakal punya ruang untuk membela diri sekaligus menjabarkan konsep estetik dan ideologi yang sedang diperjuangkan dalam karya seni.

Tetapi, ya sudahlah, seniman kadang memang aneh. Kadang bertindak tidak sesuai logika umum.

Taufik Monyong mungkin juga memiliki pandangan dan pertimbangan-pertimbangan yang berbeda dengan saya.*

*Ribut Wijoto adalah penggemar karya sastra Indonesia. Saat ini menetap di Surabaya, Jawa Timur.

Baca Juga

Rontoknya Kekerasan karena Cinta

Portal Teater - Apakakah kekerasan akan luluh lantak dengan indahnya alis mata, binar indah bola mata dan lentik bulu mata. Atau malah makin ganas? Dalang (sutradara)...

Teater Broadway Tutup hingga Awal 2021

Portal Teater - Teater Broadway telah mengumumkan secara resmi bahwa akan tetap menutup teaternya sepanjang sisa tahun ini hingga awal tahun 2021 mendatang. Meski demikian, pembukaan...

Buku Puisi Sosiawan Leak Berbasis Media 3 in 1 Siap Diterbitkan

Portal Teater - Buku puisi "Rumah-Mu Tumbuh di Hati Kami: Kumpulan Puisi Puasa di Masa Korona" karya penyair multitalenta Sosiawan Leak berbasis media 3...

Terkini

Galerikertas Kembali Buka Ruang Pameran untuk Publik

Portal Teater - Setelah beberapa bulan ditutup karena situasi pandemi, awal Juli ini Galerikertas akhirnya kembali dibuka untuk publik. Pembukaan kembali galeri berbasis Depok, Jawa...

Rontoknya Kekerasan karena Cinta

Portal Teater - Apakakah kekerasan akan luluh lantak dengan indahnya alis mata, binar indah bola mata dan lentik bulu mata. Atau malah makin ganas? Dalang (sutradara)...

Teater Broadway Tutup hingga Awal 2021

Portal Teater - Teater Broadway telah mengumumkan secara resmi bahwa akan tetap menutup teaternya sepanjang sisa tahun ini hingga awal tahun 2021 mendatang. Meski demikian, pembukaan...

Buku Puisi Sosiawan Leak Berbasis Media 3 in 1 Siap Diterbitkan

Portal Teater - Buku puisi "Rumah-Mu Tumbuh di Hati Kami: Kumpulan Puisi Puasa di Masa Korona" karya penyair multitalenta Sosiawan Leak berbasis media 3...

Rudolf Puspa: “Abdi Abadi” adalah sebuah Tanggung Jawab

Portal Teater - Berdiri di panggung Graha Bhakti Budaya di Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki (PKJ TIM), pada 26 Desember 2016 ketika menerima piagam...