Parade Tari Berjarak Jauh: Tantangan Media Digital pada Masa Covid-19

Oleh: Julianti Parani, Ph.D.*

Portal Teater – Kreativitas menciptakan karya tari, baik pada masa normal maupun dalam menghadapi wabah ataupun musibah, senantiasa perlu dilihat sebagai peluang dan tantangan baru, seperti pada saat terjadinya karantina terbatas pada PSBB Covid-19 di Indonesia sejak bulan Maret 2020.

Sebagai seniman, para koreografer, semestinya menghadapinya untuk menambah pengalaman berkesenian.

Memang suasana keterbatasan, mungkin pula disertai keraguan, kebimbangan dan kebingungan dalam menciptakan karya tari bisa muncul.

Kalau ini bisa teratasi, dan bagi yang sudah berpengalaman, suasana ini mungkin justru dapat menjadi dorongan menggugah penyegaran.

Parade Tari Berjarak Jauh yang dilaksanakan Direktorat Jendral Kebudayaan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan bersama Yayasan Seni Tari Indonesia, dibuat pada masa PSBB ini, diprakarsai sebagai platform sementara agar kehidupan berkarya tari dapat tetap terlaksana meski dilaksanakan berjarak di rumah atau tempat tinggal masing masing, disiarkan melalui berbagai media sosial online sejak 27 April-1 Mei 2020.

Parade berjarak ini menampilkan 40 koreografi baru berupa tarian tunggal, ditayangkan dalam lima episode/hari, dari berbagai daerah di Indonesia seperti, Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, Aceh, Riau, Sumatra Barat, Lampung, Kalimatan Tengah, Bali, Sulawesi Selatan, Gorontalo, dan Papua.

Tantangan berkarya baru ini, perlu membawa pemahaman tentang konsep inovatif dalam garapan tari kontemporer.

Konsep ide dengan tatanan struktur mengenai desain tubuh menari dalam relasi dengan ruang (space) yang bersifat baru, untuk membangun koreografi beserta elemen ritme, dinamika, tekstur, serta motivasi gerak.

Elemen-elemen koreografi yang saling berhubungan itu perlu ditata ke dalam suatu konsep sebagai landasan membangun karya, ataupun suatu struktur sebagai kerangka untuk diisi dengan ekspresi tari.

Dalam koreografi konvensional, biasanya ruang tari yang bersifat normal adalah ruang pentas, di mana melakukan tari, bisa ruang seni pertunjukan yang formalistik, bisa pula ruang sosial budaya yang terbuka.

Pemahaman berikutnya ialah ruang yang berkaitan dengan ruang sosial, ialah ruang kehidupan tempat lingkungan penari menjalankan kehidupannya bergaul di lingkungan komunitas.

Selanjutnya bisa ada relasi dengan ruang geografik serta ruang arsitektural. Namun secara intrinsik berkesenian, dalam keterbatasan ruang dan situasi berjarak jauh ini, perlu adanya ruang imaginatif terkait konteks tuntutan eskpresi.

Parade tari kali ini, dilaksanakan dalam keterbatasan ruang fisik menari sebagai pegangan kreativitas dan modal menciptakan koreografi.

Parade Tari Berjarak Jauh ini menawarkan tema berhubungan dengan Covid-19 menampilkan berbagai koreografi dalam bentuk kontemporer yang — boleh dikatakan — cukup memadai.

Ada kala konsep kontemporer masih superfisial, disana sini ada cukup gejala menarik dalam pemanfaatan unsur budaya tradisional, namun ada kesan juga keterkungkungan dalam persepsi tradisional yang sempit, serta ketakutan terhadap pembaharuan kontemporer.

Kemudian tantangan dalam perekaman karya dihadapi baik secara sendiri dengan cara selfie ataupun dapat bantuan dari keluarga di rumah yang merekam-mengedit, dan yang beruntung dapat dibantu seorang dramaturg atau penasehat artistik.

Tantangan lain yang tak kalah pentingnya penting adalah kreativitas menggunakan teknologi digital, baik hardware maupun software untuk menciptakan videografi sebagai bagian yang perlu integralistik dengan koreografi.

Kehadiran kreativitas ini dapat menjadi nilai tambah pada hasil akhir. Dengan demikian penerapan teknologi digital diharapkan menjadi bagian dari proses koreografi dan tidak statis, sekedar media pembantu saja.

Suatu keahlian membuat rekaman video tari menggunakan kamera untuk ditayangkan pada layar.

Memang bermula melalui tayangan berupa film/movies, kemudian melalui televisi dan kini melalui teknologi komputer dan handphone.

Perkembangan teknologi maju dengan komputer dan handphone ini pada dasarnya bersifat baru, meski menggunakan alat rekam kamera, namun membawa keahlian secara tersendiri, sehingga kreativitas dalam pembuatannya membawa permasalahan tersendiri.

Catatan singkat berikut ini, merupakan tanggapan atas pengamatan 40 koreografi yang tampil pada parade ini, dan terutama bermakna untuk memberi penghargaan terhadap usaha kreativitas pada masa sulit ini, dengan harapan agar dapat menjadi masukan dan bahan pertimbangan dalam koreografi berbagai nuansa di kemudian hari.

Julianti Parani, Ph.D. adalah salah satu koreografer senior Indonesia. -Dok. pribadi/facebook.
Julianti Parani, Ph.D. adalah salah satu koreografer senior Indonesia. -Dok. pribadi/facebook.

Hari Pertama

Yulfan dari Jakarta, menampilkan karyanya di rumah (kos). Koreografi masih bersifat eksploratif, mengelililing berbagai sudut ruangan di rumah dalam 5 adegan.

Cenderung teatrikal, tapi eksplorasi menarik dalam ruang/lorong sempit, efek lampu yg menyala di belakang, main bayang bayang, dengan musik seadanya dari kombinasi radio, dll.

Puri Senjani dari Jatim, eksploratif pula di dalam rumah, dari tempat tidur dan keliling ruangan, fokus menarik pada bantalan merah, gerak fisik dengan banyak stretching exercise, improvisasi spontan, masih ribet, tanpa konsep jelas, menggunakan rekaman musik kontemporer.

Erri Trihartono dari Jabar: outdoor, ada hujan, awal di atas genteng kemudian di halaman, basis silat Sunda, improvisasi terstruktur, menarik menggunakan rekaman musik kontemporer Sunda yang bisa dikontraskan dengan gerak.

Shohifur Ridho’i dari Yogyakarta, dalam rumah, konsep koreografi terstuktur, basis silat, gerak siap-siap mau pergi, banyak gerak pegang kepala, gerak mundur, improvisasi tubuh cukup menarik.

Fadlan Aulianda dari Aceh, berawal dengan main jari Seudati, kemudian menjadi kontemporer.

Ada struktur, dengan eksplorasi fisik cukup menonjol, masih ada unsur tradisional disana sini seperti mau ngeratuh, musik kontemp tradisional menarik.

Feri Fadli dari Gorontalo, penari wanita, terbagi 2 adegan, yang pertama tradisional, kedua eksplorasi kontemp di tirai jendela dan keranjang pakaian.

Konsep masih harafiyah, ada struktur, kesan dekonstruktif menentang eksplorasi kontemp yg terjebak ke dalam keranjang.

Bathara Sarongadi dari Jakarta, eksplorasi di rumah, ada konsep, penelurusan ruang menarik dengan dua kaca dari belakang agak lebar ke lorong sempit, basis silat, main videografi, musik kontemporer.

Hari Kedua

Fitrya dari Sulsel tampil di dalam rumah tradisional, masih berpegang pada gerak dan kostum tradisional namun sudah berani menampilkan pembaharuan dengan properti dan musik yang tergarap dengan elemen baru.

Properti sapu lidi yang diletakan di kepala memberi nuansa baru yang menarik, yang sebagai suatu karya sudah kelihatan utuh.

Tami dari Jakarta, pada mulanya kontemporer, duduk di ruang rumah ada properti 2 lampu kecil di belakang, dan disusul dengan adegan lain yang ada unsur tradisional pakai sampur. Kelihatan masih eksploratif, meski ada usaha untuk mengental keutuhan.

Arbi dari Jabar, menarik berawal dengan suatu yang bersifat mistik, menari di atas beling dengan pisau di mulut, namun masuk elemen tradisional, silat dan gerak tari tradisional Jabar, ide tema terputus-putus, cenderung masih eksploratif, konsep masih kacau.

Bhaskoro dari Jabar, inovatif menggunakan tirai jendela yang tipis, dikombinasikan dengan kain penutup lain.

Eksplorasi menarik dan mulai mengental keutuhan sebagai karya, meski terputus keutuhan, sehingga kurang menyatu konsep ide yang sebetulnya menarik pada awal.

Abdul Harris dari Jakarta, dalam beberapa adegan menampilkan sesuatu yang kontemporer pantomimis dan cenderung teatrikal. Konsep menarik tapi keutuhan sebagai karya kurang diperhatikan, meski eksplorasi cukup menarik.

Iwan dari Riau, tampil simpel, koreografi utuh dan tergarap menggunakan silat Kampar, ada unsur slow motion menarik.

Boby dari Jateng, desain tatanan utuh dengan konsep jelas sebagai koreografi, menampilkan garapan menarik di depan jendela rumah.

Eka Wahyuni dari Yogya, tidak utuh, terputus-putus dalam eksplorasi kontemporer yang sebetulnya ada yang menarik dan unik dalam ide garapan.

Hari Ketiga

Wirastuti dari Jateng, di rumah, main tangan menarik pada awal, koreografi terstruktur, pergantian ruangan cukup baik mengalir, dengan 2 ekor anjing, musik kontemporer menarik.

Laila Putri dari Banten, di rumah, berawal dengan videografi menarik, koreografi terstruktur, kontemporer tradisional Jawa, dan garapan menarik.

Yogi Afria dari Sumbar, koreografi terstuktur, kontemporer Minang, juga musik, alur garapan baik dan menarik.

Adrian Aji Sasongko dari Jateng, di rumah studio, koreografi terstruktur, musik kontemp dengan suara suara plus instrumen, garapan baik.

Muh Rezka dari Sulsel, di rumah studio, koreografi terstruktur, main dengan properti sarung bagus, dan dengan kendi, pupur muka. Garapan menarik, baik.

Rio Tulus dari Riau, di halaman rumah, dramatik, slow motion, ritmik, koreografi kontemporer cukup menarik, kesan elemen tradisional ada.

Suryadi dari Aceh, ada usaha ke struktur, tapi masih banyak eksplorasi improvisasi, properti menarik: karpet merah berkotak kotak di tengah, musik kontemporer yang sesuai.

Florentina dari Jabar, di rumah berpindah pindah cukup mengalir, koreografi terstruktur, penari yang baik, eksplorasi tangan menarik, agak erotik namun masih sesuai, main tangan depan lensa kamera, musik kontemporer sesuai.

Hari Keempat

Joni Andra dari Sumbar, bermula dengan narasi sajak, menampilkan adegan di rumah dengan piring piring ada lilin, ada struktur tapi kurang digarap, berpindah adegan ke halaman dan ke pantai laut, banyak improvisasi cenderung teatrikal.

Dian Nova dari Jatim, berbagai adegan di rumah yg terlalu banyak pindah, awal menarik main kamera, koreografi terlalu fisikal, ada usaha struktur, akhir menarik: lari dari luar ke rumah.

Dian Nova Saputra dalam pertunjukan berjudul "Rumit". -Dok Youtube Budaya Saya.
Dian Nova Saputra dalam pertunjukan berjudul “Rumit”. -Dok Youtube Budaya Saya.

I Ketut Gde Adi Siput dari Bali, koreografi terstruktur baik menggunakan ruang, kontemporer tradisional menarik, main properti: 5 besek besek, gerakan tangan kreatif berkembang dari tradisi Bali, akhir agak aneh.

Vito Prasasta dari Jakarta, di rumah, keliling, awal sendiri tapi kemudian berdua main dengan meja besar, cenderung teatrikal, banyak pantomim, ada usaha koreografi terstruktur, terlalu harafiah pada ide karantina.

Syarifuddin dari Papua, banyak improvisasi tapi terstruktur, naif komedial dalam menangkap ide karantina pada efek ketakutan, kontemporer dan ada usaha masuk unsur lokal Papua.

Ainar Tri Astita dari Sulteng, menampilkan dalam rumah tradisional, ada struktur, improvisasi slow motion, ada basis tradisional di garap kontemporer, simpel dan menarik.

Rangga Kusumaputra dari Jakarta, awal narasi, banyak berpindah ruang dalam rumah, terstuktur dengan improvisasi sederhana, pantomimis, dari suasana slow yang tenang jadi adegan gembira, terlalu banyak ganti adegan ruang kurang digarap.

Isak Menufandu dari Papua, adegan di rumah dan halaman, ada struktur, simple improvisasi, musik kontemporer a la papua, suara-suara, Tifa, narasi, piano.

Mugiyono dari Jateng, koreografi lengkap, dari seorang seniman berpengalaman, tema sederhana: makan keluarga, 3 anak main musik piring dan gelas, penari Solo, garapan sangat menarik.

Tiga Strategi dalam "Distance Parade"
Othniel Tasman dalam pertunjukan “See The Future”. -Dok. Youtube Budaya Saya.

Hari Kelima

Otniel Tasman dari Jateng, koreografi lengkap, menarik sekali, musik seriosa kontemporer, ada special lighting, videografi menarik memanfaatkan penari dengan bayangannya di layar, garapan mengalun dan mengalir bersambungan.

I Nyoman Kresna dari Bali, koreografi terstruktur digarap dengan baik, kontemporer dengan basis tradisional melalui eksplorasi gerak tangan yang menarik, juga angle atau sudut yang sangat eksploratif bagus, videografi bayangan di belakang layar, sayang akhir kurang.

Safrizal dari Aceh, menampilkan koreografi terstruktur dengan bantuan dramaturgi, dan videografi plus editing, simpel, selektif, dramatik, dalam pengembangan yang menarik, eksplorasi inovatif elemen tradisonal seperti Ratuh/Saman, kolase musik kontemporer.

Razan Wirjo dari Jateng, menampilkan koreografi terstuktur, dramatik pantomimis, interpretasi variasi lagu La Vie en Rose, videografi menarik dengan reproduksi videografi seperti ada tambahan 2 figur penari, penari dengan tubuh sangat flexibel.

Althea Sri Bestari dari Jakarta, bantuan mentor Marich Prakoso, ballet kontemporer, tersuktur, cukup kreatif, menarik pada akhir videografi-nya.

Sandhidea Cahya Narpati dari Jatim, menampilkan karya dalam rumah dengan struktur lemah, improvisasi agak liar, topeng make-up, pindah adegan terlalu banyak dan terlalu cepat, gerak kontemporer tidak fungsional terpecah-pecah, ada elemen tradisional, akhir yang lemah.

Ayu Permata Sari dari Lampung, masih sangat tradisional, terbatas dalam penampilan gerak tradisional tapi pakai jeans dan baju kaos, tidak ada kreativitas inovatif.

Budi Jaya Habibi dari Kalteng, tema tradisional, terlalu banyak elemen tradisional yang mau diungkap, struktur lemah, ada usaha kontemporer/kreatif tapi banyak properti tradisional yang tak jelas fungsinya, begitu juga gerak kontemporer dan tradisional tidak selektif maupun kreatif.

Kesimpulan dan Saran

Covid-19 dan keterbatasan seperti dalam PSBB ini membawa akibat untuk berkarya online dalam berbagai hidup masyarakat.

Parade Tari Berjarak Jauh mempertemukan lebih akrab antara keahlian didalam koreografi dengan keahlian di dalam videografi menggunakan media digital.

Perlu dipahami bahwa keahlian profesional membuat koreografi menggunakan media digital pada dasarnya merupakan suatu proses produksi video tari yang manajerial kreatif.

Bermula dari suatu ide atau konsep yang hasilnya untuk ditayangkan, memerlukan proses eksplorasi disertai analisis isu kreatif, estetis dengan dukungan teknologi dalam berkarya.

Penggunaan media digital dalam berbagai kepentingan perkembangan tari sudah sejak lama dimanfaatkan demi kebutuhan dalam komunikasi, dokumentasi, promosi unutk berbagai kepentingan masyarakat, maupun di dalam menunjang penampilan seni pertunjukan konvensional itu sendiri.

Sebagai dekorasi sekedar di latar belakang, maupun juga bisa dikaitkan dengan pemekaran konsep artistik yang diintergrasikan dengan koreografi, baik sebagai videografik props maupun bagian desain koreografi itu sendiri.

Di dalam kepentingan dokumentasi tari tradisional dan tari klasik yang perlu dipreservasi, format yang ditawarkan media digital sangat berguna membantu dan melengkapi keterbatasan visualisasi bentuk notasi dan deskripsi tekstualnya.

Kepentingannya sebagai media komunikasi didaktis sudah lumrah pula terutama untuk keperluan penyebaran sebagai bahan pelajaran menari tari tradisional, tari kontemporer, ballet klasik, dan lain-lain.

Untuk keperluan promosi budaya, tari dalam bentuk digital bukan sesuatu yang asing lagi digunakan melalui media komunikasi sosial seperti YouTube, Instagram dan sejenisnya.

Namun apabila dibandingkan dengan bidang seni lain, maka produksi digitalisasi seni tari mungkin termasuk yang paling lamban untuk bisa masuk ke dalam sektor ekonomi kreatif, karena promosi komersial untuk kepepentingan tersebut tidak seberapa lancar, kecuali untuk hiburan pop.

Parade Tari Berjarak Jauh membawa platform baru yang tidak saja bersifat sementara pada masa PSBB tapi bisa menjadi platform alternatif dalam pengembangan artistik dan penyebaran promosinya bagi peminat peminat baru.

Meskipun demikian kehidupan tari sebagai budaya seni pertunjukan tetap hidup sebagai mainstream, sehingga penayangan digital sebagai reprografi pertunjukan merupakan platform alternatif baik yang berdiri sendiri maupun terkait ’bersahabat’ dengan mainstream dan tidak kompetitif.

Untuk keperluan pengembangan artistik, pengalaman berkarya sedemikian, bisa menjadi masukan ke dalam karya konvensional sebagai seni pertunjukan di gedung teater maupun perwadahan tempat pertunjukan lainnya.

Pada dasarnya menyaksikan tari secara hidup di panggung konvensional, originalitasnya lebih otentik.

Bentuk digital dapat memecahkan masalah keterbatasan waktu dalam menyaksikan.

Kebutuhan menyaksikan tayangan bisa setiap saat selama peralatan teknis ada dan hal tersebut tidak bisa pada yang konvensional.

Teknologi digital yang menggunakan teknologi perekaman dengan kamera seperti pada keahlian sinematografi, dapat membuka perspektif baru dalam berkarya dan menghasilkan nuansa karya baru bagi dunia tari.

Pertama, sebagai dokumentasi karya tari dalam bentuk reproduksi untuk berbagai keperluan hiburan, edukatif, promosi budaya dan lain-lain.

Pada tahap berikutnya, produksi karya seni digital ini bisa juga diprakarsai dari keahlian di luar profesi tari, misalnya seperti (film-tari) “Opera Jawa” yang diprakarsai sineas Garin Nugroho.

Namun tidak menutup kemungkinan seorang koreografer seperti Jerome Robbins menciptakan West Side Story yang bermula sebagai film musikal, meski jadi karya pentas dunia di kemudian hari.

Selanjutnya teknologi digital bisa menciptakan karya hasil editing secara kreatif pertunjukan tari menjadi video clipping, yang sebagai karya seni bisa diperhitungkan juga dan tidak perlu dianggap kurang bermutu keutuhan orisinalitasnya karena aspek kolase.

Permasalahan yang muncul ada pada hak ciptanya, yang perlu pengaturannya secara tersendiri.

Yang belum berkembang namun sudah mulai eksperimentasinya, apabila kamera digital bisa menjadi bagian dari koreografi, turut bergerak dalam berbagai angle pergerakan koreografi.

Suatu karya seni yang belum banyak dilaksanakan karena memerlukan kerjasama koordinatif dari berbagai keahlian yang tingkatannya setara.

Begitu pula masih banyak nuansa baru yang masih bisa terjadi antara pertemuan tari sebagai kesenian dengan videografi menggunakan media teknologi digital.

Semoga pengalaman berkarya dalam streaming secara digital Parade Tari Berjarak Jauh ini dapat menjadi momentum dalam berbagai perkembangan lain untuk mengangkat harkat tari agar lebih luas dan lebih akrab dalam perkembangan kehidupan kita.

*Julianti Parani, Ph.D, lahir di tahun 1939, dosen senior IKJ yang sudah purnabhakti, peneliti & penulis tari, sejarah dan pengetahuan budaya, pengamat dan pembina tari, penari dan koreografer di masa lalu.

Baca Juga

“New Normal” Kesenian: Melampaui Protokol, Menyadari Risiko

Portal Teater - Empat bulan setelah kasus virus corona (Covid-19) muncul pertama kali di Indonesia pada Maret, pemerintah akhirnya menetapkan kondisi "new normal". Berbagai kegiatan...

Gubernur Lampung Kukuhkan Akademi Lampung dan DKL Periode 2020-2024

Portal Teater - Gubernur Lampung Arinal Djunaidi melalui Sekretaris Daerah Provinsi Lampung Fahrizal Darminto resmi mengukuhkan pengurus struktural Akademi Lampung dan Dewan Kesenian Lampung...

Terkini

Gubernur Lampung Kukuhkan Akademi Lampung dan DKL Periode 2020-2024

Portal Teater - Gubernur Lampung Arinal Djunaidi melalui Sekretaris Daerah Provinsi Lampung Fahrizal Darminto resmi mengukuhkan pengurus struktural Akademi Lampung dan Dewan Kesenian Lampung...

“New Normal” Kesenian: Melampaui Protokol, Menyadari Risiko

Portal Teater - Empat bulan setelah kasus virus corona (Covid-19) muncul pertama kali di Indonesia pada Maret, pemerintah akhirnya menetapkan kondisi "new normal". Berbagai kegiatan...

Kolaborasi sebagai Praktik Intervensi Membongkar Kebekuan Teater

Portal Teater - Mengapa praktik-praktik penciptaan karya seni sekarang mengarah ke kerja kolaborasi? Praktik-praktik kolaborasi dalam kerja artistik terutama berakar ketika mulai munculnya studi-studi inter-kultur,...

Museum MACAN Gandeng OPPO Gelar “Arisan Karya” Edisi Terakhir

Portal Teater - Setelah sukses di dua ronde pertama, Museum MACAN kembali menggelar program "Arisan Karya" edisi terakhir. Program suntikan motivasi bagi ekosistem seni Indonesia...

Rudolf Puspa: Menggelorakan Berkesenian

Portal Teater - Saya masih ingat ketika pada tahun 2016 Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy menyerukan kepada penyelenggara pendidikan untuk menggelorakan aktivitas kesenian. Saya...