Tiga Strategi dalam “Distance Parade”

Oleh: Esha Tegar Putra*

Portal Teater – Beberapa rekan meminta saya melanjutkan pembacaan lebih jauh terhadap pertunjukan tari dalam “Distance Parade” (Parade Jarak Jauh) pada 27 April-1 Mei 2020 lalu.

Event ini diselenggarakan Seni Tari Indonesia bekerjasama dengan Direktorat Jendral Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, disiarkan melalui kanal Youtube Budaya Saya.

Permintaan tersebut terkait dengan anggapan bahwa pembacaan saya sebelumnya dipandang tidak lengkap sebagai representasi dari 40 pertunjukan dalam program itu dan belum memperlihatkan keunggulan dari masing-masing penari.

Saya kira ada persoalan baru muncul ketika kita menghadapkan, atau setidaknya menyamakan, pertunjukan selama lima hari tersebut dengan pertunjukan ruang konvensional yang biasa kita tonton.

Sebagaimana saya tuliskan sebelumnya, ada kegagapan ketika kita menghadapi media baru, dengan berbagai kemungkinannya termasuk bagaimana para seniman tari memandang penonton.

Satu pertanyaan penting digarisbawahi lagi dari hasil diskusi Heru Joni Putra dan Jecko Siompo adalah bagaimana para seniman tari memandang karya tari dalam format video yang diputar melalui kanal Youtube tersebut.

Apakah itu murni sebagai tari (hanya alih media saja), atau sebagai video tari (perimbangan antara tari dan videografi), video klip (sebagaimana pelengkap gambaran musik), atau video seni (di mana elemen tari hanya bagian kecil saja)?

Kesiapan Koreografer dan Penari

Pada tahapan ini—seperti catatan terdahulu—saya berpandangan bahwa kita harus mempertanyakan kembali kesiapan para koreografer dan seniman tari dalam menggunakan media baru dan mengubah perspektif terhadap panggung serta penonton.

Sebab pada tahapan ini koreografer dan perangkat kerja panggung konvensional akan bertukar kerja dengan videografer, konten editor, editor video, dll.

Dengan kata lain, kerja kru panggung telah digantikan tugasnya oleh teknisi dalam bidang videografi.

Sebagai penonton dan penikmat tari (dan tentu seni pertunjukan lain) saya hanya dapat menuliskan gambaran secara umum dari hasil tangkapan saya selama parade berlangsung.

Tentu, hal teknis mengenai bagaimana perkembangan atau kemajuan tari kontemporer, atau bahkan bagaimana perangkat videografi diberlakukan dalam pertunjukan tersebut akan dapat dibahas oleh para pakar bidang keilmuan khusus.

Dari pandangan umum ini saya berangkat dan melihat, bahwa kosatubuh dan gerak tari kontemporer masih merundung pandangan kita dengan keseragaman pola.

Hal itu terjadi baik ketika tari tersebut ditampilkan di atas panggung konvensional maupun dalam (bentuk) video.

Tentu saja, ini wajar, tapi dari sekian penampil, sudah seharusnya ada pandangan baru bahwa Parade Jarak Jauh bukan cuma alih ruang dan respon terhadap ruang yang beralih itu.

Dari keseragaman pola tersebut kita terus dipaksa untuk memaknai dan terkadang, jika kita mematut kosatubuh dalam garapan tari tersebut, maka kita tidak dapat lagi berbagi pemaknaan terhadap satu garapan tari dengan garapan lain.

Apa yang bisa membedakan satu pertunjukan dengan pertunjukan lain jika hampir secara keseluruhan kosatubuh sama? Salah satunya pembeda tentu bagaimana memainkan “narasi”.

Tiga Strategi: Tubuh, Ruang, Narasi

Beberapa hari belakangan saya coba mematut-matut lagi, mengulang-ulang rangkaian pertunjukan Parade Tari Jarak Jauh.

Saya berusaha mempercepat bagian yang saya rasa tidak menghadirkan pembacaan baru bagi saya, bahkan mengulang sekian kali satu pertunjukan yang saya rasa koreografer atau seniman tarinya dapat memanfaatkan betul tema parade ini—meskipun dalam kesederhanaan teknik pengambilan gambar.

Terdapat tiga strategi dari masing-masing koreografer dan seniman tari ini dapat saya tarik untuk menghadirkan pertunjukan yang patut ditonton adalah dengan memilih totalitas tubuh, eksplorasi ruang, atau penggarapan narasi yang baik.

Masing-masing adalah “totalitas tubuh”, “strategi penggunaan dan pemanfaatan ruang” dan “penggarapan narasi yang baik”.

Tentunya strategi ini merupakan kerjasama antar elemen dalam pertunjukan dan bukan berserah pada koreografer atau penari saja.

Beberapa pertunjukan terlihat begitu asyik ditonton, fokus dan total memilih satu di antara tiga strategi, dua, atau bahkan tiga sekaligus.

Beberapa pertunjukan lain dapat dikatakan tidak berupaya atau gagal menjajal lebih jauh bahkan satu dari tiga strategi tersebut.

Othniel Tasman dalam pertunjukan "See The Future". -Dok Youtube Budaya Saya.
Othniel Tasman dalam pertunjukan “See The Future”. -Dok Youtube Budaya Saya.

Penari 1: Othniel Tasman

Othniel Tasman (Jawa Tengah) dalam pertunjukan “See The Future (Human Creation to Facing The Fear)” pada hari kelima dapat dikatakan salah satu pertunjukan yang sadar bagaimana garapannya dinikmati oleh penonton.

Ia sadar panggung tidak lagi konvensional, ruang penglihatan penonton terbatas, fokus penonton akan lebih total pada penari melalui tiga strategi yang saya maksud di atas.

Kita dapat melihat pada pertunjukan Othniel, kurang lebih enam menit, ia sadar bahwa peristwa tubuhnya adalah alat utama untuk menyampaikan narasinya dalam pertunjukan.

Tubuhnya akan terlihat lebih dekat dibanding ketika ia tampil dipanggung dan itulah yang ia hadirkan: total memperlihatkan bagian tubuh terpenting yang sedang ia eksplorasi.

Pertunjukan Othniel hadir dalam narasi dan ruang sederhana, di kamar. Tata cahaya stabil (biru), sederhana, juga membuatnya tidak terbebani berbagai hal dan ia memanfaatkan bagian tubuhnya secara total melalui gerak sederhana pula.

Kita dapat melihat bagaimana sudut pandang kamera, yang berarti sudut pandang kita sebagai penonton, lebih banyak diarahkan untuk melihat kosatubuh Othniel pada bagian pinggang ke atas.

Tubuh secara menyeluruh sekilas saja dihadirkan untuk memperlihatkan pada penonton bagaimana bagian pinggang ke bawah menopang ketika ia memaksimalkan bagian pinggang ke atas.

Penonton tentu dapat melihat juga ketika Othniel bergerak, pelan dan sederhana, kita menyaksikan kehadiran yang lain turut menari selain dia: bayangannya.

Srategi ini cukup cerdik menurut saya dan tentu dapat dimaksimalkan melalui konsep video tari yang ditawarkan Parade Jarak Jauh ini.

Pada panggung konvensional akan membutuhkan siluet besar dan tata cahaya lengkap untuk memberlihatkan bagaimana bayangan merespon tubuh.

Namun pada video tari kondisinya jauh lebih sederhana. Pada tahapan ini kita dapat melihat Othniel (dan tim produksi tentunya) memberikan totonan lengkap pada penonton.

Dian Nova Saputra dalam pertunjukan berjudul "Rumit". -Dok Youtube Budaya Saya.
Dian Nova Saputra dalam pertunjukan berjudul “Rumit”. -Dok Youtube Budaya Saya.

Penari 2: Dian Nova Saputra

Selanjutnya kita dapat melihat bagaimana strategi tubuh, ruang, dan narasi dimaksimalkan kehadirannya dalam garapan tari dalam pertunjukan Dian Nova Saputra (Jawa Timur) berjudul “Rumit”.

Pada pertunjukan ini saya melihat bagaimana perpindahan ruang tidak menjadi persoalan lagi bagi penari, sebab narasi atau laju pertunjukan sudah matang digarap.

Dian lebih banyak menggunakan ruang luar. Sekilas memang tampak ia menggunakan ruang dalam (rumah) dan konsep penghadiran visualnya hampir sama dengan pertunjukan Othniel.

Berbeda ketika Dian hadir pada ruang luar, kita akan melihat secara keseluruhan tubuhnya yang menari, mungkin dengan harapan kita dapat melihat utuh bagaimana tariannya hadir dan merespon situasi perkampungan.

Perpindahan demi perpindahan juga hal terbaik yang dapat kita lihat dari pertujukan Dian. Meskipun terkadang terdapat gangguan pada penglihatan kita sebab tangkapan kamera tidak stabil.

Namun totalitas Dian dalam perpindahan ruang patut kita apresiasi. Ia total memfungsikan tubuhnya di setiap ruang dan bahkan perbedaan kontur ruang tidak mengurangi totalitasnya.

Ia banyak menari di tanah, berpindah dari halaman (mungkin), jalanan setapak kampung, tempat pemotongan kayu.

Ruang alamiah luar salah satu trategi agar tubuhnya tidak terbebani dengan segala perangkat yang ada di dalam ruangan.

Jika di dalam panggung setiap perangkat, materi, properti hadir dan harus direspon, apakah dalam konsep Parade Jarak Jauh properti yang hadir juga harus direspon?

Jelas saja, ia tidak serta merta hadir ketika koreografer memilih ruang tersebut. Ruang juga menjadi bagian utama dari kosep dan harus dimaksimalkan penggunaan perangkat yang ada di dalam ruang tersebut.

Ketika menari di kamar atau di ruang tamu yang penuh dengan berbagai perangkat, misalnya, sebagian penari tidak diuntungkan karena perangkat tersebut hanya menjadi sekadar riasan saja.

Bisa jadi ketika koreografer menghadirkan penari di ruang yang tidak terlalu banyak perangkat, mereka diuntungkan dengan strategi tersebut, penglihatan penonton dapat total pada kosatubuhnya—dan hal ini dapat kita lihat pada pertunjukan Dian.

Kita tidak melihat totalitas tubuhnya berkurang meskipun ia menari di halaman berkerikil, dari kandang kambing, setapak jalanan kampung, hingga pemotongan kayu.

Terakhir, di ruang pemotongan kayu kita menyaksikan Dian memanfaatkan betul benda sederhana yang ada di sana, misal pengki pembersih sisa potongan kayu yang dijadikan properti.

Ia tampak dapat mengoptimalkan penggunaan pengki itu dan menghadirkan kondisi dramatik sampai klimaks—ia mengakhiri dengan berlari di jalan setapak dari tempat pemotongan kayu.

Mugiyono dalam pertunjukan berjudul "Ruang Makan". -Dok Youtube Budaya Saya.
Mugiyono dalam pertunjukan berjudul “Ruang Makan”. -Dok Youtube Budaya Saya.

Penari 3: Mugiyono

Kekuatan narasi dalam pertunjukan dapat kita lihat pada pertunjukan Mugiyono (Jawa Tengah) berdudul “Ruang Makan”.

Satu orang penari ditemani dengan empat orang pemusik (anak-anak) meja makan dengan hidangan sederhana.

Saya melihatnya lebih sebagai tampilan dari performing art (video art). Simbol-simbol dalam pertunjukan menopang perjalanan narasi.

Musik hadir dari perangkat yang ada di meja makan, penari bergerak di atas meja makan, narasi juga bermain hanya sekitar meja makan.

Dalam pertunjukan ini pentonton benar-benar diminta untuk memaknai kehadiran benda-benda, fungsinya, lalu berlanjut pada memaknai kosatubuh penari merespon benda-benda tersebut.

Budi Jaya Habibi dalam pertunjukan "Sasmita". -Dok Youtube Budaya Saya.
Budi Jaya Habibi dalam pertunjukan “Sasmita”. -Dok Youtube Budaya Saya.

Penari 4: Budi Jaya Habibi

Budi Jaya Habibi (Kalimantan Tengah) melalui pertunjukan “Sasmita” juga merupakan salah satu pertunjukan yang memaksimalkan kekuatan narasi dan perlengkapan yang digunakannya dalam menari.

Dalam pertunjukan ini kita dapat melihat bagaimana unsur dan perlengkapan pertunjukan tradisi disepadankan dalam narasi.

Ia menjadi tari dengan simbol-simbol sederhana dan bertutur tegas pada penonton—terkadang unsur videografi membuatnya terkesan sureal.

Strategi dalam 4 pertunjukan ini mungkin dapat kita lihat lebih lanjut lagi. Sebab pandangan saya belum tentu benar dan bisa saja berbeda dengan pandangan pentonton lain.

Empat pertunjukan dalam Parade Jarak Jauh yang dinilai cukup merepresentasi totalitas tubuh, ruang dan narasi. Foto Kolase oleh Portal Teater.
Empat pertunjukan dalam Parade Jarak Jauh yang dinilai cukup merepresentasi totalitas tubuh, ruang dan narasi. Foto Kolase oleh Portal Teater.

Beberapa pertunjukan lain, saya pandang, terkadang berupaya berindah-indah bahkan berupaya merespon ruang pertunjukannya dalam kondisi kebingungan.

Mereka hendak memunculkan kosatubuh dramatik tapi ruang dan benda-beda di sekitar mengaburkanya.

Sesekali saya melihat tarian yang serupa pertunjukan pantomim saja. Di lain pertunjukan menganggap tari adalah sesuatu yang purbawi.

Dan satu hal terpenting yang kerap memunculkan keseragaman, sebagaimana sebelumnya saya kemukakan, kesamaan kosatubuh kontemporer dan ketidakpiawaian membangun narasi serta merespon ruang.

*Esha Tegar Putra adalah penyair muda Indonesia kelahiran Solok, Sumatra Barat, 29 April 1985. Aktif menulis puisi untuk rubrik sastra di Koran Tempo dan Kompas. Buku puisi terakhirnya dirilis awal tahun ini berjudul “Setelah Gelanggang Itu” (2020). Ia juga dikenal sebagai penulis dan penikmat seni.

Baca Juga

“Dini Ditu” Teater Kalangan: Menjahit Publik di Ruang Digital

Portal Teater - Kehadiran pandemi virus corona barangkali tak pernah dipikirkan atau diramalkan, meski ada teori konspirasi yang menyeruak belakangan bahwa Bill Gates telah...

Silang-Sengkarut “New Normal”

Portal Teater - Sejak beberapa waktu lalu, Presiden Joko Widodo telah mendengungkan wacana pemberlakukan "new normal", atau yang menurut ahli Bahasa Indonesia sebut sebagai...

Rudolf Puspa: Kiat Terus Berkiprah

Portal Teater - Sebuah catatan sekaligus menjawab pertanyaan seorang ibu, guru Bahasa Indonesia di sebuah SMA di Jakarta, membuat saya segera membuka tembang lama...

Terkini

Rudolf Puspa: Kiat Terus Berkiprah

Portal Teater - Sebuah catatan sekaligus menjawab pertanyaan seorang ibu, guru Bahasa Indonesia di sebuah SMA di Jakarta, membuat saya segera membuka tembang lama...

“Mati Konyol”: Paradoks, Retrospeksi, Kegamangan

Portal Teater - Pintu rekreatif tulisan ini dibuka dengan pertanyaan dari seorang awam, tentang apa uraian dramaturgi, dramaturg, dan drama. Bagaimana ciri, konvensi, guna,...

Menolak Mati Konyol di Era Konyol

Portal Teater - Uang, teknologi, status sosial, jabatan, pangkat, citra, dan popularitas, barangkali adalah serangkaian idiom yang menghiasi wajah kehidupan manusia hari ini. Menjadi...

Buntut Corona, FDPS 2020 Disajikan dalam Format Digital

Portal Teater - Festival Drama Pendek SLTA (FDPS) 2020 yang digagas Kelompok Pojok direncanakan diadakan pada April kemarin. Buntut pandemi virus corona merebak di Indonesia...

Seni Berkekuatan Daya Getar

Portal Teater - Seni adalah kekuatan yang memiliki daya getar. Bertahun-tahun aku dibimbing pelukis Nashar untuk mempelajari kesenian tanpa ingat waktu, lapar dan kemiskinan. Aku...