Parade Tari Masa Pandemi

Oleh: Esha Tegar Putra*

Portal Teater – Kemampuan untuk menumbuhkan rangsangan dan harapan bagi penata tari (koreografer) muda di berbagai daerah, kata Sal Murgiyanto, seringkali luruh sebelum berkembang karena tak ada keleluasaan, kesempatan, biaya dan terkadang karena “teguran” dari (koreografer) yang lebih tua.

Dan situasi hari ini, “pandemi”, satu poin yang patut ditambahkan pada ketakutan Sal soal ketiadaaan regenerasi koreografer muda yang diungkapkannya pada tahun 1978 itu.

Tapi tentu pandangan tersebut merupakan satu ketakutan atas ketiadaan ruang, dalam hal ini “panggung”, untuk para koreografer tersebut menampilkan karya mereka.

“Panggung” di sini juga kerap diasosiasikan pada sebuah agenda atau festival. Tidak ada festival, berarti tidak ada panggung, dan tidak ada panggung berarti koreografer tersebut tidak dapat menghadirkan karya.

Kalau pun ada festival, mereka belum tentu mendapatkan panggung, dan kalau pun mereka menghadirkan panggung sendiri, ketiadaan biaya menjadi soal?

Hari ini ketersediaan teknologi sudah melampaui pandangan soal panggung. Kendati kesepahaman kita soal panggung masih tetap tertuju pada ruang tontonan trapesium atau sejenis, kondisi hari ini telah memaksa kita untuk membanting habis perspektif tersebut untuk sementara waktu, bahwa panggung sebagai medium salah satunya sudah berada di genggaman tangan, beralih ke layar ponsel.

“Distance Parade” (Parade Jarak Jauh) digagas Seni Tari Indonesia bekerjasama dengan Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mungkin dapat kita ambil sebagai contoh.

Festival yang berlangsung selama lima hari, 27 April-1 Mei 2020, tersebut menghadirkan 40 karya solo dari seniman tari terpilih dari berbagai daerah di Indonesia.

Anstusiasme para seniman tari terhadap agenda tersebut mungkin dapat kita baca langsung pada media sosial penyelenggara.

Dalam lima hari (10-15 April 2020) pengajuan formulir peserta, berikut dengan pengiriman video, sebanyak 233 karya tari dalam format video berdurasi sekitar 5-7 menit diterima oleh penyelenggara.

Di luar persoalan penyediaan biaya produksi oleh penyelenggara festival kita boleh berbahagia, bahwa antusiasme dan kehendak untuk tetap berkarya dalam situasi sulit ini, setidaknya telah mengubah sudut pandang para koreografer atau seniman tari muda dari berbagai daaerah dan beragam genre.

Bahwa panggung dapat diciptakan dengan modal dan pembiayaan tidak besar. Juga tidak perlu menunggu suatu festival yang dengan segala keterbatasan tidak dapat memberi mereka ruang.

Parade Jarak Jauh, meskipun dikatakan sebagai platform sementara oleh Seni Tari Indonesia, tapi dapat dijadikan suatu studi ke depannya bagi para seniman pertunjukan untuk memaknai “panggung” di masa depan.

Kita boleh berandai-andai, barangkali jika pandemi tidak terjadi, apakah Parade Jarak Jauh ini akan dibuat dalam format pertemuan karya para koreografer dan seniman tari muda secara konvensional?

Sebuah pertemuan, di mana karya hadir di panggung trapesium atau panggung terbuka, dengan kehadiran penonton (lengkap dengan tepuk tangan) yang memberikan impuls dan gairah pada seniman tari.

Namun bisa jadi tidak, pandemi ini telah memaksa penyelenggara untuk bersiasat, menyesuaikan kebiasaan dan pandangan soal tari, panggung, dan penonton ke media baru yang selama ini tidak dimaksimalkan kegunaannya.

Kita selaku para penikmat, para koreografer dan seniman tari, mungkin juga panitia masih “gagap” memfungsikan media tersebut.

Kreator khususnya masih ragu karena memikirkan soal keintiman antara karya dan publiknya. Ketakutan apakah publik akan dapat menikmati pertunjukan secara live streaming melalui kanal Youtube, tapi semua terabaikan ketika parade berlangsung.

Pada akhirnya, dengan segala kegagapan sekaligus harapan, kita menyaksikan melalui layar ponsel di genggaman tangan.

Setidaknya ketika catatan ini ditulis, sudah sekitar 1500 hingga 3500 penonton (mungkin tidak secara penuh) menyaksikan Parade Jarak Jauh di kanal Youtube Ditjen Kebudayaan, Budaya Saya.

Esha Tegar Putra, salah satu penyair muda Indonesia. -Dok. islandofimagination.id
Esha Tegar Putra, salah satu penyair muda Indonesia. -Dok. islandofimagination.id

Menerjemahkan Ruang

Persoalan bagaimana para koreografer dan para seniman tari yang terlibat dalam Parade Jarak Jauh dan memandang audiens atau publiknya dapat kita simak dalam pembahasan Jecko Siompo dan Heru Joni Putra.

Dari pandangan dua pembicara tersebut kita dapat maknai bahwa memang pada dasarnya konsep pengemasan tari untuk publik melalui perangkat video dan disiarkan di kanal Youtube agaknya masih belum menemukan format yang pas.

Jecko menungkapkan bahwa “penonton” pertama dari karya tersebut tentulah kamera—yang dimainkan oleh koreografer.

Di sini, mestilah harus ada kesepakatan antara koreografer, penari, videografer, konten kreator, dan termasuk editor akan seperti apa tari tersebut ditampilkan ke publik.

Ada tiga kecenderungan hadir dari 40 peserta tersebut menurut Jecko, bahwa terdapat kehendak untuk menjadikan seperti video klip, mendekati film tari, atau mungkin video seni.

Tapi Jecko memandang hal tersebut tidak menjadi soal, setidaknya kondisi hari ini sudah “memaksa” para seniman tari untuk mencari jalan lain dalam menampilkan karya.

Perspektif mata kamera sebagai penonton awal juga diungkapkan Heru, bahwa ada kehendak untuk menjadikan kamera sebagai media rekam saja, pengambilan gambar stabil, dan karya tari tidak banyak potongan ketika dihadirkan ke publik.

Dalam hal ini, terdapat kehendak untuk menjadikan kamera murni sebagai alat bantu dari karya tari saja.

Namun ada juga yang sepenuhnya tidak dapat dilihat sebagai karya tari lagi karena terdapat strategi framing dan menjadikan sebuah karya ada yang hilang dan bahkan bertambah.

Dua Ruang

Di luar pembahasan dua pembahas tersebut, kita dapat melihat bagaimana seniman tari terpilih tersebut memanfaatkan tema yang diberikan oleh penyelenggara dalam menggarap pertunjukannya.

Pemilihan ruang mungkin adalah perihal utama yang dapat kita sorot dari 40 karya tari tersebut—sebagaimana penyelenggara memberikan tema “Ruang”.

Dua ruang yang dapat kita lihat adalah “dalam” dan “luar”.

“Dalam” memanfaatkan ruang yang sangat identik dengan kebiasaan tubuh dan memperlihatkan bagaimana tubuh penari menjemput lagi kebiasaan mereka lakukan di sebuah ruang.

Dan ruang “luar”, meskipun pembayangkan kita pada ruang bersama, lintasan yang dilalui banyak orang, tapi agaknya beberapa penari menggunakan ruangan “luar” yang sunyi atau “luar” yang masih dalam lahan privat.

Dari dua ruang tersebut hampir sebagian besar penari memanfaatkan betul satu ruang tanpa perpindahan. Tubuh penari mengeksplorasi habis-habisan satu ruang.

Namun, jika terdapat perpindahan ruang, hal tersebut agaknya untuk menghadirkan keragaman respon tubuh dan tidak mendatangkan kejumudan penonton.

Di hari pertama kita dapat melihat bagaimana Yulfan Annur Guluda (Jakarta) dengan koreografi berjudul “Takaruang” memanfaatkan peralihan ruang untuk menghadirkan dan memperlihatkan bagaimana tubuh bekerja dalam ruang.

Dari kamar mandi ia beralih ke ruang sempit yang membatasi satu ruang dengan ruang lain.

Judul dari karyanya merepresentasikan bagaimana ia memanfaatkan betul ruang dengan tema yang diberikan oleh penyelenggara.

Ia agaknya memulai koreografinya melalui teknik permainan kata. “Takaruang” menggiring pemahaman saya sekaligus ke perpaduan “karuang” (karung) dan “kuruang” (kurung) yang mengindikasikan ke situasi tubuh kita hari ini.

Puri Senjani Apriliani (Jawa Timur) dengan karya #Redzone, salah satu di antara sekian penari yang konsisten menggunakan satu ruang. Ia berusaha dengan habis-habisan menggarap tubuh di dalam kamar dengan properti yang minimalis: kasur busa berwarna merah.

Setidaknya pertunjukan Puri ini menggiring kita untuk melihat bagaimana tubuh bekerja dalam ruang dengan ketiadaan di dalamnya—atau barangkali ruang larangan tapi tubuh terkurung di dalam.

Penggunaan ruang minimalis ini tampak juga dari konsep yang dihadirkan Bathara Saverigadi Dewandoro melalui “Tusuk Edha”.

Di sini Bathara hadir dengan kekhasan dalam menghadirkan vokabulari tarian Jawa dan kali ini melalui tarian gaya Surakarta.

Judul tariannya sendiri berarti “serangan menghindar” dan ia agaknya berupaya menggunakan ruang untuk menghubungkan permainan tari tradisi dengan kondisi kekinian. Bathara hanya bermain di ruang “sela” dan “antara”.

Penggunaan perangkat tradisi juga dapat dilihat dari pertunjukan Fadhlan Auliananda dari Aceh berjudul “Bek” (Jangan).

Pada salah satu adegan ia tampak hendak menggiring kita pada getar dan resonansi yang dihasilkan dari pukau tari Saman. Bagian tari Saman ini membuat suasana menjadi dramatik.

Sementara itu bagaimana ruang “luar” digunakan dapat kita lihat salah satunya pada pertunjukan Erri Trihartono (Jawa Barat) dengan judul “Usik”.

Ia mulai menari dari atas atap dalam kondisi rinai, lalu ia berpindah ke bawah dan tubuhnya bergumul dengan tanah basah.

Perpindahan, dalam konteks ini oleh Erri dimaknai sebagai kondisi mutakhir hari, di mana manusia dipaksa dan dengan terpaksa harus menyesuaikan dengan situasi yang terkadang tidak dapat dinalar.

Meskipun dalam karya ini Erri melakukan beberapa perpindahan, tapi agaknya ia memang ingin mengetatkan pertujukan dengan sedemikian rupa, agar kehadiran tubuh tetap menjadi dominan.

Shohifur Ridho’i (Yogyakarta) melalui “Heterotopia: Dapur” menggunakan konsep unik dan mungkin tampak “nyeleneh” untuk menari—Heretopia sendiri ia sitir dari konsep Foucault.

Ia mungkin salah satu dari sekian penari yang memanfaatkan dapur sebagai ruang percobaan—sebagaimana ia tuliskan—dalam menari.

Setidaknya apa yang ia anggap sebagai percobaan secara konseptual tampak matang dan cukup menarik jika terus dikembangkan. Ia agaknya berupaya mengemukakan kembali diskursus soal dapur.

Dalam dapur yang dhihadirkan Shohifur semua simbol agaknya sudah dibebaskan dari idenfitikasi perempuan dan beralih otoritas ke tubuh laki-laki: kopiah, sarungan, berkemaja putih, sandal jepit, dekat dengan orang-orang abangan.

Feri Fadhli Pamontolo (Gorontalo) melalui “Lohidu” (Ratapan) agaknya tak banyak berupaya mengeksplorasi lebih jauh tema yang diberikan oleh penyelenggara.

Perspektif ini bisa jadi salah, tapi tampak upaya menghadirkan tari kreasi dengan kelengkapan tradisi yang belum maksimal.

Meskipun penari diupayakan untuk berkisah dan menghadirkan narasi tapi tampak tidak stabil.

Dengan awal kelengkapan pakaian tradisi lalu mengakhiri pertunjukan dengan menanggalkan pakaian tradisi tersebut apakah ia akan menjadi tari terbarukan (kontemporer)? Pertanyaan ini mengawang dalam pikiran saya selaku penonton.

Salah satu persoalan lain yang sedikit mengganggu, tampak penari dalam “Lohidu” dikondisikan dalam ruang yang kurang menguntungkan untuk bereksplorasi.

Jika kita boleh memperbandingkan, bagaimana upaya memaksimalkan perangkat tradisi, setidaknya akan tampak dari “Limen” karya Fitrya Ali Imran di hari kedua Parade Jarak Jauh.

Pada pembukaan tarian ini mungkin akan membuat kita bertanya juga apakah sepenuhnya tari kreasi akan dihadirkan di sini (?). Sebab mata kita pada mulanya dihadang oleh rumah adat tradisional.

Strategi kemunculan penari di sini cukup terbantu melalui videografi yang baik, di mana terdapat efek kejut ketika pintu dibuka dan kita langsung bersitatap dengan penari.

Jika pakaian adat adalah perangkat tradisi, maka kita juga menemuinya pada “Limen”.

Pakaian itu tetap stabil pada badan penari. Namun strategi mengeksplorasi properti sapu sebagai pelengkap tubuh penari menjadikannya lain.

Sapu yang tidak sekadar alat untuk membersihkan rumah, tapi sudah diubah menjadi simbol keberbagaian ketika kita melihatnya berada di kepala penari.

Harus diakui, tari ini digarap dengan baik dari dua sisi, koreografi dan videografi. Pembuka dan penutup tari ini dibuat berjalin dalam satu narasi utuh.

Catatan ini hanya lintasan, tentu tidak akan dapat menggambarkan 40 peserta secara keseluruhan. Akan menjadi kajian tersendiri jika dirunut sepanjang lima hari pertunjukan.

Selaku penonton, setidaknya tangkapan saya dalam catatan ini merupakan anasir dari lima hari tersebut.

Kita dapat melihat melalui contoh-contoh di atas, beberapa koreografer atau seniman tari dapat melakukan pengembangan lebih lanjut dari tema yang diberikan penyelenggara, di antaranya kesulitan dalam tahapan menerjemahkan narasi dan dalam garapan—termasuk kesulitan memanfaatkan kelonggaran penyelenggara soal genre dan teknik.

Di luar itu, satu persoalan yang mesti dibahas lebih lanjut, sebagaimana saya bahas pada awal catatan: mempertanyakan kembali kesiapan para koreografer dan seniman tari dalam menggunakan media baru dan mengubah perspektif panggung serta audiens.

Sebab pada tahapan ini koreografer dan perangkat kerja panggung konvensional akan berbagi kerja dengan videografer, konten editor, dan bahkan editor video.

Selamat untuk penyelenggara Parade Jarak Jauh sudah bersitegas dan mencari formula terbaik untuk melaksanakan agenda yang tentunya masih “tergagap-gagap” kita sentuh.*

*Esha Tegar Putra adalah penyair muda Indonesia kelahiran Solok, Sumatra Barat, 29 April 1985. Aktif menulis puisi untuk rubrik sastra di Koran Tempo dan Kompas. Buku puisi terakhirnya dirilis awal tahun ini berjudul “Setelah Gelanggang Itu” (2020). Ia juga dikenal sebagai penulis dan penikmat seni.

Baca Juga

GM akan Bicara tentang Manifesto Seni Indonesia

Portal Teater - Untuk terus bertumbuh selama krisis terbesar abad ini, pandemi virus corona, Goethe-Institut Indonesien lagi-lagi menyajikan rangkaian acara budaya daring melalui kanal-kanal...

Silang-Sengkarut “New Normal”

Portal Teater - Sejak beberapa waktu lalu, Presiden Joko Widodo telah mendengungkan wacana pemberlakukan "new normal", atau yang menurut ahli Bahasa Indonesia sebut sebagai...

Menolak Mati Konyol di Era Konyol

Portal Teater - Uang, teknologi, status sosial, jabatan, pangkat, citra, dan popularitas, barangkali adalah serangkaian idiom yang menghiasi wajah kehidupan manusia hari ini. Menjadi...

Terkini

Rudolf Puspa: Kiat Terus Berkiprah

Portal Teater - Sebuah catatan sekaligus menjawab pertanyaan seorang ibu, guru Bahasa Indonesia di sebuah SMA di Jakarta, membuat saya segera membuka tembang lama...

“Mati Konyol”: Paradoks, Retrospeksi, Kegamangan

Portal Teater - Pintu rekreatif tulisan ini dibuka dengan pertanyaan dari seorang awam, tentang apa uraian dramaturgi, dramaturg, dan drama. Bagaimana ciri, konvensi, guna,...

Menolak Mati Konyol di Era Konyol

Portal Teater - Uang, teknologi, status sosial, jabatan, pangkat, citra, dan popularitas, barangkali adalah serangkaian idiom yang menghiasi wajah kehidupan manusia hari ini. Menjadi...

Buntut Corona, FDPS 2020 Disajikan dalam Format Digital

Portal Teater - Festival Drama Pendek SLTA (FDPS) 2020 yang digagas Kelompok Pojok direncanakan diadakan pada April kemarin. Buntut pandemi virus corona merebak di Indonesia...

Seni Berkekuatan Daya Getar

Portal Teater - Seni adalah kekuatan yang memiliki daya getar. Bertahun-tahun aku dibimbing pelukis Nashar untuk mempelajari kesenian tanpa ingat waktu, lapar dan kemiskinan. Aku...