Skenario Masa Depan Seni Indonesia Pasca Pandemi

Portal Teater – Pandemi virus corona setidaknya dalam sekejap telah mengubah tatanan politik, ekonomi dan budaya global.

Selama berbulan-bulan, wabah terbesar dalam 100 tahun terakhir telah memukul 8,4 juta penduduk dunia, menewaskan 451 ribu orang, menurut data situs Worldometers, Kamis (18/6).

Dampak besar dari pandemi ini telah merusak ekosistem kehidupan yang telah berlangsung selama berabad-abad.

Di Indonesia, negara seolah tak berdaya lagi menghadapi hantaman virus yang menyebabkan diterbitkannya kebijakan “new normal”.

Meski sudah memasuki era kenormalan baru, tapi aktivitas berkumpul tetap masih dihindari agar tidak terjadi penularan atau penyebaran virus ke orang-orang sehat di sekitar.

Pembatasan sosial dan fisik inilah yang membuat aktivitas seni yang selalu melibatkan massa menjadi mandek.

Sejak awal pandemi hingga era “new normal” kegiatan seni hanya berlangsung di ruang-ruang sempit, tanpa pelibatan massal.

Dengan kata lain, pertunjukan atau pameran yang melalui ruang-ruang virtual, membuat seni sepi penonton dan tanpa pendapatan.

Dengan begitu, bagaimana seharusnya kita membayangkan aktivisme kesenian sesudah pandemi ini, atau setidaknya di era “new normal”, jika memang ini menjadi standar baku untuk melakukan kegiatan produktif setelah pandemi menghentikannya.

Atau jika pandemi tak pernah hilang seperti prediksi beberapa pakar kesehatan WHO, apa yang paling mungkin dibuat atau dipetakan agar kesenian tetap bertumbuh-berkembang.

Empat Skenario

Ratri Ninditya, Koordinator Peneliti Kebijakan Seni dan Budaya Koalisi Seni, memperkirakan ada empat skenario yang bisa terjadi jika negara gagap memulihkan krisis dan terus meminggirkan seni.

Menurut Ratri, dalam keempat skenario tersebut, peran negara hilang, dan digantikan oleh swasta dan individu.

Indikatornya dapat terbaca dari dua sumber kegelisahan dalam ekosistem seni hari ini, yakni ruang berinteraksi (virtual atau fisik) dan relasi antarpelaku, yaitu ekonomi ataukah afektif.

“Empat skenario ini sifatnya sangat mungkin beririsan, atau terjadi secara bersamaan,” ujar Ratri, Kamis (18/6).

Dalam skenario pertama, Ratri membayangkan pelaku berinteraksi hanya di ruang virtual dan digerakkan oleh motif ekonomi.

Seniman sibuk di depan layar, terobsesi dengan pembuatan konten pertunjukan digital setiap harinya.

Namun, jumlah penonton nol, karena semua orang menjadi seniman live streaming. Obsesi akan status melampaui urgensi untuk memonetisasi pertunjukan.

Dalam skenario ini, banyak kebutuhan dasar seniman tidak terpenuhi. Mengikuti kenaikan listrik, tarif internet akan semakin mahal, begitu pula platform streaming musik dan film.

Dalam situasi ini, muncullah generasi prekariat, yaitu ketika mereka terjebak situasi tak menentu dan tanpa jaminan masa depan yang masif tapi tidak terlacak.

Sementara itu, kredit mereka macet dan seniman terikat utang yang tidak akan bisa terbayar.

Skenario kedua, menurut Ratri, adalah gerakan seni virtual. Hal ini tumbuh dari interaksi terjadi di ruang virtual.

Namun relasinya bersifat afektif. Mereka menyiasati mahalnya akses internet dengan membangun jaringan internet mandiri.

Melalui media sosial, mereka memperluas jaringan, memobilisasi sumber daya, dan melibatkan diri dalam jejaring serta gerakan global.

Dalam konteks tersebut, boleh jadi mereka melakukan inovasi radikal agar praktik seninya lebih ramah lingkungan, serta menemukan cara supaya interaksi daring lebih bermakna.

Dalam skenario ini, perkumpulan dan serikat seni akan tumbuh subur dalam level lokal, nasional, hingga internasional.

“Tapi, hilangnya kesempatan berkumpul dalam jumlah besar di ruang fisik mengakibatkan rendahnya rasa memiliki dan keterikatan antarkomunitas di luar lingkup lokal. Daya tawar komunitas ke kalangan di luarnya pun lemah,” ucap Ratri.

Selanjutnya, dalam skenario ketiga, seni dilihat sebagai keseharian. Jika interaksi hanya dimungkinkan di ruang fisik dan relasi antarpihak bersifat afektif, desa jadi unit yang paling bisa bertahan.

Desa berinovasi memenuhi kebutuhan dasar warganya melalui sumber daya yang dimiliki secara komunal.

Sistem ekonomi alternatif akan diterapkan di desa ini, seperti barter, dan seni bisa jadi salah satu alat tukarnya.

Di kota, muncul eksperimen seni partisipatif. Pelaku seni berkumpul dalam jumlah kecil untuk mendiskusikan estetika baru dan melibatkan diri dalam proses pemulihan warga.

Gerakan seni radikal di lingkup lokal tumbuh. Namun, dampaknya terasa hanya dalam lingkup kecil.

Terakhir, bilamana seniman dan masyarakat terisolasi secara fisik dan relasinya berbasis kepentingan ekonomi, seni hanya akan menjadi hiburan warga.

Seniman makin akrab dengan tetangga untuk menjual keahlian seninya. Orang menghibur diri dengan pertunjukan berbayar dari warga sekitar atau memutar koleksi bajakan yang dikumpulkan sebelum streaming populer.

Sementara itu, para tenaga teknis bekerja membangun panggung pertunjukan berskala kecil.

Perupa mendapat pekerjaan untuk menunjang usaha kecil, dan menengah, seperti melukis mural di warung kopi atau menghias panggung seni warga.

Ratri kembali menegaskan bahwa semua ini menjadikan seni berfungsi sebagai hiburan semata.

Mayoritas seniman menampilkan karya orang lain yang sudah terkenal, sehingga sedikit karya baru dihasilkan.

Seni hidup selama bisa dinilai dengan uang, mengikuti selera populer, dan bersandar pada mekanisme pasar di tingkat lokal.

Peran Negara

Menurut Ratri, dari keempat skenario tersebut, peran negara menjadi sangat penting untuk menunjang keberlangsungannya.

“Bagaimanapun juga, inisiatif kolektif perlu dukungan negara agar bisa bertahan lebih lama,” tuturnya.

Hal yang menjadi tanggung jawab negara dalam menjaga nyala seni tetap menyala adalah dengan mendorong potensi dan keberlangsungan simpul-simpul seni di daerah.

Selain itu, perlu memperkuat jejaring antarsimpul, mendorong pertukaran ide dan sumber daya alam dan budaya antarwilayah, memastikan semua bisa tumbuh bersamaan.

Ia menilai upaya negara untuk mendorong kegiatan seni semasa pandemi patut diapresiasi, namun belum cukup.

Menurutnya, prasyarat dasar yang harus dipenuhi negara terlebih dahulu adalah kebutuhan dasar pelaku seni sebagai jaminan kelangsungan hidupnya, pengakuan status seniman, dan pelindungan kebebasan berkesenian.

Negara juga perlu mendukung dalam bentuk pendanaan skala komunitas, pemerataan akses internet dan bekal literasi digital, serta pengembangan akses informasi lewat media publik dan jaringan komunikasi lokal.

Pemerintah bisa juga mengaktifkan kembali ruang berkesenian fisik dengan memberlakukan protokol kesehatan khusus, mendorong lebih banyak pihak mendukung seni, dan terus menggulirkan wacana tentang dampak penting seni bagi masyarakat.

Di sisi lain, Ratri menilai bahwa sasaran kebijakan pemerintah pun perlu digeser ke dinamika pergerakan di daerah.

Sebab kota-kota besar perlu belajar dari berbagai eksperimen yang dilakukan simpul seni budaya di pinggir dan pelosok.

Dengan begitu, cita-cita ekosistem seni yang sehat dapat terwujud. Pelaku seni bukan saja berdaya secara finansial.

Lebih dari itu, mereka juga bisa meningkatkan kepekaan dan daya refleksi kritis dari pengalaman hidup yang terus berubah.

“Semoga kita tidak sedang menuju kenormalan baru karena sejatinya, seni budaya terus bergerak dan ‘normal’ adalah jalan buntu yang harus dihindari,” pungkas Ratri.*

Baca Juga

Buku Puisi Sosiawan Leak Berbasis Media 3 in 1 Siap Diterbitkan

Portal Teater - Buku puisi "Rumah-Mu Tumbuh di Hati Kami: Kumpulan Puisi Puasa di Masa Korona" karya penyair multitalenta Sosiawan Leak berbasis media 3...

Rontoknya Kekerasan karena Cinta

Portal Teater - Apakakah kekerasan akan luluh lantak dengan indahnya alis mata, binar indah bola mata dan lentik bulu mata. Atau malah makin ganas? Dalang (sutradara)...

Rudolf Puspa: “Abdi Abadi” adalah sebuah Tanggung Jawab

Portal Teater - Berdiri di panggung Graha Bhakti Budaya di Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki (PKJ TIM), pada 26 Desember 2016 ketika menerima piagam...

Terkini

Galerikertas Kembali Buka Ruang Pameran untuk Publik

Portal Teater - Setelah beberapa bulan ditutup karena situasi pandemi, awal Juli ini Galerikertas akhirnya kembali dibuka untuk publik. Pembukaan kembali galeri berbasis Depok, Jawa...

Rontoknya Kekerasan karena Cinta

Portal Teater - Apakakah kekerasan akan luluh lantak dengan indahnya alis mata, binar indah bola mata dan lentik bulu mata. Atau malah makin ganas? Dalang (sutradara)...

Teater Broadway Tutup hingga Awal 2021

Portal Teater - Teater Broadway telah mengumumkan secara resmi bahwa akan tetap menutup teaternya sepanjang sisa tahun ini hingga awal tahun 2021 mendatang. Meski demikian, pembukaan...

Buku Puisi Sosiawan Leak Berbasis Media 3 in 1 Siap Diterbitkan

Portal Teater - Buku puisi "Rumah-Mu Tumbuh di Hati Kami: Kumpulan Puisi Puasa di Masa Korona" karya penyair multitalenta Sosiawan Leak berbasis media 3...

Rudolf Puspa: “Abdi Abadi” adalah sebuah Tanggung Jawab

Portal Teater - Berdiri di panggung Graha Bhakti Budaya di Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki (PKJ TIM), pada 26 Desember 2016 ketika menerima piagam...