Tubuh Gunung (Resonansi Teater Tradisi)

Portal Teater – Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah beberapa kali melakukan forum pertemuan teater tradisi. Terakhir pada tahun 2014. Hampir setiap forum berbasis tradisi, cenderung memunculkan pertanyaan: untuk apa menampilkan seni pertunjukan tradisi? Siapa penontonnya? Turis domestik atau turis mancanegara?

Setiap forum seni tradisi mengandaikan program ini bertujuan sebagai pelestarian maupun pengembangan budaya, atau sering disebut sebagai “revitalisasi tradisi”. Tetapi bagaimana caranya? Karena sesungguhnya seniman-seniman masa kini terus melakukan pembacaan atas warisan tradisi dan menempatkannya ke dalam konteks mereka masing-masing. Dan bagaimana memetakannya?

Pekan Teater Nasional 2019, yang diselenggarakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan bekerja sama dengan Dewan Kesenian Jakarta, kali ini melakukan sebuah kerja kuratorial dalam menjalankan program ini dengan menggunakan “tubuh gunung” sebagai rujukan bagaimana tradisi ditempatkan ke dalam persoalan-persoalan masa kini. Kenapa “tubuh gunung”?

26 Desember 2004 Aceh dilanda bencana Tsunami yang menjatuhkan banyak korban. Sejak itu kita menghadapi mata rantai gesekan lempengan bumi yang terkait antara gunung dan laut. Beberapa peristiwa meletusnya gunung berapi, mengingatkan lagi bahwa pulau-pulau kita berdiri bersama ratusan gunung yang sebagian masih aktif.

Gunung-gunung di Jawa Tengah, lithografi Franz Wilhelm Junghuhn (1809-1864), Koleksi Tropenmuseum, Amsterdam. -Dok. Afrizal Malna dari pameran Biennale Berlin 2014.
Gunung-gunung di Jawa Tengah, lithografi Franz Wilhelm Junghuhn (1809-1864), Koleksi Tropenmuseum, Amsterdam. -Dok. Afrizal Malna dari pameran Biennale Berlin 2014.

Beberapa letusan gunung, seperti Toba purba, Krakatauu (1815), Tambora (1883) ikut mempengaruhi iklim dunia, karya sastra, seni, sejarah maupun perkembangan ilmu pengetahuan.

Ketika bencana datang, teknologi dan peradaban lumpuh. Apakah tubuh memiliki kecerdasan untuk mencium dan keluar dari bencana alam? Apakah tubuh punya kemampuan membaca gejala alam, seperti beberapa jenis hewan yang memiliki indera untuk mendeteksi bencana yang akan terjadi?

Tradisi kita mewarisi pengetahuan tentang gunung. Sebagian besar hidup dalam bentuk mitos, dongeng, mantra, dan syair. Folklor tentang kepercayaan yang menempatkan gunung setara dengan mahluk hidup. Memandang peristiwa meletusnya gunung bukan sebagai bencana, melainkan bagian dari hidup bersama dengan sesama mahluk lain.

Hampir setiap gunung, seperti Tangkuban Perahu, mitos Beringin Putih atau Baru Klinting di Merapi, memiliki mitos di sekitar gunung.

Gunungan dalam Wayang Kulit. -Dok. Pinterest.com.
Gunungan dalam Wayang Kulit. -Dok. Pinterest.com.

Wayang juga dibuka dengan “gunungan” yang merepresentasi berbagai mahluk, alam dan peradaban sebagai ekosistem maupun kosmologi bersama. Gunungan sebagai bentuk diagram yang bersifat indeksikal maupun kodefikasi atas nilai-nilai budaya. Berkelindannya secara massif antara data dan estetika.

Tubuh Gunung dalam Pekan Teater nasional 2019 dijadikan sebagai batas habitat untuk mengenali tubuh tradisi (setelah budaya laut maupun maritim). Setiap tradisi mengandaikan adanya komunitas budaya yang bergantung pada tempat sebagai sumber kehidupan maupun medan representasi dari berbagai produksi pengatahuan, keahlian, folklor dan kepercayaan.

Tradisi merupakan segala sesuatu yang disalurkan atau diwariskan dari masa lalu ke masa kini. Berlangsung sebagai praktik seni pertunjukan berbasis budaya lisan (cerita, drama, kidung, mantra, puisi, tembang dan berbagai elemen lain yang melekat).

Ia bukan “barang” yang tetap, juga tidak selalu berada di tempatnya. Ia bergeser, atau menggeser batas-batas lamanya untuk bisa beririsan dengan masa kini, meskipun dalam rentang sejarah tertentu. Membuat aspek-aspek pengendapan tradisi tetap bertahan.

Beberapa unsurnya yang lain mungkin mulai menguap dan lenyap; mungkin juga muncul kembali dalam cara, bentuk dan fungsi yang terperbarui. Generasi baru dengan jaman yang berbeda datang dan berganti, masing-masing mereka membawa tatapan yang lain.

Cacing Kremi dan Masuk angin

“Masuk angin” merupakan istilah yang menggoda untuk menamai pengada eksternal dalam konteks program ini yang menggunakan performativitas tubuh-gunung. Terutama karena istilah ini datang dari tradisi pengobatan yang cukup umum dikenal dalam keberagaman tradisi kita.

Wikipedia mendefenisikan “masuk angin” sebagai suatu kondisi yang disebabkan karena berkumpulnya gas yang tidak merata di dalam tubuh.

Masuk Angin diyakini menjadi penyakit yang nyata, namun saat ini belum ada bukti medis untuk mendukung klaim ini. Penyakit ini mirip influenza, karena gejala dan penyebabnya hampir sama. Masuk angin biasanya dianggap sekadar mitos di dunia kedokteran modern.

Angin merupakan hal yang immaterial. Hanya bisa dirasakan, namun tidak ada wujudnya. Tradisi kita memilki cara khas untuk “menempatkan” sesuatu yang immaterial menjadi seolah-olah nyata untuk menjelaskan kondisi tubuh dan kesehatan.

Istilah yang mengantar terjadinya keterhubungan eksternal-internal. Membentuk konsep ruang pada tubuh yang terhubung dengan ruang di luarnya. Ikut memberi tempat kepada faktor yang tak terkenali, menjadi indikator lain dan ikut memberi bentuk terhadap gesekan manusia dengan dunia eksternalnya.

Memunculkan semacam resonansi perspektif tubuh yang melibatkan tubuh lain. Tradisi masyarakat Jawa ketika minum obat, juga mengandaikan hal yang sama, seperti syair ini:

tombo teko
loro lungo
cacing kremi
podo mati
kari siji
nggo tunggu waras

(obat datang, sakit pergi. cacing kremi pada mati. tinggal satu untuk menjaga kesehatan)

Obat diminum tidak untuk membunuh seluruh cacing kremi yang menyebabkan sakit, melain- kan ditinggalkan satu cacing untuk menjaga kesehatan.

Pemetaan Teater Tradisi

Perubahan transportasi, karena dibangunnya infrastruktur kereta api maupun jalur pelayaran kapal laut oleh pemerintahan Hindia Belanda, kota-kota di Jawa dan Sumatera kian lebih banyak saling terhubung satu lainnya.

Meluasnya kebutuhan pasar atas produksi hiburan maupun penciptaan dan kian berkembangnya budaya kota, merupakan salah satu indikaksi tumbuhnya teater modern seperti Opera Bangsawan maupun Komedi Stamboel.

Dari sebagian teater tradisi yang mulai tercatat muncul di akhir Abad 19 dan awal Abad 20, apa yang disebut sebagai “teater tradisi”, berisisan langsung dengan perkembangan Opera Bangsawan maupun Komedi Stamboel.

Bedanya, teater tradisi menggunakan ciri-ciri performatifnya berdasar berbagai elemen tradisi yang melekat dalam pertunjukan mereka (musik, kostum, dekor, cerita lokal), dan rata-rata menggunakan Bahasa setempat.

Jumlah mereka berkisar 20-an: Bali (Arja/Bondres), Batak (Opera Batak), Betawi (Lenong), Bugis (Kondobuleng, Sinrili), Jawa (Wayang Orang, Ludruk, Ketoprak, Srimulat, Kethek Ogleng), Melayu Sumatera (Makyong, Dalu- pa/Didong, Dul Muluk, Mop Mop), Lampung (Warahan), Minangkabau (Bakaba/Randai), Melayu Kalimantan (Mamanda, Tingkilan/Sangkilan), Papua (Tabura), Sasak/Bali (Tektekan), Sunda (Ubrug/Petindung, Longser, Miss Tjitjih, Wayang Golek, dan Gekbreng (Sukabumi).

Kurasi Pekan Teater Nasional 2019 lebih menyasar ke kelompok-kelompok teater tradisi yang belum terdistribusi ke wilayah lebih luas dan belum banyak penelitian yang dilakukan terhadap kelompok ini.

Bergerak dan Bergeser

Pekan Teater Nasional 2019 kali ini mencoba membuat tatapan atas keberadaan seni pertunjukan tradisi dalam kerangka “bergerak” dan “bergeser”, persis seperti lempengan bumi.

Memunculkan pertanyaan: Bagaimana kita melakukan revisi atas pandangan-pandangan post-kolonial terhadap tradisi, dan keluar dari posisi bipolar yang membuat pemisahan tajam antara tradisi dan modern?

Bagaimana caranya?

Tiga Platform Saling Bersinggungan Forum ini menggunakan 3 platform untuk memetakan teater tradisi dalam resonansi tumbuh, bergerak dan bergeser itu:

Kanon Tradisi. Pelacakan atas batas asal-usul tradisi tetap merupakan produksi pengetahuan dan edukasi dalam membaca masa lalu. Mengurai informasi maupun data baru atas arsip tradisi.

Dalam platform ini, seni pertunjukan tradisi dihadirkan sebagai kanon, sesuai dengan pakem yang membatasinya maupun konteks budaya yang melatarinya. Kehadiran tradisi yang natural lebih menjadi agenda utama, dibandingkan dengan kemasan gemerlapan.

Post-Tradisi. Menampilkan karya progresif yang dihasilkan dari tafsir vital terhadap seni pertun- jukan tradisional. Platform ini diarahkan untuk mendorong keunikan dan ketajaman tafsir atas pakem dan visi seni tradisi, sehingga terjadi lompatan dan terobosan kreativitas.

Esensi tradisi dapat digali vitalitasnya yang baru, membuat keterhubungan baru antara yang lokal dan global.

Dalam seni pertunjukan, tradisi sebagai rekreasi (penciptaan ulang, kadang juga disebut sebagai post-tradisi), pernah dilakukan Huriah Adam, Sardono W. Kusumo, Suprapto Suryodarmo, Bagong Kusudiardjo, Arifin C. Noer, Slamaet Abdul Sjukur, Gusmiati Suid, Putu Wijaya, I Wayan Sadra atau Decenta (1973) dalam seni rupa yang dijalankan seniman-seniman ITB Bandung.

Teater Riset. Program riset terhadap teater tradisi yang dilakukan oleh teater yang tidak pernah bersinggungan dengan tradisi. Hasil riset menjadi materi pertunjukan yang “ditempatkan” ke tubuh-pertunjukan masa kini.

Dalam paltform ini, penciptaan teater berdasarkan riset atas seni pertunjukan tradisi dimung- kinkan dilakukan melintasi batas-batas medium maupun disiplin. Menampilkan karya yang dihasilkan dari riset dan bagaimana produksi arsip dari riset “ditempatkan” ke dalam aktivisme baru, mencari bentuk-bentuk presentasi performatif yang lebih terbuka dan cair.

Ketiga platform di atas pada gilirannya merupakan pemetaan pada bagaimana tradisi dihadirkan sebagai arsip, rekreasi dan teater dokumenter yang bisa dilacak sebagai tiga lingkaran saling bersinggungan. Menghadirkan, menggeser dan menjadikannya sebagai dialog masa kini.

Di antara ke tiga lingkaran platform yang saling bersinggungan, dan merupakan praktik dimana Pekan Teater Nasional 2019 dijalankan, ada sebuah konteks yang tidak bisa diabaikan.

Bahwa pertunjukan-pertunjukan yang dihasilkan dari ke tiga lingkaran, melekat-erat dengan seluruh seniman maupun tim yang berada di dalamnya. Mereka datang dari masa kini, dan tidak bebas dari opini-opini kekinian.

Dengan kata lain, ada pengada eksternal yang bocor dan ikut mewarnai hasil penciptaan dan dilihat sebagai hal yang organik untuk produksi pertunjukan dalam forum ini.

Ketiga platform ini merupakan proyeksi dari tubuh-gunung: tumbuh, meletus, kemudian terjadi recovery lingkungan.

*Naskah ini diambil dari Pengantar Kuratorial “Pekan Teater Nasional” 2019 oleh Afrizal Malna, Benny Yohanes, Dindon WS, Wahdat M.

Baca Juga

Komit Bangun Kebudayaan, Bupati Tubaba Gelar “Megalithic Millennium Art”

Portal Teater - Pembangunan kesenian dan kebudayaan di Provinsi Lampung belakangan ini terus bertumbuh. Aktivisme itu tidak hanya digiatkan oleh seniman dan komunitas/sanggar seni,...

Buka Lembaran 2020, Kineforum DKJ Putar Lima Film Keluarga

Portal Teater - Kineforum, salah satu sayap program Komite Film Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) membuka lembaran tahun ini dengan mempersembahkan "FAMILIAL", sebuah program untuk...

ORArT ORET Semarang Gandeng SCMC Gelar Konser Edisi Ke-2 “Barokan Maneh”

Portal Teater - Komunitas ORArT ORET Semarang kembali menjalin kerjasama dengan  Semarang Classical Music Community (SCMC), menggelar konser musik klasik pada Jumat (24/1) di...

Terkini

Buka Lembaran 2020, Kineforum DKJ Putar Lima Film Keluarga

Portal Teater - Kineforum, salah satu sayap program Komite Film Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) membuka lembaran tahun ini dengan mempersembahkan "FAMILIAL", sebuah program untuk...

ORArT ORET Semarang Gandeng SCMC Gelar Konser Edisi Ke-2 “Barokan Maneh”

Portal Teater - Komunitas ORArT ORET Semarang kembali menjalin kerjasama dengan  Semarang Classical Music Community (SCMC), menggelar konser musik klasik pada Jumat (24/1) di...

Tolak Komersialisasi TIM, Para Seniman Gelar Diskusi “Genosida Kebudayaan”

Portal Teater - Menolak komersialisasi Taman Ismail Marzuki Jakarta, sejumlah seniman yang tergabung dalam Forum Seniman Peduli TIM menggelar diskusi publik di Pusat Dokumentasi...

Pemerintah Alokasikan Rp1 Triliun Dana Perwalian Kebudayaan 2020

Portal Teater - Pemerintah mengalokasikan Dana Perwalian Kebudayaan bagi pegiat seni budaya dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2020 sebesar Rp1 triliun. Alokasi...

Tur Keliling ASEAN, Kreuser/Cailleau Singgah di Jakarta dan Surakarta

Portal Teater - Selama bulan Januari dan Februari 2020, komponis Jerman Timo Kreuser dan pembuat film Prancis Guillaume Cailleau melakukan tur keliling Asia Tenggara...