Aktor Teater Perlu Kemampuan “Menghitung”

Oleh: Rudolf Puspa*

Portal Teater – Setelah menelaah kemampuan membaca, mendengar dan bicara yang dialami dari kegiatan pelatihan teater maka kini kita akan berlanjut pada kemampuan “menghitung.”

Pertama-tama mari kita samakan dulu persepsi kita bahwa dalam kata “menghitung” tentu bukan masalah yang berhubungan dengan angka-angka saja.

Namun lebih pada ketrampilan dan kesiapan “menghitung” segala bentuk, laku kehidupan individu serta lingkungan di mana individu itu berada.

Tentu saja saya mempelajari ilmu “menghitung” yang diawali atas keterkaitannya dalam pelatihan teater.

Dalam pemahaman atas teks setelah dibaca, didengar dan dibicarakan maka masuklah kini sang sutradara bersama pemain serta kru artistik dan tentu saja staf produksi “menghitung” segala persiapan fisik bagi pelaksanaan latihan hingga pementasan.

Para staf produksi akan menghitung anggaran yang dibutuhkan serta mencari jalan keluar untuk mendapatkannya dengan perhitungan tidak rugi bahkan diusahakan untuk mendapat keuntungan finansial.

Tentu mereka akan banyak berbicara mengenai angka-angka.

Sementara para staf artistik akan menghitung segala sesuatu yang berhubungan dengan kebutuhan seni seperti wardrobe, make up, property, lampu, set mulai dari desainnya hingga pembuatannya.

Lalu sutradara dan pemain berhitung mengenai penyiapan pemeranan. Dalam hal berhitung di sini tentu akan berbeda satu sama lain, mulai dari pemikiran hingga cara kerjanya.

Seorang penonton dari SMP Materdei naik ke pangggung dalam pementasan "Wek Wek" karya D.Djajakusuma oleh Teater Keliling di BLK Jakarta Selatan. Memancing emosi penonton untuk terlibat dalam pertunjukan merupakan salah satu ciri pemanggungan Teater Keliling. -Dok. Rudolf Puspa.
Seorang penonton dari SMP Materdei naik ke pangggung dalam pementasan “Wek Wek” karya D.Djajakusuma oleh Teater Keliling di BLK Jakarta Selatan. Memancing emosi penonton untuk terlibat dalam pertunjukan merupakan salah satu ciri pemanggungan Teater Keliling. -Dok. Rudolf Puspa.

Menghitung Pemeranan

Kali ini mari kita bicarakan mengenai kegitan aktor dan aktris bersama sutradara dalam “menghitung” kegiatan pemeranan.

Teknik vokal disiapkan untuk mampu memainkan warna suara, tinggi rendahnya, besar kecilnya, atau ambat cepatnya.

Seorang aktor harus memiliki kemampuan “menghitung” yang prima sehingga tercapai sebuah orchestra yang enak didengar penonton.

Begitu juga mengenai blocking yang harus dibuat sutradara. Tentu sutradara harus piawai menghitung tiap langkah, lari, loncatan, maju, mundur dan sebagainya sehingga tersusun komposisi antar pemeran ketika sedang in action di panggung dan indah dipandang.

Menghitung irama gerak, irama suara, irama bentuk merupakan kekuatan sebuah pertunjukkan agar tidak membosankan karena monoton atau terjadi apa yang sering disebut “ham acting.”

Apapun kalau berlebihan selalu justru tidak enak dinikmati. Oleh karenanya aktor selalu dituntut memiliki kemampuan menakar laku dramatiknya, inner action maupun outer-nya.

Aktor yang telah memiliki kemampuan “berhitung” akan mempengaruhi pribadinya ketika berada di dunia nyata yakni di kehidupan sehari-harinya.

Bagaimanapun hasil pendidikan pasti akan terbawa keluar.

Jika keluar dari bangku sekolah tetap saja menjadi anak yang tak punya kemampuan membaca, mendengar, bicara dan menghitung tentu perlu diteliti bukan saja yang sekolah namun juga guru.

Kemampuan-kemampuan tersebut akan menjadikan anak cerdas ketika bergaul di luar tembok atau ruang pendidikan.

Menghitung segala atmosfer kehidupan yang ditemui dijamin akan sangat cepat dilakukan bahkan kadang seperti sambil lalu saja namun apa yang dikerjakan adalah hasil perhitungannya yang tepat.

Pementasan "Wek Wek" karya D.Djajakusuma oleh Teater Keliling di BLK Jakarta Selatan. -Dok. Rudolf Puspa.
Pementasan “Wek Wek” karya D.Djajakusuma oleh Teater Keliling di BLK Jakarta Selatan. -Dok. Rudolf Puspa.

Energi Positif

Berhitung akan menjadi sebuah kebiasaan hidup yang positif sehingga terbangun energi berhitung yang positif.

Energi positif inilah yang sangat diperlukan bagi pergaulan sehari-hari. Melihat segala kejadian dengan kacamata positive thinking.

Dengan positive thingking, seseorang mampu melihat, membaca, mendengar dan berhitung hal-hal yang ada di kehidupan sehingga mendorongnya menemukan jawaban atau solusi yang tepat.

Betapapun sulitnya melatih berpikir positif namun harus dilakukan terus menerus. Tentu ini untuk kemaslahatan bersama.

Seperti halnya di panggung, pemain harus berhitung tentang kesehatannya, hubungan yang harmonis dengan sesama pemain dan seluruh pendukung pertunjukkan.

Hal itu tentu akan melahirkan sikap hidup gotong royong karena seni teater adalah hasil kerja kolektif.

Kebiasaan gotong royong akan melatih mampu hidup toleran, tolong menolong, saling menghargai dan juga saling merasakan bahwa kita saling membutuhkan kehadiran yang satu dengan yang lain.

Namun demikian seperti peran di panggung selalu ada antagonis dan protagonis. Ada persilangan pendapat, ada permusuhan, ada perkelahian; namun seluruhnya menuju ke titik klimaks yang selanjutnya menurun menemukan jalan keluar.

Apakah nantinya happy ending atau tragedi pun bisa terjadi. Mungkin jalan keluar akan muncul di atas panggung tapi juga bisa muncul di hati tiap penonton.

Semua kemungkinan ini bisa terjadi sehingga kita tanpa sadar belajar mampu merasakan adanya perbedaan pendapat; namun tetap dalam arah ke puncak yang bernama Bhineka Tunggal Ika.

Ada ungkapan lama yang bisa memperkuat kita, yakni “Banyak jalan menuju Roma.”

Bukan Soal Angka

Demikian halnya dalam seni teater, ternyata “berhitung” bukan hanya menyoal angka seperti halnya 2+2=4.

Namun bisa beraneka jawaban dan itu kadang seperti tak masuk akal namun setelah diteliti ditemukan kebenarannya.

Daya berhitung yang kuat akan memudahkan untuk mengatasi segala kejadian yang muncul di luar dugaan.

Di teater dikenal sebagai kemampuan daya improvisasi. Aktor yang memiliki kemampuan membaca, mendengar, bicara ditambah berhitung yang kuat akan sangat hebat daya improvisasinya.

Penonton pun tidak tahu jika ada yang lupa dialog, salah jalan, kursi patah sebenarnya itu kecelakaan panggung, pemain jatuh karena kepleset padahal sebenarnya tak ada adegan kepleset dan banyak kejadian muncul di luar desain selama latihan.

Demikian pula dalam kehidupan sehari-hari, bukankah kita akan selalu banyak bertemu dengan hal-hal di luar dugaan yang mau tidak mau harus kita selesaikan.

Kekuatan Teater

Pelatihan teater yang mengasah daya improvisasi yang dilandasi kemampuan “berhitung” yang cerdas akan bermanfaat bagi kehidupan sehari-hari yang banyak warna dan sepak terjangnya.

Dalam kesenian kita diasah terus menerus untuk mengenal keindahan maka tanpa disadari kita akan memiliki rasa keindahan sehingga menjadikan satu kekuatan untuk selalu mampu menghindarkan segala bentuk kekerasan.

Dapat terjadi, misalnya yang muncul di tengah amuk massa justru sinar kedamaian yang menenangkan gejolak negatif.

Begitu besar kekuatan seni teater dalam mempengaruhi kehidupan sehingga kerap dijauhi karena dianggap membuka borok-borok kejahatan, kemunafikan, atau kebatilan. Dengan demikian dinilai dapat memicu instabilitas.

Padahal itu merupakan alasan untuk menyembunyikan ketakutan mereka yang akan kehilangan muka karena dikritik lewat teater.

Ketakutan inilah yang akhirnya sadar atau tidak memaksa orang membentengi diri dengan pagar-pagar seperti menyebarkan fitnah dan hoax dengan bahasa yang keras dan kasar.

Orang semacam intu kebanyakan takut sejarah masa lalunya terbongkar. Takut menjadi miskin hingga tujuh turunan.

Ironisnya, ketakutan seperti ini bukan hilang oleh perjalanan sejarah yang ingin mengubahnya namun ternyata masih terus menggelinding dibawa pewaris-pewarisnya yang masih setia pada para sesepuhnya baik yang masih ada maupun yang tiada.

Rasanya kehidupan akan selalu ada dua kubu yang terus menerus hadir tak berkesudahan. Dua kubu yang ada dalam diri tiap manusia yakni beradab dan biadab.

Semua akan kembali kepada individu masing-masing yang tentu saja memerlukan kesadaran sejarah.

Jika berani membaca sejarah dan mendengar ceritanya lalu dan mampu bicara secara utuh dan menghitung baik buruknya bagi hari ini maka ketakutan seperti diatas lambat laun akan hilang.

Itupun diperlukan penggerak yang luar biasa dan berani menghadapi banyak musuh yang terganggu sejarahnya.

Literasi Lewat Teater

Saya berkeyakinan bahwa kesenian pada umumnya dan teater pada khususnya mampu berkontribusi bagi pendidikan literasi anak-anak bangsa sehingga melahirkan bangsa yang melek sejarah.

Kami di Teater Keliling telah memuliai dengan gagasan besar untuk menggali narasi-narasi sejarah Indonesia untuk dipentaskan dalam karya teater.

Dolfry Inda Suri, putri saya, yang kini memimpin generasi kedua Teater Keliling telah merangkul ribuan milenial untuk mementaskan bersama karya-karya sejarah tersebut.

Kami menyadari bahwa literasi sejarah perlu digalakkan agar anak-anak milenial secara benar mempelajari sejarah bangsa.

Dan kita di Indonesia, meski sudah memasuki babak politik baru, yaitu Era Reformasi, tapi toh belum menunjukkan gejala perubahan dalam hal literasi sejarah.

Karena itu, barangkali kita juga perlu belajar dari para pakar dari luar negeri. Bukankah ada ungkapan terkenal yang menulis bahwa: “Belajarlah sampai ke negeri China”.

Itu artinya, dengan keterbukaan informasi, kita pun dapat memperoleh ilmu-ilmu yang berharga dari pakar global.

Salam jabat literasi teater.

*Rudolf Puspa adalah pendiri dan sutradara senior Teater Keliling, Jakarta. Beliau dapat dihubungi melalui pusparudolf@gmail.com.

Baca Juga

“Dini Ditu” Teater Kalangan: Menjahit Publik di Ruang Digital

Portal Teater - Kehadiran pandemi virus corona barangkali tak pernah dipikirkan atau diramalkan, meski ada teori konspirasi yang menyeruak belakangan bahwa Bill Gates telah...

“Mati Konyol”: Paradoks, Retrospeksi, Kegamangan

Portal Teater - Pintu rekreatif tulisan ini dibuka dengan pertanyaan dari seorang awam, tentang apa uraian dramaturgi, dramaturg, dan drama. Bagaimana ciri, konvensi, guna,...

Silang-Sengkarut “New Normal”

Portal Teater - Sejak beberapa waktu lalu, Presiden Joko Widodo telah mendengungkan wacana pemberlakukan "new normal", atau yang menurut ahli Bahasa Indonesia sebut sebagai...

Terkini

Rudolf Puspa: Kiat Terus Berkiprah

Portal Teater - Sebuah catatan sekaligus menjawab pertanyaan seorang ibu, guru Bahasa Indonesia di sebuah SMA di Jakarta, membuat saya segera membuka tembang lama...

“Mati Konyol”: Paradoks, Retrospeksi, Kegamangan

Portal Teater - Pintu rekreatif tulisan ini dibuka dengan pertanyaan dari seorang awam, tentang apa uraian dramaturgi, dramaturg, dan drama. Bagaimana ciri, konvensi, guna,...

Menolak Mati Konyol di Era Konyol

Portal Teater - Uang, teknologi, status sosial, jabatan, pangkat, citra, dan popularitas, barangkali adalah serangkaian idiom yang menghiasi wajah kehidupan manusia hari ini. Menjadi...

Buntut Corona, FDPS 2020 Disajikan dalam Format Digital

Portal Teater - Festival Drama Pendek SLTA (FDPS) 2020 yang digagas Kelompok Pojok direncanakan diadakan pada April kemarin. Buntut pandemi virus corona merebak di Indonesia...

Seni Berkekuatan Daya Getar

Portal Teater - Seni adalah kekuatan yang memiliki daya getar. Bertahun-tahun aku dibimbing pelukis Nashar untuk mempelajari kesenian tanpa ingat waktu, lapar dan kemiskinan. Aku...