Mengasah Kemampuan Bicara Lewat Teater

Oleh: Rudolf Puspa*

Portal Teater – Dalam seni pertunjukan teater dikenal apa yang disebut dialog. Karena itulah drama sering diartikan sebagai pengucapan cerita menggunakan dialog untuk menggambarkan konflik kemanusiaan.

Dialog terjadi antarperan dan tanpa batasan mana yang terbanyak atau sedikit.

Semua peran memiliki ruang untuk berdialog entah terhadap diri sendiri atau dengan lawannya.

Penonton menyaksikan dialog yang terjadi dan selanjutnya mengikuti arus hilir mudiknya sehingga bisa menangkap jalan cerita yang disaksikan.

Terbuka kemungkinan luas untuk merespons baik secara langsung ataupun hanya dalam hati.

Karena dialog yang terjadi di panggung menyentuh pendengaran penonton maka bunyi dari dialog-dialog akan terdengar sebagai pembicaraan. Sebuah pembicaraan memberi arti ada yang bicara dan ada yang dibicarakan.

Dalam hal ini pemain di panggung dituntut untuk mampu “bicara” sehingga yang didengar adalah pemain yang sedang bicara. Orang bicara tentu apa yang dibicarakan memiliki arti dan ada yang dituju.

Untuk mencapai target tersebut sudah seharusnya pemain berbicara bukan sekedar melepas kata atau kalimat yang hanya merupakan hafalan dari teks.

Pemain yang berbicara sudah harus keluar dari pikiran dan hatinya. Barulah akan bisa dipahami pendengarnya.

Orang berbicara akan selalu memiliki tekanan nada, diksi, lagu yang sesuai dengan apa yang ingin disampaikan.

Seluruh teks yang sudah dipahami maksudnya oleh pemain selanjutnya harus menjadi milik pemain. Bukan lagi pemain mengucapkan kalimat si pengarang lagi.

Pemain harus menjadi pemilik seluruh apa yang dibicarakan.

Jika hal ini sudah bisa terwujud maka secara otomatis pemain akan mampu memberi tekanan nada, diksinya, cepat lambat iramanya, temponya, timing-nya yang benar-benar adalah hasil dari apa yang dipikirkan dan dirasakan sehingga melahirkan emosi bicara yang tepat.

Pertunjukan "Dokter Gadungan" karya Molierre saduran Teater Keliling di Auditorium RI Jakarta, 14-17 Maret 2009. Dalam pertunjukan ini, Teater Keliling berkolaborasi dengan gabungan ekskul teater SMA binaannya. -Dok. Rudolf Puspa.
Pertunjukan “Dokter Gadungan” karya Molierre saduran Teater Keliling di Auditorium RI Jakarta, 14-17 Maret 2009. Dalam pertunjukan ini, Teater Keliling berkolaborasi dengan gabungan ekskul teater SMA binaannya. -Dok. Rudolf Puspa.

Latihan Teknik Bicara

Untuk mengasah kemampuan berbicara diperlukan pelatihan yang intensif dalam hal teknik seni bicara.

Kemampuan membaca dan mendengar seperti yang sudah diuraikan sebelumnya merupakan modal sangat kuat bagi mendukung kemampuan bicara.

Cara berlatih yang sangat bagus dan cepat adalah memperhatikan orang bicara, orang berdialog satu sama lain dimanapun.

Tidak perlu ikut nimbrung namun melihat dan mendengar akan melatih daya penguasaan terhadap apa yang terjadi disekeliling kita berada.

Pada kenyataannya memang tidak mudah berbicara dalam sehari-hari sehingga yang terjadi adalah orang bicara namun saling mengucapkan apa yang jadi pikirannya sendiri.

Bukan menjawab apa yang diucapkan lawan bicaranya, tapi menjawab pikirannya sendiri.

Kalau yang terjadi bukan dalam emosi perbedaan pikiran yang mengandung amarah kesal atau tidak suka maka masih terlihat sebuah pembicaraan yang tampak asyik menggembirakan sehingga bagi yang nonton bisa tertawa.

Bisa dicontohkan drama absurd karya Eugene Ionesco “Biduanita Botak”. Semua peran bicara tentang tanggapannya atas pemikirannya sendiri. Uniknya semua tertawa bareng tapi menertawakan pikirannya sendiri.

Sebagai ilustrasi misalnya seorang pejabat bicara tentang mudik dan pulang kampung. Terjadilah tanggapan hingga berhari-hari yang hampir tak ada solusi apapun.

Tiap orang mengutip tulisan orang untuk dijadikan argumentasi pembelaan atau serangan, bukan dari pendapat pribadi.

Lebih disayangkan jika mereka adalah orang-orang terdidik bahkan sarjana-sarjana yang lebih 10 tahun mengenyam pendidikan kebahasaan; apalagi jika ditambah sastra.

Ini layaknya drama Eugene Ionesco di atas. Sambil tersenyum sendiri jika melihat absurditas tersebut dan tergoda membaca peristiwa yang sampai catatan ini saya tulis masih hangat.

Pertunjukan "Dokter Gadungan" karya Molierre saduran Teater Keliling di Auditorium RI Jakarta, 14-17 Maret 2009. Dalam pertunjukan ini, Teater Keliling berkolaborasi dengan gabungan ekskul teater SMA binaannya. -Dok. Rudolf Puspa.
Pertunjukan “Dokter Gadungan” karya Molierre saduran Teater Keliling di Auditorium RI Jakarta, 14-17 Maret 2009. Dalam pertunjukan ini, Teater Keliling berkolaborasi dengan gabungan ekskul teater SMA binaannya. -Dok. Rudolf Puspa.

Kerap Terkendala

Pengalaman memberikan pelatihan teknik bicara dalam pemeranan sering mengalami kendala yang cukup rumit.

Tentu ini menyangkut dengan kehidupan sehari-hari yang masih perlu penelitian lebih lanjut.

Mau tidak mau kita harus berani melihat mundur dan melihat aspek sosiologi, budaya, psikologi dan melihat hubungannya dengan sikap politik kekuasaan dalam mengatur rakyatnya.

Memang banyak yang “alergi” untuk melakukan hal itu. Kadang saya merenung apa karena adanya sekian puluh tahun larangan politik masuk kampus maka terciptalah “alergi” semacam itu.

Menarik jadi bahan riset nasional barangkali. Ketika diajak bicara soal itu langsung yang muncul ucapan-ucapan sinis bahwa segala hal selalu menyalahkan Orde Baru.

Tentu pembicaraan akan terhenti karena sudah ditutup pagar beton dengan tulisan: “Awas tegangan tinggi. Dilarang masuk”.

Kemampuan bicara di negara kita masih banyak kelemahannya. Kebebasan bicara untuk mengemukakan pendapat baru saja terbuka lebar sejak 1998. Orang mulai menyadari bahwa hal itu dilindungi undang undang.

Berbagai alasan dikemukakan untuk bisa bicara bebas; misalnya demi demokrasi, menjunjung hak azasi manusia maka pendapat bisa berujud pujian ataupun kritik.

Memang bagus tapi ketika kebebasan tersebut dipakai untuk kegiatan kampanye politik dalam pilkada hingga pilpres maka muncul cara bicara yang jadi berbeda.

Kerap orang berbicara dengan puji-pujian bagi junjungannya, sementara bagi lawan politik, mereka terbiasa berbicara kasar bahkan hingga berbau fitnah dan hoax.

Hal yang patut disayangkan adalah hilangnya kemampuan literasi terutama dalam hal bicara.

Orang tidak lagi bicara tentang apa yang diucapkan tapi tentang siapa yang bicara. Dan kenyataan berbicara seperti itu telah menjadi pandemi yang sukar disembuhkan.

Masih sulit menemukan vaksinnya dan kadang-kadang saya berpikir apa masih ada yang mau bersusah payah mencari obat mujarabnya?

Mungkin ini diperlukan pendidik-pendidik yang luar biasa untuk menghadapi pandemi “bicara” yang luar biasa ini.

Banyak acara talkshow yang menghadirkan sosiolog, psikolog, politikus, yang bergelar tinggi, namun selalu hanya berakhir pada kalimat host TV: “Semoga acara ini bermanfaat bagi pemirsa.”

Kemampuan berbicara bukan hal mudah karena perlu latihan keras terutama teknik berbicara. Teater dapat menjadi wadah di mana anak-anak ditempa untuk diasah kemampuan berbicaranya. Ini adalah dokumentasi pertunjukan "Dokter Gadungan" karya Molierre saduran Teater Keliling di Auditorium RI Jakarta, 14-17 Maret 2009. Dalam pertunjukan ini, Teater Keliling berkolaborasi dengan gabungan ekskul teater SMA binaannya. -Dok. Rudolf Puspa.
Kemampuan berbicara bukan hal mudah karena perlu latihan keras terutama teknik berbicara. Teater dapat menjadi wadah di mana anak-anak ditempa untuk diasah kemampuan berbicaranya. Ini adalah dokumentasi pertunjukan “Dokter Gadungan” karya Molierre saduran Teater Keliling di Auditorium RI Jakarta, 14-17 Maret 2009. Dalam pertunjukan ini, Teater Keliling berkolaborasi dengan gabungan ekskul teater SMA binaannya. -Dok. Rudolf Puspa.

Bukan Hal Mudah

Sedikit bicara banyak bekerja ternyata bukan mudah. Sama seperti pemain yang mendapat peran dan sedikit dialognya.

Namun kehadirannya sangat penting bahkan justru menjadi pemecah masalah. Dia memiliki teknik acting yang cukup sulit yang sering disebut silent action.

Hanya menggunakan bahasa tubuh namun perannya sudah bicara banyak.

Merespons lawannya dengan ekspresi yang tanpa kata bukan hal yang mudah. Peran seperti ini membutuhkan kepiawaian aktor yang daya dengarnya sangat kuat.

Jika pelatihan untuk mampu menjadi aktor yang berhasil memainkan silent acting maka lambat laun akan bermanfaat dalam hidup sehari-harinya.

Bahkan kekuatan silent action-nya akan menjadikannya hadir menguasai situasi dan selanjutnya tanpa disadari akan didengar bahkan diikuti setiap ucapannya yang sangat irit itu.

Teater melatih pemain mampu “bicara” sesuai teks yang telah menjadi miliknya. Bicara panjang, crewet, santun, kasar, hingga yang silent acting pasti akan melatih dirinya mampu melakukan di kehidupan sehari-harinya.

Bukankah teater adalah bicara tentang zamannya? Bahwa teater adalah yang bicara?

Teater berbeda dengan lawak yang hanya berkepentingan penonton tertawa. Logika menjadi tak perlu diperhitungkan seperti halnya dengan bicara dalam pentas teater.

Setiap kata atau kalimat memiliki makna yang sangat luas. Sampai dengan bahasan kita tentang bicara maka siapapun yang belajar sepenuh hati di teater akan memiliki kemampuan membaca, mendengar dan bicara.

Langkah awal yang sangat berguna ketika berada di tengah kehidupan nyata.

Masih banyak hal lain yang akan dipelajari lebih lanjut karena semakin yakin bahwa teater memiliki ruang yang sangat indah bagi pendidikan karakter manusia.

Ada baiknya mengingatkan ungkapan Ki Hajar Dewantara, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pertama Indonesia: “Pendidikan seni adalah landasan bagi pendidikan menyeluruh.”

*Rudolf Puspa adalah pendiri dan sutradara senior Teater Keliling, Jakarta. Beliau dapat dihubungi via pusparudolf@gmail.com.

Baca Juga

GM akan Bicara tentang Manifesto Seni Indonesia

Portal Teater - Untuk terus bertumbuh selama krisis terbesar abad ini, pandemi virus corona, Goethe-Institut Indonesien lagi-lagi menyajikan rangkaian acara budaya daring melalui kanal-kanal...

Rudolf Puspa: Kiat Terus Berkiprah

Portal Teater - Sebuah catatan sekaligus menjawab pertanyaan seorang ibu, guru Bahasa Indonesia di sebuah SMA di Jakarta, membuat saya segera membuka tembang lama...

Menolak Mati Konyol di Era Konyol

Portal Teater - Uang, teknologi, status sosial, jabatan, pangkat, citra, dan popularitas, barangkali adalah serangkaian idiom yang menghiasi wajah kehidupan manusia hari ini. Menjadi...

Terkini

Rudolf Puspa: Kiat Terus Berkiprah

Portal Teater - Sebuah catatan sekaligus menjawab pertanyaan seorang ibu, guru Bahasa Indonesia di sebuah SMA di Jakarta, membuat saya segera membuka tembang lama...

“Mati Konyol”: Paradoks, Retrospeksi, Kegamangan

Portal Teater - Pintu rekreatif tulisan ini dibuka dengan pertanyaan dari seorang awam, tentang apa uraian dramaturgi, dramaturg, dan drama. Bagaimana ciri, konvensi, guna,...

Menolak Mati Konyol di Era Konyol

Portal Teater - Uang, teknologi, status sosial, jabatan, pangkat, citra, dan popularitas, barangkali adalah serangkaian idiom yang menghiasi wajah kehidupan manusia hari ini. Menjadi...

Buntut Corona, FDPS 2020 Disajikan dalam Format Digital

Portal Teater - Festival Drama Pendek SLTA (FDPS) 2020 yang digagas Kelompok Pojok direncanakan diadakan pada April kemarin. Buntut pandemi virus corona merebak di Indonesia...

Seni Berkekuatan Daya Getar

Portal Teater - Seni adalah kekuatan yang memiliki daya getar. Bertahun-tahun aku dibimbing pelukis Nashar untuk mempelajari kesenian tanpa ingat waktu, lapar dan kemiskinan. Aku...