Membaca “Ditunggu Dogot”: Berkhidmat dan Mengakrabi Penonton

OLeh: Esha Tegar Putra*

Portal Teater – Dua aktor kawakan, Slamet Rahardjo dan Nano Riantiarno, membacakan naskah “Ditunggu Dogot” ditemani penulis naskah Sapardi Djoko Damono dan Yola Yulfianti (sutradara).

Pembacaan naskah dalam rangka Sontoloyo Festival 2020 tersebut berlangsung khidmat dan sangat akrab.

Sesekali, Sapardi tersenyum bahkan tergelak di tengah melihat dua aktor membacakan naskahnya.

Respon tersebut mendatangkan keharuan tersendiri mengingat agenda dalam format latihan ini berlangsung dalam situasi pandemi.

Barangkali kondisi pandemi tidak pernah terbayangkan juga oleh penyelenggara festival yang sebelumnya akan melangsungkan pertunjukan tersebut di atas panggung.

Namun siatuasi berkata lain, para aktor dipertemukan dan membacakan naskah melalui platform daring, berhadapan dan direspon langsung oleh penulis dan sutradara pada Senin (18/5).

Festival garapan Alumni Pascasarjana Institut Kesenian Jakarta (IKJ) tersebut dibuka dengan pembacaan puisi “Dalam Doaku” Sapardi Djoko Damono oleh Zee Zee Shahab.

Pembacaan puisi sederhana sebagaimana model lirikal dalam puisi-puisi Sapardji. Zee Zee membacakan puisi mendekati kamera dalam ketenangan dan suara lembut.

Sebuah pembacaan yang hendak mengajak penonton untuk turut masuk ke dalam bangunan puisi, merasakan jalinan kata, serta membayangkan citraan dan imaji yang muncul.

Pemilihan puisi “Dalam Doaku” ini oleh penyelenggara agaknya juga semacam harapan serta sebentuk doa dalam merespon situasi terkini.

Doa setiap waktu untuk keselamatan serta cinta pada umat manusia sebagaimana pada pengakhiran puisi tersebut: //Aku mencintaimu/ Itu sebabnya aku takkan pernah selesai mendoakan/keselamatanmu.

Direktur Festival Dhani “Pete” Widjanarko dalam sambutannya mengatakan Sontoloyo Festival 2020 yang seharusnya diselenggarakan 20 Maret 2020 tertunda penyelenggaraannya akibat pandemi Covid-19.

Festival dengan konsep lintas seni dan diselenggarakan untuk umum, serta dalam kelanjutannya (akan) melibatkan seniman dari berbagai daerah di Indonesia tersebut diselenggarakan dalam rangka ulang tahun Sapardji, serta memperingati 50 tahun berdirinya IKJ.

Hal sama diungkap Direktur Pascasarjana IKJ Nyak Ina Raseuki (Ubiet) bahwa festival tersebut diselenggarakan untuk memberikan penghormatan pada Sapardi yang telah menjadi bagian penting dari Pascasarjana IKJ dan IKJ secara umum.

Konsep “ingin berdekatan” dengan penonton sebagaimana pembacaan puisi Zee Zee juga tampak dari respon tari atas musik Dewa Budjana dan Tohpati (Janapati) bertajuk “Jatuh Cinta” oleh Helda Yosiana dan Josh Marcy.

Respon tari yang berlangsung singkat, kurang lebih 210 detik (3,5 menit, lengkapnya di bagian akhir), dimulai dengan tampak wajah, seakan-akan sepasang kekasih sedang melakukan komunikasi tanpa suara lewat panggilan video.

Terang saja, pertunjukan tari singkat tersebut memang dilakukan dari jarak jauh. Helda menari di dalam ruangan berbeda dengan ruangan Josh.

Respon tari yang dihadirkan melalui video ini memang memungkinkan menghadirkan kesederhanaan gerak, tapi kukuh secara tematik.

Penonton dapat menyaksikan dalam tarian Helda dan Josh bagaimana mereka menghadirkan bagian dari tubuh saja, semisal tangan dan kaki, untuk mempertegas gerak.

Sebuah visualisasi yang mungkin tidak akan didapat bila menonton pertunjukan tari di panggung.

Penampilan tari berdurasi singkat ini memang sangat sederhana, agaknya memang itu niatnya, tapi paduan dari musik dan tarian secara konseptual dapat kita perluas pemaknaannya.

Josh Marcy dan Helda Yosiana merespon musik Tohpati dan Dewan Bujana lewat tari dalam Sontoloyo Fest 2020. -Dok. Sontoloyo Fest 2020/Youtube.
Josh Marcy dan Helda Yosiana merespon musik Tohpati dan Dewan Bujana lewat tari dalam Sontoloyo Fest 2020. -Dok. Sontoloyo Fest 2020/Youtube.

Pembacaan “Ditunggu Dogot”

“Ditunggu Dogot” pada awal penghadirannya dikategorisasikan oleh Sapardi sebagai cerpen dan pernah dimuat dalam kumpulan cerpen Membunuh Orang Gila (Penerbit Buku Kompas, 2003) bersama 17 cerpen lainnya.

Seno Gumira Ajidarma pernah menyebut kumpulan cerpen tersebut merupakan bagian dari perjalanan sang penyelam kata-kata.

Lewat kata-kata dalam karyanya, Sapardi bisa mempermainkan logika dengan amat piawai.

Sejatinya “Ditunggu Dogot” karya Sapardi sendiri terispirasi dari naskah lakon “Waiting for Godot” karya Samuel Beckett.

Beckett menarik alur naskahnya sebagai tragik-komedi dan lebih mengacu pada absurditas.

Dalam lakon tersebut terdapat dua tokoh utama, yaitu Vladimir dan Estragon, serta tiga tokoh lain: Pozzo, Lucky dan Boy.

Naskah “Ditunggu Dogot” Sapardi pun sangat mendekati pengisahan “Waiting for Godot” Beckett di mana mengisahkan dua orang oleh Sapardi diberi penanda “+” dan “-“, sedang menunggu sesuatu, yang jika di dalam naskah Beckett dimaknai sebagai “Godot” dan Sapardi memaknainya “Dogot”.

Dalam naskah Sapardi juga dihadirkan dua orang yang sedang ditunggu sesuatu bernama “Dogot” yang berujung pada ketidak-jelasan dan pertanyaan-pertanyaan seputar “Dogot”.

Lakon Beckett setidaknya juga mengisahkan hal tersebut, di mana Vladimir dan Estragon dengan kesetiaannya menunggu “Godot”, meskipun mereka tidak tahu “Godot” tersebut apa dan dalam penungguannya “Godot” tidak pernah datang.

Dari proses kesia-siaan, atau barangkali sebaliknya, muncul kesadaran-kesadaran lain mempertanyakan realitas “Godot”, Vladimir dan Estragon barangkali menyadari, meski wujud “Godot” itu tidak mereka temui dan tidak pernah datang pada mereka tapi “Godot” telah menguasai mereka.

Ags. Arya Dipayana pernah mencatat bahwa dari pilihan judul, menurutnya, Sapardi secara sadar menginformasikan bahwa naskah (cerpen) yang ditulisnya itu memiliki korelasi dengan naskah lakon Beckett.

Yang membedakan keduanya adalah bahwa Beckett menempatkan manusia dan posisi pasif menunggu, sedangkan Sapardi menempatkan manusia dalam posisi yang dituntut aktif, sebagai konsekuensi logis dari pihak yang ditunggu.

Pembacaan naskah “Ditunggu Dogot” dalam Sontoloyo Fest 2020 agaknya sudah ada perubahan dari naskah awal Sapardi ke naskah yang lebih cocok untuk dipanggungkan.

Sebagaimana diungkapkan Yola Yulfianti dalam perbincangan awal sebelum pembacaan naskah, terdapat penyesuaian (adaptasi) oleh Nano Riantiarno agar naskah awal dituliskan Sapardi lebih luwes untuk dimainkan di panggung.

Penamaan “+” dan “-“ tetap dihadirkan dalam perubahan naskah yang dilakukan Nano.

Hal tersebut agaknya yang dijaga baik, karena pada dasarnya Sapardi mengusahakan agar naskah tersebut dapat dimainkan baik oleh laki-laki atau perempuan, serta keduanya dapat mengambil peran apa saja di antara dua penanda tersebut.

Proses adaptasi ini juga pernah dilakukan beberapa kelompok teater terhadap naskah “Ditunggu Dogot”.

Semisal yang pernah dipentaskan Komunitas Hitam Putih di beberapa daerah (termasuk di Sanggar Baru, TIM, 27 Juli 2007).

Dalam pertunjukan tersebut, lakon yang oleh Sapardi hanya diberikan nama “+” dan “-“ dihadirkan sebagai nama Rudyaso (laki-laki) dan Eliza (perempuan).

Selain itu, dalam pertunjukan tersebut dihadirkan properti sepeda kayuh sebagai alat transportasi untuk mengejar bagian terpenting dalam naskah tersebut yaitu menemui Dogot.

Pada bagian belakang panggung juga dihadirkan tayangan multimedia untuk mempertegas perjalanan yang dilakukan dua orang lakon dalam pertunjukan.

Pada pembacaan naskah yang dilakukan Slamet dan Nano, Yola selaku sutradara menjelaskan, dalam perencanaannya awal naskah tersebut akan dipentaskan di Teater Jakarta diawali musik oleh Tohpati dan Dewa Bujana.

Juga akan dihadirkan pembacaan puisi dan tarian dengan tata artistik yang akan diampu perupa Hanafi.

Dalam pembacaan naskah, yang dipertegas sebagai bagian dari latihan, Yola memberikan penokohan “+” untuk Nano dan “-“ untuk Slamet.

Tampak pada awal pembacaan naskah tersebut Slamet sangat asyik dan enteng memulai pembacaan naskah.

Membaca sambil duduk tidak membuat dirinya terpaku, ia bahkan mengoyang-goyangkan tubuhnya ketika musik pengantar mulai terdengar.

Nano pada awal pertunjukan juga terlihat siap dan dari dialog yang dimulainya tampak naskah Sapardi telah sedikit diubah untuk mendatangkan efek dramatik menyiasati naskah Sapardi yang sangat ketat dan tegas.

Kita dapat melihat perbedaan dialog awal yang sudah digubah Nano dari naskah Sapardi berikut:

Dialog awal dari cerpen “Ditunggu Dogot” Sapardi: “Kita harus tepat waktu. Tidak boleh terlambat, apalagi terlalu cepat. Dogot sama sekali tidak tepat waktu. Harus tepat, setepat-tepatnya.”

Dialog awal gubahan Nano: “Ingat baik-baik, kita sekarang ini ditunggu Dogot dan kita harus tepat waktu. Tidak boleh telat, apalagi terlalu cepat. Dogot sama sekali tidak tidak suka orang yang tidak tepat waktu. Harus tepat, setepat-tepatnya”.

Aktor kawakan Slamet Rahardjo dan Nano Riantiarno membacakan naskah "Ditunggu Dogot" karya Sapardi Djoko Damono. -Dok. Sontoloyo Fest 2020/Youtube.
Aktor kawakan Slamet Rahardjo dan Nano Riantiarno membacakan naskah “Ditunggu Dogot” karya Sapardi Djoko Damono. -Dok. Sontoloyo Fest 2020/Youtube.

Totalitas dan Keakraban

Delapan menit pembacaan pertama dua aktor kawakan, Nano dan Slamet, tampak ekspresif membacakan naskah. Mereka serius dan total menghadapi naskah yang ada di tangan masing-masing.

Ketika dialog dihentikan, Yola selaku sutradara bertanya, apakah mereka mau minum dulu, dua orang aktor itu langsung menimpali dengan kata “masih penuh energi” dan “sehat”.

Dalam istirahat pertama tersebut, dialog antara sutradara, aktor, dan penulis naskah terjadi mempertanyakan persoalan: “Siapakah Dogot yang dimaksud Sapardi?”

Dalam dialog ini Nano juga mengatakan bahwa dramaturgi naskah tersebut cukup bagus dan ia sendiri mengakui susah memainkannya karena dialog yang datang timpa-bertimpa.

Slamet dengan candaannya menimpali, untuk tidak membuat pusing, Dogot tidak harus dipertanyakan.

Keakraban dan candaan tersebut yang membuat pembacaan naskah dalam format latihan tersebut terasa sangat akrab.

Peralihan ke adegan kedua diawali dengan musik dan ditimpali langsung oleh Slamet yang melagukan tembang Jawa.

Beberapa menit berikutnya di tengah dialog Slamet terbawa suasana. Slamet yang dengan tidak sengaja membawakan dialog dalam bentuk tembang lagi, lantas menghentikan adegan dan langusng memberikan respon pada Sapardi.

Karena merasa enak dengan membawakan dialog dalam tembang tersebut, Slamet membayangkan kemungkinan-kemungkinan jika naskah tersebut dipentaskan di daerah-daerah lain dengan bahasa mereka sendiri.

Sapardi langsung menjawab, maksudnya memang begitu, ia membuat naskah tersebut dalam bahasa Indonesia lantas menggubah beberapa bagiannya dalam bahasa Jawa.

Sapardi pada dasarnya memang membuka kemungkinan agar naskah tersebut digubah ke dalam bahasa daerah masing-masing agar pertunjukan lebih cair.

Beragam kelucuan memang terjadi dalam pembacaan naskah tersebut, Slamet dalam beberapa dialog, dari menggunakan bahasa Indonesia logat Jawa tiba-tiba mengubah pembacaan naskahnya dalam dialog Batak.

Dialog antara Sapardi Djoko Damono (penulis naskah), Slamet Rahardjo dan Nano Riantiarno (aktor) dan Yola Yulfianti (sutradara) dalam pertunjukan "Ditunggu Dogot", Senin (18/5). -Dok. Sontoloyo Fest 2020/Youtube.
Dialog antara Sapardi Djoko Damono (penulis naskah), Slamet Rahardjo dan Nano Riantiarno (aktor) dan Yola Yulfianti (sutradara) dalam pertunjukan “Ditunggu Dogot”, Senin (18/5). -Dok. Sontoloyo Fest 2020/Youtube.

Dari 45 menit pembacaan naskah beserta dialog yang dilakukan antara aktor, sutradara, dan penulis naskah, penonton dapat melihat bagaimana suasana keakraban dibangun dalam proses tersebut.

Semuanya sangat santai. Terlebih dua orang aktor kawakan yang dengan totalitas mereka telah membangun suasana pembacaan naskah tersebut menjadi pembacaan yang dapat dinikmati dengan santai.

Sebagaimana dikatakan Nyak Ina Raseuki (Ubiet) pada akhir pertunjukan, pembacaan naskah yang dianggap oleh penyelenggara sebagai bagian dari proses latihan adalah sebuah pertunjukan daring.

Ia menganggap tanpa dipanggungkan secara konvensional, pertunjukan tersebut juga sudah berada pada sebuah panggung yang lain.

Ya, semoga saja ketika pandemi reda kita dapat menyaksikan dua aktor kawakan tersebut hadir di panggung memainkan naskah “Ditunggu Dogot”.

**Esha Tegar Putra adalah penyair muda Indonesia kelahiran Solok, Sumatra Barat, 29 April 1985. Aktif menulis puisi untuk rubrik sastra di Koran Tempo dan Kompas. Buku puisi terakhirnya dirilis awal tahun ini berjudul “Setelah Gelanggang Itu” (2020). Ia juga dikenal sebagai penulis dan penikmat seni.

Baca Juga

Rontoknya Kekerasan karena Cinta

Portal Teater - Apakakah kekerasan akan luluh lantak dengan indahnya alis mata, binar indah bola mata dan lentik bulu mata. Atau malah makin ganas? Dalang (sutradara)...

Galerikertas Kembali Buka Ruang Pameran untuk Publik

Portal Teater - Setelah beberapa bulan ditutup karena situasi pandemi, awal Juli ini Galerikertas akhirnya kembali dibuka untuk publik. Pembukaan kembali galeri berbasis Depok, Jawa...

Teater Broadway Tutup hingga Awal 2021

Portal Teater - Teater Broadway telah mengumumkan secara resmi bahwa akan tetap menutup teaternya sepanjang sisa tahun ini hingga awal tahun 2021 mendatang. Meski demikian, pembukaan...

Terkini

Galerikertas Kembali Buka Ruang Pameran untuk Publik

Portal Teater - Setelah beberapa bulan ditutup karena situasi pandemi, awal Juli ini Galerikertas akhirnya kembali dibuka untuk publik. Pembukaan kembali galeri berbasis Depok, Jawa...

Rontoknya Kekerasan karena Cinta

Portal Teater - Apakakah kekerasan akan luluh lantak dengan indahnya alis mata, binar indah bola mata dan lentik bulu mata. Atau malah makin ganas? Dalang (sutradara)...

Teater Broadway Tutup hingga Awal 2021

Portal Teater - Teater Broadway telah mengumumkan secara resmi bahwa akan tetap menutup teaternya sepanjang sisa tahun ini hingga awal tahun 2021 mendatang. Meski demikian, pembukaan...

Buku Puisi Sosiawan Leak Berbasis Media 3 in 1 Siap Diterbitkan

Portal Teater - Buku puisi "Rumah-Mu Tumbuh di Hati Kami: Kumpulan Puisi Puasa di Masa Korona" karya penyair multitalenta Sosiawan Leak berbasis media 3...

Rudolf Puspa: “Abdi Abadi” adalah sebuah Tanggung Jawab

Portal Teater - Berdiri di panggung Graha Bhakti Budaya di Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki (PKJ TIM), pada 26 Desember 2016 ketika menerima piagam...