Teater: Menjadi Minoritas di Depan Mayoritas

Oleh: Rudolf Puspa*

Portal Teater – Pertama kali saya berdiri di panggung teater ketika masih umur remaja, yang saya rasakan adalah gemetar sekujur badan dan keringat dingin membasahi tubuh.

Walau hanya disorot lampu lima buah, yang satunya 100 watt tanpa warna aku, merasakan saat itu menjadi pusat perhatian.

Penonton di aula yang tersedia 200 kursi dalam keadaan gelap. Hanya 45 menit namun terasa begitu lama sehingga yang namanya debaran jantung semakin menjadi pengganggu keberadaan saya.

Ketika pertunjukkan berakhir rasanya plong seperti keluar dari kerangkeng penjara. Semalaman tak bisa tidur masih terbayang pentas pertamaku yang benar-benar seperti berdiri di hadapan seregu tentara pencabut nyawa.

Selepas kegiatan berteater di masa remaja, saya justru memilih teater sebagai profesi, hingga saat ini.

Tahun 1967 akhir, saya masuk Jakarta dan mulai berkiprah bersama teman bahkan hingga menjadi sutradara.

Pentas-pentas bersama Teater Balai Pustaka, Study Grup Drama Jakarta, Teater Ketjil memperkuat pilihan profesi sebagai aktor.

Namun penyakit stress menjelang aksi di panggung tetap saja menghinggapi bahkan sekian tahun kemudian dan menjadi sesuatu yang sulit untuk hilang.

Hanya bedanya makin lama makin menemukan bagaimana berdamai bersamanya. Gemetar yang menjadi positif.

Ketika kemudian hari mendirikan Teater Keliling pada 13 Pebruari 1974 yang didukung Dery, Jajang, Saraswaty, Willem, Hidayat, Paul, Buyung, RW. Mulyadi dan Syaeful barulah saya menangkap hal yang mengejutkan pada pentas pertama Teater Keliling, 1 Juni 1974, di halaman Polresta Jember, Jawa Timur.

Tak pernah terbayangkan sebelumnya pentas terbuka yang dihadiri lebih kurang 4.000 penonton yang terdiri dari mahasiswa, pelajar, rakyat umum bahkan anak-anak.

Hanya deretan depan yang disiapkan kursi untuk penonton VIP seperti Kapolres, Wakil Rektor Universitas Jember serta para dosen dan seniman setempat. Selebihnya berdiri karena jika duduk akan terhalang penonton VIP.

Drama “Mega Mega” karya Arifin C Noer yang hanya 7 pemeran di panggung harus bisa menjadi pusat perhatian 4.000 orang.

Padah babak kedua peran saya tidak muncul. Saya berada di tengah, di pinggir, di belakang penonton memperhatikan mereka dan ini baru pertama kali aku menyaksikan pementasan yang saya sutradarai.

Bagaimana mungkin pentas sepanjang 2,5 jam bisa membuat sekian ribu penonton tidak bosan? Mereka datang tanpa mengetahui apa itu teater modern. Mereka datang tertarik oleh publikasi bahwa akan ada pertunjukkan sandiwara hiburan dari Jakarta.

Nama Jakarta menjadi daya tarik utama tentu saja, siapapun dia.

Saya berpikir apa yang sudahsaya lakukan jika mengingat kembali bahwa saya sutradara yang pendiam, tak banyak bicara.

Saya memberikan pemain-pemain mencari, menggali sendiri peran-peran hingga mewujut pada pertunjukkannya.

Saat itu saya sadar betapa saya didukung pemain-pemain yang sebagian besar anggota Teater Ketjil-nya Arifin C Noer di mana saya pun berada disana, sehingga sedikit banyak telah mendapat pelatihan acting dari sang maestro.

Kenangan awal yang membanggakan.

Selama beberapa tahun kemudian Teater Keliling sering pentas di ruang-ruang terbuka bahkan yang terbesar di lapangan sepak bola di mana hadir 10 ribu penonton.

Betapa kecil pemain-pemain berada di panggung ketika saya menonton dari bagian paling belakang.

Belum ada kamera yang bisa membesarkan seperti tontonan konser musik zaman kini. Namun tetap begitu antusias sepanjang 2,5 jam menonton.

Pentas "Sang Saka" karya Rudolf Puspa dan Dolfry di Halaman Terbuka SMA Hidayatussalam, Gresik, Jawa Timur, 16 Oktoberr 2018. -Dok. Teater Keliling.
Pentas “Sang Saka” karya Rudolf Puspa dan Dolfry di Halaman Terbuka SMA Hidayatussalam, Gresik, Jawa Timur, 16 Oktoberr 2018. -Dok. Teater Keliling.

Minoritas di Depan Mayoritas

Dari perenungan panjang saya terus mencari bagaimana kelompok minoritas yakni pemain di panggung bisa menguasai kelompok mayoritas yakni penonton; apalagi yang berjumlah ribuan.

Tentu saya tak punya bahan banding selama ini untuk berbincang mengenai pengalaman masing-masingnya.

Namun toh akhirnya bisa ditemukan bahwa kelompok minoritas disadari atau tidak akan membentuk kekuatan yang terangkum dari kebersamaan.

Apalagi ketika menyadari bahwa sebagai kelompok minoritas harus menyatu dan memberikan yang terbaik.

Karya seni apapun jika memiliki daya komunikasi yang kuat pastilah akan mampu menjalin apa yang sering disebut komunikasi dua arah.

Dasar paling elementer komunikasi adalah kemampuan peduli dan berbagi. Bukan hanya peduli dan berbagi antar pemain namun juga dengan penonton.

Kekuatan ini akan mencuat kuat bersinar terang serta berdaya besi sembrani sehingga penonton akan terbawa arus dan mendapatkan kenikmatan bersama.

Ternyata dari perjalanan panjang sang minoritas pun punya kemampuan bukan sekedar berbagi namun juga berdialog secara langsung dengan penonton.

Inilah hal yang saya temukan bahwa penonton bukan lagi obyek namun subyek yang menjadi bagian dari pemain.

Karena sudah semakin melekat maka tumbuh saling memerlukan dan ujungnya adalah pentas teater akan selalu dinantikan.

Kekuatan minoritas menguasai mayoritas dalam kesenian tentu tidak mewujud menjadi kekuatan tirani.

Teater berbicara dari hati sehingga melahirkan keindahan walaupun menceritakan kekerasan atau perang yang saling membunuh.

Keindahan inilah yang mengasah rasa pemain yang selanjutnya secara tersirat mengasah hati penonton.

Jadilah penonton akan bersama pemain menolak kekerasan. Maka akan sangat bermanfaat kegiatan berkesenian teater bagi penyebaran nilai-nilai hidup bersama dalam kedamaian sebagai satu bangsa hingga sebagai sesama penghuni dunia.

Tentu tidak pada tempatnya dengan berdalih demi kebaikan bersama atau sebagai umat seiman atau sebangsanya lalu mempengaruhi orang lain kemudian berkumpul untuk melakukan acara namun sebenarnya hanya ingin unjuk kekuatan.

Dan lebih buruk lagi kemudian memaksakan kehendak.

Pertunjukan "Takdir Cinta Pageran Diponegoro" karya Wardiman Djojonegoro saduran Dolfry Inda Suri di Gedung Kesenian Jakarta, 17-19 Agustus 2018. -Dok. Teater Keliling.
Pertunjukan “Takdir Cinta Pageran Diponegoro” karya Wardiman Djojonegoro saduran Dolfry Inda Suri di Gedung Kesenian Jakarta, 17-19 Agustus 2018. -Dok. Teater Keliling.

Kebenaran, keadilan bukan dinilai dari jumlah yang justru bisa terjebak menjadi diktator mayoritas.

Selama berlaku menjadi tiran apakah minoritas atau mayoritas tetap saja harus ditolak.

Barangkali teater tidak akan pernah menjadi penggerak pemberontakkan dalam arti negatif karena laku dan karakternya yang berlandaskan keindahan sehingga barangkali juga hanya bisa memberikan kekuatan untuk bergerak lurus walau dalam imajinasi saja.

Namun manusia butuh harapan agar menjadi manusia yang optimis memandang ke depan.

Panggung yang menjadi kelompok minoritas akan selalu dibutuhkan untuk menebar harapan. Selanjutnya akan lahir wujud nyatanya justru dari penonton yakni kelompok mayoritas.

Jakarta 24 Juni 2020.

*Rudolf Puspa adalah sutradara senior teater. Mendirikan Teater Keliling tahun 1974 dan turut membesarkan nama Teater Keliling di ranah teater Indonesia. Tahun 2016, ia dianugerahi penghargaan “Abdi Abadi FTI 2016” dari Federasi Teater Indonesia. Menetap di Jakarta dan telah menghabiskan waktunya untuk berkarya di bidang teater dan literasi teater bersama anak-anak muda ibukota. Ia dapat dihubungi melalui email: pusparudolf@gmail.com.

Baca Juga

Rontoknya Kekerasan karena Cinta

Portal Teater - Apakakah kekerasan akan luluh lantak dengan indahnya alis mata, binar indah bola mata dan lentik bulu mata. Atau malah makin ganas? Dalang (sutradara)...

Teater Broadway Tutup hingga Awal 2021

Portal Teater - Teater Broadway telah mengumumkan secara resmi bahwa akan tetap menutup teaternya sepanjang sisa tahun ini hingga awal tahun 2021 mendatang. Meski demikian, pembukaan...

Rudolf Puspa: “Abdi Abadi” adalah sebuah Tanggung Jawab

Portal Teater - Berdiri di panggung Graha Bhakti Budaya di Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki (PKJ TIM), pada 26 Desember 2016 ketika menerima piagam...

Terkini

Galerikertas Kembali Buka Ruang Pameran untuk Publik

Portal Teater - Setelah beberapa bulan ditutup karena situasi pandemi, awal Juli ini Galerikertas akhirnya kembali dibuka untuk publik. Pembukaan kembali galeri berbasis Depok, Jawa...

Rontoknya Kekerasan karena Cinta

Portal Teater - Apakakah kekerasan akan luluh lantak dengan indahnya alis mata, binar indah bola mata dan lentik bulu mata. Atau malah makin ganas? Dalang (sutradara)...

Teater Broadway Tutup hingga Awal 2021

Portal Teater - Teater Broadway telah mengumumkan secara resmi bahwa akan tetap menutup teaternya sepanjang sisa tahun ini hingga awal tahun 2021 mendatang. Meski demikian, pembukaan...

Buku Puisi Sosiawan Leak Berbasis Media 3 in 1 Siap Diterbitkan

Portal Teater - Buku puisi "Rumah-Mu Tumbuh di Hati Kami: Kumpulan Puisi Puasa di Masa Korona" karya penyair multitalenta Sosiawan Leak berbasis media 3...

Rudolf Puspa: “Abdi Abadi” adalah sebuah Tanggung Jawab

Portal Teater - Berdiri di panggung Graha Bhakti Budaya di Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki (PKJ TIM), pada 26 Desember 2016 ketika menerima piagam...