Seno Gumira: “kebudayaan dalam bungkus tusuk gigi”

Portal Teater – “Kebudayaan memang adalah situs pertarungan ideologi itu sendiri. Ideologi, sebagai suatu cara memandang dunia, disadari atau tak disadari beroperasi dalam berbagai bentuk artikulasi, re-artikulasi, maupun dis-artikulasi dalam suatu perjuangan untuk merebut, menguasai, dan ujung-ujungnya menetapkan beban makna di wilayah kebudayaan.”

Inilah petikan Pidato Kebudayaan Seno Gumira Ajidarma pada malam peringatan 51 tahun berdirinya Taman Ismail Marzuki Jakarta (10 November 1968), di Teater Besar, TIM, Jakarta, Minggu (10/11).

Pidato Kebudayaan ini diberi tajuk “Suara Jernih dari Cikini” yang telah menjadi agenda rutin Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) sejak tahun 1989.

Dengan “suara jernih”, event yang bersamaan dengan perayaan Hari Pahlawan Nasional ini bermaksud membentengi independensinya dari tunggangan kepentingan politik dan kekuasaan, demikian kata Danton Sihombing, Plt. Ketua DKJ.

Secara khusus, tajuk ini diusung untuk menghadirkan paparan-paparan argumentatif, informatif, evaluatif, dan persuasif dalam perspektif kebudayaan.

Tiap tahunnya, Pidato Kebudayaan selalu dibawakan oleh pemikir-akademisi, kritikus, seniman, atau jurnalis yang telah berkontribusi bagi perkembangan dan transformasi kebudayaan di Indonesia.

kebudayaan dalam tusuk gigi

Kali ini, di panggung nan istimewa, Seno Gumira membawakan pidato berjudul “kebudayaan dalam bungkus tusuk gigi”. Dengan “kebudayaan” (k huruf kecil) Seno Gumira ingin menyentil hal-hal kecil, remeh-temeh, yang jarang disentuh pemikiran dan narasi-narasi dominan.

Dalam refleksi filosofisnya, Rektor Institut Kesenian Jakarta (IKJ), salah satu perguruan tinggi yang didirikan bersamaan dengan TIM dan DKJ, melihat kebudayaan layaknya “tusuk gigi” yang dibungkus oleh beban makna ganda: konotasi dan denotasi.

Dalam makna konotasi, kebudayaan tidak mengutamakan “tusuk gigi” yang dibungkusnya, melainkan rancangan visual yang sama sekali lain, atau boleh dikatakan sebagai “komodifikasi” atau “jualan”.

Sebaliknya, kebudayaan sebagai makna denotasi lebih mementingkan isinya, yaitu “tusuk gigi” itu sendiri. Baginya, kebudayaan itu adalah produk ilmu pengetahuan, peradaban dan teknologi.

Meski, demikian, bungkus-bungkus yang berideologi komodifikasi (konotasi) maupun kebenaran tunggal (denotasi) diaduk secara acak, maka artikulasi atas ideologi masing-masing akan menghasilkan pertarungan konotasi.

Lantas, apa yang tersahihkan sebagai denotasi, toh pada kenyataannya merupakan konotasi yang paling dominan, paling hegemonik dan paling berkuasa.

Bilamana hal ini dipantulkan pada relasi dan konstruksi kuasa, kita bisa melihat bahwa adanya institusi pendidikan, tradisi, agama, regulasi, media institusi militer dan negara sekalipun menyodokkan peran dan posisi dalam kepentingan setiap kelompok, yang dominan maupun pinggiran, sehingga berlangsungnya kebudayaan merupakan proses hegemoni.

Dalam tataran ini, kata Seno Gumira, kuasa sejatinya sudah terlepas dari genggaman klasikal negara karena kekuasaan kini sudah tersirkulasi di antara khalayak: antarmanusia, antargolongan dan antarbudaya.

Misalnya, dalam kasus berhijab dan tak berhijab, atau pemakaian helm selama mengendari kendaraan bermotor, khususnya sepeda motor. Orang cenderung lebih menuruti aturan lalu lintas (mengenakan helm) ketimbang harus memakai hijab (aturan agama).

Ketidakstabilan Makna di Ruang Urban

Kita melihat, kuasa dan relasi antarmanusia ini akan selalu bernegosiasi dan maknanya tidak akan pernah stabil dan mapan. Hubungan kuasa seperti ini membuat pribadi manusia merasa terawasi dan menanamkan satu disiplin kepada diri sendiri, yang melibatkan politik identitas yang berkepanjangan.

Dalam khazanah bahasa, problem ini dapat terlacak dalam konteks urban sebagai ruang kehidupan pluralistik yang meruntuhkan kelompok-kelompok statis dan homogen. Atau yang disebut Pieterse sebagai “perjalanan”, sehingga kebudayaan lebih dipandang sebagai isu relokasi dan hibridisasi.

Namun demikian, Seno Gumira memandang, dengan kehadiran ruang urban ini, maka populasi suatu tempat menjadi sangat multi-etnik dan multi-kultural, dengan kehadiran manusia-manusia yang kian tidak tetap dan stabil.

Hal ini menyebabkan pertarungan kembali atas makna-makna dengan kepentingan masing-masing, sehingga kebersamaan arkais suku-suku yang memudar tertandingi oleh apa yang disebut komunitas, di mana tiap komunitas memiliki bahasanya sendiri, termasuk bahasa kesenian.

Pada poin ini, seniman kelahiran Boston, Amerika Serikat, 19 Juni 1958 itu menandaskan, jika memang cara berbahasa komunitas tidak hanya menunjukkan siapa diri mereka, tapi juga segenap wacana yang melekat padanya, maka ruang itu diperjuangkan agar terlihat nyaman dan memenuhi kepentingannya.

Sembari merujuk pada beberapa penemuan antropolog, Seno Gumira melihat bahwa pada kenyataannya, ada begitu banyak bahasa daerah yang menyeruak keluar dan tersebar di berbagai daerah di Indonesia.

Misalnya bahasa Jawa, tersebar di Sumatra, Sulawesi dan juga di Kalimantan. Atau bahasa Bugis yang tersebar di Kalimantan, Sulawesi, Jakarta, Lampung, Jambi dan Riau, serta masih banyak lagi.

Namun demikian, tidak hanya fakta penyebaran bahasa-bahasa daerah di berbagai wilayah, melainkan kenyataan bahwa lebih banyak bahasa daerah yang ditengarai akan terkucil dan bahkan punah.

Salah satunya adalah bahasa daerah masyarakat Komodo, di Kabupaten Manggarai Barat, Nusa  Tenggara Timur (NTT).

Menurut penelitian Verheijen (1987), orang Modo (ata Modo) memiliki bahasa mandiri dan khas dalam tradisi kesusastraan mereka. Bahasa mereka bebas dari pengaruh bahasa Manggarai di Flores maupun bahasa Bima di Sumbawa, NTB.

Meski dalam leksiko-statistik tampak bahwa bahasa Komodo menyerap bahasa-bahasa Manggarai, Bima, Indonesia, Bajau, dan Kambera (Autralia), tapi banyak kata-kata asli Komodo yang biasa dipakai untuk menyebut nama geografi, tumbuhan laut dan hewan laut.

Orang Modo sendiri menyebut reptil purba yang disebut sebagai “komodo” dengan “ora”. Mereka menganggap nama “komodo” bagi hewan tersebut tidak memiliki arti seperti yang mereka maksudkan dengan “ora”.

Seno Gumira menilai, jika pariwisata kini telah dikonsentrasikan di Pulau Rinca, atau menjadi satu di atara 10 kawasan wisata strategis nasional, maka ancaman kepunahan kebudayaan sudah ada di depan mata. Orang Modo dan bahasanya akan perlahan-lahan tergusur dari habitatnya.

“Ini memang saya sampaikan untuk memberi gambaran atas penderitaan mereka yang kehilangan bahasa, terutama di ruang dunia yang disebut urban, dan tidak akan pernah mendapat rumah bahasa yang nyaman selain mampu bergabung dalam komunitas yang berjuang menciptakan ruang budayanya sendiri,” katanya.

Ancaman Hegemoni

Dalam khazanah kesenian, dominasi bahasa hanya tercipta dalam ruang sosial karena adanya proses hegemoni, dan ia sama sekali tidak berhubungan dengan proses pemaknaan bahasa itu sendiri.

Karena itu, idealisasi ekosistem bagi berlangsungnya kebudayaan mengabaikan beroperasinya ideologi, politik identitas, konstruksi wacana, maupun proses hegemoni, yang menciptakan arena pertarungan makna.

Bagi Seno Gumira, klaim kebenaran terhadap bahasa kesenian komunitas harus melewati pengujian: apakah ia lebih argumentatif, relevan dan mengantisipasi masa depan, ketimbang dianggap sebagai sesuatu yang sakral dan romantik serta penuh ilusi.

Seniman pendiri PanaJournal (www.panajournal.com) itu mengambil dua tokoh/seniman kontemporer Indonesia yang dianggap berkontribusi bagi eksplorasi bahasa dalam kesusastraan Indonesia: Sutardji Calzoum Bachri dan Afrizal Malna.

Sutardji pada tahun 1973 melontarkan kredo puisi yang sekiranya selama 42 tahun tidak terlampaui. Kutipan kredo puisinya seperti berikut:

“Kata-kata bukanlah alat mengantarkan pengertian/Kata-kata harus bebas dari penjajahan pengertian, dari beban idea. Kata-kata harus bebas menentukan dirinya sendiri/Menulis puisi bagi saya adalah membebaskan kata-kata, yang berarti mengembalikan kata pada awal mulanya. Pada mulanya adalah Kata. Dan kata pertama adalah mantera. Maka penulis puisi bagi saya adalah mengembalikan kata kepada mantera.”

Namun Afrizal melaui pengantar puisinya Berlin Proposal (2015) justru melihat secara negatif, karena mantra dikuasai makna, sehingga perlu “retreat makna dari bahasa”.

Afrizal menulis demikian,

“Ini merupakan jalan keluar untuk memecahkan masalah bahasa sebagai representasi yang tidak bertemu dengan referen maknanya/pengalaman sangat mendasar untuk retreat makna dari bahasa. Ketika makna memasuki bahasa dan menguasai kata, maka kata berubah menjadi “mantra” (seperti darah yang disiramkan kepada tanda untuk menjadi ikon atau mitos)”.

“Bagaimanakah sajak-sajak kontemporer Indonesia semacam ini bisa memberikan inspirasi kepada bangsa, dan para penggubahnya mendapat penghargaan karena telah merelakan hidupnya untuk menjadi penyair daripada menjadi menteri,” tanya Seno Gumira.

Kebudayaan Elektronik

Akhirnya, Seno Gumira menyentil soal kepanikan moral pemerintah yang, alih-alih mengadaptasi hingar-bingar revolusi industri 4.0, justru tampak panik dan waspada terhadap perubahan zaman, dengan merangkul kebudayaan elektronik secara total.

Hal ini berdasar pada asumsi bahwa Indonesia akan gagal dan terbelakang jika tidak mampu mengadaptasi kehadiran kebudayaan tersebut.

Ia melihat, sebenarnya revolusi industri bagi Indonesia tidak pernah berjalan linear, melainkan saling tumpang tindih dan tampak absurd serta kacau.

Barangkali kita bisa bertanya, kapan Indonesia mengusung visi revolusi industri 3.0, 2.0 atau 1.0, lantas hari ini bersaing dengan negara-negara besar lain untuk menangkapnya arus perubahan.

Jika memang revolusi industri 4.0 sebagai gejala kebudayaan, ia melihat Indonesia cukup panik untuk tenggelam dalam mitos bahwa yang terbaik adalah yang tercepat.

Dongeng Melayu tentang adu lari Kancil dan Siput, yang diadopsi dari mitos Aesop purba, memperlihatkan bahwa justru bukan yang tampak cepat yang menjadi pemenang, melainkan strategi untuk memenangkannya.

Salah satu simulasi konkretnya adalah contoh persaingan bisnis Wingko Babat di Semarang. Pada mulanya, representasi “enak” diwujudkan sebagai kereta api yang melaju cepat.

Namun kompetitornya menampilkan gagasan ideologis yang “lebih enak” sebagai kereta api ekspres yang lebih cepat.  Demikian seterusnya tiap kompetitor menampilkan representasi “enak” menurut versinya.

Pada akhirnya, kompetitor lain dengan cerdik menampilkan representasi “enak” dengan kembali ke “yang asli”. Di mana yang asli dalam genre kecepatan adalah genesisnya, yakni kecepatan terlambat, selambat laju setoom.

Namun karena representasi itu masih tidak menunjukkan ideologi “asli, produsen segera beralih dan menjauhi “asli”, tetapi mendekat ideologi “gengsi” dan ‘prestise sosial”, yakni imaji diesel eksekutif. Mereka akhirnya sadar, kecepatan tidak perlu menjadi berhala.

Adjied Bakas, pengamat trend Belanda melalui sejumlah pengukuran mengatakan, terhitung sejak 2015 karakter dan tempo globalisasi telah berubah, atau apa yang disebutnya sebagai slowbalisation. Karenanya, globalisasi telah berakhir pada 2010.

Slowbalisation disebut akan lebih kejam dan kurang stabil, seperti juga resesi keuangan dan pertumbuhan ekonomi di sejumlah negara belakangan ini. Menurut Seno Gumira, ini tidak hanya berpengaruh, tapi juga menentukan konstruksi kebudayaan.

“Dalam akhir pertualangan di belantara tanda-tanda, bahasa, susastra, aksara, maupun dongeng kanak-kanak sederhana, saya akan kembali kepada temuan dari perbincangan bungkus tusuk gigi: bahwa bersama kebenaran, kebudayaan terlalu sering terpahami sebagai ilusi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan,” tutupnya yang disambut dengan tepukan riuh dari tribun penonton.

Di akhir acara, Dr. Dadang Solihin selaku Deputi Bidang Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi DKI Jakarta memberikan buket bunga kepada Seno Gumira dan dilanjutkan dengan sesi foto bersama.

Pidato Kebudayaan dibuka dengan pertunjukan tari “Impact” oleh Irfan Setiawan dan musik “Ngelantur” for Live Electronic 2019 oleh Arham Aryadi. ⁣

*Daniel Deha

Baca Juga

Animo Peserta Sayembara Sastra DKJ Terus Menurun

Portal Teater - Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) telah mengumumkan nama-nama pemenang Sayembara Sastra DKJ tahun 2019, Rabu (4/12) malam. Selain hal-hal mengejutkan...

Mengejutkan! Sayembara Cerita Anak Perdana DKJ Tanpa Pemenang

Portal Teater - Ada yang mengejutkan dalam Sayembara Cerita Anak perdana yang diselenggarakan Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) tahun 2019. Dewan juri tidak menentukan...

PSBK akan Pentas “Hajat dalam Selimut” di Galeri Indonesia Kaya

Portal Teater - Padepokan Seni Bagong Kussudiardja (PSBK) akan mempersembahkan sebuah pertunjukan musik teatrikal bertajuk "Hajat Dalam Selimut" akhir tahun ini di Galeri Indonesia...

Terkini

Setelah FTJ, Teater Nusantara Pentaskan Lagi “Arung Pallaka” di Slawi

Portal Teater - Teater Nusantara akan mementaskan lagi naskah "Arung Pallaka" di Monumen Gerakan Benteng Nasional (GBN) Slawi, Jawa Tengah, Sabtu (7/12), pukul 20.00...

Teater Alamat Buka Perekrutan Anggota Baru

Portal Teater - Teater Alamat membuka perekrutan anggota baru pada akhir tahun ini. Proses perekrutan ini akan berlangsung pada 6-31 Desember 2019 yang terdiri dari...

Theater Olympics 2019 Tampilkan 104 Produksi dari 22 Negara

Portal Teater - Festival teater internasional yang menghadirkan sejumlah praktisi teater kenamaan dari seluruh dunia, Theater Olympics, kembali digelar tahun ini dengan menampilkan 104...

Komite Tari DKJ Kembali Gelar Telisik Tari “Ballet At Batavia”

Portal Teater - Komite Tari Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) kembali menyelenggarakan  Telisik Tari, pada Jumat (6/12). Program ini merupakan "saling silang" antara tari ballet...

Animo Peserta Sayembara Sastra DKJ Terus Menurun

Portal Teater - Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) telah mengumumkan nama-nama pemenang Sayembara Sastra DKJ tahun 2019, Rabu (4/12) malam. Selain hal-hal mengejutkan...