Teater Dokumenter dan Paradoks Garam

Portal Teater – Indeks utama Madura adalah “garam dan manusia”. Tanpa garam, hasil utama Madura tinggal manusia.

Mereka bermigrasi ke wilayah-layah lain mencari kehidupan lebih baik, karena pulau Madura tidak terlalu subur seperti Bali (Marle Ricklefs, Sejarah Indonesia Modern 1200-2008, 2008).

Sampang, Pamekasan dan Sumenep menyimpan memori panjang dari sejarah kuno tentang garam dan terus berlangsung hingga kini.

Garam tidak hanya indeks utama dalam masakan kita, elemen yang harus ada pada tubuh kita, namun juga indeks utama dari elemen produksi di zaman kuno yang terus berlangsung hingga kini dengan bahan produksi gratis: air laut, matahari dan angin.

Tetapi petani garam tidak pernah kaya hingga kini (dan mungkin sampai kapan pun).

Tahun 2019, Sampang dan Bangkalan di Madura baru saja lepas dari statusnya sebagai “Kabupaten tertinggal” di Jawa Timur.

Celurit pernah menjadi ikon utama dalam puisi D. Zawawi Imron, untuk memperlihatkan semacam survivalitas Madura bertahan di pulau yang tidak subur, juga sebagai bagian dari sikap etik Madura.

Dalam konteks puisi Zawawi Imron, yang menggunakan elemen emas pada celurit, juga bisa dibaca sebagai kritik ketidak-hadiran negara dalam konteks kesejahteraan rakyat.

Harus ada semacam akar kokoh sebagai simbol kekuatan rakyat untuk hidup, sambil melawan konstruksi performatifitas media atas celurit sebagai akar kekerasan.

Ikon senjata yang menyimpan banyak tafsir itu (menghasilkan paradoks antara peran metaforiknya dan sebagai peralatan biasa), kini cenderung mulai ditinggalkan oleh generasi masakini.

Timur Budi Raja merupakan salah satu dari penyair Bangkalan yang mulai keluar dari ke-Madura-an sebagai identitas estetika.

Generasi masa kini dalam kerja penciptaan teater yang terkait dengan Madura, mencoba strategi-strategi lain dalam melihat ikon-ikon Madura bukan lagi sebagai identitas.

Melainkan sebagai habitat komunitas yang menjadi ekosistem organik dalam pertunjukan mereka, seperti dilakukan Mahendra (Language Theatre).

Teater yang tidak lagi berangkat dari “tubuh aktor”, melainkan “tubuh petani” bersama dengan narasi maupun bentuk-bentuk koreografi dari pekerjaan mereka sehari-hari.

Termasuk penggunaan kostum, seperti sarung dan kopiah, dan berbagai permainan komunitas petani di Sumenep.

Selain garam, mereka juga menggunakan kapur sebagai metafor pulau yang tidak subur maupun perubahan lahan karena pertambangan kapur.

Penggalian Bukit Kapur Jaddih. -Dok. kaskus.co.id.
Penggalian Bukit Kapur Jaddih. -Dok. kaskus.co.id.

Hampir sebagian pertunjukan teater yang saya saksikan dari teman-teman Madura, seperti Mahendra, Shohifur Ridho’i, Anwari, Arung Wardhana maupun Moh Wail, memiliki koreografi gestural yang tampaknya terkait dengan bunyi-bunyian maupun aksen khas bahasa Madura.

Koreografi tubuh yang tidak saya temukan pada teater-teater yang menggunakan bahasa Indonesia.

Fenomena ini menjelaskan pentingnya bahasa dilihat kembali sebagai indeks utama dalam kerja dramaturgi setelah bahasa Indonesia. Tubuh dan bahasa sebagai institusi performatif yang tidak terpisahkan dalam kerja akting.

Kultur pesantren yang rata-rata membentuk pendidikan awal mereka, juga bersinggungan dengan asosiasi-asosiasi mistifikasi dalam kerja representasi mereka dan menghasilkan layer atau suasana ritual tertentu.

Moh Wail melakukan eksplorasi atas situs garam Madura dan melahirkan beberapa versi pertunjukan, di antaranya berkolaborasi dengan Teater Payung Hitam.

Pertunjukan “Biografi Garam” merupakan versi terkini yang baru saja diluncurkan (Juni 2020) melalui channel “anak garam” di Youtube (https://youtu.be/g8071oXuJME). Rekaman atas pertunjukan ini dilakukan di studio Teater Payung Hitam, Bandung.

Tangkapan layar pertunjukan "Biografi Garam" Moh Wail.
Tangkapan layar pertunjukan “Biografi Garam” Moh Wail.

Pertunjukan ini menggunakan elemen-elemen seperti sarung, kopiah, celurit, tampah, tembang dalam bahasa Madura, di samping garam sebagai elemen utama pertunjukan.

Seluruh elemen ini tampaknya memiliki predikat sebagai indeks identitas ke-Madura-an dalam wajah tunggalnya.

Wajah tunggal ini tampaknya yang membuat pertunjukan menyisakan catatan dari bagaimana menggerakan komunikasi, karena pertunjukan dilakukan di luar konteks penonton dari komunitas Madura.

Wail tidak membawa serta wajah lain ke dalam pertunjukan ini, terutama wajah dari kenyataan bahwa Wail kini hidup di Bandung dalam lingkungan komunitas sosial yang berbeda dengan Madura.

Yang ingin didialogkan, yaitu garam, pada gilirannya kemudian banyak menghasilkan performatifitas garam sebagai pernyataan estetis. Dan memunculkan kembali bagaimana pengolahan atas wacana maupun praktik-praktik performance studies (Richard Schechner) dilakukan.

Pertunjukan diawali dengan jatuhnya butir-butir garam dari atas, tepat pada titik Wail berdiri sebagai aktor dalam pertunjukannya sendiri.

Kamera menggunakan skala medium dalam menghadirkan panggung dengan luas sekitar 3×3 meter dan seluruh ruang dibalut kain hitam (black box).

Kapasitas lampu yang terlalu terang maupun penggunaan lensa kamera yang terlalu general, membuat tekstur garam tidak tercover; hanya menyisakan serpihan maupun gundukan putih dari garam.

Memperlihatkan bahwa transformasi pertunjukan dari ruang fisik ke ruang digital melalui kamera, lebih dilihat sebagai praktik dokumentasi biasa. Kamera tidak dihitung sebagai bagian dari kerja dramaturgi medium.

Elemen garam dalam bentuk balok-balok bata berwarna putih, digunakan Wail untuk dipecahkan kembali menjadi butir-butir garam.

Tidak menjadi pengembangan struktur atas biografi garam itu sendiri yang kaya untuk mengangkut perubahan yang dihadapi Madura.

Balok-balok garam diinjak-injak dengan kaki, memunculkan koreografi lantai pada batas tertentu.

Dan kemudian butir-butir garam kembali sebagai elemen artistik dengan menggerakkan tampah berisi garam di atas kepala aktor. Pertunjukan berakhir sebagai ritual dikuburnya celurit dengan garam.

Pertunjukan ini terkesan hadir sebagai versi minimalis dari pertunjukan sebelumnya yang berkolaborasi dengan Teater Payung Hitam dengan judul “Tubuh Garam”, dipentaskan dalam Festival Teater Tubuh yang diselenggarakan Teater Payung Hitam di Selasar Sunaryo, Dago, Bandung, 2019.

Pertunjukan "Tubuh Garam" dalam Festival Teater Tubuh, Teater Payung Hitam di Selasar Sunaryo, Dago, Bandung, 2019. -Dok. Teater Payung Hitam.
Pertunjukan “Tubuh Garam” dalam Festival Teater Tubuh, Teater Payung Hitam di Selasar Sunaryo, Dago, Bandung, 2019. -Dok. Teater Payung Hitam.

Garam merupakan metafor yang tepat untuk menjelaskan “paradoks identitas” dari proses penguapan maupun kristalisasi air laut menjadi garam, kemudian dilarutkan kembali untuk berbagai produksi lain dari makanan, obat-obatan, pembuatan bahan peledak, pengawetan, pembuatan es, pewarnaan bahan tekstil dan lain-lain.

Setelah garam larut ke berbagai produk ini, apa yang tersisa dari identitas garam?

Analogi ini mirip dengan paradoks identitas “perahu Theseus”. Rakyat Athena memuseumkan perahu kayu yang pernah digunakan Theseus dalam pelayaran untuk membunuh makhluk mitologis menakutkan dan tidak terkalahkan, Minotaur, di Minoan Crete.

Karena kapal terbuat dari kayu yang bisa usang, maka seluruh kayu-kayu yang rusak terus diganti setiap saat, hingga tidak ada lagi kayu original dalam proses pengabadiannya untuk memori kolektif Athena tentang superhero.

Tetapi kemudian memunculkan pertanyaan: apakah itu masih bisa disebut sebagai kapal Theseus setelah seluruh elemennya yang rusak diganti dengan yang baru? (Lihat juga channel Youtube Martin Suryajaya tentang kapal Theseus).

Untuk penonton yang mulai keluar dari pemahaman tunggal tentang identitas, maka pertunjukan Moh Wail memunculkan pertanyaan tentang bagaimana menempatkan garam antara praktik teater dokumenter (riset berbasis garam), teater arsip (garam sebagai arsip), atau garam sebagai materi artistik.

Penggunaan judul “Biografi Garam” membawa penonton ke arah kesiapan untuk menghadapi pertunjukan sebagai praktik teater dokumenter.

Paling tidak membawa harapan adanya penguraian maupun kurasi atas arsip-arsip di sekitar garam, walau tubuh Wail sendiri bisa diklaim sebagai bagian dari biografi garam.

Pabrik garam di Madura masa Hindia Belanda. -Dok. Koleksi Tropenmuseum.
Pabrik garam di Madura masa Hindia Belanda. -Dok. Koleksi Tropenmuseum.

Poin menarik dari garam tidak semata bagaimana sekian ratus tahun hingga kini Madura hidup dari garam.

Tetapi juga bagaimana Madura dibuat miskin oleh garam sejak pemerintah kolonial Belanda melakukan monopoli garam dan menguasai harga garam di pasar.

Dalam bukunya, “Perubahan Sosial dalam Masyarakat Agraris Madura, 1850-1940” (2002), misalnya, Kuntowijoyo menulis: “Dalam tahun 1852, harga jual garam lebih dari tiga puluh kali harga belinya (dari petani),” bahwa “industri garam, bagaimana pun tidak menambah kesejahteraan penduduk.”

Korpus di sekitar industrialisasi garam di Madura ini, yang tumbuh dan terkait langsung dengan program cultuursetelsel era Gubernur Jenderal Johannes van den Bosch, paling tidak merupakan batas yang masih bisa dilacak untuk melihat perubahan Madura dalam konteks garam.

Tulisan ini memang membawa pertunjukan Moh Wail untuk melihat praktik kerja teater dokumenter berlangsung di sekitar kita.

Walau mungkin Moh Wail sendiri tidak memaksudkan pertunjukannya sebagai praktik teater dokumenter.

Namun kalau pertunjukannya tidak ada hubungan sama sekali dengan praktik dokumenter, biografi garam siapakah yang dipentaskan oleh Wail?

Dan apakah garam yang digunakan dalam pertunjukannya adalah garam Madura atau garam impor, di tengah gonjang-ganjing Indonesia sebagai negeri maritim namun harus mengimpor garam dari luar.*

Surabaya, 21 Juni 2020.

*Afrizal Malna adalah penyair dan aktivis teater. Buku terakhir yang diterbitkan berjudul “Teater Kedua. Antologi Tubuh dan Kata” (2019) dianggap sebagai buku paling komprehensif menjelaskan teater kontemporer Indonesia selama periode 1980-1990-an. Saat ini menetap di Surabaya dan mulai berkolaborasi dengan seniman pertunjukan di samping kembali aktif menulis esai dan kritik teater.

Baca Juga

Teater Broadway Tutup hingga Awal 2021

Portal Teater - Teater Broadway telah mengumumkan secara resmi bahwa akan tetap menutup teaternya sepanjang sisa tahun ini hingga awal tahun 2021 mendatang. Meski demikian, pembukaan...

Buku Puisi Sosiawan Leak Berbasis Media 3 in 1 Siap Diterbitkan

Portal Teater - Buku puisi "Rumah-Mu Tumbuh di Hati Kami: Kumpulan Puisi Puasa di Masa Korona" karya penyair multitalenta Sosiawan Leak berbasis media 3...

Rontoknya Kekerasan karena Cinta

Portal Teater - Apakakah kekerasan akan luluh lantak dengan indahnya alis mata, binar indah bola mata dan lentik bulu mata. Atau malah makin ganas? Dalang (sutradara)...

Terkini

Galerikertas Kembali Buka Ruang Pameran untuk Publik

Portal Teater - Setelah beberapa bulan ditutup karena situasi pandemi, awal Juli ini Galerikertas akhirnya kembali dibuka untuk publik. Pembukaan kembali galeri berbasis Depok, Jawa...

Rontoknya Kekerasan karena Cinta

Portal Teater - Apakakah kekerasan akan luluh lantak dengan indahnya alis mata, binar indah bola mata dan lentik bulu mata. Atau malah makin ganas? Dalang (sutradara)...

Teater Broadway Tutup hingga Awal 2021

Portal Teater - Teater Broadway telah mengumumkan secara resmi bahwa akan tetap menutup teaternya sepanjang sisa tahun ini hingga awal tahun 2021 mendatang. Meski demikian, pembukaan...

Buku Puisi Sosiawan Leak Berbasis Media 3 in 1 Siap Diterbitkan

Portal Teater - Buku puisi "Rumah-Mu Tumbuh di Hati Kami: Kumpulan Puisi Puasa di Masa Korona" karya penyair multitalenta Sosiawan Leak berbasis media 3...

Rudolf Puspa: “Abdi Abadi” adalah sebuah Tanggung Jawab

Portal Teater - Berdiri di panggung Graha Bhakti Budaya di Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki (PKJ TIM), pada 26 Desember 2016 ketika menerima piagam...