Tes Corona Indonesia Terkendala Biaya

Portal Teater – Jumlah pengujian spesimen virus corona di Indonesia terkendala biaya yang cukup mahal jika dibandingkan negara lain. Rata-rata per tes dibandrol seharga Rp200 ribu hingga Rp2 juta.

Jika seseorang melakukan tes mandiri dengan harga sekitar Rp300 ribu/tes cepat, misalnya untuk bepergian ke luar kota/daerah sebagaimana protokol kesehatan, maka ia harus mengocek kantong senilai Rp600 ribu karena harus menjalankan dua kali tes.

Jumlah ini setara dengan bantuan langsung tunai (BLT) yang dialokasikan pemerintah untuk warga terdampak virus.

Karena itu, masyarakat berpenghasilan rendah, atau tidak memiliki penghasilan sama sekali selama pandemi akan sulit atau enggan melakukan pengujian yang didorong oleh inisiatifnya sendiri.

China, negara asal mula virus corona, menurut laporan Reuters beberapa waktu lalu, melakukan pengujian secara gratis dan mudah.

Meski tidak dilakukan secara massal terhadap 13 juta penduduk kota Wuhan, karena memakan biaya yang besar, tapi setiap warga di kota itu wajib menjalankan tes secara cepat dan murah.

Hal inilah yang membuat Indonesia, yang kini tengah berjuang melawan virus, sejak 1 April lalu baru melakukan 289.906 tes dari 273 juta populasi, masuk kategori terendah di dunia.

Menurut data Worldometers, sekedar untuk membandingkannya dengan negara lain, rasio pengujian Indonesia baru sebesar 1.061 tes/1 juta penduduk.

Di negara-negara ASEAN saja, pengujian ini masih jauh di bawah Singapura dengan 57.250 tes/1 juta, atau Filipina 2.959 tes dan Malaysia dengan 16.084 tes.

Brunei Darusallam yang memiliki 141 kasus pun telah melakukan pengujian sebanyak 42.799 tes. Terbanyak kedua setelah Singapura.

Untuk membandingkannya dengan negara berpopulasi besar, Indonesia jauh tertinggal di bawah Amerika Serikat (49.365 tes/1 juta) dan Rusia (66.479 tes/1 juta) serta India (2.527 tes/1 juta).

Dari 940 ribu tes yang harus dilakukan hingga saat ini, menurut Deputi Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Kementerian PPN/Bappenas, Subandi Sardjokobaru, baru terealisasi 240 ribu tes.

Deputi Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Kementerian PPN/Bappenas, Subandi Sardjokobaru. -Dok. RMOL.
Deputi Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Kementerian PPN/Bappenas, Subandi Sardjokobaru. -Dok. RMOL.

 

Fokus Dua Tes: PCR dan TCM

Beberapa waktu lalu, pemerintah tak tanggung-tanggung mengimpor sekitar 420 ribu reagen polymerase chain reaction (PCR).

Alat ini pada dasarnya digunakan untuk mendeteksi virus HIV/AIDS, namun di semua negara telah menjadi rujukan pengujian Covid-19 karena dianggap efektif menentukan positif/negatif virus corona.

Tes PCR menggunakan sampel usapan lendir dari hidung atau tenggorokan sebagai tempat replikasi virus corona. Pemeriksaan PCR di Indonesia memakan waktu yang cukup lama, hingga 2 minggu.

Selain tes real-time PCR, Indonesia juga menggunakan tes cepat molekuler (TCM) untuk mendeteksi Covid-19.

Pemeriksaan ini menggunakan dahak dengan amplifikasi asam nukleat berbasis cartridge untuk mengidentifikasi RNA pada virus corona. Hasil tes lebih cepat, yaitu sekitar 2 jam.

Model tes terakhir yang dilakukan, namun tidak menjadi prioritas pemerintah, adalah test cepat atau rapid test. Tes ini menggunakan sampel darah, sebuah tes paling awal untuk mendeteksi virus.

Berbeda dari kedua jenis tes lainnya, hasil rapid test bisa diumumkan dalam hitungan 15-20 menit saja. Namun tes ini memiliki kelemahan karena meski hasilnya mungkin positif, tapi kenyataannya negatif.

Itu terjadi lantaran tes barangkali dilakukan kurang dari 7 hari setelah seorang pasien terinfeksi virus corona.

Pemerintah saat ini fokus pada dua tes, yaitu RT-PCR dan TCM, di mana hasilnya rutin dilaporkan juru bicara pemerintah untuk penanganan Covid-19 Achmad Yurianto dari Graha BNPB Jakarta.

Meski jumlah pengujian terus bertambah, tapi pengetesan harian masih jauh dari target Presiden Joko Widodo, yaitu 10.000 tes/hari.

Pemerintah tidak mungkin melakukan tes massal yang masif atau meningkatkan pengetesan lebih tinggi untuk mendeteksi lebih cepat penyebaran virus, karena terkendala anggaran.

Dari beleid realokasi APBN 2020, pemerintah mengucurkan Rp75 triliun untuk pembiayaan kesehatan dari total Rp405,1 triliun.

Namun demikian, anggaran tersebut tidak semata-mata untuk alokasi pengetesan, di mana pemerintah telah menujuk sekitar 132 rumah sakit pengujian Covid-19 yang dibiayai pemerintah.

Sebab, dari anggaran tersebut, pemerintah harus membaginya ke dalam beberapa kategori, yaitu anggaran untuk fasilitas ksehatan, pembiayaan tenaga medis, hingga insentif pekerja medis.

Meski, anggaran tersebut sampai saat ini masih belum dicairkan, yang membuat sejumlah rumah sakit tidak membayar gaji, honor dan THR para tenaga kesehatan selama masa pandemi.

Nasib Upah Tenaga Medis Kala Pandemi
Seorang tenaga medis bekerja siang dan malam merawat pasien Covid-19. -Dok. Lampung Post.

Bantuan Swasta

Pemerintah tentu berada dalam situasi serba salah. Maju kena, mundur kena. Hal mana terjadi pada wacana penerapan “new normal” yang kini menjadi pergunjingan di jagad maya.

Dalam kondisi tersebut, pihak swasta sewajarnya membantu pemerintah untuk mengurangi beban pembiayaan pengujian.

Namun hal itu tidak dapat dilakukan, karena ratusan rumah sakit yang ditunjuk maupun tidak ditunjuk untuk melakukan pengujian harus membeli alat PCR dengan harga lebih dari Rp200 ribu/alat.

Belum lagi, harga PCR berbeda untuk tiap produk dari negara impor, misalnya dari Korea, AS, China, atau Eropa.

Hal itu pula yang mendorong mahalnya pengujian tes PCR maupun TCM di Indonesia. Sementara, bandrolan harga pengujian berbeda di tiap rumah sakit, baik pemerintah maupun swasta.

Bilamana pasien membiayai tes PCR secara mandiri, karena gratis baru setelah terkonfirmasi Covid-19, maka hal itu tentu menjadi beban tersendiri, ketika pandemi memaksa jutaan warga terisolasi dan kehilangan pekerjaan harian mereka.

Mengharapkan bantuan dari pemerintah pun masih tersendat-sendat. Selain BLT, bantuan Kartu Pra Kerja, misalnya, telah dihentikan di gelombang ketiga saja. Gelombang terakhir tidak lagi mendapatkan bantuan hingga waktu yang tidak ditentukan.

Penghentian bantuan program Kartu Pra Kerja terjadi lantaran desakan masyarakat yang melihat ada katup yang dapat digunakan para perusahaan penyedia layanan untuk meraup keuntungan, sementara masyarakat penerima tidak mendapatkan ketrampilan apa-apa dari video-video pelatihan daring yang disediakan.

Menurut opini umum yang beredar, video-video tersebut dapat ditemukan di penyedia layanan gratis lainnya dan tidak perlu dikapitalisasi untuk kepentingan sekelompok orang.

Dewan Pakar Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia Hermawan Saputra. -Dok. Harian Nasional.
Dewan Pakar Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia Hermawan Saputra. -Dok. Harian Nasional.

Fasilitasi Masyarakat

Untuk mendorong optimisme mengenai berakhirnya pandemi, Dewan Pakar Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia Hermawan Saputra kepada Okezone, meminta “pemerintah lebih banyak memfasilitasi masyarakat melakukan tes swab”.

Hal itu dilakukan “demi kepentingan dalam menganalisis penyebaran virus, epidemiologi, dan privalensi serta penyebarannya”.

Menurutnya, semakin banyak tes dilakukan, maka akan semakin cepat untuk mengetahui berapa banyak orang terpapar virus.

Di Provinsi Jawa Timur, misalnya, terjadi ledakan kasus harian setelah pemerintah setempat meningkatkan pengujian sampel.

Selain ODP dan PDP, tes sebaiknya juga akan dilakukan pada petugas medis yang merawat pasien. Sebab mereka dinilai paling berisiko karena berhubungan langsung dengan pasien yang menjalani perawatan di ruang-ruang isolasi rumah sakit.

Selain itu, pemerintah juga perlu memperluas lokasi pengujian. Tidak hanya di rumah sakit, tapi juga di puskesmas.

Sebab sejumlah puskesmas di Indonesia telah menyediakan layanan pemeriksaan rapid test dan pengambilan sampel swab.

Direktur Jenderal Layanan Kesehatan Kementerian Kesehatan Bambang Wibowo beberapa waktu lalu mengatakan bahwa puskesmas dapat berperan untuk melakukan skrining Covid-19.

Metode ini dilakukan untuk menelusuri masyarakat yang diduga kontak erat dengan kasus Covid-19 yang positif.

Menurutnya, petugas puskesmas dapat melakukan wawancara dan pemeriksaan epidemiologi terlebih dahulu ke pasien sebelum uji antibodi atau tes swab dilakukan.

Jika hasil pemeriksaan awal menunjukkan ada indikasi kuat Covid-19, maka petugas puskesmas akan mengambil darah pasien untuk diuji tingkat antibodi-nya melalui rapid test.

Di tengah persiapan menuju “new normal”, sebuah alihkalimat kebijakan pelonggaran PSBB, pemerintah sebaiknya memfasilitasi masyarakat untuk melakukan tes dan tidak perlu menunggu inisiatif orang-perorangan.

Lebih lagi, masyarakat yang terpukul cukup sulit melakukan pengujian dengan biaya tak terjangkau, sementara mereka harus merayapi hari-hari selama masa krisis terbesar abad ini.*

Baca Juga

Buku Puisi Sosiawan Leak Berbasis Media 3 in 1 Siap Diterbitkan

Portal Teater - Buku puisi "Rumah-Mu Tumbuh di Hati Kami: Kumpulan Puisi Puasa di Masa Korona" karya penyair multitalenta Sosiawan Leak berbasis media 3...

Teater Broadway Tutup hingga Awal 2021

Portal Teater - Teater Broadway telah mengumumkan secara resmi bahwa akan tetap menutup teaternya sepanjang sisa tahun ini hingga awal tahun 2021 mendatang. Meski demikian, pembukaan...

Rontoknya Kekerasan karena Cinta

Portal Teater - Apakakah kekerasan akan luluh lantak dengan indahnya alis mata, binar indah bola mata dan lentik bulu mata. Atau malah makin ganas? Dalang (sutradara)...

Terkini

Galerikertas Kembali Buka Ruang Pameran untuk Publik

Portal Teater - Setelah beberapa bulan ditutup karena situasi pandemi, awal Juli ini Galerikertas akhirnya kembali dibuka untuk publik. Pembukaan kembali galeri berbasis Depok, Jawa...

Rontoknya Kekerasan karena Cinta

Portal Teater - Apakakah kekerasan akan luluh lantak dengan indahnya alis mata, binar indah bola mata dan lentik bulu mata. Atau malah makin ganas? Dalang (sutradara)...

Teater Broadway Tutup hingga Awal 2021

Portal Teater - Teater Broadway telah mengumumkan secara resmi bahwa akan tetap menutup teaternya sepanjang sisa tahun ini hingga awal tahun 2021 mendatang. Meski demikian, pembukaan...

Buku Puisi Sosiawan Leak Berbasis Media 3 in 1 Siap Diterbitkan

Portal Teater - Buku puisi "Rumah-Mu Tumbuh di Hati Kami: Kumpulan Puisi Puasa di Masa Korona" karya penyair multitalenta Sosiawan Leak berbasis media 3...

Rudolf Puspa: “Abdi Abadi” adalah sebuah Tanggung Jawab

Portal Teater - Berdiri di panggung Graha Bhakti Budaya di Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki (PKJ TIM), pada 26 Desember 2016 ketika menerima piagam...