Filosofi Kopi dalam Tubuh Kanvas Edo Makarim

Portal Teater – Pada ruang pameran Galerikertas studiohanafi Depok tersebar aroma kopi segar dari sumber yang tak terlihat. Ruang itu jauh dari dapur, tetapi sumber aroma itu terlalu peka menusuk ingatan para pengunjung akan seruputan kopi di senja ketika lelah seharian kerja.

Aroma itu begitu nikmat hingga mendesak pengunjung untuk mengetahui apa gerangan di ruang pamer itu. Salah satunya dialami ibu Revita Tantri Yanuar, ibu dari Edo Makarim, perupa muda pilihan Rob Pearce, pada Sabtu (15/6).

Sesajian kopi itu sebenanya bukan suguhan layaknya seseorang bertamu, atau desiran wangian Starbucks yang memikat rasa generasi milenial. Suguhan itu lebih merupakan sebuah pameran karya.

Adalah Edwin Makarim Januar atau yang akrab disapa Edo Makarim, yang sedang duduk dan menggores-gores kuas pada kanvas kertas yang menghidangkan karyanya bertajuk “Diorama Kopi” dalam kemasan mixed Media on board.

Lelaki yang pernah mengalami kesulitan berbicara pada masa kecilnya ini ternyata sangat senang bereksplorasi membuat lukisan dalam bentuk serial. Tema ‘kopi’ diolah dari biji-bijinya hingga penyajiannya ke dalam mug dalam berbagai ukuran, perspektif, dan teknik pewarnaan.

Tentu saja, karya-karya Edo pun akan terbuka untuk tema-tema lepas yang menarik minatnya tanpa harus terikat pada pakem serialisasi itu.

Melalui “Diorama Kopi”, Edo melihat kopi sebagai teman perjalanan hidupnya, di manapun ia berada.

“Seandainya saya jadi tumbuhan, saya akan memilih jadi kopi,” ungkapnya.

Sejak mengenal kopi sebagai bagian dari menu yang harian di keluarganya, Edo meyakini bahwa kopi, seperti kata ayahnya, justru akan menjadi minuman yang memperkuat sistem saraf.

Aroma kopi selalu tercium di pagi hari menjelang beraktivitas, sore menjelang maghrib dan di sepanjang akhir pekan. Setiap berkumpul bersama keluarga selalu ada kopi yang disajikan dengan berbagai citarasa.

Belakangan ibunya menjadi barista di rumah, dan mereka sekeluarga selalu menantikan sajiannya. Bahkan ibunya membuat kopi kemasan hasil racikannya sebagai oleh-oleh bagi orang-orang yang berkunjung ke rumah.

Bahkan, ayahnya pun menanam pohon kopi di belakang rumah. Barangkali agar pasokan kopi racikan ibunya lebih terjangkau, apalagi harga komoditas di pasaran makin naik.

“Kalau jalan-jalan pun, kami selalu menyempatkan diri menikmati kopi, bahkan bawa bubuk kopi racikan sendiri,” cerita Edo.

Uniknya, eksplorasi karyanya ini terinspirasi dari memori akan penyakit yang pernah menyerangnya ketika ia berusia 4 tahun, yaitu cerebral palsy atau semacam epilepsi.

Untuk memperbaiki fungsi motorik yang belum sempuran, Edo harus mengikuti serangkaian terapi dengan meminum kopi lebih banyak dari porsi yang wajar. Ketika terserang epilepsi, misalnya, kopi menjadi minuman yang mempercepat kesadarannya.

“Porsi kopinya ditambah dari beberapa sendok jadi dua cangkir sehari. Saya mulai menikmati kopi,” katanya.

Bagi Edo, kopi selalu menjadi minuman yang menyemangati, mengakrabkan, mempererat persahabatan dan mencairkan suasana untuk bergembira dinikmati bersama.

Ia perhatikan, di setiap pertemuan keluarga, dengan teman dan handai taulan, di kantor ayahnya, di acara resmi dan santai, kopi selalu jadi minuman istimewa.

Setelah menelusuri aneka literatur tentang kopi, Edo akhirnya jatuh cinta pada kopi hingga menjadikannya sebagai karya khas yang membesarkan namanya.

Kesukaannya pada tekstur biji dan bubuk kopi, Edo memahami bahwa kopi memberi aroma yang khas dan selalu mewarnai sekitarnya.

“Rasa dan aromanya tidak berubah dalam kondisi panas maupun dingin. Makin menyebar saat ditindas dan digiling. Dan kalau dicampur dengan bahan lainnya, akan tetap terasa sifat kopinya,” ungkapnya.

Edo Makarim, Keterbatasan dan Penjelajahannya

Edo Makarim adalah perupa muda kelahiran ibukota pada 18 November 1995. Pada masa kecilnya, Edo sempat mengalami masalah darah yang mengakibatkan berkurangnya kemampuan motorik sebagian anggota tubuhnya dan keterlambatan berbicara (speech delay).

Sekitar 12 tahun pertama dari usianya, Edo habiskan dalam serangkaian terapi berupa Terapi Perilaku, Terapi Okupasi, Fisioterapi dan Terapi Wicara untuk memperbaiki kekurangan tersebut, serta mengejar ketertinggalan dari teman-teman seusianya.

Saat Edo kecil belum lancar berbicara, ayahnya selalu menggambar semacam komik tentang berbagai hal yang dijalani dalam keseharian mereka. Lalu ayahnya menceritakan kisah dalam setiap gambar melalui sebuah percakapan sederhana antar mereka berdua.

Setelah melewati rentang beberapa tahun, giliran Edo yang menggambar komik untuk bercerita pada ayah dan keluarganya. Dia akan memperlihatkan gambar karyanya yang direspon dengan upaya menterjemahkan maksud Edo dengan bahasa lisan.

Begitulah, buku gambar dan  pensil warna menjadi alat komunikasi pertama Edo dengan lingkungan sosial terdekatnya. Saat menginjak usia lima tahun, Edo sudah mampu menceritakan makna gambarnya dan secara bertahap akhirnya dia bisa berbicara tanpa bantuan gambar.

Kebutuhan untuk meningkatkan kemampuan motorik halus menjadi penghubung Edo dengan dunia melukis dengan Alianto sebagai pembimbing pertamanya yang memperkenalkan padanya teknik dasar melukis oil on canvas, acrylic, dan proses mix-media.

Kebersamaan Edo-Alianto akhirnya melahirkan Sanggar Lukis Rumah Belajar yang merupakan cikal-bakal lembaga pendidikan non-formal Rumah Belajar Persada di kawasan Jatibening Baru, Bekasi, Jawa Barat.

Lembaga itu kini berkembang menjadi PKBM ‘Tamansari Persada’ yang bertanggungjawab atas edukasi di ‘Homeschooling Persada’, sebuah alternatif pendidikan  jenjang SD-SMA bagi anak-anak didik yang tidak cocok dengan agenda sekolah formal.

Di luar kesibukannya melukis dan kuliah di Universitas Terbuka Jakarta, Edo pun magang sebagai Asisten Guru pada lembaga itu.

Sederet nama lain kemudian masuk dalam kiprah melukis Edo, antara lain pelukis Chandra Maulana pemilik ‘deDada Studio and Gallery’ dan  pelukis senior Hanafi Muhammad yang juga pemilik Studio Hanafi.

Perkenalan dengan kedua pelukis tersebut telah memperkaya wawasan Edo yang awalnya sangat akrab dengan tema lukisan panorama air, kini sapuan kuasnya sudah merambah ke objek-objek yang lebih beragam bahkan masuk ke tema abstrak.

Sketsa lukisan yang dinamai kapal “Pinisi’ pernah ditampilkan pada Pameran Seni Rupa & Imaji Bahari Nautika Rasa yang berlangsung pada 13-25 September 2016 di Galeri Nasional Indonesia, Jl Merdeka Timur, Jakarta.

Baca Juga

“New Normal” Kesenian: Melampaui Protokol, Menyadari Risiko

Portal Teater - Empat bulan setelah kasus virus corona (Covid-19) muncul pertama kali di Indonesia pada Maret, pemerintah akhirnya menetapkan kondisi "new normal". Berbagai kegiatan...

Gubernur Lampung Kukuhkan Akademi Lampung dan DKL Periode 2020-2024

Portal Teater - Gubernur Lampung Arinal Djunaidi melalui Sekretaris Daerah Provinsi Lampung Fahrizal Darminto resmi mengukuhkan pengurus struktural Akademi Lampung dan Dewan Kesenian Lampung...

Terkini

Gubernur Lampung Kukuhkan Akademi Lampung dan DKL Periode 2020-2024

Portal Teater - Gubernur Lampung Arinal Djunaidi melalui Sekretaris Daerah Provinsi Lampung Fahrizal Darminto resmi mengukuhkan pengurus struktural Akademi Lampung dan Dewan Kesenian Lampung...

“New Normal” Kesenian: Melampaui Protokol, Menyadari Risiko

Portal Teater - Empat bulan setelah kasus virus corona (Covid-19) muncul pertama kali di Indonesia pada Maret, pemerintah akhirnya menetapkan kondisi "new normal". Berbagai kegiatan...

Kolaborasi sebagai Praktik Intervensi Membongkar Kebekuan Teater

Portal Teater - Mengapa praktik-praktik penciptaan karya seni sekarang mengarah ke kerja kolaborasi? Praktik-praktik kolaborasi dalam kerja artistik terutama berakar ketika mulai munculnya studi-studi inter-kultur,...

Museum MACAN Gandeng OPPO Gelar “Arisan Karya” Edisi Terakhir

Portal Teater - Setelah sukses di dua ronde pertama, Museum MACAN kembali menggelar program "Arisan Karya" edisi terakhir. Program suntikan motivasi bagi ekosistem seni Indonesia...

Rudolf Puspa: Menggelorakan Berkesenian

Portal Teater - Saya masih ingat ketika pada tahun 2016 Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy menyerukan kepada penyelenggara pendidikan untuk menggelorakan aktivitas kesenian. Saya...