Portal Teater – “Tubuh Padang” berangkat riset terhadap seni tradisional randai Minangkabau (Sumatra Barat) sebagai vokabuler gerak tubuh aktor. Randai adalah perpaduan dari sastra, musik, seni suara, seni tari, teater dan pencak silat. Karya ini memiliki ciri melibatkan beberapa aspek seni dan bersifat total dan pembesaran.

Salah satu bentuk randai yang digunakan dalam karya ini adalah legaran atau gerak lingkaran pemain randai yang bersumber dari silat dan aktraktif. Di sini muncul bentuk yang secara visual menarik untuk ditonton atau menjadi pamenan mato dalam kebudayaan Minangkabau.

Pamenan mato dipengaruhi oleh keindahan lihatan. Pamenan merupakan suatu fungsi yang penuh makna yang bisa diartikan sebagai permainan. Dalam pamenan ada sesuatu yang turut bermain yang melampaui hasrat untuk mempertahankan kelangsungan hidup dan memasukkan suatu makna ke dalamnya.

Demokrasi Seni

Fakta bahwa pamenan mempunyai makna, mengimplikasikan adanya suatu unsur non-materi dalam hakekat pamenan itu sendiri. Pamenan juga diartikan sebagai ideologi tentang demokrasi seni.

Prinsip-prinsip demokrasi yang menjadi dasar relasi sosial dalam masyarakat Minangkabau membuat pertunjukan randai tidak mengenal pemimpin yang berkuasa mutlak.

Meskipun penyelenggara pertunjukan randai tergabung dalam struktur yang memunculkan posisi yang berbeda antara satu dengan yang lain, namun dalam pelaksanaannya semua unsur bekerja bersama-sama.

Makna demokrasi yang diterapkan dalam penyelenggaraan pertunjukan randai bukan berarti menghilangkan tingkat dan posisi.

Akan tetapi, tingkat dan posisi itu tidak dimaknai sebagai sesuatu yang kaku dan mutlak secara menyeluruh. Masing-masing orang yang menempati posisi tertentu diberi jalan agar pikiran dan pendapat mereka didengar dan dipertimbangkan.

Esensi estetik dari randai adalah bagaimana masing-masing kreator memiliki kebebasan terhadap bidangnya masing-masing.

Esensi estetik yang melatar belakangi randai, ditentukan oleh masyarakat pendukungnya, sedangkan “esensi artistik” ditentukan oleh tuo randai beserta pemain dan bahkan juga ditambah masyarakat lingkungannya.

Perubahan randai menyentuh berbagai macam bidang (tidak hanya pada bentuk), baik itu dari pandangan sosial, ekonomi, politik, dan kebudayaan termasuk di dalamnya kesenian.

Perubahan yang terjadi di tengah masyarakat juga mempengaruhi perubahan kesenian di tengah masyarakat, termasuk di dalamnya teater.

“Tubuh Padang” adalah eksplorasi kedua dari karya “Bangku Kayu” dan “Kamu yang Tumbuh di Situ” karya dan sutradara Yusril Katil.

Pentas "Bangku Kayu" karya dan sutradara Yusril Katil. -Dok. KSHP
Pentas “Bangku Kayu” karya dan sutradara Yusril Katil. -Dok. KSHP

 

KSHP Padangpanjang

Komunitas seni HITAM-PUTIH (KSHP) Padangpanjang, Sumatera Barat, adalah salah satu komunitas seni di Indonesia yang memiliki konsentrasi pada bidang penciptaan karya teater.

Bermula di INS Kayutanam pada tahun 1993 dengan nama kelompok Teater Plus INS Kayutanam.

Teater Plus yang menjadi embrio KSHP pimpinan Yusril Katil (sutradara KSHP), kemudian hadir dalam percaturan dan dinamika teater melalui pertunjukan teater seperti perguruan. Salah satunya tahun 1995 di TIM Jakarta.

Yang lainnya, misalnya pertunjukan “Ring” (1996) di Taman Budaya Padang, “Interne” di Taman Budaya Bengkulu (1996), “Menunggu” dalam event Temu Sastrawan Nusantra IX dan temu teater Indonesia di Pekan Baru, Teater Utan Kayu (TUK) Jakarta.

Pada 31 Oktober 1997, Teater Plus INS Kayutanam berubah nama menjadi komunitas seni HITAM-PUTIH yang sifatnya lebih indipenden dengan motto: “tidak menghitamkan yang putih dan memutihkan yang hitam”.

Sejak tahun 1998 sampai sekarang, KSHP hadir dalam setiap event lokal, nasional, maupun internasional, seperti Pentas Monolog Dewan Kesenian Jakarta, Pentas teater dalam event Pusat Bahasa Jakarta, Pentas Seni Dewan Kesenian Sumatera Barat, Jakarta Art Festival (JakArt), Pekan Apresiasi Teater (PAT), Hibah Seni karya Inovatif dan Keliling Yayasan Kelola Jakarta, serta Teater Salihara Jakarta.

Program mandiri dan lainnya dipentaskan di berbagai kota seperti Padang, Pekanbaru, Jambi, Bengkulu, Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Solo, Surabaya, Bali, Kediri, Kudus, Malaysia, Singapura, jepang, Beijing, Naning, Belanda dan sebagainya.

TIM KREATIF DAN ARTISTIK

  • Sutradara: Yusril Katil
  • Periset dan Dramaturg: Sahrun N, Sudarmoko
  • Komposer: Avantgarde Dewa Gugat
  • Video Art/Dokumentasi: Topan Dewa Gugat
  • Aktor: Yogi, Ahmad Ridwan Fadjri, Aditya Warman, Rahmat Pangestu Hidayat
Yusril Katil. -Dok.KSHP
Yusril Katil. -Dok. KSHP

Tentang Yusril Katil

Yusril, yang sekarang lebih akrab dipanggil Yusril Katil, berasal Sumatera Barat, lahir di Payakumbuh, 5 September 1967.

Bergabung dengan Bumi Teater pimpinan Wisran Hadi, komunitas seni INTRO Payakumbuh, teater LANGKAH fakultas Sastra Universitas Andalas, dan seni RELL hingga akhirnya mendirikan komunitas seni HITAM PUTIH Padangpanjang.

Sejak masa kuliah sampai sekarang, lebih kurang 50 karyanya sudah dipentaskan di berbagai kota di Indonesia maupun di luar Indonesia, diantaranya adalah Padang, Pekanbaru, Jambi, Bengkulu, Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Solo, Surabaya, Bali, Kediri, Kudus, Semarang, Malang, Jepara, Malaysia, Singapura, Jepang, Beijing, Naning, Belanda dan masih banyak lagi.

Saat ini, ia mengajar pada Jurusan Teater Institut Seni Indonesia Padangpanjang, Sumatra Barat.

*Naskah ini diambil dari Katalog Pekan Teater Nasional 2019 di Samarinda, 20-26 September.