Rokateater: “Otobiografi (Selepas Melodrama Itu Berlalu)”

Portal Teater – “Otobiografi (Selepas Melodrama Itu Berlalu)” berangkat dari amatan atas kesenian Kethek Ogleng yang bermula dan berkembang di daerah, terutama Kabupaten Pacitan (Jawa Timur) dan Wonogiri (Jawa Tengah), termasuk juga Gunung Kidul (Yogyakarta), serta beberapa daerah lain di pulau Jawa.

Personifikasi Kethek Ogleng ini bersumber (atau meminjam) dari salah satu watak dan karakter dalam kisah epik Ramayana bernama Anoman (atau Hanoman).

Sementara narasi yang melatari pengisahan Kethek Ogleng sendiri berasal dari cerita panji, yaitu kisah cinta melodrama yang kelewat klise dan berakhir bahagia antara Dewi Sekartaji dengan Panji Asmarabangun.

Dua-duanya dari kalangan elit kerajaan, yaitu putra-putri mahkota kerajaan Jenggala dan kerajaan Kadiri.

Dari itu dapat kita lihat bahwa ada dua sumber berbeda yang menyertai Kethek Ogleng: Anoman (Ramayana) dan Cerita Panji (dari kultur/cerita lisan dan bukti material relief di candi-candi peninggalan masa Majapahit).

Banyak sumber dan versi yang menceritakan kisah cinta dua anak raja ini, namun karena keduanya hanya menjadi basis cerita untuk memunculkan tokoh kera putih atau Kethek Ogleng sebagai protagonis (di dalam cerita Panji tidak ada tokoh kera putih).

Kethek Ogleng adalah tokoh utama sementara Dewi Sekartaji dan Panji Asmarabangun adalah tokoh ‘menyamping’. Dalam beberapa pagelaran, dua sosok ini kadang muncul dan kadang tidak.

Pertunjukan "Otobiografi" oleh rokateater pada Pekan Teater Nasional 2019 di Samarinda. -Dok. rokateater.
Pertunjukan “Otobiografi” oleh rokateater pada Pekan Teater Nasional 2019 di Samarinda. -Dok. rokateater.

Bersifat Arbitrer

Kethek Ogleng adalah kesenian ‘arbitrer’ sebab ia situasional dan plastis (terutama di level koreografinya). Ia tidak tumbuh di lingkungan pusat Keraton dengan kategori kesenian tradisi yang utuh (pakem) dan adiluhung.

Kethek Ogleng tumbuh di lingkungan masyarakat petani di daerah pinggiran Jawa bagian selatan (Pacitan dan Wonogiri). Ia juga termasuk kesenian ‘baru’ sebab ditemukan pada masa peralihan kekuasaan dari Orde Lama ke Orde Baru.

Namun, setidaknya di dua daerah tersebut, Kethek Ogleng dianggap sebagai kesenian tradisi sebab mampu menjadi penanda identitas dan dapat mengartikulasikan kualitas ‘pinggiran’ di dalam kultur petani.

rokateater pentaskan "Otobiografi" pada Pekan Teater Nasional 2019 di Samarinda. -Dok. rokateater.
rokateater pentaskan “Otobiografi” pada Pekan Teater Nasional 2019 di Samarinda. -Dok. rokateater.

“Otobiografi” dan Narasi Kekuasaan

Alih-alih memunculkan kembali figur kethek (kera) sebagai karakter utama dan me-reenactment ketinampilan Kethek Ogleng, pertunjukan Otobiografi ini mencoba melihat kemungkinan pilihan dramaturgi dari cerita Panji yang disadurnya, yaitu menjadikan sosok Dewi Sekartaji sebagai elemen pengisahan utama.

Kami tertarik untuk melihat ulang Dewi Sekartaji di dalam narasi kekuasaan monarki dan sekaligus spekulasi atas konteksnya sebagai perempuan yang hidup di lingkungan sosial hari ini yang dinarasikan secara personal melalui ‘otobiografi’ performer perempuan.

Sementara Kethek Ogleng dilihat sebagai siasat untuk menarasikan situasi yang kompleks
di luar dinding kekuasaan (kerajaan): mulai perkara identitas (penyamaran Dewi Sekartaji menjadi kera dan/atau penyamaran Panji Asmarabangun menjadi kera dalam versi pengisahan yang lain) sampai imajinasi tentang batas (di dalam istana dan di luar istana) dan mobilitas (pelarian Dewi Sekartaji dari kerajaan dan hidup sebagai rakyat biasa).

Pertunjukan Otobiografi ini diproyeksikan sebagai pengisahan spekulatif atas kehidupan Dewi Sekartaji di dalam komunitas sosial hari ini dan masa depan.

Sebagaimana tokoh Anoman yang dipersonifikasikan oleh kesenian Kethek Ogleng, pertunjukan ini juga melakukan cara yang sama: mempersonifikasi sosok Dewi Sekartaji melalui biografi dan tubuh performer.

Pentas rokateater pada Pekan Teater Nasional 2019 di Samarinda. -Dok. rokateater.
Pentas rokateater pada Pekan Teater Nasional 2019 di Samarinda. -Dok. rokateater.

Tentang rokateater

rokateater dibentuk pada 28 Oktober 2016 sebagai komunitas pertemuan seniman generasi berwawasan 2000-an/kelahiran 1990-an dengan modus program pengkajian dan penciptaan seni.

Fokus utama rokateater saat ini adalah mempelajari isu di sekitar komunitas sosial anak muda yang terus menerus mengalami isu tentang ‘perubahan’ yang ‘cepat dan segera’.

rokateater tidak hanya memfokuskan diri pada wacana dan proyek di sekitar seni pertunjukan namun juga membuka diri pada kemungkinan praktik dan pembacaan lain yang segar sebagai upaya melakukan percakapan melalui ragam perspektif dan disiplin pengetahuan maupun praktik seni.

Tim Kreatif:

  • Sutradara: Shohifur Ridho’i
  • Performer: Radha Puri Septiany, Valentina Ambarwati, Lisda Rabiatul Maulida Komposer: Hery Glen
  • Desainer Cahaya: Oong M. Pathor
  • Video Proyeksi: Erwin Oktavian

Shohifur Ridho’i. -Dok. rokateater.
Shohifur Ridho’i. -Dok. rokateater.

Tentang Shohifur Ridho’i

Shohifur Ridho’i lahir di Sumenep, 2 Januari 1990. Tahun 2016 mendirikan rokateater, sebuah kolektif studi dan penciptaan seni pertunjukan yang berbasis di Yogyakarta.

Kerja penyutradaraanya bersama rokateater antara lain: Masegit (Hibah Seni Kelola, 2016), Ultraman, Kawat Berduri dan Kesibukan Merindukanmu (Hibah Seni PSBK, 2017), dan Passport, Passphoto (Djakarta Teater Platform, 2018).

Tahun 2017 mendapat Rawayan Award untuk teks teaternya yang berjudul “Tiga Lapis Kesedihan”. Kini ia tinggal dan bekerja di Yogyakarta.

Simak video pentas rokateater di PTN 2019 berikut:

*Naskah ini diambil dari Katalog Pekan Teater Nasional 2019 di Samarinda, 20-26 September 2019, dan diolah seperlunya oleh Redaksi.

Baca Juga

TEKO UI akan Pentas Teater Musikal Skala Besar di GKJ

Portal Teater - Teater Psikologi Universitas Indonesia (TEKO UI) akan mempersembahkan pentas teater musikal dengan skala besar selama dua hari, pada 13-14 Februari 2020...

ORArT ORET Semarang Gandeng SCMC Gelar Konser Edisi Ke-2 “Barokan Maneh”

Portal Teater - Komunitas ORArT ORET Semarang kembali menjalin kerjasama dengan  Semarang Classical Music Community (SCMC), menggelar konser musik klasik pada Jumat (24/1) di...

Tur Keliling ASEAN, Kreuser/Cailleau Singgah di Jakarta dan Surakarta

Portal Teater - Selama bulan Januari dan Februari 2020, komponis Jerman Timo Kreuser dan pembuat film Prancis Guillaume Cailleau melakukan tur keliling Asia Tenggara...

Terkini

Buka Lembaran 2020, Kineforum DKJ Putar Lima Film Keluarga

Portal Teater - Kineforum, salah satu sayap program Komite Film Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) membuka lembaran tahun ini dengan mempersembahkan "FAMILIAL", sebuah program untuk...

ORArT ORET Semarang Gandeng SCMC Gelar Konser Edisi Ke-2 “Barokan Maneh”

Portal Teater - Komunitas ORArT ORET Semarang kembali menjalin kerjasama dengan  Semarang Classical Music Community (SCMC), menggelar konser musik klasik pada Jumat (24/1) di...

Tolak Komersialisasi TIM, Para Seniman Gelar Diskusi “Genosida Kebudayaan”

Portal Teater - Menolak komersialisasi Taman Ismail Marzuki Jakarta, sejumlah seniman yang tergabung dalam Forum Seniman Peduli TIM menggelar diskusi publik di Pusat Dokumentasi...

Pemerintah Alokasikan Rp1 Triliun Dana Perwalian Kebudayaan 2020

Portal Teater - Pemerintah mengalokasikan Dana Perwalian Kebudayaan bagi pegiat seni budaya dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2020 sebesar Rp1 triliun. Alokasi...

Tur Keliling ASEAN, Kreuser/Cailleau Singgah di Jakarta dan Surakarta

Portal Teater - Selama bulan Januari dan Februari 2020, komponis Jerman Timo Kreuser dan pembuat film Prancis Guillaume Cailleau melakukan tur keliling Asia Tenggara...